5 Alasan Mengapa Bisnis Kedai Kopi Bakal Tetap Cerah di Tahun 2020

Buat kamu yang berencana membangun bisnis kedai kopi di tahun 2020, baik dengan modal tabungan sendiri atau ‘nekat’ her subtitle indonesia, mungkin sekarang kamu masih bimbang: apakah bisnis ini masih cerah masa depannya di tahun 2020? Kekhawatiran tersebut sangat wajar dan justru terbilang bagus untuk seorang (calon) pebisnis. Sebab, itu artinya, kamu memikirkan perencanaan dan hitungan prospek calon bisnismu dengan baik sebelum proses eksekusinya.

Dilihat sekilas, dari frekuensi minum kopi yang tanpa kenal waktu: bisa dilakukan pagi, siang, hingga malam, nampaknya prospek bisnis satu ini masih cukup cerah di tahun 2020. Eits, nggak cuma itu aja, ada juga 5 faktor atau alasan lain yang memperkuat prediksi mengapa bisnis kedai kopi masih terbilang menjanjikan di tahun berikutnya. Yuk, simak ulasannya supaya kamu nggak bimbang lagi!

Tingkat konsumsi kopi domestik Indonesia terus meningkat

Mengacu pada riset yang dilakukan oleh PT Toffin Indonesia, perusahaan penyedia solusi bisnis untuk industri hotel, restoran, dan kafe, ditemukan fakta bahwa per Agustus 2019, kemunculan bisnis kedai kopi di Indonesia telah mencapai hingga 2.950 gerai. Ini berarti pertumbuhan kedai kopi terjadi hampir tiga kali lipatnya jika dibandingkan dengan tahun 2016 yang berjumlah 1.000 gerai.

Sejalan dengan hal tersebut, berdasarkan riset yang dilakukan oleh Global Agricultural Information Network tahun 2019, data mengungkap bahwa tingkat konsumsi kopi domestik Indonesia mengalami peningkatan pesat hingga 13,9% atau 294.000 ton dibanding tahun lalu yang hanya 258.000. Maka disimpulkan, sejak 2003 hingga 2017, kenaikan peminum kopi yang ada di Indonesia mencapai hinngga 144%. Angka ini pun diperkirakan masih akan terus naik di tahun 2020. Jadi, yuk matangkan lagi rencana bisnis kedai kopimu!

Margin yang tinggi & belum ada yang terlalu unggul di pasaran

Suburnya pertumbuhan bisnis kedai kopi di Indonesia juga disebabkan oleh tingginya margin atau keuntungan yang bisa didapat oleh pebisnis. Terutama jika pebisnis bisa mendapatkan bahan baku biji kopi dari petani langsung yang mana harganya akan lebih murah. etelah dibeli, biji kopi kemudian diolah hingga bisa menjadi bubuk dan bisa dijual dengan harga lebih tinggi kisaran Rp250.000-an.  Setelah jadi bubuk kopi dan bisa disajikan menjadi menu kepada konsumen, harga per gelasnya berkisar mulai Rp15.000 hingga Rp25.000. Sementara dalam satu kilogram bubuk kopi, kira-kira bisa dibuat hingga 30 – 40 an gelas. Dari hitungan kasar, 40 x Rp 15.000, omsetnya adalah Rp600.000.

Selain itu, saat ini belum ada kedai kopi yang namanya benar-benar unggul di pasaran. Pada dasarnya, konsumen yang membeli kopi melalui aplikasi pesan antar cenderung mencoba-coba kedai kopi satu dan lain, belum loyal pada satu rasa atau kedai kopi saja.. Mereka juga mengutamakan jarak. Makin dekat, makin murah juga ongkos kirimnya. Jadi, bisa dibilang, kesempatanmu masih terbuka lebar untuk masuk dan bersaing di pasar.

 

Kopi telah menjadi gaya hidup bagi generasi Y dan Z

Bukan lagi sekadar jadi penghilang rasa kantuk, kini minum kopi gelasan khas kedai kopi kekinian juga telah menjadi gaya hidup, khususnya bagi generasi Y dan Z. Dan inovasi sajian menu kopi saat ini juga membuat kopi jadi bisa dinikmati di segala waktu mulai dari pagi sampai malam. Ini tentunya makin membuat ketergantungan. Di kota-kota besar, mungkin kamu sering banget menjumpai anak-anak muda kantoran yang membawa gelas kopi baik saat menuju kantor, jam makan siang, atau jam pulang. Ditambah lagi, generasi Y dan Z konon merupakan generasi yang terbilang konsumtif dan loyal dalam mengeluarkan uang untuk gaya hidup. Kondisi ini di satu sisi memang negatif bagi generasi Y dan Z, tapi di sisi lain, dari kacamata bisnis, mereka adalah target pasar yang tepat dan menguntungkan terutama untuk kedai kopi.

 

Bisa dimulai dengan modal kecil

Kalau kamu nggak berani membuka bisnis kopi dalam bentuk kedai langsung, maka kamu bisa memulainya dengan sistem gerobakan atau buka booth di rumah dan mengandalkan penjualan online per order. Tentu saja, modalnya jauh lebih kecil dibanding menyewa satu gerai. Selain modal, yang terpenting dari memulai bisnis ini adalah pengetahuan dan skill meracik kopi yang mumpuni. Selain itu, kamu juga perlu memiliki koneksi ke supplier bahan baku agar bisa mendapat harga terbaik, kalau perlu, akses ke petani kopi langsung.

Urusan modal, sekarang ada juga lho alternatif pinjam dana cepat untuk bisnis tanpa proposal yang bisa kamu coba, yaitu Kredivo. Kredivo adalah fintech kredit digital yang menawarkan dua layanan kredit instan, yaitu cicilan barang dan pinjam dana tunai mini atau jumbo dengan tingkat suku bunga yang bersifat tetap dan hanya 2,95% per bulan. Kredivo dapat memberikan limit kredit maksimal hingga Rp 30 juta. Untuk bisnis kopi yang kisaran modalnya mulai Rp 5 jutaan hingga Rp 15 jutaan, kamu berpeluang lho mendapatkan pinjaman dana dari Kredivo di kisaran angka tersebut.

Tenor yang disediakan Kredivo untuk pinjaman dana juga variatif, mulai dari 30 hari, 3 bulan, dan maksimal hingga 6 bulan. Proses pendaftarannya cukup mudah yaitu melalui aplikasi Kredivo yang dapat kamu download di Google Play Store atau App Store. Proses approvalnya juga hanya memakan waktu 1 x 24 jam. Setelah mendapat limit, kamu bisa langsung mencairkannya menjadi pinjaman sesuai kebutuhan lewat fitur pinjam dana mini atau pinjam dana jumbo yang ada di bagian dasbor aplikasi Kredivo. Dalam waktu 1 hari kerja setelah disetujui, pinjaman bakal langsung cair ke rekening yang kamu daftarkan.

 

Proses penjualan yang mudah dengan adanya aplikasi layanan pesan antar

Khawatir pengunjung kopimu kelak bakal dikit? Tenang, ada aplikasi layanan pesan antar atau ojek online solusinya. Setelah bisnismu berdiri, jangan ragu untuk mendaftarkannya pada perusahaan layanan pesan antar atau ojek online tersebut agar kamu bisa mendapat pelanggan setiap harinya. Dengan adanya dukungan aplikasi ini, selain memudahkan proses penjualan, juga membantu banyak bisnis untuk dilirik calon konsumen dengan cepat tanpa harus menggelontorkan biaya promosi yang besar.

Leave a Reply

You have to agree to the comment policy.