Saraprayitno

Penyanyi Merdu dari Tanah Jawa

Posted: November 1st 2016
Gambar 1. Gelatik Jawa (Paburung club)

Gambar 1. Gelatik Jawa (Paburung club)

Pernahkah kalian mendengar suara “tik, tik, tik” nan merdu dari seekor burung? Kalau pernah mungkin kalian sedang mendengar kicauan burung ‘penyanyi’ merdu dari Tanah Jawa, Gelatik Jawa. Gelatik Jawa (Padda oryzivora) menempati urutan kedua setelah Bondol (Lonchura spp.) dari lima belas jenis burung ocehan Indonesia yang paling diminati di pasar internasional. Dengan begitu kita seharusnya tidak heran dengan suaranya yang merdu karena memang sudah diakui di dunia internasional. Bila tidak percaya, coba dengarkan rekaman suara berikut ini.

Burung ini memiliki ukuran tubuh yang tergolong sedang (14-16 cm). Pada individu dewasa, warna kepalanya hitam dengan bercak putih mencolok pada bagian pipi, tubuh bagian atas dan dada berwarna abu- abu, perut merah- jambu, ekor bagian bawah putih sedangkan ekor bagian atas hitam. Burung remaja berkepala kemerah- jambuan dengan mahkota abu- abu, dan dada merah- jambu. Paruhnya merah- jambu dan kaki berwarna merah.

Gambar 1. Gelatik Jawa (Wikipedia)

Gambar 2. Gelatik Jawa (Wikipedia)

Gelatik Jawa merupakan burung dataran rendah di mana sering dijumpai pada ketinggian di bawah 500 meter namun terkadang juga dijumpai di ketinggian hingga 1500 meter. Banyak tempat dicatat sebagai habitatnya, termasuk daerah perkotaan dan pedesaan, daerah pertanian (terutama sawah), padang rumput, hutan terbuka, hutan di pinggir pantai, bahkan mangrove.

Di habitat aslinya di Jawa dan Bali, banyaknya sawah membuat padi menjadi makanan utama bagi Gelatik Jawa. Oleh karena itu, Padda oryzivora memiliki arti pemakan padi. Bagaimanapun, seperti anggota famili Estrildidae yang lain, Gelatik Jawa juga memakan bibit rerumputan yang kecil dan bunga bunga, dan terkadang serangga. Di habitat alami, perkembangbiakan berlangsung dari Februari hingga Agustus di mana puncaknya pada April dan Mei. Sarang mereka terbuat dari rumput kering, dibuat di bawah atap bangunan di perkotaan dan pedesaan, atau di semak dan puncak pohon di daerah yang lebih terpencil. Biasanya ditemukan 3 hingga 4 telur di sarang tersebut walaupun terkadang juga ditemukan jumlah yang lebih banyak. Burung ini sering saling menyelisik serta sering menggoyangkan badan dengan gerakan yang rumit bila berebut tempat bersarang. Individu jantan lebih aktif daripada individu betina.

Padda oryzivora merupakan hewan endemik Pulau Jawa, Bali, dan mungkin Madura. Namun sekarang sudah diintroduksi secara luas, di Hawaii (melimpah dan tersebar dari Honolulu di Oahu; kurang banyak namun jumlahnya meningkat di Kauai dan Keauhou-Kona), Puerto Rico (daerah San Juan), Miami, Florida, dan dimanapun. Dahulu tersebar luas dan melimpah di daerah asal, namun jumlahnya menurun secara drastis. Bahkan sekarang sulit untuk menemukan burung ini di Pulau Jawa. Penelitian terbaru meninjau 64 lokasi dan hanya terdapat 109 individu pada 17 lokasi (Muchtar dan Nurwantha, 2001).

Gambar 3. Persebaran Gelatik Jawa (Birdlife International)

Gambar 3. Persebaran Gelatik Jawa (Birdlife International)

Populasi dari burung ini memiliki kecenderungan menurun dengan cepat dan masih berlangsung. Perdagangan burung- sangkar internasional yang sudah terjadi berabad- abad lalu diperkirakan menjadi penyebab utamanya. Perdagangan ini memuncak pada tahun 1960 dan 1970an. Selain itu, kecenderungan burung ini untuk berkelompok mengakibatkan burung ini sangat rentan terhadap perangkap massal. Burung ini juga dianggap sebagai hama padi sehingga sering diburu oleh petani. Kompetisi dengan Gelatik Pohon (Paser montanus) juga menjadi ancaman tambahan. Dengan terus menurunnya populasi Gelatik Jawa mengakibatkan burung ini tergolong ke dalam status vulnerable oleh IUCN red list.

REFERENSI
BirdLife International. 2001. Threatened birds of Asia: the BirdLife International Red Data Book. BirdLife International, Cambridge, U.K.
Brazil, M. 2009. Birds of East Asia: eastern China, Taiwan, Korea, Japan, eastern Russia. Christopher Helm, London.
http://eol.org/pages/922070/details
Muchtar, M.; Nurwatha, P. F. 2001. Gelatik Jawa dan Jalak Putih: status dan upaya konservasi di Jawa dan Bali [Java Sparrow & Black-winged Starling: status and conservation effort in Java and Bali].
Rekapermana, M., Thohari, M., dan Masy’ud, B. 2006. Pendugaan jenis kelamin menggunakan ciri- ciri morfologi dan perilaku harian pada Gelatik Jawa (Padda oryzivora Linn, 1758) di penangkaran. Jurnal Media Konservasi 11(3): 89-97.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php