Javanese Frog That’s Critically Endangered

Leptophryne cruentata

Leptophryne cruentata merupakan kodok endemik dari Jawa Barat yang memiliki ciri-ciri mirip dengan Leptophryne javanica, yaitu jari tangan dan kaki yang membulat dengan bentuk cenderung ramping dan kecil. Kodok jantan memiliki panjang badan berkisar 22 mm sampai 24 mm sedangkan betina bisa mencapai 29 mm. Perbedaan dari Leptophryne cruentata dan Leptophryne javanica terletak pada pola bercak yang dimiliki keduanya. Leptophryne cruentata memiliki warna bercak totol kemerahan sedangkan Leptophryne javanica memiliki warna bercak kuning dengan tubuh gelap.

Tahun 1971, Leptophryne cruentata masih merupakan jenis yang melimpah, kemudian di tahun 2004, tim IPB menunjukkan populasinya sangat menurun dibandingkan jenis lainnya. Tahun 1998, Prof. Iskandar menduga kemungkinan menurunnya populasi ini disebabkan oleh meletusnya Gunung Galanggung dan adanya agen penyakit atau jamur. Kemudian pada akhir tahun 2006 dilakukan survei lanjutan oleh Kusrini dkk dari IPB yang berlokasi di Gunung Gede dan mendapatkan hasil bahwa populasi kodok ini ditemukan lebih banyak dari sebelumnya.

Menurut IUCN, saat ini Leptopryne cruentata memiliki status konservasi critically endangered dengan jumlah populasi sekitar 1 sampai 249 individu dan akan terus menurun. Menurunnya populasi kodok ini diduga disebabkan oleh beberapa faktor seperti terdegradasinya habitat, infeksi jamurĀ Batrachochytrium dendrobatidis, perburuan untuk diperjual belikan, aktivitas manusia dan aktivitas geologis seperti letusan gunung berapi di dekat Gunung Galanggung. Kerusakan habitat berperan besar bagi keberlangsungan hidupnya, mengingat kodok ini mendiami habitat spesifik yaitu daerah yang lembab sehingga sangat sensitif terhadap perubahan. Telah diketahui bahwa salah satu air terjun utama di Gunung Cibeureum di Taman Nasional Gunung Gede Paranggono dibuka untuk akses publik dan pariwisata, sehingga muncul kegiatan seperti mencuci di sungai dengan sabun dan membuang sampah sembarangan yang dapat mencemari lingkungan dan menyebabkan populasi kodok ini terancam.

Masyarakat Indonesia memiliki kesadaran yang rendah akan pentingnya konservasi terhadap kodok. Hal tersebut dikarenakan banyaknya presepsi bahwa kodok menjijikan, padahal keberadaan kodok di suatu habitat memiliki peran sangat penting. Selain sebagai indikator kebersihan ekosistem, kodok juga berfungsi pengendali hama. Di setiap siklus hidup kodok, tidak ada yang tidak bermanfaat. Seperti berudunya dapat memakan jentik nyamuk kemudian saat dewasa memakan dan mengurangi hama yang merusak hasil kebun. Untungnya saat ini spesies Leptopryne cruentata telah resmi dilindungi oleh Pemerintah Indonesia (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2018, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.20 / MENLHK / SETJEN / KUM.1 / 6/2018 tentang Jenis-Jenis yang Dilindungi Tumbuhan dan Hewan).

Saya menyadari bahwa kesadaran diri sendiri untuk melakukan konservasi memang diperlukan demi keberlangsungan hidup suatu spesies. Hal yang dapat dilakukan untuk ikut berperan dalam menjaga spesies Leptopryne cruentata adalah dengan penyuluhan bagi anak-anak sekolah dan masyarakat umum baik secara langsung maupun melalui media lainnya seperti penyebaran poster dan leaflet yang diharapkan dapat meningkatkan simpati dan dukungan publik bagi konservasi amfibi dan meningkatkan efektivitas dari aksi konservasi dan kampanye konservasi amfibi. Hal lain yang dapat dilakukan adalah turut serta mengadakan program penangkaran dan perlindungan habitat, terutama di air terjun ketiga Cibeureum, melakukan penelitian tentang ekologi dan perilaku spesies ini, mengidentifikasi faktor penyebab dari penurunan populasi , dan melakukan pendataan ulang terhadap kemelimpahan spesies tersebut.

Sumber :

www.iucnredlist.org http://www.biologi.lipi.go.id/index.php/puslit-biologi-on-media/880-kodok-merah-ciremai-jenis-baru-yang-buktikan-indonesia-kaya-ragam-hayati https://media.neliti.com/media/publications/231508-konservasi-amfibi-di-indonesia-masalah-g-22f4fa24.pdf Mochamad, I., Richard, B. P. dan Jatna, S. 2004. Biologi Konservasi: Edisi Revisi.Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

Posted in Uncategorized | 5 Comments