Pendekatan Molekuler dalam Penelitian Burung

many young, often 20-50%, in monogamous species, particularly passerines, are the results of extra-pair fertilizatons  
 

Pendahuluan

Temuan tentang besarnya kasus ‘perselingkuhan’ (extra-pair fertilizatons-EPF) pada burung sangatlah menarik, bukan hanya dari sisi hasil kajian ekologi perilaku burung namun juga dari aspek metodologi.  Bagaiamanakah kita bisa memastikan bahwa anak yang diasuh oleh pasangan burung tersebut adalah anak biologis mereka? Pengamatan secara langsung dengan mengikuti setiap perilakunya selama 24 jam sangat sulit untuk dikerjakan. Temuan di atas merupakan hasil penelitian dengan menggunakan pendekatan molekuler. Hasil pengamatan langsung jangka panjang  perilaku  Bald Eagle (Haliaeetus leucocephalus) mengindikasikan bahwa burung ini adalah monogami jangka panjang dan setia dengan pasangannya (Jenkins, 1993). Namun analisis molekuler menemukan bahwa pada Bald Eagle juga terjadi EPF.

Penggunaan pendekatan molekuler dalam kajian perilaku kawin burung merupakan salah satu pemanfatan teknik biologi molekuler untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan biologi atau ekologi yang sulit terjawab dengan menggunakan pendekatan yang sudah ada. Pendekatan molekuler juga sudah digunakan untuk manjawab berbagai permasalahan dalam penelitian burung, baik dalam bidang sistematika, evolusi maupun ekologi.

 

Sejarah perkembangan

 

Perkembangan teknik biologi molekuler dalam tiga dasawarsa terakhir  telah mendorong juga kemunculan sub disiplin baru yang disebut ‘ekologi molekuler’. Secara garis besar ekologi molekuler merupakan palikasi metode genetika molekuler untuk menjawab permasalahan ekologi (Beebe and Rowe, 2004). Istilahnya baru dikenal setelah tahun 90-an, namun jauh sebelumnya beberapa penelitian ekologi telah menggunakan pendekatan molekuler.

Kajian populasi manusia dengan menggunakan kelompok darah (ABO) merupakan kajian awal ekologi molekuler. Perkembagan cepat sub disiplin ini tidak terlepas dari perkembangan teknik biologi molekuler, terutama polymerase chain reaction (PCR), dan tersedianya penanda molekuler atau genetik (molecular/genetic marker).  Teknik PCR  mengatasi permasalahan sampel, lebih-lebih pada spesies yang jarang dan sulit dijumpai. Dengan teknik ini kajian molekuler bisa dikerjakan dengan sampel yang sangat sedikit dan diperoleh dengan non-invansive sampling.  Sampel bisa diperoleh dari rambut, bulu, kotoran, atau jaringan. Specimen museum menjadi salah satu sumber materi DNA, yang tentunya harus diperhatikan prosedur pengambilannya sehingga tidak merusak nilai specimen untuk kepentingan utamanya.

Penanda genetik  merupakan merupakan bagian kecil dari genome suatu organisme yang diasumsikan mewakili keseluruhan genome. Marker ini harus memiliki variasi (polimorfis),yang besaranya tergantung pada tujuan kajiannya. Jika kita akan membedakan individu maka diperlukan penanda dengan variasi yang tinggi, sementara analisis genetika populasi memerlukan memerlukan penanda dengan variasi level moderate..

Pada awal perkembangan ekologi mlekuler, variasi protein banyak digunakan. Penanda ini masuh digunakan sampai sekarang, khususnya digunakan untuk membedakan faktor-faktor antar spesies. Ketika enzim restriksi endoneklease ditemukan, kta bisa melakukan memotong genome suatu oganisme menjadi fragmen yang specific pada suatu individu. Penggunaan enzin ini menjadi tren umum dalam kajian ekologimolekuler.  Revolusi ekologi molekuler dimulai dengan digunakannnya teknik PCR, dan penanda genetik yang sekarang banyak digunakan adalah mikrosatelit.

 

Aplikasi pada penelitian burung

 

Pendekatan molekuler telah digunakan  dalam berbagai aspek penelitian burung, seperti dalam sistematika, identifikasi, ekologi perilaku, genetika populasi, genetika konservasi  dan filogeografi. Berikut akan dijabarkan beberapa contoh aplikasinya.

  1. Sistematika

Sistematika molekuler burung  diawali oleh Charles G. Sibley pada awal  1960an dengan menggunakan protei darah dan kemudian elektroforesis protein telur putih. Kemudian pada tahun 70-an mulai menggunakan teknik hibridisasdi DNA. Hasil analisisnya telah merivisi filogeni burung dan  mempunyai pengaruh yang besar, disamping juga menimbulkan kontroversi. (Sibley and Ahlquist, 1990).

Kajian filogeni burung di Indonesia juga telah menggunakan pendekatan ini, diantaranya pada ayam hutan  (Zein and Sri, 2002),  beo (Suzanna, 2007).

  1. Identifikasi

Identifikasi, baik pada level spesies maupun individu, sangat penting bukan hanya untuk kepentingan teoritis tetapi juga untuk aplikasi,  misalnya dalam konservasi. Pada level spesies, dewasa ini telah dikembangkan DNA Barcode yaitu penggunaan sekuen DNA pendek untuk mengidentifikasi suatu spesies (Hebert et al., 2004). Penanda genetik yang digunakan adalah cytochrome c oxidase I (COI), DNA  mitokondrial. Metode ini juga berpotensi untuk digunakan mengidentifikasi mangsa dari kotoran atau isi perut pemangsanya, serta untuk kepentingan forensik satwa liar.

Analisis parasit atau penyebab penyakit pada burung dipermudah dengan penggunaan pendekatan molekuler. Perkembangan yang pesat dari pendekatan molekuler tidak hanya mempengaruhi hasil penelitian dalam identifikasi parasit malaria burung, tetapi juga dalam kajian evolusi. Berdasarkan metode mikroskospis hanya ditemukan 200, sekarang diduga sekitar sepuluh ribu jenis (Valkiunas et al., 2008).  Dengan pendekatan yang sama Yuda (2008a, , 2008b)  mengidentifikasi beberapa haplotipe baru parasit malaria (Haemoproteus) yang specifik pada jenis burung Gelatik Jawa dan Bondol. Selain itu analisis sejenis  pada 25 spesies di Pantai Trisik hanya ditemukan 7 haplotipe, yang dominan adalah Plasmodium (5), sedangkan Haemoproteus dan Leucocytozoon masing-masing hanya ditemukan satu haplotipe; semuanya . unik pada burung-burung di Pantai Trisik (Yuda and Aida, 2009).

Identifikasi pada level individu lainnya adalah penentuan jenis kelamin, yang realtif sulit pada burung yang sebagian monomorfik dan lebih-lebih pada anaknya.  Penentuan jenis kelamin dengan molekuler menggunakan penanda penentu jenis kelamin pada gen CHD1W (chromobox-helicase-DNA-binding gen) yang terletak pada kromosom W (spesifik betina) dan gen CHDZ pada komosom Z (Griffiths et al., 1998).  Dengan menggunakan pendekatan ini Seilandari (1999) menentukan jenis kelamin 109 sampel beberapa jenis burung (terutama burung paruh bengkok) di Indonesia.  Hasilnya 90 sampel dapat dibedakan jenis kelaminnya., 14 sampel tidak dapat teramplifikasi, dan 5 sampel tidak dapat dibedakan. Metode yang sama digunakan oleh Rahayuningsih (2004) untuk burung kepodang dan Yuda (2008a) melakukan pada gelatik jawa.

.

  1. Ekologi perilaku
  1. Genetika populasi dan konservasi
  2. Filogeografi

Seperti hal pada kajian ekologi molekuler,  aplikasi analisis molekuler pada penelitian burung mencakup banyak aspek. Penggunaannya dalam sistematika telah

The entire genome of the domestic fowl Gallus gallus was sequenced in 2004 and was followed in 2008 by the genome of the Zebra Finch (Taeniopygia guttata).[76] Such whole genome sequencing projects allow for studies on evolutionary processes involved in speciation.[77] Associations between the expression of genes and behaviour may be studied using candidate genes. Variations in the exploratory behaviour of Great Tits (Parus major) have been found to be linked with a gene orthologous to the human gene DRD4 (Dopamine receptor D4) which is known to be associated with novelty-seeking behaviour.[78] The role of gene expression in developmental differences and morphological variations have been studied in Darwin’s finches. The difference in the expression of Bmp4 have been shown to be associated with changes in the growth and shape of the beak.[79][80]

 

Referensi

BEEBE, T. & ROWE, G. (2004) An Introduction to Molecular Ecology, Oxford, Oxford Univestity Press.

GRIFFITHS, R., DOUBLE.M.C, ORR, T. K. & DAWSON, R. J. G. (1998) A DNA test to sex most birds. Canberra, Molecular Laboratory, DEEB.Australian National University.

HEBERT, P. D. N., STOECKLE, M. Y., ZEMLAK, T. S. & FRANCIS, C. M. (2004) Identification of Birds through DNA Barcodes. PLoS Biol 2, e312.

JENKINS, J. M. (1993) Mate and Nest Site Fidelity in Resident Population of Bald Eagles The Condor 95, 1053-1056.

RAHAYUNINGSIH, M. (2004) Penentuan Jenis Kelamin Burung Kpodang  (Oriolus chinensis maculatus L.) dengan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction) menggunakan Primer Sexing Bogor, Institut Pertanian Bogor.

SIBLEY, C. G. & AHLQUIST, J. E. (1990) Phylogeny and classification of birds, New Haven, Conn., Yale University Press, .

SULANDARI, S. (1999) Sexing birds using DNA analysis for ex-situ conservation program. Bogor, PC for Biology.LIPI.

SUZANNA, E. (2007) Analisis Hubungan Kekerabatan Berdasarkan Morfologi, Aktivitas Harian, Gambaran Darah dan Karakter DNA Mitokondrion Beberapa Subspesies Burung Beo (Gracula religiosa Linnaeus 1758). Sekolah Pasca Sarjana. Bogor, Institut Pertanian Bogor.

VALKIUNAS, G., EZHOVA, T. A. I., KRIZˇANAUSKIENE, A., PALINAUSKAS, V., SEHGAL, R. N. M. & BENSCH, S. (2008) A Comparative Analysis of Microscopy and PCR-Based Detection Methods for Blood Parasites. J. Parasitol., 94, 1395-1401.

YUDA, P. (2008a) Conservation Genetics of the Java sparrow (Padda oryzivora) and An Analysis of Its Viability. Marine and Tropical Biology.  .: . Cairns,, James Cook University.

YUDA, P. (2008b) Prevalensi dan Keragaman Jenis Parasit Malaria Burung pada Burung Bondol (Lonchura spp.). Yogyakarta., Fakultas eTeknobiologi, UAJY.

YUDA, P. & AIDA, Y. (2009) Keragaman Jenis, Prealensi dan Hubungan Ecolusi Malaria Burung pada Burung Liar dan Ayam. Yogyakarta, Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

ZEIN, M. S. A. & SRI, S. (2002) Filogeni molekuler ayam hutan dari hasil sekuen Hypervariable I control region genom DNA mitokondria Bogor, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Pusat Penelitian Biologi

Makalah disampaikan dalam Seminar IdOU, Bogor, 4 Desember 2010

Posted in Bahan Pelatihan/Lokakarya/Seminar | Leave a comment

Berburu Burung Satek di Tebing Pantai Selatan Jogja

Suara dentuman ombak yang menghempas tebing pantai terdengar keras.  Saya masih asyik mencari posisi yang enak untuk menbidikkan kamera ke lubang tebing karang dimana anakan burung berada.   Angin yang kuat membuat tali karmentel statik – satu-satunya tali pengaman – selalu bergoyang.  Tidak mudah untuk memfokus kamera manual yang saya pakai.  Sementara kaki juga mulai semutan. Tiba-tiba hamburan percikan ombak mengenai saya.  Untung kamera sudah dilindungi dengan tas plastik. Seluruh pakaian sudah basah kuyup.

Ini benar-benar ombak yang besar.  Bayangkan saya tergantung lebih kurang 15 meter dari permukaan laut, masih kena juga hempasan ombak.  Suatu petualangan baru juga.  Bergelantungan di tebing curam di atas ganasnya ombak laut selatan Jawa, tepatnya di Pantai Ngongap,  Gunungkidul –  lebih kurang 80 km tenggara kota Yogyakarta.

Petualangan ini bermula dari keinginan untuk membuktikan informasi yang menyebut Pantai Ngongap mungkin menjadi tempat berbiak burung laut yang bernama Satek Ekor Putih (Phaeton lepturus).  Burung laut yang hanya ditemukan di daerah tropis – karena itu nama Inggrisnya Tropicbird –  seluruh bulunya berwarna putih.  Selain memanfaatkan pulau-pulau atol tak berpenghuni manusia, burung  ini memanfaatkan celah atau rekahan kecil di tebing untuk bersarang.  Di Indonesia tidaklah banyak tempat yang menjadi habitat berbiaknya.  Selain di Ngongap, Gunungkidul yang diragukan tadi,  tempat lainnya adalah Nusa Barung, Nusa Penida (Bali) dan Kepulauan Banda.

 

Dari bibir tebing sebenarnya sudah cukup, kalau hanya ingin mengamati keindahan terbang burung Satek.  Berbeda dengan burung dara laut (Sterna spp.) yang suka terbang bergerombol tepat di atas permukaan air laut atau burung cikalang (Fregatta spp.) yang suka terbang melayang-layang tinggi, terbang burung Satek  anggun di tengah-tengahnya.  Ekornya yang panjang menampah pesona terbangnya.  Dari tepian Pantai Ngongap pernah teramati 10 ekor secara bersamaan terbang  berpasang-pasangan, atau kalau berkelompok maksimal empat ekor.  Sesekali mereka membuat manuver, dan tiba-tiba terbang cepat menuju tebing dan tidak muncul lagi.  Burung Satek tersebut “mendarat” di tebing Pantai Ngongap !!.

Namun hal itu belumlah membuktikan bahwa Satek berbiak di sana, bukan?  Apa yang harus dilakukan, dinding tebing menghadap ke laut tidak bisa dilihat dari daratan.  Naik perahu dan mengamatinya dari sisi laut?  Terlalu bahaya, ombak sangatlah besar.  Ingat ini pantai selatan Jawa, pantainya Lautan Teduh atau India yang terkenal ganas.  Kalau anda percaya disana ada pula Nyai Loro Kidul, yang sering meminta korban.

Satu-satunya jalan nampaknya menuruni tebing itu.  Bagaimana bisa menuruni tebing curam setinggi 30 – 50 an meter itu.  Buruntung sekali saya pernah mengikuti latihan teknik penulusuran gua vertikal.  Dengan teknik tali tunggal (single rope technique/SRT) dan ditambah nyali besar  diputuskan untuk mencari dimana burung Satek tadi menghilang.  Perlu nyali besar, karna biasanya kalau turun gua tidak kelihatan dasarnya, disini ombak besar sudah menunggu di bawah dan ditambah angin yang kuat pula.  Beberapa teman  penelusur gua yang membantu, awalnya antusias mau membantu menuruni tebing, namun beberapa diantaranya ngeper setelah melihat ke bawah ada laut dengan hempasan ombaknya yang besar.

Setelah  memproyeksi lokasi menghilangnya burung,  jalur tali untuk turun disiapkan.  Dan ini tidaklah mudah.  Pemilihan tebing yang menjorok, membuat tali tergantung bebas akan membuat saya seperti pendulum, terayun-ayun angin laut yang keras.  Sebaliknya kalau terlalu merapat tebing, harus ekstra hati-hati.  Banyak gesekan tali dengan tebing,  jelas akan merusak tali.  Padding – alas pelindung tali harus banyak disediakan untuk itu.

Perlengkapan turun gua – selain lampu karbit untuk penerangan – sudah terpakai.  Helm tetap saya gunakan, untuk melindungi kemungkinan ada guguran batu dari atas.  Turun pertama kali tidak membawa hasil. Tidak ada tanda-tanda burung di tebing.

Setelah berkali-kali memindah jalur, akhirnya ada tanda-tanda seekor burung di suatu lubang.  Saya terpana melihat burung itu, yang nampaknya sedang mengerami.  Burung itu juga diam saja, mungkin juga terpana dengan kehadiran saya.

Takut mengganggu proses   berbiaknya, saya cepat-cepat naik.  Sekalian mengambil kamera untuk mengabadikan momen langka ini.  Dengan sedikit memindah jalur, saya turun lagi.  Kali ini sudah dengan kamera siap bidik.  Tiba-tiba ada suara burung menyambar-nyambar mengenai helm saya.  Induk lainnya datang, saya pikir.  Bukan, ternyata burung dara laut, yang marah daerah teritorinya diusik.  Ternyata tidak jauh dari lubang itu, burung dara laut juga meletakkan telurnya, dua buah.  Berbeda dengan Satek yang memilih lubang,  dara laut lebih suka teras kecil di tebing.

Kilatan lampu kilat yang  di arahkan ke burung dara  membuatnya pergi.  Kesempatan untuk mengabadikan burung Satek.  Lima minggu berturut-turut saya masih bisa mengamati dan membuat foto anakan burung itu.  Sampai terakhir kali kunjungan, bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia – 17 Agustus, anak burung itu sudah tidak ada di sarangnya.  Burung itu sudah mengikuti jejak induknya, terbang bebas mengarungi luas langit di atas samudra India.

Satek ekor putih memang berbiak di Pantai Ngungap, Dab (baca: Mas).

Yogyakarta, 28 September 2002

Posted in Nature Watch, Uncategorized | Leave a comment

Penangkaran dan Konservasi spesies terancam punah


 

Pendahuluan

Dalam era modern ini kita dihadapkan pada krisis keanekaragaman hayati.  Laju kepunahan jenis kehidupan begitu tinggi dan terjadi dalam waktu yang sangat singkat.   Peristiwa kepunahan yang tercatat sejak tahun 1600 menunjukan telah punah 491 spesies binatang.  Bandingkan dengan era-era sebelumnya: salah satu perkiraan laju kepunahan adalah tiga spesies tiap tahunnya. Peristiwa kepunahan pada era itu juga terjadi dalam kurun waktu yang sangat lama,  minimal 500 ribu tahun.  

Dengan tingkat tekanan yang ada dewasa ini, a.l. berupa hilang dan rusaknya habitat dan  perburuan,  banyak spesies yang terancam punah.  Menurut Daftar Merah IUCN tahun 1990,  ada 4452 spesies hewan terancam punah.  Kelompok yang paling banyak terancam adalah burung (1029 spp.) dan serangga (1083 spp.).  Di antaranya adalah 104 jenis burung yang hidup di Indonesia.

Upaya konservasi yang intensif perlu dilakukan untuk menyelamatkan spesies-spesies yang terancam tersebut.  Konservasi in-situ untuk melindungi habitat dan populasi sisa perlu segara dilakukan.  Bersamaan dengan itu tentunya juga harus dihilangkan faktor-faktor ancaman.  Untuk spesies yang populasinya sudah demikian kecilnya, program konservasi ex-situ berupa penangkaran sering menjadi satu-satunya harapan.  Namun dalam implementasinya program penangkaran telah banyak menimbulkan kontradiksi.

Penangkaran sebagai sumber penambahan populasi

Ketika Kakatua-kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea abboti) di P. Masa Kambing yang tinggal 5 ekor(thn. 1999) , atau Jalak Bali di Bali Barat  tinggal 31 ekor (thn. 1988),  mampukah mereka bertahan hidup?   Untuk berapa lama?

Aturan umum mengatakan bahwa untuk bisa bertahan dalam waktu pendek diperlukan  populasi efektif lebih dari 50, dan untuk jangka lama perlu setidaknya 500.  Karena di bawah angka-angka tersebut tekanan  kawin sanak (inbreeding depression) akan sangat besar, membuat kualitas turunan menjadi rendah.  Akibat lebih lanjut adalah meningkatnya kerentanan terhadap tekanan lingkungan dan tekanan demografik, sehingga kepunahan akan dipercepat. Lalu bagaimanakah mencapai jumlah populasi tersebut?

Disinilah peran penangkaran. Populasi hasil penangkaran  dapat berperan  sebagai  sumber demografik dan genetik, sebagai “darah segar” bagi populasi liar.  Populasi burung Jalak  Bali di Taman Nasional Bali Barat bertambah dengan suntikan populasi hasil penangkaran, yang banyak terdapat di beberapa kebun binatang di Amerika dan Eropa.  Sedangkan burung Kondor Kalifornia  perlu ditangkapi dahulu, ditangkarkan dalam kandang dan kemudian dilepas lagi setelah jumlah pupulasinya cukup stabil.  Hal yang sana pernah dicoba juga untuk  Badak Sumatera.

Melihat besarnya peluang peran penangkaran dalam penyelamatkan satwa yang terancam punah, para ahli konservasi banyak mengandalkan pada penangkaran.  Hampir  semua Rencana Aksi Konservasi memasukkan program penangkaran.   Bahkan sudah 15 tahun yang lalu, para ahli biologi konservasi telah mengusulkan Rencana Aksi Penangkaran Global (Global Captive Action Plan), sebagai turunan dari Conservation Assessment and Management Plans (CAMPs).

Ketidakberhasilan implementasi

Program penangkaran ini banyak direspon oleh kebun-kebun binatang dan akurium di Amerika dan Eropa.  Dengan program ini mereka ingin mengurangi tekanan dari kelompok  pembela hak satwa dan sekaligus mendapatkan publisitas baik.  Kelahiran satwa, betapun jeleknya satwa itu, akan menimbulkan perhatian dan simpati dari pengunjung.  Namun dalam implementasinya dalam mendukung konservasi spesies yang terancam punah tidaklah menggembirakan.

Penyelamatan Oryx Arab (Oryx leucoryx) dan Kondor Kalifornia (Gymnogyps californianus) adalah contoh keberhasilan program penangkaran dalam mendukung konservasi insitu. Sayang contoh sukses ini tidak banyak diikuti oleh program-program lainnya.  Jumlah spesies yang terselamatkan dari kepunahan melalui penangkaran sangatlah kecil.  Salah satu studi menunjukkan  bahwa hanya 25 spesies (4% dari potensi kepunahan abad ini) yang terpreservasi di kandang menyusul kepunahannya di alam.  Diantaranya hanya tujuh spesies (4%), yang berhasil dipreservasi dan dilepas lagi ke habitat asalnya.

Peran kebun binatang untuk mendukung menyelesaikan masalah  ini juga belum menggembirakan.  Kajian yang dilakukan Magin dkk.  Pada tahun 1994 menemukan hanya 15% ruang yang dialokasikan untuk mamalia di kebun binatang  teriisi oleh spesies yang terancam punah.  Dari 507 spesies mamalia yang teracam punah, hanya 174 spesies yang ada di kandang.  Jumlah total satwa tersebut juga rendah, sehingga kurang baik sebagai gene pool program penangkaran.

Kritik lain terhadap kebun binatang adalah kurangnya perhatiannya terhadap spesies lain di luar spesies mamalia besar yang mempunyai karisma.  Perhatian terhadap reptil, moluska atau invertebrata lainnya masih rendah.

Biaya pengelolaan kebun binatang dan akuarium di seluruh dunia ini diperkirakan US$ 3 milyard per tahun.  Bandingkan dengan dengan anggaran untuk pengelolaan kawasan konservasi di negara-negara berkembang, hanya US$500 juta per tahun. Penangkaran memang memerlukan biaya yang sangat besar.  Untuk membiayai pemeliharan gajah afrika atau  badak hitam di kandang memerlukan 50 kali lebih mahal dibandingkan dengan biaya perlindungan jenis tersebut dengan jumlah yang sama di habitat alaminya.  Konsisi ini dianggap sebagai pemborosan untuk sumberdaya (pembiayaan) konservasi yang terbatas.  Bukankah akan lebih baik jika dana yang begitu besar itu digunakan untuk  membantu pembiayaan perlindungan habitat?

Ketidakberhasilan program tersebut tidak terlepas juga dari faktor bio-ekologi.  Satwa yang lahir dan berkembang di kandang penangkaran  tidaklah serta merta dapat dilepas ke alam.  Aspek biomedis dan perilaku satwa tersebut harus diperhatikan dengan cermat.  Kasus penyakit manusia pada primata yang hidup di kandang sudah banyak dijumpai.  Primata yang sudah mengidap penyakit bisa jadi harus  menjadi penghuni kandang seumur hidupnya.  Pelepasliaran satwa tersebut jelas akan mengancam populasi liar.  Penyakit yang dia bawa akan menular ke anggota populasi lainnya.

Satwa yang lahir di kandang yang di lepas-liarkan sering menemukan masalah dalam mencari makanan, menghindar dari predator atau mencari pasangannya.  Ada yang berpendapat bahwa membesarkan satwa di kandang seperti membesarkan anak tanpa budaya. Mereka tidak mengetahui untuk menjadi liar.  Walau dalam beberapa kasus tertentu, setelah ada program pelatihan sebelum dilepasliarkan, satwa tersebut mampu beradapdasi. Jalak bali ternyata mempunyai tingkat adaptasi yang lebih tinggi  dari perkiraan awal para ahli yang terlibat dalam program Jalak Bali.

Pertanyaan yang lebih mendasar yang diajukan untuk program penangkaran adalah: apakah yang kita selamatkan, jika satwa tersebut kehilangan esensi keliaranya?

 

Penangkaran di Indonesia

Program Jalak Bali merupakan satu-satunya contoh program konservasi spesies terancam punah di Indonesia yang didukung dengan program penangkaran.  Populasi hasil penangkaran dari Amerika dan KB Surabaya telah menambah stock populasi Jalak Bali di Taman Nasional Bali Barat.  Walau dari aspek ini berhasil, namun nampaknya program tersebut tidak berhasil mengurangi tekanan pencurian dan kerusakan habitat.

Program-program penangkaran satwa lain sebanarnya sudah dilakukan, baik oleh kebun binatang, taman safari, badan swasta atau perorangan.  Beberapa contoh: Kebun Binatang Gembiro Loka (Yogyakarta) telah menangkarkan Komodo, Perum Perhutani telah menangkarkan Monyet Ekor Panjang dan Rusa, dan  seorang penangkar dari Yogya a.l telah berhasil menangkarkan Cucak Rowo dan Merak.   Akan tetapi program-program ini, terutama untuk spesies yang terancam punah (dan dilindungi),  tidak terintegrasikan dengan upaya konservasi in-situ.  Program penangkaran Merak yang telah dilakukan oleh banyak pihak tidak menjadi bagian aksi konservasi Merak.  Demikian juga program penangkaran Komodo. Lalu untuk apa hasil penangkaran tersebut?

Program penangkaran di Indonesia diatur dengan PP No.8 tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.  Penangkaran menurut PP (Ps. 7) ini merupakan  bentuk pemanfaatan, dan dapat dilakukan dengan dua cara, yakni 1) pengembangbiakan satwa dan perbanyakan tumbuhan dan 2) penetasan telur atau pembesaran anakan yang diambil dari alam.  Sedangkan pengembangbiakan, menurut pasal  16 PP 7 tahun 1999 (tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa), merupakan pengelolaan di luar habitat (ex-situ) untuk pengembangan populasi di alam agar tidak punah.   Dengan pengertian ini maka pengertian penangkaran dalam kedua PP tersebut sejalan dengan konsep dan tujuan umum penangkaran.             Masalah yang harus kita kritisi dari PP 8, yang berkaitan dengan penagkaran adalah pada pasal 10 dan 11: hasil penangkaran dari tumbuhan dan satwa (setelah generasi kedua)  yang dilindungi   menjadi tidak dilindungi, karena itu bisa diperdagangkan.   Konsep “jenis” atau “spesies”  apakah yang digunakan di sini.  Apakah turunan kedua dari suatu spesies sudah menjadi spesies lain, karena itu tidak perlu dilindungi?  Jika ditelususr lebih jauh, dari daftar spesies  hewan yang dilindungi dari kelompok burung saja ada  39 spesies yang terancam punah secara global.  Jelas ketentuan tersebut menjadi potensi ancaman yang besar.  Bukankah perdagangan telah terbukti menjadi kekuatan yang  luar biasa dalam merusak kekayaan alam?

Bahan bacaan:

  1. van Balen, S. & V.H. Gepak. 1994. The Captive Breeding and Conservatin Programme of Bali Starling (Leucopsar rothschildi).  Pp. 420-430 In: P.J.D. Olney, G.M. Mace & A.T.C Feistner (eds.). Creative Conservation: Interactive Management of Wild and Captive Animals.  Chapman & Hall, London.
  2. Magin, C.D., T.H. Johnsohn, B. Groobridge, M. Jenkins & H. Smith. 1994.  Sepcies Extinction, Endangerment and Captive Breeding. Pp. 3-31. Pp. 420-430 In: P.J.D. Olney, G.M. Mace & A.T.C Feistner (eds.). Creative Conservation: Interactive Management of Wild and Captive Animals.  Chapman & Hall, London.
  3. Mills, C. 2000.  Breeding Discontent. The Science . May/June: 12-15
  4. Shannaz,J., P. Jepson & Rudyanto.  1995.  Burung-burung Terancam Punah di Indonesia.  PHPA/BirdLife International Indonesia Programme. Bogor.
  5. Soule, M.E. 1986. Conservation Biology: Science of Scarcity and Diversity.  Sineauer Associates. Sunderland, Mass.
  6. WCMC.  1992.  Global Biodiversity: Status of the Earth’s Living Resources.  Chapman & Hall, London.

 

 

 

Makalah penunjang pada Seminar Regional “Konservasi Ex-situ sebagai Penunjang Konservasi In-situ”, Forkomkon Fak. Kehutanan UGM, Yogyakarta, 28 November 2000.

Posted in Bahan Pelatihan/Lokakarya/Seminar | Leave a comment

Kepunahan masal keenam

Dalam proses evolusi kehidupan di bumi ini,  telah banyak terbentuk jenis/spesies baru dan juga sebaliknya ada  yang sudah hilang atau punah .  Sehingga kepunahan adalah bagian dari siklus alamiah.  Seperti juga kita lahir, hidup di dunia dan meninggal. “ Untuk kebanyakan kelompok organisme, rerata rentang hidupnya  antara  1 – 10 juta tahun” kata Dr David Raup dalam jurnal Science.

Salah satu contoh kepunahan yang cukup kita kenal adalah kepunahan Dinosaurus.  Kepunahan yang terjadi  lebih kurang 65 juta tahun yang lalu itu menjadi “istimewa” karena banyaknya jenis yang punah.  Dan menjadi terkenal secara luas setelah film Jurassic Park arahan Steven Spielberg.  Sebenarnya yang punah waktu itu bukan hanya Dinosaurus,  hampir dua per tiga organisme daratan  ikut punah.  Karena banyaknya jenis yang punah – dan dalam waktu yang relatif singkat  tentunya dengan ukuran waktu geologi – disebut kepunahan masal.

Kepunahan di masa Dinosaurus itu hanyalah satu dari beberapa kepunahan masal yang pernah tejadi dalam perjalanan kehidupan di bumi ini.  Ahli-ahli paleontologi sepakat  bahwa telah terjadi lima kali kepunahan masal.  Kepunahan  di jaman Dinosarurus merupakan yang kelima.  Sedangkan kepunahan sebelumnya berturut-turut terjadi pada akhir periode Ordovician (500 juta tahun lalu/jtl) , Devonian (345 jtl),  Permian (250 jtl) dan Triasic (180 jtl).  Tentang penyebabnya masih banyak beda pendapat diantara para ahli.  Hujan asteriod yang menimpa bumi merupakan salah  teori yang banyak dipercaya sebagai penyebabnya.  Namun ada juga yang lebih percaya bahwa kegiatan vulkanik yang masif di bumi inilah yang bertanggung jawab pada kepunahan masal tersebut.  Walau begitu ada kesepakatan diantara para ahli, bahwa perubahan lingkungan yang masif itu disebabkan oleh aktivitas nir-hayati.

Dewasa ini banyak ahli yang percaya bahwa kita sekarang berada dalam masa kepunahan keenam. “Tujuh dari sepuluh Ahli Biologi  percaya bahwa kita telah menghadapi kepunahan masal”  kata Ellen V. Futter direktur American Museum of Natural History, merujuk pada hasil poling yang dilakukan pada anggota American Institute of Biological Sciences tiga tahun lalu.

Catatan tentang kepunahan yang tejadi sejak tahun 1600 yang dikumpulkan oleh Walter V. Reid dan Kenton R. Miller dari World Resources Institute  menunjukan bahwa 724 jenis organisme telah punah.  Yang paling banyak adalah tumbuhan tingkat tinggi (384 jenis) sedangkan untuk binatang adalah burung (113).  Sedangkan lainnya  mamalia (83), reptil (21), dan invertebrata (98).   Kepunahan organisme air tawar, termasuk keong, amfibia dan ikan, ternyata lebih besar.  “ Di Amerika  Utara saja sejak tahun 1900 paling sedikit  telah punah 123 jenis ” menurut Anthoni Ricciardi dari Dalhaousie University , Kanada. “Kepunahhan ini lima kali lebih besar dari organisme daratan” lanjutnya.

Red List yang dikeluarkan IUCN tahun 2000 menunjukan juga besarnya ancaman kepunahan.  Dalam kurun waktu empat  tahun pertambahan jumlah organisme yang terancam punah sangatlah nyata.  “ Fakta bahwa jumlah jenis yang terancam punah bertambah – mamalia dari 169 menjadi 180 jenis dan burung dari 168 sampai 182 jenis sangatlah mengejutkan, bahkan bagi mereka yang sudah familier dengan masalah krisis keanekaragaman”  kata Maritta von Bieberstein Koch-Weser, direktur IUCN saat melaunching buku tersebut di Tokyo tahun lalu.

Kejadian kepunahan yang tercatat tersebut  terbatas pada jenis-jenis yang sudah dikenal dan diberi nama secara ilmiah.  Padahal,  baru 10-30 % jenis kehidupan ini yang sudah dicandra dan diberi nama.  Mungkin banyak jenis yang punah sebelum kita kenal.  Karena itulah janganlah terkejut jika Dr. Richard Lekey, ahli paleoantropologist paling terkenal, berpendapat bahwa antara 17.000 dan 100.000 jenis akan punah di bumi ini tiap tahunnya.  “Jika kita menggunakan estimasi itu, katakanlah hanya 30.000 jenis  per tahun,  laju kepunahan sekarang ini sudah 120.000 kali kepunahan normal”  kata Dr. David Raup, “Jelas ini sudah termasuk dalam kualifikasi kepunahan masal”. Dalam periode normal laju kepunahan hanya sebesar satu jenis tiap empat tahun.

Angka-angka yang sangat fantastis itu diperoleh dari pendugaan, dengan melihat hubungan antara luas habitat dan kekayaan jenis yang dimilikinya.  Dengan demikian jika habitat  hilang maka kekayaan jenis nya juga hilang.  Menurut analisis Reid dan Miller “Patokannya  jika habitat berkurang 90 persen di suatu daerah, maka lebih kurang separuh  jenisnya akan hilang”.

Salah satu habitat yang terpenting adalah hutan. Menurut World Conservation Monitoring Centre, walau hanya 6-7% luas bumi, hutan tropis  mengandung lebih dari separuh jenis organisme  di bumi ini.   Padahal menurut laporan FAO 80 % hutan alamiah sudah hilang, terfragemen atau rusak.  Besarnya laju deforestasi dewasa ini berkisar 13,6 juta hektar per tahun. Dengan laju deforestasi sebesar itu maka  antara dalam kurun waktu 20 tahun saja 5-15  persen jenis kehidupan akan punah.

Habitat-habitat lainnya, seperti terumbu karang, perairan tawar maupun lautan juga mengalami ancaman yang tidak kalah seriusnya.  Kegiatan-kegiatan manusia lainya seperti perburuan, perdagangan, introduksi jenis dan kegiatan lain yang menimbulkan polusi  memperbesar ancaman yang telah ditimbulkan oleh hilangnya habitat.  Inilah yang membedakan kepunahan masal sekarang.  Salah satu jenis  yang  paling dominan di bumi, yaitu Homo sapiens, yang menjadi penyebab utamanya.

Yogyakarta, 21 September 2001


Posted in Nature Watch | Comments Off on Kepunahan masal keenam

Aplikasi molecular sexing pada Gelatik Jawa

ABSTRAK

Penentuan jenis kelamin penting dalam kajian ekologi dan biologi konservasi. Untuk jenis burung monomorfik, seperti Gelatik Jawa,  penentuan jenis kelamin tidak mudah dilakukan, lebih-lebih untuk individu yang belum dewasa.  Penelitian ini menjabarkan aplikasi molekuler sexing pada  Gelatik Jawa, dengan metode PCR dan penanda molekuler dari Gen CHD (chromobox-helicase-DNA-binding).  Pasangan primer yang digunakan adalah 2550F  dan 2718R.   Jumlah sampel total sebanyak 66 individu dewasa dan 20 anakan burung. Hasil amplifikasi dengan PCR divisualisasi dengan elektroforesis gel agar (3%).  Berdasarkan pola pita semua sampel bisa diindetifikasi jenis kelaminnya.  Uji chi squire  mengindikasikan bahwa rasio jenis kelamin pada Gelatik jawa, baik pada populasi dewasa maupun anakan tidak menyimpang dari rasio 1:1.

PENDAHULUAN

Kepastian identifikasi jenis, individu dan jenis kelamin sangat penting dalam kajian ekologi dan aplikasinya dalam biologi konservasi.  Namun, informasi tentang jenis kelamin dan rasionya dalam suatu populasi masih sangat terbatas. Salah satu penyebabnya adalah kesulitan dalam mengidentifikasinya. Lebih dari  separuh jenis burung termasuk monomorfik, antara jenis jantan dan betina  sulit dibedakan secara langsung (berdasarkan morfologi eksternal). Metode yang telah dikembangkan untuk identifikasi jenis kelamin burung tidak efisien dan ada juga yang menimbulkan resiko tinggi (Cerit dan Acanus,  2007).

 

Untuk mengatasi permasalahan ini telah dikembangkan teknik DNA untuk identifikasi jenis kelamin. Sejauh ini telah dikembangkan beberapa metode berbasis pada teknik DNA ini. Teknik tersebut menggunakan gen yang terletak pada kromosom sex. Burung betina memiliki kromosom Z dan W, sementara burung jantan dua kromosom Z.  Beberapa penanda molekuler sudah digunakan untuk teknik ini. Saitoh et al.(1991) menggunakan primer XhoI untuk mengidenfikasi jenis kelamin ayam. Teknik yang sama digunakan Petitte dan Keglemeyer (1992) bahkan untuk embrio ayam.  Keduanya mengunakan teknik PCR. Canon et al. (2000) menggunakan metode analisis flow cytometric  DNA inti,  berhasil mengidentifikasi jenis kelamin tiga jenis burung paruh bengkok. Marka RAPD telah dikembangkan oleh Welsh dan McClelland (1990) dan Williams et.al (1990). marka ini hanya mengamplifikasi kromosom w pada jenis burung betina. Marka lain yang telah digunakan untuk identifikasi jenis kelamin adalah mikrosatelit (Nesje dan Røed, 2000), minisatelit (Miyaki et al.,1997), AFLP (Griffiths dan Orr,1999), RFLP (Quinn et al., 1990) dan yang sekarang paling banyak digunakan adalah gen CHD (chromo-helicase-DNA-binding) (Griffths et al., 1998). Burung betina memiliki gen CHD1-W dan CHD1-Z , sedangkan burung jantan memiliki dua gen CHD1-Z. Hasil amplifikasi gen tersebut menunjukan dua pita pada betina dan satu pita pada  jantan.

 

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis kelamin burung Gelatik jawa (Padda oryzivora)  dengan menggunakan pendekatan molekuler. Pada saat ini Gelatik jawa populasinya sangat sedikit dibandingkan dengan kondisinya sebelum tahun tujuh puluhan.  Dengan kondisi yang ada IUCN telah memasukan burung ini dalam kategori Rentan /Vulnerabel  (BirdLife International,2012). Kajian ekologi populasi Gelatik jawa untuk menduga nasibnya dimasa mendatang memerlukan data demografi. Data tersebut tidak terbatas pada populasi total, tetapi lebih detil tentang struktur populasi dan seks rasionya. Untuk data yang terakhir tentunya sangat diperlukan identifikasi jenis kelamin.

 

Gelatik jawa berdasarkan morfologinya relatif sulit dibedakan antara burung jantan dan betina.  Pada saat musim berbiak, bagi yang terlatih, bisa melihat tanda-tanda perbedaan keduanya pada ukuran dan bentuk paruh dan warna lingkar matanya.  Namun diluar masa berbiak sulit membedakan burung dewasa yang jantan atau betina, lebih-lebih pada burung anakan atau mudanya.

METODE PENELITIAN   

Sampel

Total sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 66 individu burung dewasa dan 20 individu burung remaja. Sampel darah untuk sumber materi DNA diperoleh dari cara memotong ujung kuku burung. Darah yang keluar diambil dengan pipa mikrokapiler dan disimpan dalam larutan penyangga (Queens’ Lysis Buffer) pada tabung mikro (1,5 ml).   Ekstraksi DNA dari darah tersebut menggunakan metode ekstraksi fenol-kloroform  (Sambrook et al. 1989) atau DNeasy® Tissue Kit (Qiagen Pty Ltd), sesuai dengan metode untuk darah binatang.

PCR

Identifikasi jenis kelamin Gelatik jawa menggunakan metode PCR yang dikembangkan oleh Fridolfsson dan Ellegren (1999). Pasangan primer yang digunakan adalah 2550F (5’-GTTACTGATTCGTCTACGAGA -3’) and 2718R (5’- ATTGAAATGATCCAGT GCTTG -3’). Volume reaksi PCR 25 ul dengan komposisi 10-20 ng DNA; 10x PCR Buffer (200mM Tris-HCl (pH 8.4); 500mM KCl); 2.0mM MgCl2; 5 pmol tiap primer; 0.15 mM tiap dATP, dTTP, dCTTP, dGTP dan 1 unit  Tag polymerase (Life Technology). Kondisi siklus PCR adalah sebagai berikut: pre denaturasi 94oC 2 menit; 30 kali siklus denaturasi pada suhu 94oC (30 detik), penempelen primer (annealing) pada suhu  50oC selama 45 detik, dan elongasi/ekstensi pada suhu 72oC (30 detik), dan ekstensi akhir pada suhu 72oC (5 menit). Hasil amplifikasi divisualisasi dengan elektroforesis gel agarosa (3%) dengan larutan penyangga TBE dan pewarna ethidium bromida.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil PCR dan elektroforesis menunjukan bahwa semua sampel Gelati jawa teramplifikasi, menunjukan adanya pita tunggal atau pita ganda. Pita tunggal berukuran 650 bp, mengindikasikan sampel tersebut memiliki gen CHD1Z dan berarti berjenis kelamin jantan.  Sedangkan yang berpita ganda memiliki ukuran  450 dan 650 bp, mengindikasikan sampel tersebut betina, yang memiliki gen CHD1 W dan CHD1 Z.  Hasil ini menambah bukti kegunaan pasangan primer 2550F dan 2718R dalam mengindentifikasi jenis kelamin burung monomorfik dari suku Estrildidae.  Pada awalnya Fridolfsson dan Ellegren (1999)  mengaplikasikan metode ini pada 50 jenis burung dari berbagai ordo. Suku estrildidae belum ada wakil dalam uji awal tersebut.

Jumlah total sampel individu burung dewasa adalah 66. Hasil elektroforesis produk PCR menunjukan 29 betina (berpita dua) dan 37 jantan (berpita tunggal).  Sementara itu pada sampel burung muda (20 ekor), hasilnya 12 burung berjenis kelamin betina dan 8 jantan.  Hasil ini mengindikasikan bahwa rasio jenis kelamin (sex ratio) burung Gelatik jawa adalah 1:1 ( (X2 = 0.97; P= 0.32 and X2 = 0.80; P= 0.37, masing-masing untuk burung dewasa dan burung muda).

Reference

BirdLife International, 2012, Species factsheet: Padda oryzivora. Downloaded from http://www.birdlife.org.

CERIT, H. and K. ACANUS,  2007, Sex identification in avian species using DNA typing methods, World’s Poultry Science Journal, 63: 91-99

CANON, N.R., TELL, L.A., NEEDHAM, M.L. and GARDNER, A.A. (2000) Flow cytometric analysis of nuclear DNAfor sex identification in three psittacine species. American Journal of Veterinary Research61: 847-850.

CLINTON, M.(1994) Arapid protocol for sexing chick embryos. Animal Genetics25: 361-362.

CANON, N.R., TELL, L.A., NEEDHAM, M.L. and GARDNER, A.A. (2000) Flow cytometric analysis of nuclear DNA for sex identification in three psittacine species. American Journal of Veterinary Research 61: 847-850.

FRIDOLFSSON,A.K. and ELLEGREN, H. (1999) Molecular evolution of the avian CHD1 genes on the Z and Wsex chromosomes. Genetics155: 1903- 1912.

GRIFFITHS, R., DOUBLE, M.C., ORR, K. and DAWSON, R.J. (1998) ADNAtest to sex most birds. Molecular Ecology7: 1071 -1075.

GRIFFITHS, R. and ORR, K. (1999) The use of amplified fragment length polymorphism (AFLP) in the isolation of sex-specific markers. Molecular Ecology8: 671-674.

KAHN, N.W., JOHN, J. and QUINN, T. (1998) Chromosome-specific intron size differences in the Avian CHD gene provide an efficient method for sex identification in birds. The Auk115: 1074 -1078.

MIYAKI, C.Y., DUARTE, M.B., CAPARROZ, R., NUNES, A.V. and WAJNTAL, A. (1997) Sex identification of South American Parrots (Psittacidae, Aves) using the human minisatellite probe 33.15. The Auk 114: 516-520.

NESJE, M. and RØED, K. (2000) Sex identification in falcons using microsatellite DNAmarkers. Hereditas 132: 261-263. 

PETITE, J.N. and KEGELMEYER, A.E. (1992) Sex Determination of chick embryos using a W chromosome-specific oligonucleotide probe and PCR. Proceedings of the XIX World’s Poultry Congress  Amsterdam 531.

QUINN, T.W., COOKE, F. and BRADLEY, N.W. (1990) Molecular sexing of geese using a cloned Z chromosomal sequence with homology to the Wchromosome. Auk107:199-202.

SAITOH,Y.,SAITOH,H.,OHTOMO,K. and MIZUNO,S.(1991) Occupancy of the majority of DNAin the chicken W-chromosome by bent-repetitive sequences. Chromosoma101: 32-40.

WELSH, J. and MC CLEALLAND, M. (1990) Fingerprinting genomes using PCR with arbitrary primers. Nucleic Acid Research18: 7213-7218.

 

WILLIAMS, J.K.G., RUBELIK,A.R., LIVAK, K.J., RAFALSKI, J.A. and TINGLEY, S.V. (1990): DNA polymorphisms amplified by arbitrary primers are useful as genetic markers. Nucleic Acid Research18: 6531- 6535.

 

Posted in Ekologi molekuler | 2 Comments

Candi Prambanan: pengungsian terakhir bagi Gelatik Jawa

Gelatik Jawa adalah burung tercantik di antara keluarga emprit.  Bulu kepalanya berwarna hitam, dengan bercak putih di pipinya, serta warna abu-abu di dadanya.  Dulu mereka  mudah sekali kita temukan di persawahan.  Sama mudahnya kita menemukan emprit sekarang ini. 

Burung gelatik jawa secara alamiah hanya bisa kita temukan di Pulau Jawa dan Bali serta P. Kangean.  Karena itu disebut endemik Jawa.  Akan tetapi burung ini telah diintroduksi ke bebarapa negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Australia dan New Zealand.  Bahkan di daratan China sudah ditemukan sejak dinasti Ming.  Kabarnya mereka cukup belimpah di alam negara-negara tersebut.  Sayangnya, justru di rumahnya sendiri di Jawa,  burung ini sudah sangat sulit sekali kita temukan.  Dengan kondisi seperti itu oleh BirdLife International Indonesia Program burung ini termasuk dalam daftar Jenis Burung yang Terancam Punah.  Ini berarti pula Gelatik Jawa terdaftar dalam  Red Data Book keluaran IUCN – badan international yang mengurusi konservasi alam. Statusnya menurut kriteria IUCN adalah Rentan, karena  penurunan populasinya lebih besar dari 50% selama dua dekade terakhir akibat besarnya eksploitasi untuk burung klangenan

Hasil survei yang dilakukan Yayasan Pribumi Alam Lestari (YPAL, Bandung) di 64 lokasi di 18 kabupaten di seluruh Jawa dan Bali, hanya menjumpai secara langsung 109 individu di 17 lokasi.  Semuanya dalam jumlah yang kecil-kecil, maksimal 17 ekor.  Namun kajian lain yang dilakukan oleh Oktaf dkk. dari Fakultas Biologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta, menemukan populasi Gelatik Jawa yang lebih besar di Yogyakarta.  Di kabupaten Sleman, Yogyakarta burung ini ternyata banyak memanfaatkan candi-candi yang tersebar di sekitar Prambanan.  Tidaklah salah jika burung ini dalam bahasa inggris disebut juga Temple Sparrow, selain Java Sparrow yang lebih terkenal.

Populasi Gelatik Jawa yang terbesar ditemukan di kompleks Candi Prambanan, yang juga terkenal dengan Candi Loro Jonggrang.  Populasi tertinggi yang pernah tercatat adalah sebesar 68 ekor pada tahun 1998.  Burung gelatik ini memanfaatkan celah-celah bebatuan di dinding candi pada ketingian di atas sepuluh meter.  Pandai juga mereka memilih tempat penggungsian.  Pastilah aman di kawasan cagar budaya, peninggalan arkeologi yang kitapun sulit untuk masuk dengan leluasa. 

 

Yogyakarta, 26 Juni 2002

Posted in Nature Watch | Leave a comment

Earth Hour

Hari ini, mulai pukul 20.30 selama satu jam, janganlah kaget jika kota akan (sebagian) gelap gulita.  Bukan karena PLN sedang menjadwalkan pemadaman listrik, tetapi karena pemerintah kota  atau lembaga lain ikut berpartisipasi gerakan Earth Hour. Kita semua pun diajak untuk melakukan hal yang sama: matikan listrik mulai pukul 23.00 selama satu jam.

Earth Hour digagas oleh WWF Australia pada  tahun 2007.  Pada gerakan pertama ini 2,2 juta warga kota Sydney dan 2.100 industri berpartisipasi. Gerakan ini kemudian menjadi gerakan tahunan, dan mendapat respon positif dari warga dunia. Pada tahun 2008: 371 kota dari 35 negara dan diperkirakan sampai 100 juta warga dunia berpartisipasi.   Laju respon yang luar biasa bisa kita lihat dari partisipasi tahun 2012 lalu: partisipasi mencapai 6950 kota dari 152 negara. Lebih istimewa lagi astrounot André Kuipers mengamati momen saat lampu dipadamkan dari Statsiun Angkasa Internasional.

Partisipasi Indonesia dalam gerakan ini, diwakili oleh Pemda DKI Jakarta, dimulai tahun 2009. Setelah itu hampir semua kota besar di Indonesia berperan serta.   Dengan mematikan lampu selama satu jam, tahun lalu diperkirakan terjadi penghematan daya listrik sebesar  546 megawatt (MW) untuk seluruh Tanah Air. Jika diuangkan biaya listrik yang dihemat mencapai Rp 800 juta. Penghematan yang cukup signifikan secara finansial? Tidak selalu demikian. Ada kelompok lain yang skeptis dengan keuntungan finansial dari Earth Day. Mereka menghitung biaya yang perlukan untuk pegawai yang perlu lembur saat mematikan dan menghidupkan lagi listrik, ternyata jauh lebih besar dari penghematan membayar listrik selama satu jam tersebut.  Kelompok yang tidak sepakat dengan gerakan ini  juga menganggap gerakan ini terlalu menyerdehanakan masalah dan menggugat terhadap klaim pengurangan emisi karbon yang ditimbulkan dari mematikan lampu selama satu jam tersebut. Bukankah mesin pembangkit tenaga listrik tetap menyala dan mengkonsumsi batubara atau minyak disel, selama pemadapan lampu tersebut? Belum lagi penggunaan lilin atau lampu senter selama pemadaman, yang sebenarnya tidak kalah besarnya dalam kontribusi emisi karbon. Itulah argumen yang diberikan para penentang.

Pro dan kontra nampaknya selalu menyertai suatu gerakan. Laju partisipasi gerakan ini mengindikasikan bahwa lebih banyak yang pro daripada yang kontra. Penggagas gerakan ini berhasil mendapatkan perhatian dari pemerintah kota, pelaku bisnis, tokoh politik, silibritis dan warga dunia lainnya  Tujuan awal gerakan ini sebagai simbol  aksi kecil untuk menyelamatkan dunia dari perubahan iklim telah berhasil.   Keterlibatan para tokoh dan publikasi yang menyertainya telah menggerakan warga untuk mematikan lampu pada waktu dijadwalkan. Walaupu bisa jadi diantara mereka tidak paham betul apa makna dari aksi tersebut, dan apa keterkaitannya dengan masalah lingkungan global.

Tentunya kita berharap bahwa  perhatian yang luar biasa ini akan meningkat pada tahapan kesadaran warga.  Kesadaran akan dampak kegiatan dan perilaku kita manusia terhadap lingkungan. Disinilah pentingnya edukasi lingkungan perlu lebih digalakan. Pentingnya pula diperhatikan kritik para penentang: bahwa pemadapan lampu satu jam tidaklah cukup untuk mengurangi efek rumah kaca dan dampak lanjutannya pada perubahan iklim dan masalah lingkungan lainnya.

Baik sekali jika nanti malam anda berpartisipasi dalam Earth Hour. Namun jauh lebih baik jika anda lebih bijak sepanjang waktu dalam mengkonsumsi makanan dan energi serta memenuhi kebutuhan hidup lainnya.  Itulah bentuk aksi nyata dan berkelanjutan dalam menjaga planet bumi.

Posted in Nature Watch | Leave a comment

Dari manakah Layang-layang Api berasal?

Para pengamat burung di Jogja melaporkan sekitar enam belas ribu burung Layang-layang Api terhitung dalam pengamatan bulan ini.  Jumlah yang lebih besar dibandingkan yang pernah dilaporkan sebelumnya. Pada bulan yang sama lebih dari sepuluh tahun yang lalu pengamat burung  dari Kelompok Studi Biologi Universita Atma Jaya Yogyakarta, hanya menemukan maksimum sebelas ribu di lokasi yang sama, sekitar kompleks Bank Indonesia, Kantor Pos Besar, Bank BNI dan Gedung Istana Presiden di Yogyakarta.  Layang-layang Api – termasuk dalam marga (genus) Hirundo dengan nama ilmiahnya Hirundo rustica – merupakan burung migran.  Pada saat musim dingin burung ini meninggalkan daerah berbiaknya di lintang utara, terbang jauh ke daerah selatan  yang lebih hangat/panas.

Kehadiran burung Layang-layang, oleh pedagang kaki lima atau tukang becak di sekitar Jl. KH Ahmad Dahlan Yogyakarta, telah dijadikan pertanda akan datangnya musim hujan.  Bisa jadi hal sama terjadi di belahan selatan di dunia lain. Burung ini tergolong kosmopolitan, ditemukan di semua daerah di bumi. Dibandingkan anggota marga lainnya, layang-layang api paling luas penyebarannya, karenanya sejauh ini dikenal ada enam sub spesies – empat di antaranya bermigrasi.  Sub spesies yang dijumpai di Indonesia adalah H. r. gutturalis.  Daerah berbiak utamanya adalah di Jepang dan Korea, selain di daerah tengah dan bagian timur pegunungan Himalaya.  Saat musim dingin  bermigrasi sampai India, Sri Lanka, Indonesia dan Papua Nugini, serta Australia.

 

Apakah keterangan tersebut telah menjawab pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini?  Bagi kita yang tinggal di Indonesia, bisa jadi sebagian besar berpikiran demikian. Bahwa burung Layang-layang Api berasal dari Korea atau Jepang.  Burung tersebut hanya sementara tinggal di daerah tropis untuk menghindari cuaca yang tidak bersahabat saat musim dingin di daerah asal dan akan kembali lagi menjelang musim semi.    Secara tidak sadar, kalau berpendapat demikian, kita telah mendukung northern-home theory.  Teori evolusi migrasi burung ini, yang berdasar pada asal muasalnya, berpendapat bahwa burung migran berasal dari daerah utara. Karena perubahan iklim, burung-burung ini mengubah daerah non-berbiaknya lebih jauh ke daerah tropis atau lintang selatan.

Namun, bisa jadi orang Jepang atau Korea berpendapat sebaliknya: Layang-layang Api berasal dari daerah selatan.  Jika demikan, teori sebaliknya yang dianut, yakni southern-home theory. Teori ini berasumsi bahwa burung migran berasal dari burung tropis yang berbiaknya di daerah lintang yang lebih tinggi.

 

Dua teori evolusi migrasi burung tersebut selama ini yang banyak digunakan cukup lama. Baru-baru ini ada teori lain yang diusulkan, khususnya untuk sistem migrasi di daerah Neoarktik-Neotropis (Amerika Utara-Selatan). Menurut teori ini burung migran berasal dari burung yang tinggal di daerah batas antara daerah temperate dan tropis. Burung yang tinggal di daerah batas ini kemudian memperluas daerah jelajah berbiaknya di daerah temperate dan pada saat musim dingin bergerak lebih jauh ke kawasan tropis.

 

Teori asal muasal burung migran ini tentunya tidak hanya berlaku untuk Layang-layang Api, tetapi juga berlaku untuk burung migran lainnya. Dan… perlu dicatat bahwa perubahan perilaku burung migran ini  terjadi secara bertahap dalam kurun waktu ribuan tahun.

 

Yogyakarta 9 Oktober 2011

pernah diposting ke burungnusantara

Posted in Nature Watch | Leave a comment

Bambu gila Banda Neira

Dukun bambu sudah membakar kemenyan di batok kelapa di tangannya.  Asap kemenyan tercium wangi, ditiup sang dukunguntuk memanggil roh leluhur.  Semestinya mambu yang sudah berisi roh leluhur itu bergerak, membawa dan memontang-mating siapapun yang mendekapnya.  Namun, tidak untuk kelompok kami.  Bambu gila yang kami dekap berbaris bertujuh belum juga bergeming.  Dukun meniup lagi asap kemenyan lebih keras ….  belum ada juga respon. Kami tetap berjajar rapi memeluk bambu, tak bergeming.  Wajah dukun mulai nampak menegang. Sambil berlari kecil dia menyusur   barisan pemeluk bambu, semburan asap makin  keras.   Kami masih tenang-tenang saja. Bambu gila tidak bereaksi!

Saya lupa siapa yang berinisiatif memulai persekongkolan melawan dukun bambu.   “Don’t make any move”.  Kami pun sepakat,  Samidi, Franky, Steve, Pram,  Fadlan, Tom, dan John  mendekap bambu dengan rilek. Lebih kurang lima menit persengkokolan ini terjaga dan bambu gila pun kehilangan kegilaannya mempermainkan pemain.

Dukun bambu mulai kehilangan kesabarannya.  Sambil menghembus asap menyan, dia mendorong Sam yang memeluk bambu di ujung.  Aksi ini berdampak luar biasa, Fadlan sekuat tenaga menahan demikian juga saya serta teman-teman lainnya.  Reaksi kami, pemeluk bambu,  yang spontan membuyarkan persengkokolan. Kami tak kuasa melawan kuasa roh leluhur atas bambu gila. Bambu gila akhirnya yang menang, kami pontang-panting, mengikuti kemauannya.  Pak Dukun melanjutkan aksinya, bambu gila diarahankannya ke tepi pantai…. dan kami semua pun terlempar ke  laut.   ‘Inilah hukuman atas persekongkolanmu’ barangkali itu yang ada di benak sang dukun.

Bermain bambu gila menjadi salah satu hiburan saat liburan akhir ekpedisi OR di Bandaneira.  Permainan rakyat Maluku ini hanya memerlukan sebatang bambu (~2,5 meter). Pemain berjumlah 5 – 7 orang, yang memeluk bambu itu.  Tentunya permainan ini perlu dukun yang dipercaya memiliki tenaga supranatural, yang mampu menggerakan bambu (dan pemeluknya).  Gerakan tersebut menyebabkan ‘kegilaan’ pemeluknya, yang pontang-panting menahan atau mengikuti gerakan bambu.

‘Eksperimen’  persengkokolan kami tetap menyisakan pertanyaan di benak. Bambu gila kah yang menggerakan pemain. Atau reaksi-aksi pemain yang tidak serasi – akibat provokasi-sugesti dukun – yang mengerakan bambu (dan seluruh pemainnya)?

Yogyakarta, Februari 2012

ditulis untuk buku cerita kenangan OR (dalam proses penyusunan)

Posted in Nature Watch | Leave a comment

Lampu kuning bagi populasi Gelatik di Malang

 

Tiga bulan terakhir di ujung tahun 2005, di kota Malang (Jawa Timur) timbul kontraversi tentang pembangunan  Alun-alun Junction (AAJ).  Salah satu penentang rencana ini adalah ProFauna dan penggiat konservasi  satwa lainnya.     Menurut ProFauna di depan Kantor Bupati Malang dan di sekitar alun-alun kota Malang ditemukan 20 burung gelatik jawa. Pembangunan tersebut dikawatirkan akan mengancam kelestarian burung yang tergolong vulnerable tersebut (Kompas 10/11/05). Karena banyaknya penolakan dari warga Malang, akhirnya Bapak Walikota nampaknya  terpaksa membatalkannya.

Sedikit informasi bagi yang belum pernah ke Malang.  Alun-alun kota yang asri yang menjadi salah satu pusat rekreasi (gratis) bagi warga ini dikelilingi oleh Masjid Besar (barat), pusat pertokoan (utara), kompleks perkantoran Kabupaten Malang, timur) dan kantor pos dan hotel (selatan).  Kompleks perkantoran Kabupaten Malang ini memang suatu enklaf di wilayah Pemerintahan Kota (dulu Kota Madya) Malang.  Di kompleks perkantoran itulah, khususnya di kantor Bupati, burung gelatik memanfaatkan lorong-lorong di atap untuk bersarang.

Dengan batalnya pembangunan AAJ, apakah Gelatik Jawa akan aman-aman saja sekarang?  Hasil pengamatan penulis, dengan dibantu Mifta dan Rogie (sekarang alumni Fakultas Kehutanan Universitas Muhammadiah Malang), sejak tahun 2003 menunjukan adanya tanda-tanda yang kurang menggembirakan.  Jika dibandingkan hasil sensus musim berbiak 2004 dan  2005, populasi gelatik di Malang memang naik.  Namun ada penurunan populasi dari hasil sensus paska berbiak (post-breeding) pada tahun 2005.

Sensus ini dilakukan tiap dua minggu sejak Februari 2004 sampai Desember 2005.  Caranya dengan melakukan penghitungan semua burung gelatik yang terbang dari pohon tanjung (Mimusops elengi) ke pohon tidurnya Hymenacea courbaril.  Perilaku pulang kandang (homing) ini nampaknya pola umum gelatik.  Ada pohon tidur bersama dan ada pohon transit di dekatnya. Pulang kandangnya juga dalam waktu yang hampir sama tiap harinya, saat adzan Mahrib.  Penemuan pola perilaku ini memberikan hasil yang mengejutkan.  Pada saat pertama kali penulis hampir tidak percaya, hasil hitungan hand counter yang menunjuk angka 104 !   Bandingkan dengan pengamatan pada pagi atau siang hari yang hanya berisar 30-40 ekor.  Laporan pengamat  sebelumnya juga menyebut angka 30.

Musim berbiak gelatik di Malang ternyata lebih panjang dari yang diketahui selama ini.  Gelatik berbiak hampir sepanjang tahun kecuali pada bulan September – November. Oleh karenanya penghitungan hasil sensus populasi berbiak dilakukan dengan menghitung rerata seluruh penghitungan antara bulan Desember tahun sebelumnya sampai Agustus tahun berjalan. Sedangkan populasi paska berbiak dari bulan  September sampai November. Rerata total gelatik pada musim berbiak  pada tahun 2004 sebesar 107 ekor sementara tahun 2005 sebesar 126 ekor.  Namun rerata total populasi paska berbiak  tahun 2005 hanya 112 ekor.  Artinya ada penurunan sekitar 11 %.

Tentunya kita bertanya-tanya faktor apakah yang menyebabkannya.  Pembangunan AAJ sudah dibatalkan. Penangkapan di lokasi ini juga tidak mungkin, selain sulit – karena tingginya pohon transit dan pohon tidur – banyak sekali satpam dan polisi pamong praja yang  menjaganya.  Pedagang burung di pasar burung Malang, yang terletak tidak lebih dari 500 meter kompleks perkantoran ini, juga tidak tahu keberadaan gelatik jawa di sana.  Masih adakah penangkapan di persawahan tempat  mencari makan? Atau adakah  faktor lain, seperti cuaca atau ketersedian yang menyebabkannya?

Musim berbiak gelatik tahun 2006 sudah mulai, sayang sekali penulis dan juga Mifta dan Rogie  sudah tidak bisa melakukan pengamatan lagi. Tugas Anda lah sekarang, khususnya teman-teman di Malang,  untuk meneruskan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

 

Cairns, Queenlands (Australia)

28 Februari 2006

Posted in Nature Watch | Leave a comment