Saraprayitno

Aksi Kecil untuk Sang Garuda

Posted: December 3rd 2016

“A true conservationist is a man who knows that the world is not given by his fathers but borrowed from his children”- Audubon-

Elang Jawa merupakan salah satu burung endemik dari Pulau Jawa. Keberadaan jambul di kepalanya menjadi ciri khas dari burung ini dan membuat burung ini mudah dibedakan dari burung elang lainnya. Burung ini tergolong burung yang relatif besar dengan ukuran mencapai 60 cm. Elang Jawa memiliki warna punggung dan sayap coklat gelap, dengan ekor coklat bergaris hitam, serta tenggorokan putih dengan strip hitam di bagian tengah serta coretan berwarna coklat pada dada dan garis tebal gelap pada perut (Kutilang Indonesia, 2011).

Gambar: Aries/ Istimewa (news.liputan6.com)

Gambar: Aries/ Istimewa (news.liputan6.com)

Burung yang tergolong raptor ini sering dijumpai pada hutan primer yang lembab, walaupun terkadang juga dijumpai di hutan sekunder dengan tutupan vegetasi yang tinggi (Syartinilia dan Tsuyuki, 2008). Burung ini terbang dari ketinggian 500 hingga 1000 mdpl dengan wilayah jelajah mencapai 400 ha (Gjershaug dkk., 2004). Burung juvenil akan menetap di hutan atau daerah pertanian sebelum pindah ke hutan sekunder dan primer setelah dewasa (Nijman dan Van Balen, 2003).

Sayangnya populasi Elang Jawa semakin menurun tiap tahunnya yang membuat burung ini tergolong ke dalam status konservasi endangered oleh IUCN red list. Ancaman yang paling besar adalah hilangnya habitat dan perdagangan liar. Populasi manusia di Pulau Jawa yang terus meningkat menjadi salah satu aspek penurunan tutupan hutan terutama di dataran rendah. Ancaman juga berlanjut dengan konversi hutan menjadi tanah pertanian serta kebakaran hutan yang tidak dapat dikontrol. Selain itu, spesies ini juga dijual secara bebas di pasar burung, di mana 30-40 kasus dilaporkan tiap tahunnya, dengan asumsi masih banyak yang belum dilaporkan padahal burung ini tergolong ke dalam appendix II oleh CITES.

Gambar: bio.unsoed.ac.id

Gambar: bio.unsoed.ac.id

Upaya konservasi untuk melestarikan burung ini sudah banyak dilakukan seperti adanya undang- undang tentang perburuan atau perdagangan terutama di daerah yang terlindung meskipun masih kurang efektif, pemberian pelatihan dan workshop untuk meningkatkan kesadaran (Prawiradilaga, 2006; Narwatha dkk., 2007), serta sudah dilakukannya program penangkaran sejak tahun 1996 meskipun pada tahun 2006 gagal menghasilkan keturunan (Nijman dkk., 2009). Selain itu ada juga upaya konservasi yang akan dijalankan meliputi pengelolaan kawasan yang dilindungi terutama di daerah Jawa Tengah, di Pegunungan Dieng dan Slamet, dan Jawa Barat di Kabupaten Cianjur Selatan.

Untuk membantu menjaga kelestarian burung ini, saya mempunya beberapa program aksi konservasi, di mana diawali dengan mini riset untuk menganalisis jenis habitat dari Burung Elang Jawa ini serta pemetaan sarang di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi. Dengan mengetahui jenis habitatnya maka kita dapat mengondisikan daerah konservasi sesuai dengan habitat yang sesuai untuk kehidupan Elang Jawa. Pemetaan sarang ini juga bertujuan supaya kita mengetahui lokasi sarang dari Elang Jawa ini di Taman Nasional Gunung Merapi. Dengan demikian, pihak taman nasional bisa memberikan pengamanan lebih pada sarang- sarang Elang Jawa.

Meninjau keberhasilan penangkaran Jalak Bali di Taman Nasional Bali Barat, maka saya berpikir bahwa aksi penangkaran juga harus dilakukan pada Elang Jawa dalam upaya meningkatkan jumlah populasi Elang Jawa. Aksi penangkaran ini bisa dilakukan pada kawasan konservasi yang sedang akan menjalankan usaha konservasi terhadap Elang Jawa, seperti di daerah Jawa Tengah di pegunungan Dieng dan Slamet, dan jawa Barat di Kabupaten Cianjur Selatan. Maka saya akan membuat proposal kepada pengelola kawasan konservasi di daerah tersebut untuk membuat usaha penangkaran Elang Jawa. Kondisi daerah penangkaran bisa disesuaikan dengan jenis habitat Elang Jawa hasil dari mini riset saya sebelumnya. Usaha penangkaran ini juga dibarengi dengan penyadartahuan serta pelatihan kepada masyarakat di sekitar untuk membantu usaha penangkaran ini. Dengan demikian banyak pihak yang dapat membantu dalam aksi konservasi ini.

Harapan saya usaha konservasi ini memberikan hasil yang sama baiknya dengan penangkaran Jalak Bali sehingga dapat membantu meningkatkan jumlah populasi Elang Jawa sebagai lambang negara Indonesia.

“Selamatkan Elang Jawa, Selamatkan Garuda Kita”

Daftar Pustaka:

Gjershaug, J.O., Rov, N., Nygard, T., Prawiradilaga, D.M., Afianto, M. Y., Hapsoro, dan Supriatna, A. 2004. Home-range size of the Javan Hawk-eagle (Spizaetus bartelsi) estimated from direct observations and radiotelemetry. Journal of Raptor Research 38(4): 343-349

Nijman, V. dan van Balen, S. B. 2003. Wandering stars: age-related habitat use and dispersal of Javan Hawk-eagles (Spizaetus bartelsi). Journal für Ornithologie 144: 451-458.

Nijman, V., Shepherd, C. R., dan van Balen, S. 2009. Declaration of the Javan Hawk Eagle Spizaetus bartelsias Indonesia’s National Rare Animal impedes conservation of the species. Oryx 43(1): 122-128.

Prawiradilaga, D. M. 2006. Ecology and conservation of endangered Javan Hawk-eagle. Spizaetus bartelsi.Ornithological Science 5(2): 177-186

Syartinilia dan Tsuyuki, S. 2008. GIS-based modelling of Javan Hawk-eagle distribution using logistic and autologistic regression models. Biological Conservation 141(3): 756-769.

http://news.liputan6.com/read/2099107/sang-garuda-yang-terancam-punah

http://bio.unsoed.ac.id/berita/2328-mencegah-kepunahan-fakultas-biologi-ikut-melepas-elang-jawa#.WEI9pPmLSMo

http://www.iucnredlist.org/details/22696165/0

http://www.kutilang.or.id/2011/08/15/elang-jawa/

http://www.mongabay.co.id/2015/10/18/jalan-panjang-melindungi-jalak-bali-dari-kepunahan-bagian-1/

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php