De-extinction

Lewat novel dan filmnya Juracic Park, Michael Chricton telah menghidupkan kembali dinosaurus yang telah punah 65 juta tahun yang lalu.  Kisah fiksi ilmiah ini telah membangkitkan romantisme  akan reptil raksasa yang pernah mengusai bumi pada jamannya.

Saat ini imaji Chricton tinggal menunggu waktu saja. Teknologi kloning sudah cukup maju untuk mewujudkannya.

Para ahli genetik dan bioteknologi dari Spanyol dan Perancis telah berhasil mengklon kambing liar  yang sudah punah.  Dari kambing liar terakhir yang punah pada tahun 1999,  selnya diklon ke sel telur kambing. Salah satu klonnya berhasil lahir,  namun sayang hanya menghirup udara selama 10 menit. Di Amerika juga sudah ada upaya untuk awapunah- (padanan dari de-extiction , yang digunakan National Geographic Indonesia ) burung merpati penumpang.  Ahli-ahli di Australia sangat bersemangat untuk menghidupkan lagi Tasmania tiger.  Sebelum mencapai target tersebut mereka telah mengembangan teknologi dan berhasil mendapatkan kembali embrio katak eram mulut  yang telah punah.  Ahli-ahli di Asia juga tidak kalah dalam upaya ini. Di wakili oleh ahli-ahli dari Korea, yang bekerja sama dengan ahli dari Seberia, telah mengembangkan teknologi untuk mengawapunah mamut .

Saat ini kita memang telah menghadapi krisis keanekaragaman hayati. Tingkat kepunahan dan ancaman kepunahan yang semakin besar dalam era modern ini, memang harus dicarikan solusi pemecahannya.  Namun, apakah awa punah spesies yang telah punah merupakan solusi?  Carl Zimmer mengkaji masalah ini dengan menarik dan berimbang dalam National Geographic terbitan bulan April 2013.

Para pendukung awa punah beragumen bahwa teknologi awa punah memungkinan mengembalikan spesies yang punah tersebut berserta fungsi-fungsi ekologisnya.  Kehilangan mamut di Siberia diduga telah membuat padang rumput berubah  menjadi tundra.  Oleh karena itu ada yang perbendapat kembalinya mamut di Seberia akan berdampak positif  bagi ekosistem, injakan dan kotorannya akan menyuburkan daerah tersebut.

Awapunah diharapkan juga bisa menggali lagi perilaku satwa yang telah punah tersebut, yang bisa menjadi rujukan untuk mengatasi masalah manusia. Dengan alasan ini ahli-ahli Australia mencoba menawapunahkan katak eram lambung.  Perilakuny yang unik dalam reproduksi diharapkan menjadi referensi untuk mengatasi masalah pada wanita yang mudah keguguran. Menariknya ada juga seorang ahli bioetika, Hank Greedy, yang mendukung awa punah, karena ingin melihat konsekuensinya bagi hukum dan etika,

Sementara itu penggiat konservasi keanekaragaman hayati, seperti Stuar Pimm dari Amerika Serikat,  sangat tidak sepakat dengan upaya ini.  Menurutnya awapunah bukan lah prioritas pada saat ini.  Sumberdaya yang diperlukan untuk upaya tersebut lebih baik digunakan untuk upaya konservasi spesies yang saat ini terancam punah.  Pendekatan habitat dan social kemasyarakatan dalam konservasi dianggap masih lebih efektif.  Lebih-lebih saat ini belum banyak cerita suskses upaya reintroduksi suatu spesies. Kalau pun awapunah spesies tersebut berhasil, tidak akan menjamin pelepasliarannya akan berhasil. Entah karena faktor internal biologis jenis tersebut, atau karena ancaman dari manusia yang belum bisa dihilangkan.

Di Indonesia dalam era modern ini sudah ada beberapa spesies yang punah.  Salahsatunya adalah harimau bali, yang punah sebelum tahun 40an.  Jika harimau tersebut diawapunahkan, apakah keuntungan (dan kerugian) bagi kita?  Jika harimau tersebut dilepasliarkan lagi di pulau Bali, mampukah harimau tersebut bertahan hidup?

This entry was posted in Nature Watch. Bookmark the permalink.

Leave a Reply