KSDL Buah

Love is no coincidence : Mencari cinta lewat DNA

Posted: May 28th 2013

Dalam blog KSDL buah ini, kita akan membahas suatu jenis buah yang berbeda, yaitu buah asmara alias cinta. Seiring dengan melambungnya lagu Jodoh Pasti Bertemu yang dibawakan oleh Afgan, semakin banyak orang yang mulai bertanya-tanya dalam hati atau mungkin sedang mencari belahan jiwa yang cocok untuk menjadi pasangan hidup yang senantiasa menemani dalam suka duka kehidupan. Selain fasilitas biro jodoh yang dirasa sudah kuno atau love meter yang dulu sempat tenar saat di bangku sekolah, ada situs internasional yang menawarkan fasilitas matchmaker dan yang menarik adalah DNA digunakan sebagai dasar penentuan kecocokan (bukan primbon).

Situs yang menawarkan angin segar bagi jomblowers atau galauers ini dapat diakses di www(dot)genepartner(dot)com. Situs GenePartner terinspirasi oleh sebuah penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Wedekind dari Universitas Bern di Swiss. Penelitian ini melibatkan relawan perempuan memberikan penilaian pada daya tarik berdasarkan aroma dari T-shirt yang dikenakan oleh laki-laki selama tiga hari berturut-turut (iuh). Beliau kemudian menganalisis bagian tertentu dari DNA yang mengkode HLA (Human Leukocyte Antigen) molekul dan menarik kesimpulan bahwa perempuan lebih suka aroma T-shirt dari laki-laki dengan HLA molekul yang paling berbeda dari mereka sendiri. Hasil respon dan klasifikasikan gen HLA adalah sesuatu yang tubuh kita lakukan secara otomatis dan tanpa sadar.

Molekul HLA berperan dalam mengendalikan aktivasi efektor imunologi selama respon imun sehingga sangat penting untuk ketahanan kekebalan tubuh. Berbagai variasi gen HLA menawarkan berbagai respon imun yang timbul. Berdasarkan pandangan evolusi, keturunan dari pasangan dengan variasi gen HLA yang tinggi akan memiliki perlindungan yang lebih baik dari berbagai jenis penyakit. Sederhananya, tubuh mereka memiliki lebih banyak senjata untuk digunakan dalam pertahanan terhadap penyakit. Oleh karena itu, membandingkan gen HLA dapat membantu mengidentifikasi kekerabatan dan mencegah potensi perkawinan sedarah.

Pada tahun 2003, tim GenePartner memutuskan untuk menjalankan penemuan ini dan melihat apakah ada pola khusus dari gen HLA yang “menarik” satu sama lain. Bekerja sama dengan Swiss Institute for Behavioural Genetics, mereka menguji pasangan kekasih dan orang yang tidak berpasangan alias jomblo untuk gen HLA mereka. Hasilnya mengejutkan sehingga dilakukan pengembangan formula yang menggabungkan faktor keragaman bersama dengan beberapa faktor evolusioner lainnya dan dikembangkan oleh Swiss Institut Genetika Perilaku. Formula atau rumusan yang dikembangkan oleh GenePartner mengukur kompatibilitas genetik antara dua individu dan membuat prediksi yang akurat dari kekuatan dasar mereka untuk hubungan romantis yang tahan lama dan memuaskan (wow).

Keragaman tinggi dalam komponen sistem imun spesifik membuat pertahanan yang lebih besar terhadap berbagai penyakit. Tubuh kita secara otomatis merasakan bagaimana beragam sistem kekebalan tubuh orang di sekitar kita dan menggolongkan mereka berdasarkan seberapa kompatibel secara genetik milik mereka dengan milik kita sendiri. Apabila kita sedang bersama dengan orang-orang yang secara genetik sangat kompatibel, kita akan merasakan suatu chemistry atau ketertarikan pada orang yang bersangkutan. Ini adalah respon tubuh ketika mengetahui keberadan sistem kekebalan yang selaras dan cocok

Hasil kompatibilitas genetik meningkatkan kemungkinan untuk menjalin hubungan yang awet dan sukses. Penelitian juga menunjukkan bahwa kehidupan seks mitra genetik kompatibel lebih memuaskan dibanding rata-rata. Selain itu, tingkat kesuburan lebih tinggi pada pasangan genetik kompatibel dan mereka akan memiliki anak-anak yang lebih sehat. Jadi buat yang tertarik, silahkan akses situs yang bersangkutan dan membayar sebesar 249 USD (sekitar 2 juta rupiah) untuk melakukan tes saliva. Selamat mencari cinta 🙂

Oleh : Martha Florencia Endika (100801161)


One response to “Love is no coincidence : Mencari cinta lewat DNA”

  1. Vania Aprilina T says:

    artikel yang sangat menarik, ternyata ketertarikan seseorang dipengaruhi oleh DNA ya..baru tau..hehe

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php