Doa Solidaritas Tran-Spesies

Bapa Paus Fransiskus telah menetapkan 1 September (mulai tahun ini) sebagai World Day of Prayer for the Care of Creation. Setelah membaca berita ini di situs berita Vatikan, saya jadi teringat dengan Gereja Katedral di kota Cairns, kota kecil di Far-North Queenlands, Australia. Di seluruh jendela di dinding atas Katedral ilustrasi penciptaan dalam mosaik kaca sangat unik dan indah. Mosaik itu menggambarkan awal pembentukan jagad raya, bumi, dan kehidupan di bumi. Seluruh kehidupan ciptaan Tuhan diilustrasikan dalam gambar mosaik kehidupan lautan – di Great Barier Reef dan daratan – savana sampai sisa hutan tropis Gonwana-benua awal. Mosaik itu sepertinya sengaja dibuat demikian, agar setiap kita mengunjungi dan berdoa di gereja itu, kita akan selalu diingatkan atas kekayaan dan keindahan ciptaan Tuhan di bumi ini. Bahkan, jika Anda mau, setiap misa kedua Minggu pagi ada ‘tour program’ secara virtual dengan narator Romo Uskup sendiri. Maklum Cairns merupakan salah satu distinasi wisata utama. Lokasinya juga di Pantai Esplanade, bibir pantai Great Barier Reef, yang sangat terkenal itu.

Menurut temuan ilmu pengetahuan, kehidupan dimulai di laut pada sekitar 3,6 milyar tahun yang lalu. Bentuk kehidupan pertama yang sangat sederhana dan bersel tunggal. Dengan bantuan waktu dan terpaan lingkungan organisme awal beranak pinak menjadi berjuta-juta jenis organisme hidup yang beranekaragam. Dewasa ini diperkirakan antara 10 – 14 juta jenis kehidupan ada di bumi inil dan baru 1,2 juta jenis telah kita kenal. Organime hidup ini mengalami siklus kehidupan. Kelahiran jenis baru, spesiasi, merupakan konsekuensi alamiah dari adaptasi dengan lingkungannya. Dan pada saatnya, jika tidak mampu beradaptasi lagi dengan perubahan lingkungan, jenis tersebut akan mati. Jika semua anggota jenis mati, jenis tersebut punah.

Ada saat-saat tertentu begita banyak jenis organisme punah dalam skala yang begitu besar dalam waktu yang relatif singkat. Saat itulah terjadi kepunahan masal Perlu diingat skala waktu di sini menggunakan skala waktu geologi, satuannya ribuan sampai jutaan tahun. Kepunahan hewan melata (reptil) besar keluarga Dinosarus, yang menjadi terkenal karena film Jurasic Park (dan sekarang berlanjut menjadi Jurasic Word), adalah salah satu contoh kejadi kepunahan masal tesebut. Kepunahan masal Dinosauras terjadi 65 juta tahun yang lalu (jtl). Kepunahan pada periode Cretaceous ini merupakan kepunahan masal yang kelima. Ini berrti bahwa ada empat kepunahan masal yang terjadi sebelumnya: yakni pada periode   Triassic (210 jtl), Permian (250 jtl), Devonian ( 365 jtl) dan Ordovician (440 jtl).   Bencana alam yang maha dahsyat dipercaya menjadi faktor penyebabnya. Ada beberapa teori tentang bentuk bencananya. Apakah karena letusan megavukano atau benturan benda langit. Masih banyak perdebatan sampai saat ini.

Manusia modern (Homo sapiens), menurut salah satu teori ilmu pengetahuan, belumlah lama hadir di bumi. Manusia modern baru sekitar 100 ribu tahun yang lalu muncul di Afrika. Kemudian keluar dari Afrika, menyebar dan menghuni di hampir di setiap belahan bumi.  Dewasa ini manusia menjadi satu-satu makhluk yang mendominasi bumi. Bukan hanya karena jumlahnya yang sudah lebih tujuh milyar, tetapi juga karna kecerdasan dan kemampuannya untuk berorganisasi.

Kehadiran dan dominasi manusia telah merubah lingkungan bumi. Ketika masih menjadi pemburu, perubahan yang ditimbulkan tidaklah signifikan. Ketika manusia melalui mengenal teknologi api dan mengembangangkan alat bantu lainnya serta mulai bercocok tanam dan menetap, perubahan yang ditimbulkan sudah lebih nyata. Dengan bantuan api dan ‘bekerjasama’ dengan dingo, manusia awal di benua Australia telah merubah lanskap dan jejaring kehidupan di benua terkecil tersebut. Akibatnya sekarang Australia tidak memiliki mamalia dan hewan berkantung besar. Semuanya telah punah dalam kurang waktu 50 ribu tahun terakhir.   Proses yang sama juga terjadi di benua Amerika dan Asia. Mengapa di Afrika masih tersisa begitu banyak mamalia besar dewasa ini? Salah satu teori mengatakan bahwa hewan-hewan tersebut telah hidup dan beradaptasi sejak awal manusia muncul. Mereka mampu ‘mengenali’ ancaman manusia dan bisa suvive sampai sekarang.

Era industraliasi dan dominasi bangsa Eropa setelah Columbus menemukan ‘benua baru’, Amerika dan disusul kolonisasi di benua lain telah merubah peta lingkungan bumi. Lebih-lebih dengan adanya dominasi pola pikir ‘mekanistik’ dalam memandang dunia. Akibatnya masalah lingkungan telah menjadi masalah global, yang tidak hanya membahayakan biosfer tetapi kehidupan kita juga.   Mari kita simak beberapa fakta berikut:

  • Kolonisasi bangsa Polynesia di Kepulauan Hawaii pada tahun 400 telah menyebabkan kepunahan 50 dari 98 spesies endemik. Hal yang sama terjadi juga di New Zealand yang kehilangan 13 spesies moa dan 16 spesies burung endemik sebelum kedatangan bangsa Eropa.
  • Sejak tahun 1600, mulainya kolonisasi bangsa Eropa di berbagai belahan bumi, 113 spesies burung dan 83 spesies mamalia punah.
  • Antara tahun 1850 dan 1950 rerata laju kepunahan spesies diperkirakan satu spesies per tahun
  • Revolusi Hijau menyebabkan hilangnya varietas lokal dari jenis jagung, gandum, padi dan tanaman pertanian lainnya. Di Indonesia 1500 varietas padi lokal telah punah dalam 20 tahun terakhir

 

Ancaman terhadap kehidupan masih terus berlanjut. Tingkat keterancaman jenis organisme juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut World Conservation Union (IUCN) pada saat ini ada 16.928 jenis yang terancam punah secara global, di antaranya 70% jenis tumbuhan, 20 % jenis hewan bertulang belakang yang termasuk dalam terancam punah ini. Dengan tingkat kepunahan dan ancaman kepunahan sebesar itu, banyak ahli percaya bahwa kita sekarang sudah memasuki era Kepunahan Masal yang Keenam.

Upaya pada level global, nasional maupun lokal sebenarnya telah dilakukan untuk mengatasi bencana tersebut. Namun nampaknya belum cukup membawa hasil. Masih banyak yang bisa diyakinkan bahwa banyak alasan mengapa kita perlu melindungi spesies lain dan habitat tempat tinggalnya. Ada banyak nilai yang dimiliki oleh lingkungan dan keanekaragaman hayati. Jasa ekosistem alamiah, terutama hutan di daerah hulu, dalam menangkap hujan dan menyeimbangkan siklus hidrologis sangatlah vital. Banjir tahunan di Jakarta dan di tempat-tempat lain tidak terlepas dari hilangnya fungsi tersebut di daerah Puncak dan sekitarnya. Kerugian materi dan non materi bisa dihindari jika hutan di Puncak masih terjaga dengan baik. Hutan dan ekosistem alami juga lainnya telah menyediakan bahan makanan, bahan untuk bangunan serta bahan untuk obat-obatan. Sektor kehutanan Indonesia menyumbang sekitar 7% GDP dan menyediakan 5,4% total lapangan pekerjaan. Ini hanyalah sedikit contoh nilai ekonomi yang tinggi dari keanekaragaman hayati. Pertimbangan lain adalah masalah etika dan moral. Setiap makluk hidup memiliki nilai eksistensi atau instrinsik. Keberadannya, tanpa ada nilai ekonomi (saat ini), tetap bernilai dan karena itu seudah semestinya kita hargai.

Dengan melihat kondisi tersebut dan kepentingannya bagi keselamatan umat manusia, mari kita dukung ajakan Bapa Paus Fransiskus. Mari berdoa untuk kehidupan lain sesama penghuni bumi ini, bagi mereka yang telah bertindak, dan bagi kita untuk berani memulai menghargai kehidupan lain. Mari kita solider pada sesama, termasuk jenis atau spesies lain.

This entry was posted in Nature Watch. Bookmark the permalink.

Leave a Reply