Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia

Indonesia – megadiversity country

 

Di Indonesia kita bisa menemukan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Tipe ekosistemnya sangat beragam, setidaknya ada 47 tipe ekosistem. Misalnya di Papua saja  bisa kita temukan ekosistem gunung bersalju (Pegunungan Jayawijaya) dan padang rumput alpin,  hutan hujan tropika di dataran rendah, padang lamun dan terumbu karang di daerah pesisir. Pada tingkat spesies atau jenis organisme, Indonesia memiliki 10% spesies tumbuhan berbunga yang ada di dunia, 12% binatang menyusui  (mamalia), 16% reptil dan amfibi, 17% burung, 25% ikan dan 15% serangga (Tabel1). Selain itu tingkat endemisme juga tinggi. Dari 500-600 spesies mamalia, 36% di antaranya endemik. Dari 35 spesies primata, 25% adalah endemik. Dari 78 spesies burung paruh bengkok, 40% endemik. Dari 121 spesies kupu, 44% endemik. Dari 157 jenis bambu, 56%-nya endemik.  Oleh karena itulah Indonesia dikenal sebagai negara Mega Diversity .

 

Tabel 1. Perkiraan jumlah spesies di dunia dan di Indonesia

Takson

Indonesia

Dunia

Bakteri/gangang (biru/hijau)

300

4.700

Jamur

12.000

47.000

Rumut laut

1.800

21.000

Lumut

1.500

16.000

Paku-pakuan

1.250

13.000

Tumbuhan berbunga

25.000

250.000

Serangga

250.000

750.000*

Moluska

20.000

50.000

Ikan

8.500

19.000

Amfibi

1.000

4.200

Reptil

2.000

6.300

Burung

1.500

9.200

Mamalia

500

4.170

Suber: BAPPENAS (1993). * Diperkirakan dapat mencapai 5 – 10 juta spesies

 

Mengapa Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi? Beberapa ahli berpendapat bahwa setidaknya ada tiga faktor penyebabnya. Pertama, iklim tropis yang stabil memungkinkan terjadinya tingkat spesiasi (pembentukan spesies)  di Indonesia. Kedua, Indonesia adalah negara kepulauan yang terletak antara dua benua: Asia dan Australia. Akibatnya di Indonesia bisa ditemukan biota dari kawasan biogeografi Oriental (Asia) – di pulau-pulau Jawa, Kalimantan dan Sumatra – dan Australia – di Papua.  Di antaranya terdapat daerah peralihan dan pertemuan, yang disebut ‘Wallacea’ – yaitu pulau-pulau Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara. Di daerah peralihan ini mempunyai tingkat endemisme yang sangat tinggi. Ketiga, kawasan yang luas (7,7 km2), yang meliputi daratan (1,9 km2) dan laut (5,8 km2). Wilayah daratannya berupa kepulauan, mencakup 17.508 pulau besar dan kecil. Pulau-pulau besar adalah Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Papua. Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau panjang pantai Indonesia, sekitar 81.000 km, terpanjang di dunia.

 

Faktor-faktor Pengancam

 

Ekosistem dan spesies di Indonesia telah mengalami kerusakan dan penurunan populasi . Beberapa spesies bahkan telah menghadapi ancaman kepunahan, misalnya hampir 17% jenis burung termasuk dalam Daftar Merah (Red List) – suatu daftar spesies yang terancam punah yang disusun oleh IUCN.

 

Kerusakan dan perubahan habitat akibat pembangunan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang terus meningkat dianggap sebagai penyebabnya, baik langsung maupun tidak langsung. Laju penggundulan hutan (deforestasi) di Indonesia sangat tinggi, diperkirakan antara 900.000 – 1.300.000 hektar tiap tahunnya. Pulau Jawa dan Bali telah kehilangan habitat alami sebesar 91%, sementara itu Sumatera 70% dan Papua masih relatif kecil (7%).  Kerusakan dan perubahan habitat tersebut disebabkan karena pengelolaan hutan yang kurang baik, pembalakan liar atau konversi untuk keperluan lain. Di Sumatera, misalnya, banyak hutan dataran rendah telah dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Pada tahun 1990-an 10.000 ha hutan berubah menjadi kebun kelapa sawit.  Akibatnya beberapa jenis satwa di daerah tersebut mengalami penurunan populasinya. Di pulau Jawa proses konversi ini telah terjadi lebih awal.

 

Faktor pengancam lain adalah perdagangan, introduksi spesies  asing, penyakit dan polusi.  Kegemaran akan binatang peliharaan telah menciptakan industri perdagangan satwa yang sangat menguntungkan. Akibat negatifnya adalah banyak satwa liar, bahkan yang dilindungi oeh undang-undang, banyak yang diburu untuk memenuhi permintaan yang tinggi tersebut. Akibat lebih lanjut adalah penurunan populasi dan kepunahan beberapa satwa. Gelatik Jawa pada tahun 70-an masih mudah kita temukan di persawahan, namun sekrang sudang sangat sulit. Burung ini status konservasinya Rentan  (Vulnerble). Curik Bali, burung endemik pulau Bali, nasibnya lebih buruk. Saat ini populasi di habitat aslinya (Taman Nasional Bali Barat) diduga tinggal  kurang dari  10 ekor.  Harimau Bali bahkan sudah punah. Harimau Sumatera mungkin sebentar lagi akan mengalami nasib yang sama.

 

Introduksi spesies belum banyak mendapat perhatian. Padahal potensi merusaknya terhadap ekosistem dan spesies lokal sangat tinggi. Banyak spesies burung di kepulaun Hawaii telah penuh karena faktor ini. Kera ekor panjang yang secara tidak sengaja diintroduksi di Papua sangat dikawatirkan akan berdampak negatif bagi keragaman hayati aslinya.

 

Upaya konservasi

 

Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah mempunyai kebijakan yang baik untuk menyelamakan keragaman hayati.  Dasar hukumnya sudah cukup kuat, setidaknya sudah ditetapkan 25 undang-undang (UU) yang terkait dengan keragaman hayati, belum termasuk peraturan pemerintah dan surat keputusan menteri yang menjabarkan lebih detil ketentuan UU tersebut. Misalnya telah ditetapkan UU No.5 tahun 1990 tentang  Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, UU No.41/1999 tentang Kehutanan ( Perubahan dari UU No.5/1967), UU No.16/192 tentang Karantina Hewan, Ikan  dan  Tumbuhan.

Indonesia juga sudah mempunyai jaringan kawasan konservasi untuk melindungi ekosistem dan spesies di habitat aslinya. Pada tahun 2004 telah ditetapkan lima puluh Taman Nasional di Indonesia.  Salah satu yang terbaru adalah Taman Nasional Gunung Merapi (Yogykarta), salah satu habitat Elang Jawa – elang endemik Jawa yang terancam punah.

 

Pada tahun 2003 BAPPENAS menyusun Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia 2003 – 2020. Strategi ini merupakan hasil dari seri lokakarya dengan para pihak, baik dari pemerintahan, lembaga penelitian/pendidikan, lembaga swadaya masyarakat, swasta dan masyarakat lokal. Dalam tiga dekade terakhir peran LSM lingkungan, baik internasional maupun nasional, dalam konservasi keragaman hayati di Indonesia  cukup nyata. LSM Iternasional yang bergerak di Indonesia diantaranya adalah WWF, Conservation Internasional (CI), The Nature Conservacy (TNC), BirdLife International, Wetland International dan Fauna Flora Internasional (FFI).  Sedangkan LSM nasional antara lain adalah WWF Indonesia, Burung Indonesia, LATIN, Telapak, ProFauna, PILI, dan Kutilang Indonesia.

 

Namun begitu, tekanan terhadap ekosistem dan spesies di Indonesia masih tetap tinggi. Masih banyak kita temukan kasus kawasan konservasi  yang dijarah oleh masyarakat sekitarnya, perdagangan satwa yang dilindungi. Kondisi sosial ekonomi masyarakat, kapasitas (personal dan finansial) pemerintah yang terbatas menjadi salah satu faktor lemahnya penegakan hukum  di bidang ini.

 

 

This entry was posted in Bahan Pelatihan/Lokakarya/Seminar. Bookmark the permalink.

Leave a Reply