Mengamati Satwa di Candi Prambanan

 

Hari masih pagi, matahari pun belum menampakan dirinya. Sekelompok mahasiswa sudah nampak di gerbang Candi Prambanan. Tentunya rombongan yang kepagian untuk berwisata ke Prambanan ini menarik perhatian petugas satpam. “Mengamati burung? Kalau mencari burung itu mas di pasar sebelah” kata petugas tersebut sambil menunjuk pasar burung di selatan kompleks candi ini.

Mengamati burung di Candi Prambanan? Mungkin Anda sama herannya dengan Pak Satpam tadi. Bukankan ke Candi itu untuk mengagumi atau mempelajari peninggalan arkeologi, relief di dinding yang bertutur sejarah atau kisah tertentu atau patung-patungnya?

Ya, itulah yang dilakukan sekelompok mahasiswa yang suka mengamati burung (bird watching) di kompleks Candi Prambanan. Berbekalkan teropong atau binokuler mereka mencermati setiap tanda-tanda kehadiran burung di pepohonan sekitar candi atau di bangunan candi. Sesekali mereka berdebat tentang jenis apa yang mereka temukan, sambil mencocokan burung temuannya dengan buku pintar pengenalan jenis burung. Diantaranya bahkan memanfaatkannya untuk memenuhi tugas akhirnya, melakukan penelitian untuk skripsi. Sejauh ini sudah tiga mahasiwa Fakultas Biologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) yang menjadi sarjana karena keberadaan burung di kompleks candi Hindu ini.

Candi Prambanan, yang terletak di perbatasan Jogjakarta dan Klaten (Jawa Tengah), merupakan salah satu candi terindah yang kita miliki. Candi ini ternyata tidak hanya menarik minat wisatawan (asing maupun nusantara), tetapi juga burung. Setidaknya ada empat jenis burung yang memanfaatkan candi ini sebagai habitat bersarangnya. Jenis burung itu adalah Gelatik Jawa (Padda oryzivora), Burung Gereja (Passer montanus), Serak Jawa (Tyto alba), dan Kekep babi (Artamus leucorhynchus). Burung-burung ini memanfaatkan celah-celah batuan atau teras-teras candi untuk bersarang. Pada musim penghuan, bahakan ditemui juga burung Layang-layang Asia (Hirundo rustica). Burung migran dari daratan Asia ini memanfaatkan candi hanya untuk istirahat siang.   Kehadiran jenis-jenis burung itulah, atau setidaknya adanya Gelatik Jawa, yang menarik kelompok mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Studi Biologi UAJY tadi datang ke candi.

Candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun abad IX oleh Sri Maharaja Rakai Pikatan ini sekarang mejmiliki kawasan taman yang asri dengan luas 20 hektar. Di taman inilah Anda juga bisa mendapati beranekaragam jenis burung. Suprianus Bura, alumni Fakultas Biologi UAJY yang melakukan penelitiannya tahun 2000, menemukan 18 jenis burung di kawasan candi Prambanan. Jenis-jenis tersebut antara lain kutilang, Madu kuning, Bentet, Kapasan, Caladi tilik, kepodang dan ungkut-ungkut.

Relief candi Prambanan juga menggambarkan kekayaan fauna (satwa). Kalau dicermati di relief di kaki candi – khususnya di enam candi utama (Candi Siwa, Wisnu, Brahma, Nandi, Angsa dan Garuda) dan dua Candi Apit – ada berbagai motif fauna yang naturalistik.   Munurut Moertjipto dan Bambang – dalam bukunya “Mengenal Candi Siwa Prambanan dari dekat” – motif fauna ini hanyalah pendukung motif lainnya, seperti motif suluran (flora) dan motif Prambanan. Motif fauna ini begitu natural, sehingga ahli biologi (khususnya burung) bisa mengidentifikasinya, setidaknya sampai tingkat genus atau familinya menurut klasifikasi binatang secara ilmiah.   Jenis fauna yang paling banyak adalah dari golongan aves (burung) dan mamalia. Burung-burung yang bisa “diamati” di relief candi adalah merak (Pavo sp.), ayam hutan (Gallus sp.), cangak (Ardea sp.), kuntul (Egretta sp.), gemak (Turnix sp.), Kakatua (Caccatua sp. ), Buceros sp., Gagak (Cervus sp.), Merpati (Columbidae), dan Cekakak (Halcyonidae).   Burung-burung ini digambarkan sangat menarik dengan berbagai jenis perilakunya. Misalnya merak sedang melakukan tarian percumbuan, atau cangak sedang makan ikan. Burung-burung ini berpasangan berada kanan-kiri tajuk pohon Kalpataru, yang di bawahnya ada juga jenis burung lain atau binatang menyusui .

Ditemukannya beberapa jenis burung di relief Candi Prambanan telah menimbulkan beberapa pertanyaan yang menarik. Misalnya saja relief burung kakatua. Burung ini bukan hanya sebagai pengapit motif Prambanan, tetapi juga dibuat berjajar tidak terputus di atas motif tersebut.   Menurut John MacKinnon – dalam bukunya Panduan Identifikasi Jenis-jenis burung di Jawa dan Bali- burung kakatua yang ditemukan di pulau Jawa adalah Kakatua jambul kuning (Cacatua sulphurea). Burung ini mempunyai anak spesies (Cacatua sulphurea abotii) yang endemik di pulau Masakambing di gugusan Kepulauan Masalembo, utara Madura. Artinya burung itu secara alamiah hanya ditemukan di daerah itu. Dengan banyaknya relief kakatua, mungkinkah waktu itu banyak ditemukan Kakatua jambul kuning di sekitar Jogja. Atau sudah banyak orang memelihara atau bahkan menjual belikan burung tersebut yang diperolehnya dari daerah lain?

Contoh lain adalah Kangkareng, burung yang hidup di hutan-hutan yang memiliki pohon-pohon besar. Apakah ini sebagai tambahan bukti pada abad tersebut kondisi hutan di Jawa, atau sekitar Jogja masih lebat, seperti pernah dilaporkan oleh naturalis dari Belanda, Junghun?

Jenis mamalia yang ditemukan di relief candi tidaklah sebanyak jenis burung. Kera ekor panjang (Macaca fascicularis), paling banyak dijumpai. Sama seperti kondisi dewasa ini, kera ekor panjang masih berlimpah. Di beberapa tempat di Gunungkidul dan Kulon Progo, satwa ini bahkan dianggap sebagai hama pertanian. Terutama pada musim kemarau, tegal dan kebun penduduk di kedua daerah tersebut diserbu oleh sang kera. Jenis-jenis satwa lainnya adalah harimau, tikus, dan kijang.

Nampaknya kita tidak hanya belajar sejarah kedudayaan dari Candi Prambanan, tetapi bisa juga belajar biologi. Jadi jangan lupa bawa juga teropong (binokuler) kalau ke Candi Prambanan. Bukan untuk mengamati cewek-cowok dari rombongan lain atau turis “bule”, tetapi untuk mengamati burung.

This entry was posted in Nature Watch. Bookmark the permalink.

1 Response to Mengamati Satwa di Candi Prambanan

Leave a Reply