Orasi Dies UAJY

Membangun Solidaritas Trans-spesies untuk Menghadapi

Krisis Keanekaragaman Hayati

Yth. Koordinator KOPERTIS Wilayah V,
Uskup Agung Semarang, Pembina Yayasan Slamet Riyadi,
Ketua dan para anggota Yayasan Slamet Riyadi,
Ketua dan para anggota Dewan Penyantun UAJY,
Pejabat Rektor, para Wakil Rektor serta para Pejabat
Struktural UAJY
Ketua, Sekretaris dan segenap anggota SAU UAJY
Segenap Anggota Civitas Akademika UAJY
Para Tamu Undangan

Pertama-tama saya mengucapkan terimakasih kepada pengurus Fakultas Teknobiologi dan Senat Akademik Universitas UAJY yang telah memberi kepercayaan pada saya untuk menyampaikan pidato ilmiah dalam rangka Dies Natalis UAJY ke-44. Tema dies tahun ini adalah Pemantapan Keunggulan Bertaraf International Berjiwa Kearifan Lokal yang Inklusif. Suatu cerminan kehendak kuat UAJY untuk menjadi universitas yang unggul, world class university, bukan hanya secara akademis tetapi juga unggul secara moral dan etika. Untuk mencapainya tidaklah mudah dan tidak ada jalan pintas. Reputasi yang unggul universitas merupakan hasil akumulasi keunggulan karya para sivitas akademika di bidang Tri Dharma Perguruan Tinggi. Selain kompetensi akademik staf, untuk bisa menghasilkan karya-karya yang unggul, keunggulan itu harus juga mendapat dukungan tata kelola universitas yang efektif dan efisien dan sumber finansial yang memadai . Pada saat ini dunia telah menghadapi multi krisis. Selain krisis global ekonomi-finansial, yang sekarang sedang kita hadapi dan menjadi perhatian besar seluruh bangsa/negara; sebenarnya kita juga sedang menghadapi krisis lain yang kurang/belum mendapat perhatian umum. Krisis tersebut adalah krisis lingkungan hidup, yang terwujud dalam bentuk perubahan iklim, lubang ozon, polusi, krisis energi, krisis air, krisis pangan, dan krisis keanekaragaman hayati. Ilmu pengetahuan dan teknologi dalam dunia modern ini menjadi dasar untuk menjawab krisis-krisis tersebut. Selain itu tidak boleh dilupakan peran dari pengetahuan dan kearifan lokal. Saya berpendapat bahwa pemilihan isu-isu yang terkait dengan krisis global dalam pengembangan ilmu dan teknologi serta penggalian pengetahuan lokal merupakan salah satu strategi untuk mencapai keunggulan bertaraf internasional. Tahun lalu, di mimbar ini juga, Prof. Prasasto Satwiko telah menjabarkan dengan jelas tentang krisis (pengelolaan) energi1. Pada kesempatan ini perkenankanlah saya membahas tentang krisis lain yang tidak begitu tampak, namun berdampak sangat besar dan tidak terpulihkan, bukan hanya untuk kelangsungan hidup manusia, namun juga kelangsungan hidup segala makluk hidup di planet bumi ini. Begitu besarnya tingkat krisis keanekaragaman hayati ini, sehingga sebagian besar ahli biologi berpendapat bahwa kita sekarang sudah berada pada masa Kepunahan (masal) Keenam2. Negara kita, yang terletak di kawasan tropis dan berupa kepulauan, termasuk pusat terjadinya krisis tersebut. Inilah ironi lain negara kita, yang termasuk salah satu negara megadiversitas (megadiversity countries – Lampiran 1), tetapi juga mempunyai daftar panjang spesies yang terancam punah (Lampiran 2).

Krisis Global
Sebelum membahas lebih detil tentang krisis keanekaragaman hayati, saya mengajak untuk melihat sekali lagi permasalah global yang kita hadapi bersama. Lebih dari dua puluh lima tahun yang lalu Perserikatan Bangsa bangsa (PBB) membentuk suatu tim yang disebut Komisi Sedunia untuk Pembangunan Berkelanjutan. Komisi yang diketahui oleh Gro Harlem Grundtland, mantan PM Norwegia, dibentuk untuk menjawab keprihatinan umum terhadap peningkatan kerusakan lingkungan dan sumberdaya alam dan konsekuesinya pada pembangunan sosial dan ekonomi. Mandatnya adalah menyusun strategi lingkungan jangka panjang untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Komisi Brundtland, dalam laporannya yang berjudul Our Common Future, mengidentifikasi enam tantangan umum, yakni masalah populasi dan sumberdaya manusia, keamanan pangan, spesies dan ekosistem sebagai sumberdaya pembangunan, dilema energi (lingkungan dan pembangunan), efisiensi industrialisasi, dan tantangan-tantangan kawasan perkotaan. Krisis keanekaragaman hayati Krisis keanekaragaman hayati yang melanda planet bumi ini mengacu pada kondisi organisme hidup yang mengalami ancaman kepunahan dalam skala yang sangat besar. Tingkat kepunahan yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan tingkat kepunahan yang pernah terjadi dalam sejarah planet bumi ini. Fakta-fakta berikut bisa memperjelas gambaran tentang besarnya tingkat kepunahan:

  • Kolonisasi bangsa Polynesia di Kepulauan Hawaii pada tahun 400 telah menyebabkan kepunahan 50 dari 98 spesies endemik. Hal yang sama terjadi juga di New Zealand yang kehilangan 13 spesies moa dan 16 spesies burung endemik sebelum kedatangan bangsa Eropa.
  • Sejak tahun 1600, mulainya kolonisasi bangsa Eropa di berbagai belahan bumi, 113 spesies burung dan 83 spesies mamalia punah.
  • Antara tahun 1850 dan 1950 rerata laju kepunahan spesies diperkirakan satu spesies per tahun6
  • Revolusi Hijau menyebabkan hilangnya varietas lokal dari jenis jagung, gandum, padi dan tanaman pertanian lainnya. Di Indonesia 1500 varietas padi lokal telah punah dalam 15 tahun terakhir

Ancaman terhadap keragaman hayati tersebut terus berlanjut. Belum lama ini kita disajikan berita tentang kontroversi rencana pemindahan komodo dari Wae Wuul (Manggarai Barat, NTT) ke Bali8. Komodo adalah reptil purba, yang sekarang masih hidup terbatas di Kepulauan Komodo dan beberapa tempat di pulau Flores. Populasi di Taman Nasional Komodo diperkirakan tinggal  2405 dan oleh karena itu statusnya adalah Terancam Punah (kategori Rentan/ Vulnerable)9. Kerusakan habitat diduga sebagai faktor penyebab utamanya. Berita lain yang lebih menyedihkan adalah tentang matinya gajah di Sumatera, baik gajah liar10 maupun gajah ‘sekolahan’ di Sekolah gajah Way Kambas11, Lampung. Populasi Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensis) terus turun akibat kehilangan hutan tropis – habitat alaminya – di pulau Sumatera. Pembalakan liar (illegal logging), konversi hutan menjadi perkebunan (kelapa sawit) atau areal transmigrasi telah memaksa gajah memasuki areal budidaya. Akibatnya konfliks gajah dan manusia semakin meningkat. Banyak gajah yang diracun karena telah dianggap sebagai hewan hama. Selain itu karena gadingnya yang mepunyai nilai ekonomi tinggi, gajah juga menjadi sasaran perburuan. Perkiraan populasi gajah antara 2.440 – 3.350 ekor, dan sudah
dikategorikan Terancam Punah12. Komodo dan Gajah Sumatera hanyalah contoh kecil dari sekian banyak spesies yang terancam punah. Dalam kurun waktu dua bulan terakhir di kolom sains Kompas muncul 26 berita tentang
spesies yang ‘teraniaya’di Indonesia. Menurut Red List IUCN tahun 200813, 701 spesies binatang dan 386 spesies tumbuhan di Indonesia termasuk dalam kelompok spesies yang terancam punah secara global. Pada skala global, level keterancaman spesies juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut World Conservation Union (IUCN) pada saat ini ada 16.928 spesies yang terancam punah secara global14. Jumlah ini mencakup 38% dari jumlah spesies yang dipertelaah/dievaluasi. Kelompok tumbuhan mengalami keterancaman yang terbesar (70%). Sedangkan kelompok hewan bertulang belakang (vertebrata), yang selama ini lebih banyak mendapat dukungan upaya konservasi, justru paling kecil level keterancamannya (22%; Lampiran 3). Level keterancaman suatu spesies ini diukur dengan menggunakan beberapa parameter, yaitu status populasi, kecenderungan pertumbuhan populasi, status luas penyebaran, dan kemungkinan/peluang kepunahannya dalam kurun waktu tertentu. Berdasarkan pengukuran parameter tersebut spesies yang dievaluasi kemudian dikelompokkan ke dalam beberapa kategori:
Punah, Terancam Punah (Kritis, Genting, Rentan)15. Lembaga ini sejak tahun 1963 telah membangun sistem Red List16, bekerjasama dengan lembaga-lembaga konservasi lainnya, seperti BirdLife Internasional, IUCN Species Survival Commision, Conservation International, dan Zoological Society of London. Lembaga-lembaga ini telah melakukan penilaian dan mengklasifikasikan tingkat keterancaman bagi hampir semua kelompok orgasnisme serta merekomendasikan aksi-aksi konservasi yang diperlukan untuk menyelamatkannya. Sistem tersebut menggunakan seperangkat standar penilaian yang terus dievaluasi dengan dasar ilmiah. Analisis sederhana dengan melihat kecenderungan jumlah spesies dalam Red List dari tahun 1996 sampai 2008 mengindikasikan bahwa upaya-upaya konservasi yang telah dilakukan nampaknya belum mampu mengurangi tingkat keterancaman. Justru sebaliknya, terjadi peningkatan jumlah spesies yang masuk dalam Red List 13 (Lampiran 3). Analisis lebih kompleks dengan menggunakan Red List Index – suatu alat analisis untuk mengukur kecenderungan kehilangan keanekaragaman hayati17, 18 – pada burung menunjukan kecenderungan yang sama pada level global maupun regional18. Indonesia yang termasuk dalam kawasan Indomalaya menghadapi kecenderungan peningkatan ancaman yang paling tinggi (Lampiran 4). Selain burung, spesies dari kelompok lainnya juga mengalami nasib yang sama. Ancaman kepunahan tidak hanya terjadi pada spesies, tetapi juga pada gen yang dikandungnya dan ekosistem dimana spesies tersebut tinggal. Ekosistem hutan tropis berkurang 10- 20 juta hektar tiap tahunnya. Tujuh puluh persen terumbu karang di Indonesia (coral reef) mengalami kerusakan sedang sampai berat19. Nasib yang sama juga dialami tipe ekosistem yang lain: hutan bakau, sungai, danau dan bahkan kawasan pertanian.

Kepunahan masal keenam
Kepunahan merupakan proses alami. Bukti-bukti fosil mengindikasikan bahwa umur hidup suatu spesies berkisar antara satu sampai sepuluh juta tahun. Bumi juga pernah mengalami periode kepunahan masal (mass extinction), periode dimana banyak takson yang punah dalam kurun waktu yang relatif singkat (1 –10 juta tahun). Telah tercatat pernah terjadi lima kali kepunahan masal dalam proses evolusi planet bumi ini20, 21:

  •  Kepunahan masal pertama, (lebih kurang 440 juta tahun yang lalu/jtl): Perubahan iklim (suhu mendadak menjadi lebih dingin) diduga yang menyebabkan kepunahan masal Ordovician yang menyebabkan perubahan drastik kehidupan di lautan (pada saat itu kehidupan daratan berlum berkembang). Diperkirakan 25 % suku kehidupan punah.
  • Kepunahan masal kedua (lebih kurang 370 jtl): Terjadi pada akhir periode Devonian dan memusnahkan 19 suku, belum diketahui penyebabnya, lebih diduga karena perubahan iklim.
  • Kepunahan masal ketiga ( lebih kurang 245 jtl): terjadi pada ahhir periode Permian dan diduga merupakan kepunahan masal terbesar yang telah memusnahkan 54% suku.
  • Kepunahan masal keempat (lebih kurang 210 jtl): terjadi pada akhir periode Triasic, telah memusnahkan 23 % suku, belum diketahui apa penyebabnya
  • Kepunahan masal kelima (lebih kurang 65 jtl): merupakan kepunahan masal pada akhitr Cretaceous, memusnahkan reptil yang mendominasi bumi saat itu (dinosarus daratan) dan ammonoidea (~ 17% suku).

Rerata laju kepunahan pada masa lalu, termasuk memperhitungkan lima kepunahan masal, sekitar 9% dari spesies yang ada tiap satu juta tahun. Laju kepunahan burung dan binatang menyusui (mamalia) antara tahun 1600 – 1975 diperkirakan antara lima sampai lima puluh kali laju kepunahan pada masa lalu (Lampiran 5). Bahkan pada akhir abad duapuluh, laju kepunahan telah mencapai empat puluh sampai empat ratus kali lipat20. Perhitungan lain memberikan hasil yang jauh lebih besar: di kawasan tropis laju kepunahannya mencapai 1000 sampai 10.000 kali laju kepunahan masa lalu. Proyeksi akan terjadinya kepunahan juga memberikan gambaran besarnya ancaman. Sekitar 50 persen dari species yang ada sekarang akan punah dalam kurun waktu 100 ke depan20. Deforestasi hutan tropis akan menyebabkan kepunahan antara 5 – 15 % spesies di bumi. Jika jumlah spesies 10 juta, maka 15.000 – 50.000 spesies tiap tahun punah atau 50 sampai 150 spesies tiap hari6. Besarnya proyeksi ini memang bisa diperdebatkan, terutama karena masih belum diketahuinya dengan pasti jumlah spesies tumbuhan dan serangga. Walaupun begitu banyak ahli biologi percaya bahwa saat ini bumi sudah berada dalam masa kepunahan keenam.

Faktor-faktor penyebab
Kepunahan pada era modern ini berbeda, baik dari segi skala waktu terjadinya dan faktor penyebabnya. Lima kepunahan masal sebelum lalu terjadi dalam kurun waktu antara 1–10 juta tahun. Ada beberapa teori mengenai fakor penyebabnya, mulai dari kegiatan vulkanik yang maha dahsyat sampai adanya benturan benda langit ke bumi, yang menimbulkan perubahan lingkungan global. Namun semua sepakat bahwa faktor lingkungan yang menjadi penyebab kepunahan masal ini. Sebaliknya, kepunahan masal pada era modern ini terjadi jauh lebih pendek, kurang dari 35 ribu tahun. Peburuan di benua Amerika dan Australia diduga berkontribusi terhadap kepunahan 74 – 86 persen ‘megafauna’ yang hidup 15 sampai 35 ribu tahun lalu22. Ada juga yang berpendapat bahwa perubahan lingkungan yang disebabkan manusialah yang menjadi penyebab kepunahan tersebut. Perubahan besar di bumi berawal dengan adanya Revolusi Pertanian (10.000 SM) dan Revolusi Industri (akhir Abad 18). Revolusi tersebut merubah peran manusia di bumi dari penghargaan dan kerjasama/kemitraan menjadi eksploitasi dan penguasaan/dominansi. Ada tiga faktor utama penyebab kepunahan yaitu deforestasi, eksploitasi berlebih dan introduksi spesies (asing). Namun selain itu ada juga faktor lain yang juga mengancam yaitu penyakit, pencemaran dan perubahan iklim6. Seperti telah di uraikan sebelumnya, laju deforestasi di Indonesia begitu besarnya. Selain karena penebangan untuk ekstraksi kayunya, deforestasi juga terjadi karena kebakaran hutan yang sudah menjadi fenomena rutin dimusim kemarau. Banyak spesies yang tergantung pada hutan, sperti orang utan (Pongo spp.), mengalami tekanan populasinya karena kerusakan habitat. Delapan puluh lima persen spesies burung Indonesia yang terancam secara global adalah burung hutan23. Perdagangan satwa liar merupakan perdagangan yang sangat menguntungkan. Dorongan keuntungan ekonomi inilah yang telah mengantar beberapa spesies ke jurang kepunahannya. Sepuluh spesies ikan paus terancam punah13 akibat perburuan, untuk memenuhi permintaan minyak ikan paus yang terus meningkat. Badak mengalami nasib sama karena culanya yang bernilai tinggi untuk gagang senjata (di Timur Tengah) atau untuk bahan obat (China); gajah karena gadingnya; harimau karena kulit atau bagian tubuh lainnya. Di samping itu ada juga spesies-spesies liar yang terancam punah karena perdagangan untuk hewan peliharaan, terutama jenis-jenis burung yang mempunyai suara indah atau pola warna bulunyanya rupawan. Pergerakan manusia modern lintas pulau dan benua, secara sengaja atau tidak sengaja juga telah membawa spesies asal ke daerah baru tujuannya. Beberapa spesies tersebut merupakan spesies asing bagi daerah barunya, yang pada umumnya kemudian akan mampu beradaptasi dan berkembang biak dengan cepat bahkan lebih unggul dari spesies asli. Akibatnya beberapa spesies lokal yang tidak mampu berhadapan dengan spesies asing tersebut akan tersingkir. Banyak bukti kepunahan di pulau-pulau kecil terjadi karena faktor ini. Introduksi secara tidak sengaja ular pohon coklat (Boiga irregularis) di Guam sekitar tahun 1950 telah menyebabkan punahnya 9 dari 13 burung asli di pulau terbesar di Mikronesia ini. Ular ini memangsa dari telur, burung yang baru menetas sampai burung dewasa24. Demografi dan perilaku burung-burung hutan di Kepulauan Hawaii juga mengalami perubahan setelah introduksi nyamuk rumah (Culex quinquefasciatus) – vektor malaria unggas25. Polusi menyebabkan penurunan populasi burung Alap-alap di Amerika. Insektisida – Dieldrin dan DDT – adalah penyebab penipisan cangkang telur burung-burung tersebut, sehingga mempengaruhi tingkat keberhasilan reproduksinya26. Pengaruh DDT ini bahkan sudah mencapai Antartika yang jauh dari lahan
pertanian. Penguin yang hidup di kutub tersebut telah terpapar insektisida ini19. Rachel Carson dalam bukunya Silent Spring mengangkat masalah dampak polusi terhadap lingkungan27. Musim semi yang biasanya ramai dengan kicauan burung menjadi sepi, karena banyak yang mati. Buku ini telah menginspirasi gerakan lingkungan hidup global. Perubahan iklim global, salah satu akibat dari pemanasan global, telah berdampak sangat besar terhadap distribusi dan kemelimpahan spesies di bumi ini. Perubahan iklim yang sedang (kenaikan suhu antara 1,8 –2,0°C) diduga akan menyebabkan 15 – 37% spesies punah pada tahun 2050. Dugaan ini berdasarkan pada meta-analisis dengan menggunakan sampel 995 spesies tumbuhan dan hewan dari berbagai kawasan biogeografi dan mencakup 20% habitat terestrial bumi28.

Pusaran Kepunahan
Pertanyaannya adalah mengapa keanekaragaman hayati, global maupun Indonesia, menghadapi ancaman yang begitu tinggi? Faktor penyebab utama yang dianggap bertanggung jawab terhadap kondisi itu adalah deforestasi atau penggundulan hutan. Laju deforestasi di bumi ini berpusat di Indonesia. Dalam kurun waktu 32 tahun (dari tahun 1965) Indonesia kehilangan 20 juta hektar hutan. Setelah itu terjadi percepatan deforestasi yang luar biasa: lima juta hektar hutan hilang dari tahun 1997 sampai 2000. Hilangnya hutan tropis berarti hilangnya juga keanekaragaman hayati yang dikandungnnya. Padahal hutan tropis merupakan ekosistem daratan terkaya di bumi ini. Walaupun luasnya hanya 6% permukaan bumi, hutan tropis mengandung separuh keanekaragaman hayati bumi, baik binatang maupun tumbuhan29. Hutan tropis kini tinggal ditemukan di Brasil (Amerika Selatan), Tanzania (Afrika) dan Indonesia (Asia Tenggara). Hilang atau rusaknya hutan tropis secara langsung telah memusnahkan berbagai jenis tumbuhan. Secara tidak langsung menyebabkan hilang atau menurunnya kualitas tempat hidup untuk berlindung, berbiak atau mencari makan dari segala spesies yang hidup di hutan itu. Bekerjanya faktor penyebab utama ini akan memicu terjadinya pusaran kepunahan (extinction vortex). Berkurangnya luasan hutan tropis, karena pembalakan atau kebakaran, telah menyebabkan penurunan populasi Orangutan (Pongo spp.) di Sumatera dan Kalimantan. Populasi yang tersisa dalam kelompok kecil-kecil dan terpisah-pisah/terfragmen. Kondisi ini lebih jauh akan mempengaruhi demografi orangutan, misalnya terjadinya penurunan tingkat reproduksi, yang lebih jauh menyebabkan populasinya makin kecil. Populasi yang makin kecil ini rentan terhadap faktor-faktor acak, yakni faktor stokastik demografi dan lingkungan. Perubahan kecil secara acak pada kemampuan reproduksi satu individu atau seks rasio anak-anak yang dilahirkan , misalnya, sudah secara signifikan akan berdampak pada penurunan populasi lebih lanjut. Kebakaran yang tidak bisa diduga datangnya, sudah cukup menyebabkan populasi tersisa tersebut punah (secara lokal). Populasi kecil dipercaya menjadi lebih rentan terhadap kepunahan karena faktor genetik31. Hipotesis umum dalam genetika populasi adalah bahwa populasi kecil akan kehilangan variasi genetik. Padahal variasi genetik ini sangat diperlukan sebagai modal untuk beradaptasi dengan lingkungan yang berubah31-34. Kawin sanak (inbreeding), yang sering terjadi pada populasi kecil, akan menimbulkan tekanan kawin sanak (inbreeding depression). Gejalanya nampak dari tingkat reproduksinya menurun, atau lebih rentan terhadap penyakit.

Akar masalah
Krisis lingkungan memiliki empat komponen utama, yaitu masalah penduduk berlebih (over population), deplesi sumberdaya (resource depletion), pencemaran (pollution) dan kegagalan manusia (human failing). Bumi sekarang ini telah dihuni lebih dari enam milyar manusia. Dengan laju pertumbuhan penduduk sekarang, penduduk bumi akan berlipat ganda dalam 40 tahun. Tiga faktor utama yang bertanggunjawab pada kondisi ini adalah: bertambahnya produksi makanan, kontrol penyakit (perbaikan kesehatan) dan kondisi sanitasi yang lebih baik. Namun di beberapa negara berkembang masalah kependudukan ini juga meningkatkan malnutrisi dan kelaparan. Laju pertumbuhan penduduk sekarang dan meningkatknya konsumsi per kapita telah menyebabkan deplesi sumberdaya, baik yang terbaharukan maupun yang tidak. Praktek-praktek pengelolaan lahan yang jelek telah mengantar ke masalah erosi parah, penggundulan hutan (deforestation), penggurunan
(desertification), dan meningkatnya laju kepunahan spesies. Proses-proses industri yang menghasilkan limbah tidak hanya menyebabkan deplesi sumberdaya tetapi juga menghasilkan polusi. Krisis lingkungan merupakan hasil dari aktivitas manusia yang merefleksikan krisis spiritualitas manusia, kurangnya kepedulian pada generasi mendatang dan kehidupan bumi35. Krisis
spiritualitas ini merupakan perwujudan perkembangnya materialisme dan arogansi atas kedudukan manusia di lingkungannya. Krisis ini bersumber pada paradigma yang menggangap bahwa manusia terpisah dari alam, dan pandangan manusia terhadap alam secara mekanik. Pendekatan reduksionis digunakan untuk melihat suatu dari bagian-bagian kecilnya. Pandangan yang didasarkan pada pemikiran Rene Decarte dan Isac Newton ini36, telah memicu
perkembangan teknologi yang luar biasa di Eropa, yang kemudian tersebar secara global bersamaan dengan kolonisasi bangsa Eropa ke dunia baru.
Teknologi ini telah membuat hidup manusia jauh lebih mudah dan sejahtera. Kebutuhan pangan relatif tercukupi dan tingkat kesehatan semakin membaik. Akibatnya pertumbuhan populasi manusia meroket dengan pesatnya (Lampiran 6). Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan gaya hidupnya, sumberdaya alam banyak dieksploitasi. Praktek-praktek pemanfaatan sumberdaya alam yang hanya mempertimbangkan keuntungan (ekonomi) jangka pendek telah menimbulkan dampak-dampak negatif. Pemanfaatan sumberdaya tersebut menjadi tidak berkelanjutan, sumberdaya alam yang dimanfaatkan rusak dan bahkan punah. Fakta-fakta tentang kepunahan spesies yang telah diuraikan sebelumnya merupakan dampak negatif yang tidak terpulihkan.

Pembangunan dan Konservasi keanekaragaman hayati
Uraian sebelumya menunjukan bahwa kepunahan adalah proses alamiah. Lalu mengapa sekarang kita perlu peduli dengan spesies yang terancam punah? Bukankah, dengan membiarkannya, kita justru membantu ‘proses evolusi’ kehidupan? Apakah kita kehilangan atau mengalami kerugian dengan punahnya Harimau Jawa? Atau sebaliknya apakah keuntungannya kita menyelamatkan
spesies tersebut dari kepunahan? Keanekaragaman hayati di bumi terpusat di kawasan tropis. Kondisi iklim yang relatif stabil memberi peluang yang lebih pada proses spesiasi di kawasan ini dan menciptakan relung ekologis yang lebih beragam. Hutan tropis yang hanya dua persen luas ekosistem terrestrial, diperkirakan mengandung 50% dari spesies hewan dan tumbuhan bumi. Terumbu karang yang terletak di daerah tropis merupakan ‘hutan tropis’ ekosistem perairan. Lebih dari 4000 spesies hidup di terumbu karang37. Kekayaan hayati yang tinggi ini sebagian besar terdapat di negaranegara berkembang yang miskin, berpenduduk padat, tingkat pendidikan dan penguasan teknologi rendah. Akibatya sumberdaya alam menjadi satu-satunya sumber pendapatan negara dan masyarakat nya. Industri kehutanan di Asia, misalnya, telah menghasilkan devisa lebih dari US $ 5 miyar tiap tahun38. Sektor kehutanan Indonesia menyumbang sekitar 7% GDP39 dan menyediakan 5,4% total lapangan pekerjaan40. Hutan juga menyediakan produk-produk non-kayu untuk kebutuhan hidup sehari-hari dan sumber penghasilan bagi penduduk setempat. Nilai ekspor Indonesia dari produk non-kayu ini sekitar $ 238 juta41. Sektor perikanan juga tidak sedikit peranannya dalam perekonomian dunia. Perikanan yang bersumber pada spesies ikan liar menyediakan sekitar 100 juta ton bagi sumber makanan dunia42 Di Indonesia total produksi perikanan tangkap pada tahun 2007 bernilai Rp 48,4 triliun dan meningkat 20 % dari tahun sebelumnya. Ketergantungan pada sumberdaya alam dan ditambah dengan tekanan kependudukan telah menyebabkan terjadi banyak deplesi sumberdaya alam kita. Jumlah penduduk di negara-negara
berkembang antara tahun 1960 sampai 1990 telah meningkat 150 persen dari 1,6 milyar menjadi 4 milyar, sementara itu di negaranegara maju bertambah 50 persen dari 0, 8 sampai 1,3 milyar. Tekanan ini tidak lah mudah untuk diatasi dalam waktu dekat. Walaupun laju kelahiran di negara berkembang dapat ditekan, pada tahun 2010 diperkirakan penduduk dunia sudah mencapai 10 milyar dan 85% hidup di negara berkembang. Negara maju tidak berarti tidak punya andil terhadap kerusakan lingkungan. Gaya hidupnya yang boros, yang celakanya mulai ditiru oleh sebagian masyarakat negara berkembang, secara langsung maupun tidak telah juga berperan secara signifikan. Polusi yang ditimbulkan dari industri, transportasi dan limbah domestik/rumah tangga telah menimbulkan masalah-masalah lingkungan global. Amerika merupakan penyumbang terbesar emisi karbon dioksida, salah satu gas rumah kaca yang menyebabkan peningkatan suhu global (global warming). Pembangunan di negara-negara berkembang tetap diperlukan untuk mengatasi masalah kemiskinan, yang menjadi salah satu penyebab utama masalah lingkungan. Hal ini lah yang menjadi tantangan utama, bagaimanakah pembangunan tidak menyebabkan dampakdampak negatif terhadap lingkungan. Atau bagaimanakah upaya konservasi keanekaragaman hayati memberi berkontribusi pada pembangunan? Awalnya ada pertentangan antara kubu preservationist dan developmentanlist. Namun melihat keterkaitan positif yang sangat jelas antara keanekaragaman hayati dan pembangunan maka dewasa ini pilihannya bukan “pembangunan atau keanekaragaman hayati” tetapi “pembangunan dan keanekaragaman hayati”. Sudah mulai timbul pemahamandalam skala global, kehilangan keanekaragaman hayati berarti kehilangan pilihan bagi kita semua dan bagi generasi yang akan datang6. Selain memiliki nilai (ekonomi) langsung yang berperan bagi
keberlanjutan pembangunan secara global maupun lokal, bagi generasi sekarang atau generasi yang akan datang, keanekaragam hayati juga mempunyai nilai-nilai lain. Keanekaragaman hayati juga menjadi sumber inpirasi bagi para seniman berkarya. Nilai estetika burung, bunga atau bentang alam telah terwujudkan dalam lagu, puisi, cerita, tarian, lukisan, dekorasi, patung, nyanyian, model pakaian. Bahkan ada hubungan yang positif antara keanakaragaman hayati dan keanekaragaman budaya. Keanekaragaman budaya yang tinggi di Indonesia merupakan cerminan dari keanekaragaman hayatinya. Oleh karena itu hilangnya keanekaragaman hayati juga akan mengancam keanekaragaman budaya. Sejarah telah mengajarkan bahwa
berbagai bangsa besar yang telah ada sirna karena kerusakan lingkungan atau punahnya keragaman hayatinya. Suku Maya di hutan Amazon, atau Mesopotamia di Timur Tengah merupakan sedikit contoh. Peran ekologis suatu spesies merupakan bagian dari jejaring kehidupan dalam suatu ekosistem. Hilangnya spesies akan memutus jejaring tersebut dan akan mengganggu fungsi dan struktur ekosistem secara keseluruhan. Kepunahan sekunder sering terjadi seiring dengan punahnya suatu spesies kunci. Ketiga fungsi atau nilai tersebut masih banyak bias karena antroposentris. Alasan lain adalah alasan etis, bahwa suatu spesies mempunyai nilai intrisik. Kehadirannya di bumi ini pasti mempunyai nilai, baik menguntungkan atau tidak bagi manusia. Peran ilmu pengetahuan Tujuan konservasi keanekaragaman hayati adalah untuk penyangga pembangunan yang berkelanjutan dengan cara perlindungan dan pemanfaatan sumberdaya biologis tanpa pemiskinan variasi gen dan spesies dan perusakan fungsi dari habitat dan ekosistem. Cakupannya memang sangat luas, tetapi strategi konservasi keanekaragaman hayati global tersebut pada
dasarnya bisa menggunakan tiga elemen utama, yakni penyelamatan (save), pemanfaatan (use) dan penelitian (study) 19. Ketiga elemen ini saling berinteraksi dan mengisyaratkan pentingnya konservasi berbasis pada penelitian ilmiah. Kajian tentang konservasi sumberdaya alam atau keanekaragaman hayati sebenarnya sudah secara tradisional telah tercakup di dalam subdisiplin ilmu-ilmu pengelolaan sumberdaya alam seperti pertanian, perikanan, peternakan, kehutanan dan pengelolaan satwa liar (wildlife management, range management)44. Namun, isu konservasi bukan menjadi kajian pokok. Kondisi inilah yang menggugah para penggiat konservasi, awalnya ahli ekologi dan genetika (populasi), memulai suatu subdisiplin baru: biologi konservasi, pada awal tahun delapan-puluhan. Subdisiplin baru ini fokus pada kajian masalah-masalah kepunahan, faktor-faktor penyebab dan mencari jalan untuk mengatasinya. Kekomplekan masalah ini memaksa kajian dilakukan lintas disiplin, bukan hanya ilmu-ilmu alam tetapi juga ilmu-ilmu sosial. Permasalahan genetik pada populasi kecil kemudian menjadi kajian
khusus subdisiplin genetika konservasi yang didukung pula dengan perkembangan teknologi molekuler45. Aplikasi molekuler di bidang konservasi juga telah mendorong berkembangnya ekologi molekuler. Ketidak-tersediaan atau keterbatasan data/informasi, bahkan untuk data yang sangat esensial-misalnya ukuran/jumlah populasi suatu spesies, merupakan masalah umum yang dijumpai di Indonesia dan negara berkembang lainnya. Bahkan pada sebagian besar spesies burung yang terancam punah, ketersediaan data sangat terbatas. Data yang tersedia pun kualitasnya juga tidak baik. Beberapa rencana strategis dan rencana aksi konservasi di tingkat global maupun nasional telah disusun. Indonesia telah memiliki Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia 2003-2020, dengan visinya “Terwujudnya masyarakat Indonesia yang peduli, berdaya dan mandiri dalam melestarikan dan memanfaatkan keanekaragaman hayati secara optimal, adil dan berkelanjutan melalui pengelolaan yang bertanggung jawab untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat”. Untuk mencapainya peningkatan peran ilmu pengetahuan dan teknologi serta kearifan lokal menjadi salah satu prioritas. Namun sayang sekali implementasinya sangat lemah. Komitmen para pemangku kepentingan lemah, karena keterbatasan sumberdaya manusia, dana, dan kelembagaan. Hal ini diperparah dengan dinamika politik yang belum atau tidak memperhatikan isu lingkungan hidup/keanekaragaman hayati. Jumlah ahli ekologi di negara berkembang jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah kekayaan hayatinya (Lampiran 7). Untuk menelaah organisme di di daerah tropis setidaknya diperlukan 7500 ahli sistimatika49. Kajian sistimatika sangat diperlukan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan yang tepat dalam konservasi biologi. Konsep konservasi keanekaragaman hayati yang modern ini merupakan konsep dari negara maju, yang kemudian dicoba diterapkan atau terkadang dipaksakan di negara-negara berkembang yang kondisi lingkungan dan sosialnya berbeda.
Masyarakat lokal/asli yang sudah berinteraksi lama dengan lingkungannya dan mempunyai nilai-nilai dalam mengelola sumberdaya alam secara berkelanjutan sering tersingkirkan setelah diterapkannya konsep konservasi modern. Ada yang percaya bahwa masyarakat lokal yang masih rendah
populasinya, penguasaan teknologinya masih rendah tidak akan merusak lingkungnnya dan karenanya bisa sejalan dengan upaya konservasi modern. Namun jika populasi mulai meningkat dan mulai ada kontak dengan masyarakat luar dan teknologinya mulai maju, keberadaanya sudah tidak kompatibel dengan konservasi di daerah itu. Tantangan bagi para ahli bidang sosial atau antropolog adalah bagaimana menggali dan mengimplentasikan nilai-nilai asli/lokal untuk mendukung konservasi, pada kondisi lingkungan
dan masyarakat yang sudah berubah ini. Pada tahun 2007 hadiah Nobel di bidang perdamaian dimenangkan bersama oleh Al Gore (mantan Wakil Presiden USA dan aktivis lingkungan) dan Intergovermental Panel on Climate Change (IPPC) – suatu panel ahli di bidang perubahan iklim global. Menurut R.K. Pachauri (ketua IPCC) dalam Nobel Lecture50, penghargaan Nobel bagi IPCC merupakan mengakuan terhadap pentingnya kekuatan dari hasil upaya ilmiah kolektif, lintas negara dan politik, dan peran landasan pembanguan berkelanjutan bagi masyarakat dunia. Di samping itu tidak kalah pentingnya adalah pengakuan akan ancaman terhadap stabilitas dan keamanan dunia sangat terkait dengan lingkungan (perubahan iklim). Perubahan iklim merupakan salah satu faktor pengancam keanekaragaman hayati. Pada laporan terakhirnya IPCC51 mulai membawa isu keanekaragman hayati. Hasil pengamatan di 829 lokasi/ekosistem sejak tahun 1970 mengindikasikan bahwa 28.800 spesies tumbuhan dan binatang serta 90% perubahan fisik di bumi ini (mencairnya glasier, kenaikan suhu sungai, mencairnya lahan permafrost) disebabkan dan terkait erat dengan perubahan iklim. Sebaliknya deforestasi hutan tropis, terutama di Indonesia dan Brasil, juga berkontribusi sekitar 20% gas rumah kaca. Keberhasilan IPCC dalam mengubah pandangan global mendorong UNEP membentuk lembaga sejenis untuk keanekaragaman hayati.
Pembentukan IPBES52 (International Platform for Biodiversity and Ecosystem Services) untuk mendapatkan perhatian dan respon yang lebih besar dan cepat atas krisis keanekaragaman hayati. Mengubah persepsi, melakukan aksi
Kehilangan keragaman hayati bumi yang begitu cepat dan besar tersebut telah menyebabkan cadangan modal dasar bumi, yakni gen, spesies, habitat dan ekosistem – telah tergerus. Begitu besarnya dampak keberadaan manusia terhadap spesies dan ekosistem bumi ini, sampai Edward O. Wilson, Profesor Emeritus Biologi di Havard University, berpendapat: “If all mandkind were
all to dissappear, the world would regenerate back to the rich state of equillbrium that existed ten thousands years ago. If insects were to vanish, the environment would collapse into chaos”. Alarm tanda bahaya telah berbunyi nyaring. Sebagai respon berbagai lembaga internasional, lembaga pemerintahan, lembaga non-pemerintah (ornop) dan gerakan personal mulai peduli terhadap keanekaragaman hayati. Rentang kegiatan di bidang ini telah meningkat secara signifikan dalam dua dasawarsa terakhir. Dalam skala global telah disepakati berbagai konvensi, seperti Konvensi Keanegaragaman Hayati tahun 1992, salah satu hasil dari Konferensi Rio de Janeiro, Brasil; Konvensi Ramsar tentang perlindungan lahan basah dan Konvensi Perdagangan Satwa Liar Internsional (CITES). Untuk menyelamatkan spesies terancam punah telah dilakukan berbagai aksi konservasi melalui penetapan kawasan perlindungan,
kebun binatang, kebun raya, akuarium, bank benih, dan stasiunstasiun penelitian. Krisis keanekaragaman hayati tidaklah sederhana dan karenanya
tidak bisa diatasi hanya secara biologis/ekologis. Oleh karena itu sudah banyak lembaga yang bekerja dengan memadukan perlindungan ekosistem dengan pembangunan ekonomi. Skala masalah yang global mendorong beberapa lembaga menggintegralkan perlindungan keanekaragaman hayati dengan
perencanaan pembangunan dan mewujudkan konvensi-konvensi internasional. Lembaga-lembaga donor pembangunan internasional pun mulai memperhatikan dan mensyaratkan bagaimana bantuan (pinjaman) dan hibah yang akan diberikan tidak berdampak negatif bagi keragaman hayati. Kelompok lain telah juga mencari alternatif pendanaan untuk konservasi, seperti debt swap for nature. Selain itu perkembangan cepat di bidang ilmu biologi konservasi dan ekologi bentang alam (landscape ecology) memberi rasa optimis untuk bisa menghadapi krisis ini. Para peneliti telah menemukan teknik-teknik konservasi untuk menjaga populasi dan menyediakan habitat yang memadai untuk kelestarian spesies. Walau belum memadai sesuai kebutuhan, sarjana terlatih di bidang kehutananan, ekologi, biologi konservasi terus bertambah. Sejalan dengan Prof Wilson, ada gerakan personal yang cukup
radikal “Voluntary Human Extinction Movement”. Gerakan ini menganjurkan manusia untuk tidak meneruskan rasnya dengan tidak berkembangbiak, tidak memiliki keturunan. Penganut gerakan ini percaya bahwa penambahan anak satu saja sudah cukup signifikan menambah masalah lingkungan. Sudah banyak yang telah dilakukan, namun nampaknya upayaupaya yang telah dilakukan tersebut belum mencukupi. Ancaman terhadap keanekaragamanhayati tidak berkurang, justru semakin besar.

Peran lembaga pendidikan tinggi
Noss, seorang praktisi biologi konservasi, memberikan pendapat yang mengejutkan, bahwa sebagian besar universitas di Amerika Serikat tidak membekali lulusannya dengan ketrampilan dan pengetahuan yang memadai untuk mengatasi masalah konservasi di lapangan54. Pendapat ini didukung oleh Maffe, yang berpendapat rendahnya respon universitas terhadap krisis
keanekaragaman hayati55. Bisa jadi kondisi universitas di negara lain, termasuk di Indonesia tidak jauh berbeda. Peran pergurungan tinggi selain pengembangan ilmu dan teknologi yang diperlukan untuk mendukung upaya konservasi adalah penyemaian nilai-nilai kemanusiaan. Telah terbukti bahwa masalah lingkungan timbul karena nilai-nilai yang kita pakai tidak benar. Tantangan dan peluang perguruan tinggi adalah bagaimana menyediakan proses belajar mengajar yang tidak hanya memberikan keunggulan akademik, tetapi juga harus menjadi media penyemaian dan penyebaran keunggulan etis dan moral, serta nilai-nilai baru yang lebih mendukung pandangan organik
dan holistik yang akan mendukung kelestarian keanekaragaman hayati dan terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan. Dengan kepedulian ini kita tidak hanya menyelamatkan spesies lain, tetapi lebih-lebih menyelematkan spesies kita sendiri. Tentu hal ini tidak mudah, karena masih banyak anggota komunitas akademis yang secara sadar atau tidak sadar lebih cenderung
menganut paradigma antroposentis, mekanik, dan reduksionis36. Sebagai penutup perkenankanlah saya mengaris bawahi pidato ini. Bahwa kita sedang menghadapi krisis keanekaragaman hayati. Jika tidak dilakukan upaya-upaya yang signifikan, krisis ini akan berdampak besar bagi kehidupan dan kesejahteraan manusia. Selain alasan ini, secara etis kita, manusia modern yang berbudaya, berkewajiban menyelamatkan kehidupan di planet bumi. Komunitas akademis berkewajiban untuk mengembangkan program-program pendidikan dan pengajaran serta penelitian yang mendukung upaya penyelamatam keanekaragaman hayati. Upaya kita bersama untuk solider bukan saja terhadap sesama manusia, tetapi juga kepada makluk hidup lain sesama penghuni planet bumi ini. Dengan demikian bisa tercipta solidaritas trans-spesies, solidaritas terhadap sesama penumpang kapal angkasa jagad
galaksi Bima Sakti ini.

“ We have a purpose.
We are many.
For this purpose, we will rise, and we will act”.
(Al Gore )

Daftar Referensi

  • Satwiko, P., Krisis Pengelolaan Energi Global: Mempertanyakan Gaya Hidup Antroposentris dan Dampaknya In Universitas Atma Jaya Yogyakarta: 2008.
  •  Leakey, R.; Lewin, R., The Sixth Extinction. Doubleday: 1995.
  • WCED Our common future UN: 1987.
  • Olson, S. L.; James, H. F., Fossil birds from the Hawaiian Islands: evidence for wholesale extinction by man before western contact. Science 1982, 217, 633-635.
  • Cassels, R., The role of prehistoric man in the faunal extinctions of New Zealand and other Pacific islands. In Quaternary Extinctions: A Prehistoric Revolution., Martin, P. S.; Klein, R. G., Eds. University of Arizona Press: Tucson, AZ, 1984; pp 741-767.
  • Reid, W. V.; Miller, K. R., Keeping options alive: the scientific basis for conserving biodiversity. World Resource Institute: Washington, DC, 1989.
  • KLH, National strategy for management of biodiversity. KLH: Jakarta, 1989.
  • Kompas, Dukung pemurnian Komodo di Flores. Kompas 30 Juli, 2009.
  • Jessop, T. S.; Imansyah, M. J.; Purwandana, D.; Ariefiandy, A.; Rudiharto, H.; Seno, A.; D.S., O.; Noviandi, T.; Payung, I.; Ciofi, C. Ekologi populasi, reproduksi, dan spasial biawak Komodo (Varanus komodoensis) di Taman Nasional Komodo; Zoological Society of San Diego, Balai Taman Nasional Komodo, dan The Nature Conservancy Labuan Bajo, Flores, 2007.
  • Fransisca, H., Oknum TNI Pemburu Gading Gajah Ditangkap. Kompas 27 Januari, 2009.
  • Antara, Dua Gajah Sumatera Mati Tanpa Gading. Kompas 7 Mei, 2009.
  • WWF Sumatran Elepant. http://www.panda.org/what_we_do/endangered_species/elepha nts/asian_elephants/sumatran_elephant/ (31 August 2009),
  • IUCN 2008 IUCN Red List. www.redlist.org (18 August 2009),
  • IUCN, 2008 IUCN Red List. In IUCN: 2008.
  • IUCN The IUCN Red List of Threatened Species: Categories & Criteria (version 3.1). www.redlist.org (28 August),
  • IUCN About the IUCN Red List. www.iucn.org (28 August 2009),
  • Butchart SHM; Akc¸akaya HR; Chanson J; Baillie JEM; Collen B; Quader, S.; Turner, W. R.; Amin, R.; Stuart, S. N.; Hilton- Taylor, C., Improvements to the Red List Index. PLoS ONE 2007, 2, (1), e140.
  • Butchart, S. H. M.; Stattersfield, A. J.; Bennun, L. A.; Shutes, S. M.; Akc¸akaya, H. R.; Baillie, J. E. M.; Stuart, S. N.; Hilton- Taylor, C.; Mace, G. M., Measuring global trends in the status of diodiversity: Red List indices for birds. PLoS Biol. 2004, 2, (12), e383.
  • WRI; IUCN; UNEP, Global biodiversity strategy. World Resources Institute, The World Conservation Union (IUCN), United Nations Environment Programme: 1992.
  •  Ehrlich, P.; Ehrlich, A., Extinction – The Causes and Consequences of the Disappearance of Species. Victor Gollancz, Ltd.: London, 1982.
  • Eldredge, N. The Sixth Extinction Periodical [Online], 2005. ActionBioscience.org (accessed 30/08/2009).
  • Martin, P. S., Refuting late pleistocene extinction models. In Dynamics of Extinction, Elliott, D. K., Ed. John Wiley and Sons: New York, NY, 1986; pp 107-130.
  • Shannaz, Y.; Jepson, P.; Rudyanto, Burung terancam punah di Indonesia. BirdLife International: Bogor, 2000.
  • Fritts, T. H.; Rodda, G. H., Annu. Rev. Ecol. Syst. 1998, 29, , 113-140.
  • Fonseca, D. M.; Lapointe, D. A.; Fleischer, R. C., Bottlenecks and multiple introductions: population genetics of the vector of avian malaria in Hawaii. Molecular Ecology 2000, 9, (11 %R doi: 10.1046/j.1365-294x .2000.01070.x), 1803-1814.
  • Porter, R. D.; Wiemeyer, S. N., Dieldrin and DDT: Effects on Sparrow Hawk Eggshells and Reproduction Science 1969, 165, (3889), 199 – 200.
  • Carson, R. L., Silent spring. Mariner Book: New York, 1962.
  • Thomas, C. D.; Cameron, A.; Green, R. E.; Bakkenes, M.; Beaumont, L. J.; Collingham, Y. C.; Erasmus, B. F. N.; Siqueira, M. F. d.; Grainger, A.; Hannah, L.; Hughes, L.; Huntley, B.; Jaarsveld, A. S. v.; Midgley, G. F.; Miles, L.; Ortega-Huerta, M. A.; Peterson, A. T.; Phillips, O. L.; Williams, S. E., Extinction risk from climate change. NATURE 2004, 427.
  • Mabberley, D. J., Tropical Rain Forest Ecology. Chapman & Hall: New York, 1992.
  • Gilpin, M. E.; Soule, M. E., Minimum viable populations: processes of species extinctions. In Conservation biology: the science of scarcity and diversity, Soule, M. E., Ed. Sinauer Associates: Sunderland, MA, 1986; pp 19-34.
  • Frankham, R., Relationship of Genetic Variation to Population Size in Wildlife. Conserv Biol 1996, 10, (6), 1500-1508.
  • Frankham, R., Genetics and conservation biology. Comptes Rendus Biologies 2003, 326, (Suppl 1), S22-S29.
  • Frankham, R.; Ralls, K., Conservation biology – inbreeding leads to extinction. Nature 1998, 392, (6675), 441-442.
  • Frankham, R.; Smith, G. J.; Briscoe, D. A., Effects on heterozygosity and reproductive fitness of inbreeding with and without selection on fitness in drosophila-melanogaster. Theoretical & A pplied Genetics 1993, 86, (8), 1023-1027.
  • Drimmelen, R. v., Iman Kristen dan perekonomian dunia saat ini. In Iman, ekonomi, dan ekologi, Banawiratma, J. B.; Kana, N. L.; Widyatmadja, J. P.; Damanik, J., Eds. Kanisius: Yogykarta, 1996; pp 134-147.
  • Capra, F., Jaring-jaring kehidupan. Fajar Pustaka Baru: Yogyakarta, 2001.
  • Spalding, M.; Ravilious, C.; Green, E., World A tlas of Coral Reefs University of California Press and UNEP/WCMC: Berkeley, CA, 2001.
  • Spears, J., Pelestarian keanekaragaman hayati di hutan tropis Asia. In Kriis biologi – hilangnya keanekaragaman biologi, Kartawinata, K.; Whitten, A. J., Eds. Yayasan Obor Indonesia: Jakarta, 991; pp 221-233.
  • FAO, Situation and outlook of the forestry sector in Indonesia. Ministry of Forestry: Jakarta, 1990; Vol. Volume I-IV. .
  • KLH, Agenda 21-Indonesia: a national strategy for sustainable development. . UNDP: Jakarta, 1997.
  • de Beer, J. H.; McDermott, M. J., The economic value of nontimber forest product in Southeast A sia. Netherlands Commitee for IUCN: Amsterdam, 189.
  • FAO, Current fishery statistics. FAO: Rome, 1988.
  • Soemarwoto, O., Indonesia dalam kancah isu lingkungan global. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta, 1991; p 322.
  • Primack, R. B., Essentials of Conservation Biology. 3rd ed.; Sinauer Associates, Inc.: Sunderland, 2002; p 698.
  • Frankham, R., Conservation genetics. Annual Review of Genetics 1995, 29, 305.
  • Yuda, P. In Red list of Indonesia’s red list bird, Student Conference on Conservation Science, Cambridge, 2005; Cambridge, 2005.
  • Bappenas, Strategi dan Rencana A ksi Keanekaragaman Hayati Indonesia 2003-2020. Bappenas: Jakarta, 2003.
  • Darmawan, I., Arah Kebijakan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati: Tantangan dalam Pelaksanaannya. In Keanekaragaman Hayati di Ujung Tanduk: IPTEK Solusi untuk Menyelamatkan Kelestariannya, Diselenggarakan oleh Organisasi Profesi Ilmiah Bidang Ilmu Hayati dan LIPI Jakarta – 2006.
  • NCR, Research prorities in tropical biology. National Academic of Science: Washington, DC, 1980.
  • Pachauri, R. K., Nobel Lecture. In The Nobel Foundation: 2007.
  • Fischlin, A.; Midgley, G. F.; Price, J. T.; Leemans, R.; Gopal, B.; Turley, C.; Rounsevell, M. D. A.; Dube, O. P.; Tarazona, J.; Velichko, A. A., Ecosystems, their properties, goods, and services. Contribution of Working Group II to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. In Climate Change 2007: Impacts, Adaptation and Vulnerability., Parry, M. L.; Canziani, O. F.; Palutikof, J. P.; Linden, P. J. v. d.; Hanson, C. E., Eds. Cambridge University Press: Cambridge, 2007; pp 211-272.
  • UNEP, How Best to Put ‘Nature-Based Assets’ at the Top of the International Political Agenda Focus of Malaysia Meeting. 2008.
  • Knight, L. U. The Voluntary Human Extinction Movement http://www.vhemt.org/ (15/9/2009),
  • Noss, R. F., The failure of universities to produce conservation biologists. Conservation Biology 1997, 11, 1267-1269.
  • Meffe, G. K., Softening the boundaries. Conservation Biology 1998, 12, 259.
  • Gore, A., Nobel Lecture. In The Nobel Foundation: 2007.
  • KLH, Indonesia country study on biological diversity. Ministry State for Population and Environment.: Jakarta, 1992.
  • Sukmantoro, W.; Irham, M.; Novarino, W.; Hasudungan, F.; Kemp, N.; Muchtar, M., Daftar burung Indonesia no.2. Indonesian Ornithologists’ Union: Bogot, 2007.
  • Bappenas, Biodiversity action plan. Bappenas: Jakarta, 1991.

Leave a Reply