love kukang

Pemanjat Ulung Pohon Kelapa

Posted: November 1st 2016

Beruk (Macaca nemestrina)beruk-1

Beruk merupakan salah satu hewan yang digunakan oleh manusia sebagai hewan peliharaan. Beruk biasanya dipakai untuk memanjat pohon kelapa di Sumatera. Beruk termasuk komponen ekosistem yang mempunyai peranan besar dalam menjaga dan melestarikan keseimabangan ekosistem hutan. Jumlah populasi beruk di alam kurang dari 1 juta ekor. Hal ini dikarenakan pengurangan habitat yang terus terjadi. Beruk telah kehilangan sekitar 49% dari habitat asalnya yang semula seluas 354,115 km2 menjadi hanya sekitar 179,140km2 (Supriatna dan Handoyo, 2000). Menurut Napier dan Napier (1967), klasifikasi ilmiah dari beruk (Macaca nemestrina) adalah sebagai berikut:

Kingdom         :Animalia

Phylum            :Chordata

Class                :Mamalia

Famili              :Cercopithecidae

Genus              :Macaca

Spesies            :Macaca nemestrina

beruk

  1. Perkembangbiakan

Macaca nemestrina memiliki strategi reprduksi k selection, sehingga cenderung untuk menstabilkan populasinya. Menurut Lavieren (1983) rata-rata umur kawin pertama dari beruk berkisar 4-4,5 tahun; jarak berbiak (breeding intervals) 24-48 bulan; periode mengasuh (nursing periods) 7-14 bulan; siklus birahi (oestrus cycles) 32-40 hari; lama bunting (gestation length) 52-183 hari; jumlah anak tiap melahirkan (liter size) 1 ekor, jarang 2 ekor, panjang usia (longevity) 26 tahun.

Medway (1969) menjelaskan bahwa beruk mengalami kematangan seksual pada umur kira-kira 50 bulan, lama menstruasi bervariasi antara 3,5-40 hari dalam kisaran siklus menstruasi 11-96 hari, lama bunting rata-rata 170 hari dengan kisaran 162-186 hari, umumnya hanya 1 anak per kelahiran yang akan disapih setelah kira-kira berumur 12 minggu.

2. Perilaku

Perilaku satwa merupakan tindak tanduk satwa yang terlihat dan sering berkaitan baik secara individual maupun secara bersama-sama yang berfungsi untuk memungkinkan seekor satwa dapat menyesuaikan diri terhadap beberapa perubahan keadaan baik dari luar maupun dari dalam.perilaku satwa adalah suatu strategy dari satwa dalam memanfaatkan sumberdaya yang ada dalam lingkungan untuk pertahankan kelangsungan hidupnya.

Pada Macaca nemestrina juga terdapat hirarki social. Hirarki paling tinggi ditempati oleh satwa yang paing dominan dan umumnya diduduki oleh jantan dewasa (Medway, 1969). Dominansi menunjukkan adanya perbedaan status anggota kelompok dan mempunyai pengaruh terhadap tingkah laku kompetisi sehingga terdapat individu yang lebih dominan terhadap individu yang lain. Macaca nemestrina digolongkn kedalam bentuk kelompok “multimales group” yaitu mempunyai lebih dari satu ekor jantan dewasa dalam satu kelompok.

Beruk senang berkutu-kutuan pada waktu istirahat, dan kegiatan ini selain untuk membersihkan badan juga sebagai sarana untuk menjalin hubungan social antara individu dan kelompok-kelompok; satwa ini juga bersifat agresif terhadap sesamanya maupun terhadap lawannya. Menurut Taruningkeng (1994), waktu pucak dari akitivitas grooming adalah siang hari. Individu betina dewasa paling sering melakukan aktivitas grooming dibandingkan dengan individu jantan dewasa yang sering diselisik. Aktivitas istirahat paling sering dilakukan pada siang hari, karena kegiatan istirahat dilakukan untuk membebaskan diri dari pengaruh panas ditengah hari dan kegiatan tersebut meningkat sejalan dengan penurunan intensitas makan selama aktivitas berlangsung.

Beruk memiliki aktivitas harian diurnal dan bersifat terrestrial, tidurnya di pohon yang lebat dan aktivitas selama siang hari kebanyakan di atas pohon. Beruk dalam pergerakannya berorientasi pada lokasi makan dan tempat istirahat,kemudian kembali menuju lokasi makan serta lokasi tidur pada sore hari. Pada waktu tidur, beruk akan membentuk sub kelompok. Setiap sub kelompok menempati satu pohon. Pada pohon tempat tidur ini mereka tidur terpisah-pisah pada masing percabangan pohon.

Beruk sering dijumpai di hutan sekunder dalam populasi yang cukup rendah, sedangkan di hutan primer populasi beruk jarang ditemukan. Hal ini disebabkan oleh adanya pergerakan dan tingkah laku beruk yang lebih menyukai pohon-pohon kecil terutama pada habitat yang banyak terdapat anakan pohon pada tingkat semai dan pancang. Kesukaan berada di tanah tidak hanya pada saat berjalan, tetapi beruk juga sering membawa turun makanannya yang dipetik dari pohon untuk dimakan.

Dalam berkomunikasi, beruk biasanya melakukan gerakan badan dan mimic wajahnya dengan menonjolkan mulutnya seperti mengejek dan alis mata secara bersamaan ditarik ke atas memperlihatkan pelupuk matanya; komunikasi dilakukan dengan mata, sentuhan dan suara. Suara yang dikeluarkan berupa suara kasar dan dengkuran.

3. Habitat dan Penyebaran

Beruk hidup pada hutan yang selalu hijau (evergreen forest) dan pada hutan yang menggugurkan daun (deciduous forest). Kelompok beruk dapat mencapai populasi yang cukup besar pada hutan dataran rendah dengan ketinggian 500-750m dpl. Beruk biasanya menjelajah hutan dengan daerah jelajah yang luas. Satu kelompok beruk dalam setahun mungkin menjelajahi hutan seluas 100-300ha dan biasanya menjelajah membentuk lingkaran. Menurut Iskandar dan Colijn (2000), habitat satwa primate ini terdapat dihutan hujan, menyebar luas dari rawa mangrove hingga ke kaki gunung pada ketinggian 900m dpl dan sering juga ditemukan di daerah pertanian

Makanan beruk sangat bervariasi mulai dari buah-buahan, biji-bijian, cendawan, dedaunan dan serangga. Beruk lebih senang memakan buah-buahan yang matang. Beruk mencium makanannya sebelum dimakan dan dengan cara-car tertentu dapat memisahkan makanan yang tidak layak dimakan. Menurut Iskandar (1998), Macaca nemestrina merupakan satwa frugivora (menyukai buah yang masak). Komposisi jenis pakannya adalah 74,2% buah-buahan; 0,4% diantaranya adalah buah masak; invertebrate 12,2% serta berbagai macam bagian tumbuhan dan vertebrata 13,6%.

Daerah penyebaran beruk sangat luas, mulai dai India Timur Laut, Assam, Thailand, Malaya dan Borneo. Di Indonesia terdapat di Sumatera, Bangka, Mentawai, dan Kalimantan. Beruk tidak terdapat di Jawa baik kehidupan atau tanda-tanda berupa fossil. Menurut Wilson dan Wilson (1980), di Sumatera beruk tersebar di beberapa provinsi; Aceh (Meulaboh, Takengon, SM Gunung Leuser), Sumatera Utara (Bukit Lawang dan Batang Garut), Sumatera Barat (Landai dan Pinagar), dan Lampung (Umbulan Durian, Umbulan Morobatin, Susan dan Sukabarden)

Daftar Pustaka

Iskandar, D. T. and E. Colijn. 2000. Preliminary Checklist of Southeast asian and New Guinea Herpetofauna. Treubia. 31(3): 1-33.

Lavieren, V. 1983. Wildlife management in The Tropica. Part 2. School of Enviromental Conservation management Ciawi, Bogor.

Medway, L. 1969. The Wild Mammals of Malaya and Offshore Island Including Singapore. Oxford University Press, London.

Napier, J.R. dan P.H. Napier. 1967. A Handbook of Living Primates. Academic Press. New York.

Supriatna, J. dan Wahyono, E. H. 2000. Panduan Lapangan Primata Indonesia. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Taruningkeng, R. C. 1994. Dinamika Populasi: KAJIAN Ekologi Kuantitatif. Pustaka Sinar Harapan dan Universitas Kriste Krida Wacana, Jakarta.

Wilson, C. C. dan W. L Wilson. 1975. The Influence of Selective Logging on Primates and Some Other Animal in East Kalimantan Folia Primates. Folia Primatologica 23 (4): 245-27.


2 responses to “Pemanjat Ulung Pohon Kelapa”

  1. Carolina Arum Permatasari says:

    informasi yang cukup menarik dan lengkap, lalu apakah ada pernanan dari Beruk (Macaca nemestrina) sendiri dalam lingkungan dan ekosistemnya?

    • rocahyani says:

      kemungkinan peranannya sama dengan gajah, yang mana beruk sendiri suka memakan buah yang masak dan bila sudah tinggal bijinya maka akan dibuang. nah biji yang dibuang tersebut nantinya akan berkembang sendiri menjadi tanaman (pohon), khususnya dalam hutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php