Ketak-normalan Warna Bulu

Awal bulan Mei 2020, kampus ‘lock down’, kuliah diselenggarakan secara daring. Punya lebih banyak waktu untuk  jalan-jalan pagi.  Sekawanan kutilang berisik berkicau sambil bertebangan antara pohon di kebun samping rumah.  Seperti biasanya, awalnya saya tida begitu memperhatikan burung yang sangat umum ini.  Namun, ada satu burung yang berbeda dengan kawananannya. Warnanya lebih terang.  Wow… kutilang albino, saya duga.

Awal bulan Mei, kampus ‘lock down’, kuliah diselenggarakan secara daring. Punya lebih banyak waktu untuk  jalan-jalan pagi.  Sekawanan kutilang berisik berkicau sambil bertebangan antara pohon di kebun samping rumah.  Seperti biasanya, awalnya saya tida begitu memperhatikan burung yang sangat umum ini.  Namun, ada satu burung yang berbeda dengan kawananannya. Warnanya lebih terang.  Wow… kutilang albino?

Saya bergegas ambil binokuler. Burung itu masih bersama kawanannya, bertengger di cabang pohon sengon.  Saya amati dengan seksama, mahkotanya masih ada hitamnya, walau tidak segelap burung (normal) di sampingnya.  Matanya tidak merah.  Dugaan awal saya salah. Ini bukan kutilang albino. Pola warna bulu burung ini masih seperti kutilang normal, hanya lebih pudar, dari jauh nampak keputihan.  Kondisi ini dalam Bahasa Inggrisnya disebut dilute plumage – faded colour. Belum ada istilah baku dalam Bahasa Indonesia.  Bulu pudar? Bulu pucat?  Yang pasti kondisi tersebut merupakan   salah satu wujud ketidaknormalan warna bulu.  

Warna-warni bulu terkait dengan pigmen warna.  Albino muncul karena mutasi genetik yang menyebabkan tidak terbentuk enzim tyrosinase. Enzim ini bertanggung jawab  terhadap produksi melanin, pigmen warna gelap (hitam, coklat).  Akibatnya warna bulu, kulit dan iris mata  akan menjadi putih atau pucat.  Warna merah/jingga pada iris mata, karena warna pembuluh darah yang nampak.  Kondisi ini disebut albino lengkap/sempurna.  Burung albino ada yang warna paruhnya atau bulu tertentu tetap merah. Karetonoid – pigmen merah –  ternyata masih berfungsi, meski melanin tak ada. 

Ada lagi burung dengan warna putih pada bagian tertentu saja. Kondisi ini disebut leukistik, ada yang menyebutnya albino sebagian.  Burung leukistik irisnya masih normal, seperti burung normal lainnya.  Kondisi ini bukan karena melanin tidak diproduksi, tetapi karena tidak sampai di bagian tertentu saja, saat pertumbuhan bulu. 

Fenomena abnormal bulu lainnya adalah melanistik. Kondisi kebalikan dari leukistik. Kebanyakan melanin, membuat bagian tertentu bulu menjadi hitam. Alih-alih warna normal bulu burung itu.  

Beberapa youtuber telah melaporkan fenomena ketidaknormalan warna bulu ini di alam. Seperti temuan anakan kutilang putih di Bontang (Kalimantan Timur) dan  kacer berbulu kelabu – putih yang sayangnya tidak disebut lokasinya.  

Nah, kalau sedang mengamati burung,  jangan abai kemungkinan adanya  kelainan warna burung yang diamati ya.  Dan ….andai ketemu, mari saling berbagi info, sila  klik  link ini.  

Selamat birding.

Jogja, 13 Feb 2021 <Pramana Yuda>

This entry was posted in Nature Watch and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply