love kukang

Konservasi Si Malu-Malu yang Lugu

Posted: November 30th 2016

Ada yang kenal dengan hewan ini? Tentunya tau dan mengenal hewan ini dong. Hewan ini termasuk hewan primata, yang populasinya sangat, sangat perlu dilestarikan. Bagi kalian yang tinggal di daerah Jakarta, hewan ini banyak diperjualbelikan di pasar hewan dan juga banyak diperjualbelikan di medsos seperti facebook dengan nama grup Jual Beli Hewan Yogyakarta, grup PASTY, dan tentunya dijual dengan privasi ataupun tertutup. Hewan lucu ini dijual sebagai hewan peliharaan dan dibuat sebagai mainan. Hewan ini disebut kukang, namun banyak penjual yang di media social belum dapat membedakan spesies Kukang Sumatera dan spesies Kukang Jawa.

Untuk Kukang Jawa perbedaannya terdapat pada tubuhnya yang lebih besar daripada tubuh kukang lainnya. Ada juga perbedaan yang cukup signifikan antara masker/seperti topeng wajah dan warna kukang Sumatera dan Jawa. Kukang Sumatera memiliki lebih kecoklatan atau warna oranye dibandingkan dengan Kukang Jawa yang memiliki lebih banyak warna cerah seperti krem dan warna abu-abu. Kukang Jawa memiliki transisi yang lebih jelas antara warna hitam dan putih dibandingkan dengan semua spesies kukang lainnya.

Kukang Jawa

Kukang Jawa

Kukang Sumatera

Kukang Sumatera

Sumatera itu terkenal dengan daerah hutan hujannya, karena termasuk pulau yang memiliki ekositem hutan hujan. Namun, banyak primate yang semakin menurun populasinya akibat lahan hutan yang digunakan untuk kepentingan pribadi atau untuk kebutuhan hidup. Nah, banyak hewan primate itu datang ke daerah perumahan masyarakat yang memiliki profesi sebagai petani untuk mencari makan. Para petani tidak jarang mereka menangkap hewan lucu ini, dan dijual di pasar. Lumayan banyak yang membeli hewan ini karena lucu dan dijadikan hewan peliharaan. Namun, karena banyak para pembeli yang tidak tau cara pemeliharaan yang baik, kukang tersebut tidak dapat bertahan hidup karena tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan manusia. Adanya kejadian ini, saya ingin melakukan kegiatan konservasi.

  1. Kerja Sama dengan BKSDA, DPD, dan Polisi Hutan

Kegiatan konservasi tersebut dimulai dengan bekerja sama dengan  operasi pusat penyelamatan dan rehabilitasi, serta penegakan hukum terhadap perdagangan ilegal di Sumatera Utara (DPD) dengan badan pemerintah lokal BBKSDA serta Polisi Hutan terhadap Kukang Sumatera.

2. Pembangunan Pusat Penyelamatan

Nah, kukang yang disita diberikan fasilitas perawatan yang tepat diperlukan, seperti penyelamatan dan pusat rehabilitasi. Kemudian untuk mewujudkan fasilitas tersebut dibangun seperti penyelamatan dan rehabilitasi pusat di suatu desa. Desa ini harus terletak hanya 1,5 jam dari ibukota Sumatera, Medan. Oleh karena itu, kita memiliki akses strategis mudah ke kantor-kantor pemerintah, transportasi, lengkap rumah sakit dan laboratorium. Pusat penyelamatan dan rehabilitasi tersebut terdiri atas kantor dengan fasilitas sanitasi, sebuah klinik dengan isolasi dan karantina. Pada klinik, dilengkapi dengan peralatan medis dan bedah dasar, isolasi kotak, dan meja pemeriksaan yang sesuai dengan standar hewan. Karantina ditinggikan setengah meter di atas tanah karena kebersihan dan untuk meminimalkan risiko penularan parasit apapun, dan memiliki sistem pembersihan sendiri dengan aseptis. Setelah nantinya ada kukang yang dating dari hasil sitaan ataupun masuk jebakan perangkap petani, kukang tersebut akan menjalani pemeriksaan hewan dasar. Setelah itu mereka akan dipindahkan ke dalam karantina. Karantinayang  diikuti oleh proses rehabilitasi itu, nantinya akan dilepaskan kembali ke alam liar sesuai dengan kriteria kukang yang sehat.

3. Kesadaran Remaja (SD, SMP, SMA)

Adanya penelitian International Animal Rescue (Yayasan IAR Indonesia) mengungkapkan bahwa sebagian besar remaja seperti siswa-siswi cenderung membeli Kukang. Nah, nantinya akan diatur serangkaian kesadaran seperi suatu acara di sekolah-sekolah setempat. Tujuan utama dari peristiwa ini adalah diskusi dengan siswa dan kompetisi pengetahuan sederhana. Pada awalnya,semua siswa akan mengisi kuesioner sederhana dan mengevaluasi pengetahuan dan sikap untuk pelestarian alam. Siswa menyelesaikan kuesioner yang sama juga setelah akhir evaluasi. Dengan membandingkan kuesioner yang awal dan akhir acara itu, nantinya akan dicoba untuk memverifikasi fokus mereka dan efektivitas dari acara. Hasil tersebut akan membantu memperbaiki metodologi peristiwa-peristiwa kesadaran.

4. Tim Anti-Konflik

Nah, dalam kegiatan konservasi ini dibentuk Tim Anti-konflik. Tim Anti-Konflik ini bekerja sama dengan petani yang tinggal dan bekerja langsung di perbatasan daerah yang dilindungi. Pertanian masyarakat ini sering dikunjungi oleh binatang liar yang menghancurkan tanaman pertanian mereka. Tujuan dari tim anti konflik adalah untuk mencegah konflik antara petani, kukang dan satwa liar lainnya. Setelah itu, ditargetkan suatu desa yang berbatasan dengan obyek wisata terkenal seperti kawasan hutan lindung yang ada pada daerah tersebut. Di sekitar kawasn hutan lindung tersebut ada sebuah daerah yang dikenal sebagai sebuah pemukiman pertanian.Nah, kita harus lebih berfokus pada desa yang berbatasan dengan kawasan hutan lindung, dan juga mengunjungi daerah tetangga dengan hutan lindung yang dilindungi di pusat penyelamatan dan rehabilitasi.

Dalam semua kasus, kita harus memperoleh dukungan wali lokal. Dalam daerah tesebut, kita dan walikota harus menempatkan tanda informatif tentang ketidakabsahan berburu spesies hewan yang dilindungi. Tanda ini juga memperingatkan sanksi yang mungkin melanggar hukum ini dan terletak di tempat strategis di mana hewan langka seperti kukang dan burung Rangkong lebih sering diburu. Tanda yang sama juga telah ditempatkan di pintu masuk ke pusat penyelamatan dan rehabilitasi.

5. Kesadaran di tempat umum

Kami mengatur kegiatan pengumpulan awaraness di tempat-tempat umum di mana banyak orang berkumpul dan orang-orang ini bisa menjadi potensi masa depan pemilik Kukang. Tujuan dari kegiatan ini akan menginformasikan kepada masyarakat tentang ketidakabsahan membeli Kukang sebagai hewan peliharaan rumah dan ketidaksesuaian Kukang sebagai hewan peliharaan melalui diskusi dan penyebaran leaflet informasi.

6. Kampanye di Media Sosial

Kampanye ini bertujuan untuk menghentikan munculnya popularitas virus kukang sebagai hewan peliharaan. Tujuan dari kampanye “Aku tidak mainan Anda!” adalah untuk memberitahu orang mengenai latar belakang video yang akan dibuat. Langkah pertama dari kampanye ini adalah menciptakan sebuah video pendek yang nantinya dapat di tonton di YouTube atau di halaman Facebook kampanye. Kampanye juga akan menggunakan hal-hal modern lainnya seperti animasi, gambar, video dll.

Sumber:

International Animal Rescue Indonesia. 2008. Pelepasan Kelompok Pitung, Penyelamatan Rehabilitasi dan Pelepasan Kukang. SIAR Indonesia edisi ke-2, Bogor.


2 responses to “Konservasi Si Malu-Malu yang Lugu”

  1. markus140801431 says:

    sudah bagus, namun masih sukar untuk direalisasikan karna semua membutuhkan konsistensi dalam edukasi, karna kalo hanya sekali dilakukan akan mudah dilupakan

Leave a Reply to markus140801431 Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php