Ryan Febri

PERBANDINGAN PENGGUNAAN BULU DENGAN DARAH SEBAGAI SUMBER DNA PADA MOLEKULAR SEXING

Posted: August 29th 2015

download

Hampir setiap hari kita pasti melihat adanya burung-burung yang berseliweran di sekitar kita. Jika kita sedang melihat burung-burung tersebut maka hampir pasti pertanyaan pertama yang muncul adalah jenis apa burung tersebut? Pertanyaan berikutnya yang mungkin mengikuti adalah burung tersebut jantan atau betina? Untuk pertanyaan yang kedua tersebut memang agak sulit untuk langsung dijawab. Menurut Dawson dkk (2001) secara umum burung dengan morfologi seksual memiliki morfologi yang nyaris tak dapat dibedakan antara jantan dan betinanya. Hal ini akan menyebabkan kebingungan tersendiri bagi para peneliti maupun pengamat untuk menentukan jenis kelamin burung tersebut.

Pada aves memiliki kesamaan morfologi terutama pada fase anakan lalu kemudian ciri-ciri seksual baru akan nampak terlihat saat akan memasuki fase dewasa (Dubiec,2006). Seiring dengan semakin bertambahnya pengetahuan dan perkembangan teknologi maka kesulitan penentuan jenis kelamin ini dapat teratasi. Salah satu metode yang digunakan untuk menentukan jenis kelamin pada burung ini adalah metode molekular sexing (Dawson dkk, 2001). Metode molekular sexing adalah metode yang paling mudah dan digunakan secara luas dengan menggunakan DNA sebagai komponen utama pengujian (Harvey dkk, 2006). Menurut Harvey, dkk (2006) hingga saat ini secara umum pengambilan sampel untuk menentukan materi genetik adalah menggunakan darah walau demikian bagian tubuh lain juga dapat digunakan untuk metode ini salah satunya adalah bulu karena pada bulu juga terdapat materi informasi genetik di dalamnya.

download (1)

Metode ini menggunakan suatu gen penanda. Gen penanda yang dimaksud adalah Chromobox-helicase-DNA-binding (CHD) yang terletak pada kromosom W pada aves. Gen CHD ini memiliki dua intron yang panjangnya bervariasi (Dubiec,2006). Penggunaan gen CHD ini memiliki beberapa keunggulan antara lain akurat, cepat, mudah, dan juga murah. Hasil amplifikasi PCR (Polymerase Chain Reaction) berdasarkan pada gen CHD tersebut akan menunjukkan jenis kelamin berdasarkan jumlah pita yang terbentuk. Pada individu jantan akan diindikasikan dengan hasil amplifikasi berupa satu pita seedangkan pada individu betina akan menghasilkan dua pita.

download (2)

Proses pengambilan darah burung

Seperti sudah dibahas sebelumnya saat ini untuk metode molekular sexing lebih banyak menggunakan darah sebagai sampel karena darah relativ lebih mudah untuk menentukan materi genetik pada individu secara utuh juga inti sel pada darah burung membuat darah aves kaya akan inti DNA. Penggunaan bulu untuk molekular sexing memang jarang digunakan namun, pada bulu juga dapat merepresentasikan tipe jaringan. Hal ini dapat menjadi alternatif jika peneliti kesulitan dalam memperoleh darah atau jaringan lain. Dibanding dengan menggunakan darah penggunaan bulu akan lebih mudah dan yang terpenting juga akan memberikan efek stress yang lebih kecil pada burung yang akan diteliti (Harvey dkk,2006).

Sehingga menurut Harvey, dkk (2006) pengambilan sampel menggunakan bulu lebih direkomendasikan karena selain lebih mudah didapat oleh peneliti hal ini juga akan mencegah burung menjadi stress bahkan kesakitan akibat pengambilan darah yang dilakukan secara paksa.

download (5)

referensi :

Harvey M G, Bonter, D, Stenzler, L, dan Lovette, I. 2006. A comparison of plucked feathers versus blood samples as DNA sources for molecular sexing. 77(2):136-140


7 responses to “PERBANDINGAN PENGGUNAAN BULU DENGAN DARAH SEBAGAI SUMBER DNA PADA MOLEKULAR SEXING”

  1. yulianrozi says:

    terima kasih untuk infonya

  2. dwiky130801380 says:

    lengkap tentang burung, terutama pengambilan darah yang benar, agar burung tidak stress, dan merasa kesakitan

  3. Handi says:

    infonya dapat membantu untuk mengetahui bagian tubuh hewan yang jarang digunakan sebagai sumber DNA pada molekuler sexing

  4. Alexander1320 says:

    Oalah gt to

  5. aldwint says:

    Sexing menggunakan bulu adalah metode yang bagus untuk penelitian, dan juga tidak menyakiti burung tersebut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php