Ketak-normalan Warna Bulu

Awal bulan Mei 2020, kampus ‘lock down’, kuliah diselenggarakan secara daring. Punya lebih banyak waktu untuk  jalan-jalan pagi.  Sekawanan kutilang berisik berkicau sambil bertebangan antara pohon di kebun samping rumah.  Seperti biasanya, awalnya saya tida begitu memperhatikan burung yang sangat umum ini.  Namun, ada satu burung yang berbeda dengan kawananannya. Warnanya lebih terang.  Wow… kutilang albino, saya duga.

Awal bulan Mei, kampus ‘lock down’, kuliah diselenggarakan secara daring. Punya lebih banyak waktu untuk  jalan-jalan pagi.  Sekawanan kutilang berisik berkicau sambil bertebangan antara pohon di kebun samping rumah.  Seperti biasanya, awalnya saya tida begitu memperhatikan burung yang sangat umum ini.  Namun, ada satu burung yang berbeda dengan kawananannya. Warnanya lebih terang.  Wow… kutilang albino?

Saya bergegas ambil binokuler. Burung itu masih bersama kawanannya, bertengger di cabang pohon sengon.  Saya amati dengan seksama, mahkotanya masih ada hitamnya, walau tidak segelap burung (normal) di sampingnya.  Matanya tidak merah.  Dugaan awal saya salah. Ini bukan kutilang albino. Pola warna bulu burung ini masih seperti kutilang normal, hanya lebih pudar, dari jauh nampak keputihan.  Kondisi ini dalam Bahasa Inggrisnya disebut dilute plumage – faded colour. Belum ada istilah baku dalam Bahasa Indonesia.  Bulu pudar? Bulu pucat?  Yang pasti kondisi tersebut merupakan   salah satu wujud ketidaknormalan warna bulu.  

Warna-warni bulu terkait dengan pigmen warna.  Albino muncul karena mutasi genetik yang menyebabkan tidak terbentuk enzim tyrosinase. Enzim ini bertanggung jawab  terhadap produksi melanin, pigmen warna gelap (hitam, coklat).  Akibatnya warna bulu, kulit dan iris mata  akan menjadi putih atau pucat.  Warna merah/jingga pada iris mata, karena warna pembuluh darah yang nampak.  Kondisi ini disebut albino lengkap/sempurna.  Burung albino ada yang warna paruhnya atau bulu tertentu tetap merah. Karetonoid – pigmen merah –  ternyata masih berfungsi, meski melanin tak ada. 

Ada lagi burung dengan warna putih pada bagian tertentu saja. Kondisi ini disebut leukistik, ada yang menyebutnya albino sebagian.  Burung leukistik irisnya masih normal, seperti burung normal lainnya.  Kondisi ini bukan karena melanin tidak diproduksi, tetapi karena tidak sampai di bagian tertentu saja, saat pertumbuhan bulu. 

Fenomena abnormal bulu lainnya adalah melanistik. Kondisi kebalikan dari leukistik. Kebanyakan melanin, membuat bagian tertentu bulu menjadi hitam. Alih-alih warna normal bulu burung itu.  

Beberapa youtuber telah melaporkan fenomena ketidaknormalan warna bulu ini di alam. Seperti temuan anakan kutilang putih di Bontang (Kalimantan Timur) dan  kacer berbulu kelabu – putih yang sayangnya tidak disebut lokasinya.  

Nah, kalau sedang mengamati burung,  jangan abai kemungkinan adanya  kelainan warna burung yang diamati ya.  Dan ….andai ketemu, mari saling berbagi info, sila  klik  link ini.  

Selamat birding.

Jogja, 13 Feb 2021 <Pramana Yuda>

Posted in Nature Watch | Tagged , , | Leave a comment

Doa Solidaritas Tran-Spesies

Bapa Paus Fransiskus telah menetapkan 1 September (mulai tahun ini) sebagai World Day of Prayer for the Care of Creation. Setelah membaca berita ini di situs berita Vatikan, saya jadi teringat dengan Gereja Katedral di kota Cairns, kota kecil di Far-North Queenlands, Australia. Di seluruh jendela di dinding atas Katedral ilustrasi penciptaan dalam mosaik kaca sangat unik dan indah. Mosaik itu menggambarkan awal pembentukan jagad raya, bumi, dan kehidupan di bumi. Seluruh kehidupan ciptaan Tuhan diilustrasikan dalam gambar mosaik kehidupan lautan – di Great Barier Reef dan daratan – savana sampai sisa hutan tropis Gonwana-benua awal. Mosaik itu sepertinya sengaja dibuat demikian, agar setiap kita mengunjungi dan berdoa di gereja itu, kita akan selalu diingatkan atas kekayaan dan keindahan ciptaan Tuhan di bumi ini. Bahkan, jika Anda mau, setiap misa kedua Minggu pagi ada ‘tour program’ secara virtual dengan narator Romo Uskup sendiri. Maklum Cairns merupakan salah satu distinasi wisata utama. Lokasinya juga di Pantai Esplanade, bibir pantai Great Barier Reef, yang sangat terkenal itu.

Menurut temuan ilmu pengetahuan, kehidupan dimulai di laut pada sekitar 3,6 milyar tahun yang lalu. Bentuk kehidupan pertama yang sangat sederhana dan bersel tunggal. Dengan bantuan waktu dan terpaan lingkungan organisme awal beranak pinak menjadi berjuta-juta jenis organisme hidup yang beranekaragam. Dewasa ini diperkirakan antara 10 – 14 juta jenis kehidupan ada di bumi inil dan baru 1,2 juta jenis telah kita kenal. Organime hidup ini mengalami siklus kehidupan. Kelahiran jenis baru, spesiasi, merupakan konsekuensi alamiah dari adaptasi dengan lingkungannya. Dan pada saatnya, jika tidak mampu beradaptasi lagi dengan perubahan lingkungan, jenis tersebut akan mati. Jika semua anggota jenis mati, jenis tersebut punah.

Ada saat-saat tertentu begita banyak jenis organisme punah dalam skala yang begitu besar dalam waktu yang relatif singkat. Saat itulah terjadi kepunahan masal Perlu diingat skala waktu di sini menggunakan skala waktu geologi, satuannya ribuan sampai jutaan tahun. Kepunahan hewan melata (reptil) besar keluarga Dinosarus, yang menjadi terkenal karena film Jurasic Park (dan sekarang berlanjut menjadi Jurasic Word), adalah salah satu contoh kejadi kepunahan masal tesebut. Kepunahan masal Dinosauras terjadi 65 juta tahun yang lalu (jtl). Kepunahan pada periode Cretaceous ini merupakan kepunahan masal yang kelima. Ini berrti bahwa ada empat kepunahan masal yang terjadi sebelumnya: yakni pada periode   Triassic (210 jtl), Permian (250 jtl), Devonian ( 365 jtl) dan Ordovician (440 jtl).   Bencana alam yang maha dahsyat dipercaya menjadi faktor penyebabnya. Ada beberapa teori tentang bentuk bencananya. Apakah karena letusan megavukano atau benturan benda langit. Masih banyak perdebatan sampai saat ini.

Manusia modern (Homo sapiens), menurut salah satu teori ilmu pengetahuan, belumlah lama hadir di bumi. Manusia modern baru sekitar 100 ribu tahun yang lalu muncul di Afrika. Kemudian keluar dari Afrika, menyebar dan menghuni di hampir di setiap belahan bumi.  Dewasa ini manusia menjadi satu-satu makhluk yang mendominasi bumi. Bukan hanya karena jumlahnya yang sudah lebih tujuh milyar, tetapi juga karna kecerdasan dan kemampuannya untuk berorganisasi.

Kehadiran dan dominasi manusia telah merubah lingkungan bumi. Ketika masih menjadi pemburu, perubahan yang ditimbulkan tidaklah signifikan. Ketika manusia melalui mengenal teknologi api dan mengembangangkan alat bantu lainnya serta mulai bercocok tanam dan menetap, perubahan yang ditimbulkan sudah lebih nyata. Dengan bantuan api dan ‘bekerjasama’ dengan dingo, manusia awal di benua Australia telah merubah lanskap dan jejaring kehidupan di benua terkecil tersebut. Akibatnya sekarang Australia tidak memiliki mamalia dan hewan berkantung besar. Semuanya telah punah dalam kurang waktu 50 ribu tahun terakhir.   Proses yang sama juga terjadi di benua Amerika dan Asia. Mengapa di Afrika masih tersisa begitu banyak mamalia besar dewasa ini? Salah satu teori mengatakan bahwa hewan-hewan tersebut telah hidup dan beradaptasi sejak awal manusia muncul. Mereka mampu ‘mengenali’ ancaman manusia dan bisa suvive sampai sekarang.

Era industraliasi dan dominasi bangsa Eropa setelah Columbus menemukan ‘benua baru’, Amerika dan disusul kolonisasi di benua lain telah merubah peta lingkungan bumi. Lebih-lebih dengan adanya dominasi pola pikir ‘mekanistik’ dalam memandang dunia. Akibatnya masalah lingkungan telah menjadi masalah global, yang tidak hanya membahayakan biosfer tetapi kehidupan kita juga.   Mari kita simak beberapa fakta berikut:

  • Kolonisasi bangsa Polynesia di Kepulauan Hawaii pada tahun 400 telah menyebabkan kepunahan 50 dari 98 spesies endemik. Hal yang sama terjadi juga di New Zealand yang kehilangan 13 spesies moa dan 16 spesies burung endemik sebelum kedatangan bangsa Eropa.
  • Sejak tahun 1600, mulainya kolonisasi bangsa Eropa di berbagai belahan bumi, 113 spesies burung dan 83 spesies mamalia punah.
  • Antara tahun 1850 dan 1950 rerata laju kepunahan spesies diperkirakan satu spesies per tahun
  • Revolusi Hijau menyebabkan hilangnya varietas lokal dari jenis jagung, gandum, padi dan tanaman pertanian lainnya. Di Indonesia 1500 varietas padi lokal telah punah dalam 20 tahun terakhir

 

Ancaman terhadap kehidupan masih terus berlanjut. Tingkat keterancaman jenis organisme juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut World Conservation Union (IUCN) pada saat ini ada 16.928 jenis yang terancam punah secara global, di antaranya 70% jenis tumbuhan, 20 % jenis hewan bertulang belakang yang termasuk dalam terancam punah ini. Dengan tingkat kepunahan dan ancaman kepunahan sebesar itu, banyak ahli percaya bahwa kita sekarang sudah memasuki era Kepunahan Masal yang Keenam.

Upaya pada level global, nasional maupun lokal sebenarnya telah dilakukan untuk mengatasi bencana tersebut. Namun nampaknya belum cukup membawa hasil. Masih banyak yang bisa diyakinkan bahwa banyak alasan mengapa kita perlu melindungi spesies lain dan habitat tempat tinggalnya. Ada banyak nilai yang dimiliki oleh lingkungan dan keanekaragaman hayati. Jasa ekosistem alamiah, terutama hutan di daerah hulu, dalam menangkap hujan dan menyeimbangkan siklus hidrologis sangatlah vital. Banjir tahunan di Jakarta dan di tempat-tempat lain tidak terlepas dari hilangnya fungsi tersebut di daerah Puncak dan sekitarnya. Kerugian materi dan non materi bisa dihindari jika hutan di Puncak masih terjaga dengan baik. Hutan dan ekosistem alami juga lainnya telah menyediakan bahan makanan, bahan untuk bangunan serta bahan untuk obat-obatan. Sektor kehutanan Indonesia menyumbang sekitar 7% GDP dan menyediakan 5,4% total lapangan pekerjaan. Ini hanyalah sedikit contoh nilai ekonomi yang tinggi dari keanekaragaman hayati. Pertimbangan lain adalah masalah etika dan moral. Setiap makluk hidup memiliki nilai eksistensi atau instrinsik. Keberadannya, tanpa ada nilai ekonomi (saat ini), tetap bernilai dan karena itu seudah semestinya kita hargai.

Dengan melihat kondisi tersebut dan kepentingannya bagi keselamatan umat manusia, mari kita dukung ajakan Bapa Paus Fransiskus. Mari berdoa untuk kehidupan lain sesama penghuni bumi ini, bagi mereka yang telah bertindak, dan bagi kita untuk berani memulai menghargai kehidupan lain. Mari kita solider pada sesama, termasuk jenis atau spesies lain.

Posted in Nature Watch | Leave a comment

Mengamati Satwa di Candi Prambanan

 

Hari masih pagi, matahari pun belum menampakan dirinya. Sekelompok mahasiswa sudah nampak di gerbang Candi Prambanan. Tentunya rombongan yang kepagian untuk berwisata ke Prambanan ini menarik perhatian petugas satpam. “Mengamati burung? Kalau mencari burung itu mas di pasar sebelah” kata petugas tersebut sambil menunjuk pasar burung di selatan kompleks candi ini.

Mengamati burung di Candi Prambanan? Mungkin Anda sama herannya dengan Pak Satpam tadi. Bukankan ke Candi itu untuk mengagumi atau mempelajari peninggalan arkeologi, relief di dinding yang bertutur sejarah atau kisah tertentu atau patung-patungnya?

Ya, itulah yang dilakukan sekelompok mahasiswa yang suka mengamati burung (bird watching) di kompleks Candi Prambanan. Berbekalkan teropong atau binokuler mereka mencermati setiap tanda-tanda kehadiran burung di pepohonan sekitar candi atau di bangunan candi. Sesekali mereka berdebat tentang jenis apa yang mereka temukan, sambil mencocokan burung temuannya dengan buku pintar pengenalan jenis burung. Diantaranya bahkan memanfaatkannya untuk memenuhi tugas akhirnya, melakukan penelitian untuk skripsi. Sejauh ini sudah tiga mahasiwa Fakultas Biologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) yang menjadi sarjana karena keberadaan burung di kompleks candi Hindu ini.

Candi Prambanan, yang terletak di perbatasan Jogjakarta dan Klaten (Jawa Tengah), merupakan salah satu candi terindah yang kita miliki. Candi ini ternyata tidak hanya menarik minat wisatawan (asing maupun nusantara), tetapi juga burung. Setidaknya ada empat jenis burung yang memanfaatkan candi ini sebagai habitat bersarangnya. Jenis burung itu adalah Gelatik Jawa (Padda oryzivora), Burung Gereja (Passer montanus), Serak Jawa (Tyto alba), dan Kekep babi (Artamus leucorhynchus). Burung-burung ini memanfaatkan celah-celah batuan atau teras-teras candi untuk bersarang. Pada musim penghuan, bahakan ditemui juga burung Layang-layang Asia (Hirundo rustica). Burung migran dari daratan Asia ini memanfaatkan candi hanya untuk istirahat siang.   Kehadiran jenis-jenis burung itulah, atau setidaknya adanya Gelatik Jawa, yang menarik kelompok mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Studi Biologi UAJY tadi datang ke candi.

Candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun abad IX oleh Sri Maharaja Rakai Pikatan ini sekarang mejmiliki kawasan taman yang asri dengan luas 20 hektar. Di taman inilah Anda juga bisa mendapati beranekaragam jenis burung. Suprianus Bura, alumni Fakultas Biologi UAJY yang melakukan penelitiannya tahun 2000, menemukan 18 jenis burung di kawasan candi Prambanan. Jenis-jenis tersebut antara lain kutilang, Madu kuning, Bentet, Kapasan, Caladi tilik, kepodang dan ungkut-ungkut.

Relief candi Prambanan juga menggambarkan kekayaan fauna (satwa). Kalau dicermati di relief di kaki candi – khususnya di enam candi utama (Candi Siwa, Wisnu, Brahma, Nandi, Angsa dan Garuda) dan dua Candi Apit – ada berbagai motif fauna yang naturalistik.   Munurut Moertjipto dan Bambang – dalam bukunya “Mengenal Candi Siwa Prambanan dari dekat” – motif fauna ini hanyalah pendukung motif lainnya, seperti motif suluran (flora) dan motif Prambanan. Motif fauna ini begitu natural, sehingga ahli biologi (khususnya burung) bisa mengidentifikasinya, setidaknya sampai tingkat genus atau familinya menurut klasifikasi binatang secara ilmiah.   Jenis fauna yang paling banyak adalah dari golongan aves (burung) dan mamalia. Burung-burung yang bisa “diamati” di relief candi adalah merak (Pavo sp.), ayam hutan (Gallus sp.), cangak (Ardea sp.), kuntul (Egretta sp.), gemak (Turnix sp.), Kakatua (Caccatua sp. ), Buceros sp., Gagak (Cervus sp.), Merpati (Columbidae), dan Cekakak (Halcyonidae).   Burung-burung ini digambarkan sangat menarik dengan berbagai jenis perilakunya. Misalnya merak sedang melakukan tarian percumbuan, atau cangak sedang makan ikan. Burung-burung ini berpasangan berada kanan-kiri tajuk pohon Kalpataru, yang di bawahnya ada juga jenis burung lain atau binatang menyusui .

Ditemukannya beberapa jenis burung di relief Candi Prambanan telah menimbulkan beberapa pertanyaan yang menarik. Misalnya saja relief burung kakatua. Burung ini bukan hanya sebagai pengapit motif Prambanan, tetapi juga dibuat berjajar tidak terputus di atas motif tersebut.   Menurut John MacKinnon – dalam bukunya Panduan Identifikasi Jenis-jenis burung di Jawa dan Bali- burung kakatua yang ditemukan di pulau Jawa adalah Kakatua jambul kuning (Cacatua sulphurea). Burung ini mempunyai anak spesies (Cacatua sulphurea abotii) yang endemik di pulau Masakambing di gugusan Kepulauan Masalembo, utara Madura. Artinya burung itu secara alamiah hanya ditemukan di daerah itu. Dengan banyaknya relief kakatua, mungkinkah waktu itu banyak ditemukan Kakatua jambul kuning di sekitar Jogja. Atau sudah banyak orang memelihara atau bahkan menjual belikan burung tersebut yang diperolehnya dari daerah lain?

Contoh lain adalah Kangkareng, burung yang hidup di hutan-hutan yang memiliki pohon-pohon besar. Apakah ini sebagai tambahan bukti pada abad tersebut kondisi hutan di Jawa, atau sekitar Jogja masih lebat, seperti pernah dilaporkan oleh naturalis dari Belanda, Junghun?

Jenis mamalia yang ditemukan di relief candi tidaklah sebanyak jenis burung. Kera ekor panjang (Macaca fascicularis), paling banyak dijumpai. Sama seperti kondisi dewasa ini, kera ekor panjang masih berlimpah. Di beberapa tempat di Gunungkidul dan Kulon Progo, satwa ini bahkan dianggap sebagai hama pertanian. Terutama pada musim kemarau, tegal dan kebun penduduk di kedua daerah tersebut diserbu oleh sang kera. Jenis-jenis satwa lainnya adalah harimau, tikus, dan kijang.

Nampaknya kita tidak hanya belajar sejarah kedudayaan dari Candi Prambanan, tetapi bisa juga belajar biologi. Jadi jangan lupa bawa juga teropong (binokuler) kalau ke Candi Prambanan. Bukan untuk mengamati cewek-cowok dari rombongan lain atau turis “bule”, tetapi untuk mengamati burung.

Posted in Nature Watch | 1 Comment

IndoNaturalis

Bahwa Indonesia termasuk megadiversity country, karena  keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, sudah banyak yang mengetahuinya.  Namun apakah Anda mengetahui siapa saja yang berperan dalam mengeplorasi dan menelaah keanekaragaman hayati di Indonesia?

Sejarah ekplorasi alam Indonesia, secara ilmiah, tidak terlepas dari kedatangan orang Eropa di wilayah Nusantara.  Ekspedisi kerajaan Portugis lah  yang berhasil pertama kali sampai Maluku pada tahun 1509.  Tujuan mereka adalah untuk mendapatkan akses secara langsung pada rempah-rempah, komoditas yang sangat penting saat itu.  Setelah berhasil dalam ekpedisi rempahnya di Hitu, mereka membuka pos dagang di Solor.  Hampir selama satu abad Portugis berada di kepulauan Maluku.  Pada awal tahun 1600an hegemoninya dikalahkah oleh Belanda.  Pada masa ini pula Spanyol telah menguasai Ternate dan Tidore, dan Inggris mulai juga memulai pengaruhnya di Asia.  Secara ringkasnya, kita semua mengetahui: Belanda hampir tiga setengah abad menguasai wilayah nusantara, dengan masa jeda singkat, ketika Inggris sempat lima tahun mengambil alih.

Cerita di balik ekspansi dagang dan juga militer tersebut, salah satunya adalah peran dari naturalis dalam mengeksplorasi alam nusantara.  Pada pertengahan abad tujuh belas, naturalis pionir yang menonjol adalah Georg Eberhard Rumphius, botanis kelahiran Jerman yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di pulau Ambon.  Hasil ekplorasinya tertuang dalam bukunya yang terkenal Herbarium Amboinense.  Tentunya tidak boleh  dilupakan naturalis Inggris, yang sekarang dianggap sebagai co founder teori evolusi, Alfred Russell Wallace.  Pada pertengahan abad 19 Wallace menjelajahi kepulauan Indonesia. Bukunya Malay Archipelago merupakan jurnal perjalannanya di Asia Tenggara, khususnya di nusantara. Namanya diabadikan dalam Wallace Line, garis pembatas daerah biogeografi Asia dan Australia.

Selain kedua tokoh tersebut masih banyak naturalis yang berkarya di Indonesia.  Bukan saja naturalis Belanda, tetapi juga dari naturalis dari negara Eropa lainnya. Diantaranya, yang dari  Belanda: Jacob Cornelis Matthieu (J. C. M.) Radermacher,  Andries Hoogerwerf, Cornelis Gijsbert Gerrit Jan van Steenis

; naturalis Inggris:  Joseph Arnold, John Murray,  Phillip Sclater, Cecil Boden Kloss; naturalis Amerika: Thomas Horsfield M. D; naturalis Jerman: Christian Erich Hermann von Meyer, Salomon Müller; dan naturalis Italia: Tommaso Salvadori.  Siapa mereka dan apa karyanya? Tunggu pada post-post selanjutnya ….:)

Posted in Naturalis | Leave a comment

Hibah Penyelenggaraan Seminar Internasional

Jika akan menyelenggarakan konferensi internasional antara bulan Juli – September 2013. Ini ada beriti bagus: Diklitabmas membuka kembali peluang Hibah Dana Penyelenggaraan Konferensi Internasional untuk tahun 2013.  Cukup besar dana yang disediakan: sampai Rp.200.000.000,- (duaratus juta rupiah).

Ayo buruan, proposal teknis dan rencana anggaran biaya (RAB) diterima oleh Ditlitabmas selambat-lambatnya pada hari Jumat tanggal 3 Mei 2013.  Penetapan dan pengumuman pemenang dilakukan selambat-lambatnya pada hari Jumat tanggal 31 Mei 2013.  Informasi detil tentang hibah ini bisa dilihat pada Panduan-Pelaksanaan-Hibah-International-Conference-2013.

Selamat  ‘berburu’ :).

Posted in Scholarship-Funding Resources | Leave a comment

De-extinction

Lewat novel dan filmnya Juracic Park, Michael Chricton telah menghidupkan kembali dinosaurus yang telah punah 65 juta tahun yang lalu.  Kisah fiksi ilmiah ini telah membangkitkan romantisme  akan reptil raksasa yang pernah mengusai bumi pada jamannya.

Saat ini imaji Chricton tinggal menunggu waktu saja. Teknologi kloning sudah cukup maju untuk mewujudkannya.

Para ahli genetik dan bioteknologi dari Spanyol dan Perancis telah berhasil mengklon kambing liar  yang sudah punah.  Dari kambing liar terakhir yang punah pada tahun 1999,  selnya diklon ke sel telur kambing. Salah satu klonnya berhasil lahir,  namun sayang hanya menghirup udara selama 10 menit. Di Amerika juga sudah ada upaya untuk awapunah- (padanan dari de-extiction , yang digunakan National Geographic Indonesia ) burung merpati penumpang.  Ahli-ahli di Australia sangat bersemangat untuk menghidupkan lagi Tasmania tiger.  Sebelum mencapai target tersebut mereka telah mengembangan teknologi dan berhasil mendapatkan kembali embrio katak eram mulut  yang telah punah.  Ahli-ahli di Asia juga tidak kalah dalam upaya ini. Di wakili oleh ahli-ahli dari Korea, yang bekerja sama dengan ahli dari Seberia, telah mengembangkan teknologi untuk mengawapunah mamut .

Saat ini kita memang telah menghadapi krisis keanekaragaman hayati. Tingkat kepunahan dan ancaman kepunahan yang semakin besar dalam era modern ini, memang harus dicarikan solusi pemecahannya.  Namun, apakah awa punah spesies yang telah punah merupakan solusi?  Carl Zimmer mengkaji masalah ini dengan menarik dan berimbang dalam National Geographic terbitan bulan April 2013.

Para pendukung awa punah beragumen bahwa teknologi awa punah memungkinan mengembalikan spesies yang punah tersebut berserta fungsi-fungsi ekologisnya.  Kehilangan mamut di Siberia diduga telah membuat padang rumput berubah  menjadi tundra.  Oleh karena itu ada yang perbendapat kembalinya mamut di Seberia akan berdampak positif  bagi ekosistem, injakan dan kotorannya akan menyuburkan daerah tersebut.

Awapunah diharapkan juga bisa menggali lagi perilaku satwa yang telah punah tersebut, yang bisa menjadi rujukan untuk mengatasi masalah manusia. Dengan alasan ini ahli-ahli Australia mencoba menawapunahkan katak eram lambung.  Perilakuny yang unik dalam reproduksi diharapkan menjadi referensi untuk mengatasi masalah pada wanita yang mudah keguguran. Menariknya ada juga seorang ahli bioetika, Hank Greedy, yang mendukung awa punah, karena ingin melihat konsekuensinya bagi hukum dan etika,

Sementara itu penggiat konservasi keanekaragaman hayati, seperti Stuar Pimm dari Amerika Serikat,  sangat tidak sepakat dengan upaya ini.  Menurutnya awapunah bukan lah prioritas pada saat ini.  Sumberdaya yang diperlukan untuk upaya tersebut lebih baik digunakan untuk upaya konservasi spesies yang saat ini terancam punah.  Pendekatan habitat dan social kemasyarakatan dalam konservasi dianggap masih lebih efektif.  Lebih-lebih saat ini belum banyak cerita suskses upaya reintroduksi suatu spesies. Kalau pun awapunah spesies tersebut berhasil, tidak akan menjamin pelepasliarannya akan berhasil. Entah karena faktor internal biologis jenis tersebut, atau karena ancaman dari manusia yang belum bisa dihilangkan.

Di Indonesia dalam era modern ini sudah ada beberapa spesies yang punah.  Salahsatunya adalah harimau bali, yang punah sebelum tahun 40an.  Jika harimau tersebut diawapunahkan, apakah keuntungan (dan kerugian) bagi kita?  Jika harimau tersebut dilepasliarkan lagi di pulau Bali, mampukah harimau tersebut bertahan hidup?

Posted in Nature Watch | Leave a comment

Strategi Menghadapi Ujian

Selesai libur Paskah masa ujian tengah semester sudah menghadang.  Mau nggak mau pulang kampung, yang punya tentunya :), membawa logistik lebih. Setidaknya buku catatan kuliah atau bahan ajar yang akan diujikan.

Ujian sudah menjadi semacam ritual dan hukumnya wajib. Setidaknya dua kali dalam semester: ujian tengah dan akhir. Beberapa dosen suka juga memberikan tambahan tugas, kuis atau tes-tes kecil lainnya.  Semuanya itu adalah bagian dari proses evaluasi belajar, untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan penguasaan terhadap mata kuliah tertentu.  Jadi bukan sesuatu yang luar biasa, bukan?

Namun pasti ada saja yang grogi atau ketakutan saat ujian tiba.  Jika kamu termasuk dalam golongan ini, atau ingin meningkatkan hasil belajar tulisan ini semoga bisa membantu.

SKS ≠ Sistem Kebut Semalam

Kamu mungkin pernah mendengar plesetan SKS menjadi Sistem Kebut Semalam.  Artinya belajar pada malam menjelang hari ujian, sering tidak sempat tidur; karna bahannya banyak, terkadang tidak lengkap dan karena itu mesti cari-cari dulu atau pinjam teman.   Jika ini kebiasaan kamu, nampaknya perlu buka-buka lagi ‘Buku Pedoman Kuliah’.  Simaklah lagi apa pengertian dari SKS yang benar: Satuan Kredit Semester.  Satu SKS tidak hanya mengikuti kuliah selama satu jam. Kamu semestinya melakukan kegiatan mandiri (membaca buku rujukan, memperdalam materi, menyiapkan tugas) 1 – 2 jam; dan juga 1- 2 jam menyelesaikan tugas terstruktur yang diberi dosen. Seandainya semuanya ini kamu jalankan, bisa dijamin waktu kamu tidak akan hilang untuk berburu bahan kuliah pada saat-saat akhir; dan pastilah kamu bisa tidur nyenyak menjelang hari ujian.

 

Jadwal dan tempat ujian

Jadwal dan tempat ujian pastilah sudah diumumkan sebelum masa ujian. Bahkan ada yang sudah diketahui sejak awal semester.  Walau begitu ada saja kejadian, mahasiswa tidak mengikuti ujian karna salah jadwal!  Solusinya: cek dan recek jadwal ujian. Tidak ada salahnya saling mengingatkan diantara teman kuliah. Datanglah 10-15 menit sebelumnya, untuk persiapan fisik dan mental sebelum masuk ruang ujian.

Logistik ujian

Selain alat tulis yang diperlukan (ballpoint, pensil, penghapus), apakah diperlukan peralatan tambahan? Jangan sampai nilai kamu tidak maksimal karena lupa membawa kalkulator atau perlengkapan lain yang diperlukan untuk melakukan hitungan, misalnya.  Ada juga dosen yang memberikan ujian secara open book. Kalau demikain, tentunya kamu perlu menyiapkan ringkasan terkait materi yang diujikan. Buku ajar atau buku teks bisa saja dibawa.  Namun resikonya kamu akan kehababisan waktu untuk membolak-balik halaman buku, mencari jawaban soal ujian.  Lebih-lebih jika kamu belum membaca dengan seksama buku yang kamu bawa.   Selain itu, di UAJY, kamu diwajibkan juga membawa Kartu Mahasiswa.

Saat ujian

Tenang, jangan tegang dan  percaya diri. Itulah kunci untuk menjaga konsentrasi saat ujian.  Untuk mendapatkannya mulailah dengan berdoa, sebelum mengerjakan soal ujian.  Setelah itu cek dulu kelengkapan soal (jumlah halaman, kesalahan cetak). Jika tidak lengkap, segera minta ganti soal yang lengkap kepada pengawas ujian.  Jangan sampai kamu kehilangan nilai, hanya karna soalnya tidak lengkap.

Saatnya kamu mulai mengerjakan ujian. Namun sekali lagi, tenang dan jangan buru-buru. Perhatikan betul petunjuk mengerjakan soal, kesalahan mengikuti petunjuk bisa jadi mengurangi atau bahkan bisa kehilangan nilai.  Langkah selanjutnya: baca dengan cepat seluruh soal. Pilihlah mana yang lebih mudah untuk dikerjakan dulu, baru yang sulit.  Soal yang sulit tentu memerlukan waktu lebih lama, dan membutuhkan lebih banyak energi dan konsentrasi.

Selain itu perlu diperhatikan tipe soalnya, pilihan berganda atau essai, yang tentunya memerlukan strategi menjawab yang berbeda.

Pada pilihan ganda, pada umumnya hanya satu jawaban yang benar dan jawaban lainnya adalah distractor. Jika sudah jelas salah, langsung abaikan distractor itu. Jika kamu tidak tahu jawabannya, tebak saja pilihan yang terbaik. Tentunya kalau tidak ada nilai hukuman pada jawaban yang salah; jika ada nilai hukuman lebih baik tidak usah dijawab.

Untuk soal essai, diperlukan proses lebih panjang.  Sekali lagi cermati soalnya, Pikirkan jawaban sebelum menulisnya.  Buatlah kerangka atau pokok-pokok jawaban, bisa menggunakan mind mapping .  Tuliskan pokok-pokok jawaban tersebut secara runtut, dengan kalimat yang singkat dan jelas.  Tambahkan detil jika diperlukan, namun jangan menambah apa yang tidak diminta dalam soal.

Tahap terakhir adalah memeriksa dan membaca kembali jawabann kamu. Koreksi jika memang kamu benar-benar yakin perlu dikoreksi. Ingat, biasanya jawaban pertama kamu cenderung benar.

Tutuplah dengan doa: beryukur dan berterimakasih padaNya.

Selamat ber-ujian.  

Posted in Study Skills | Leave a comment

be a smart student


Untuk menjadi sarjana  semestinya cukup waktu empat tahun. Kurikulum dari semua program studi strata 1 di universitas atau sekolah tinggi sudah dirancang demikian.  Namun dalam prakteknya, tidak banyak mahasiswa yang berhasil menyelesaikan studinya tepat waktu.

Tentunya banyak faktor yang menyebabkan kondisi tersebut: bangun kurikulum, proses pembelajaran, sarana pendukung, dosen dan mahasiswa.  Pada tulisan ini saya akan membatasi pada faktor terakhir, mahasiswa.

Apakah yang perlu disiapkan untuk bisa menyelesaikan studinya tepat waktu dengan hasil yang memuaskan?

Ketika kita sekolah dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, telah diajarkan menjadi pekerja keras.  Jadwal dan disiplin ketat, serta disertai banyak pekerjaan rumah.   Selain itu pengawan dan  bimbingan guru selalu melekat.  Kondisi tersebut berubah total saat studi di perguruan tinggi.  Jadwal kuliah memang ketat juga, namun pengawasan dosen tidaklah seketat saat sekolah, bukan? Demikian juga dengan tugas-tugas.  Perbedaan yang mencolok adalah soal kemandirian.  Studi di pertguruan tinggi adalah pendidikan untuk orang dewasa. Karenanya diasumsikan  mahasiswa mempunyai kemandirian yang cukup.

Asumsi ini tentunya tidak seratus persen benar. Untuk menyiapkan prasyarat tersebut, pihak pengelola kemudian menyelenggarakan berbagai program pengenalan kampus dan studi di perguruan tinggi. Berbagai nama pernah kita dengar untuk program tersebut: inisiasi, OPSPEK, atau bridging programme .

Dari pengalaman pribadi selama studi dan pengalaman mendampingi mahasiswa, untuk sukses studi tidaklah cukup bekerja keras, anda harus menjadi a smart student.  Lalu apa yang diperlukan untuk bisa menjadi smart?

Ada beberapa ketrampilan belajar (study/learning skills) yang perlu dikuasai dan dipraktekkan dengan baik dan terpola. Ketrampilan belajar yang utama adalah gaya belajar, critical thinking, teknik membaca, teknik mencatat, teknik mencari sumber informasi (ilmiah), teknik menulis ilmiah, strategi menghadapi ujian, kerjasama tim, dan teknik presentasi.  Topik-topik tersebut akan saya bahas pada posting selanjutnya.   Sambil menunggu, tidak ada salahnya anda memulai dengan menengok situs-situs  berikut:

Posted in Edukasi, Study Skills | Leave a comment

Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia

Indonesia – megadiversity country

 

Di Indonesia kita bisa menemukan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Tipe ekosistemnya sangat beragam, setidaknya ada 47 tipe ekosistem. Misalnya di Papua saja  bisa kita temukan ekosistem gunung bersalju (Pegunungan Jayawijaya) dan padang rumput alpin,  hutan hujan tropika di dataran rendah, padang lamun dan terumbu karang di daerah pesisir. Pada tingkat spesies atau jenis organisme, Indonesia memiliki 10% spesies tumbuhan berbunga yang ada di dunia, 12% binatang menyusui  (mamalia), 16% reptil dan amfibi, 17% burung, 25% ikan dan 15% serangga (Tabel1). Selain itu tingkat endemisme juga tinggi. Dari 500-600 spesies mamalia, 36% di antaranya endemik. Dari 35 spesies primata, 25% adalah endemik. Dari 78 spesies burung paruh bengkok, 40% endemik. Dari 121 spesies kupu, 44% endemik. Dari 157 jenis bambu, 56%-nya endemik.  Oleh karena itulah Indonesia dikenal sebagai negara Mega Diversity .

 

Tabel 1. Perkiraan jumlah spesies di dunia dan di Indonesia

Takson

Indonesia

Dunia

Bakteri/gangang (biru/hijau)

300

4.700

Jamur

12.000

47.000

Rumut laut

1.800

21.000

Lumut

1.500

16.000

Paku-pakuan

1.250

13.000

Tumbuhan berbunga

25.000

250.000

Serangga

250.000

750.000*

Moluska

20.000

50.000

Ikan

8.500

19.000

Amfibi

1.000

4.200

Reptil

2.000

6.300

Burung

1.500

9.200

Mamalia

500

4.170

Suber: BAPPENAS (1993). * Diperkirakan dapat mencapai 5 – 10 juta spesies

 

Mengapa Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi? Beberapa ahli berpendapat bahwa setidaknya ada tiga faktor penyebabnya. Pertama, iklim tropis yang stabil memungkinkan terjadinya tingkat spesiasi (pembentukan spesies)  di Indonesia. Kedua, Indonesia adalah negara kepulauan yang terletak antara dua benua: Asia dan Australia. Akibatnya di Indonesia bisa ditemukan biota dari kawasan biogeografi Oriental (Asia) – di pulau-pulau Jawa, Kalimantan dan Sumatra – dan Australia – di Papua.  Di antaranya terdapat daerah peralihan dan pertemuan, yang disebut ‘Wallacea’ – yaitu pulau-pulau Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara. Di daerah peralihan ini mempunyai tingkat endemisme yang sangat tinggi. Ketiga, kawasan yang luas (7,7 km2), yang meliputi daratan (1,9 km2) dan laut (5,8 km2). Wilayah daratannya berupa kepulauan, mencakup 17.508 pulau besar dan kecil. Pulau-pulau besar adalah Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Papua. Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau panjang pantai Indonesia, sekitar 81.000 km, terpanjang di dunia.

 

Faktor-faktor Pengancam

 

Ekosistem dan spesies di Indonesia telah mengalami kerusakan dan penurunan populasi . Beberapa spesies bahkan telah menghadapi ancaman kepunahan, misalnya hampir 17% jenis burung termasuk dalam Daftar Merah (Red List) – suatu daftar spesies yang terancam punah yang disusun oleh IUCN.

 

Kerusakan dan perubahan habitat akibat pembangunan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang terus meningkat dianggap sebagai penyebabnya, baik langsung maupun tidak langsung. Laju penggundulan hutan (deforestasi) di Indonesia sangat tinggi, diperkirakan antara 900.000 – 1.300.000 hektar tiap tahunnya. Pulau Jawa dan Bali telah kehilangan habitat alami sebesar 91%, sementara itu Sumatera 70% dan Papua masih relatif kecil (7%).  Kerusakan dan perubahan habitat tersebut disebabkan karena pengelolaan hutan yang kurang baik, pembalakan liar atau konversi untuk keperluan lain. Di Sumatera, misalnya, banyak hutan dataran rendah telah dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Pada tahun 1990-an 10.000 ha hutan berubah menjadi kebun kelapa sawit.  Akibatnya beberapa jenis satwa di daerah tersebut mengalami penurunan populasinya. Di pulau Jawa proses konversi ini telah terjadi lebih awal.

 

Faktor pengancam lain adalah perdagangan, introduksi spesies  asing, penyakit dan polusi.  Kegemaran akan binatang peliharaan telah menciptakan industri perdagangan satwa yang sangat menguntungkan. Akibat negatifnya adalah banyak satwa liar, bahkan yang dilindungi oeh undang-undang, banyak yang diburu untuk memenuhi permintaan yang tinggi tersebut. Akibat lebih lanjut adalah penurunan populasi dan kepunahan beberapa satwa. Gelatik Jawa pada tahun 70-an masih mudah kita temukan di persawahan, namun sekrang sudang sangat sulit. Burung ini status konservasinya Rentan  (Vulnerble). Curik Bali, burung endemik pulau Bali, nasibnya lebih buruk. Saat ini populasi di habitat aslinya (Taman Nasional Bali Barat) diduga tinggal  kurang dari  10 ekor.  Harimau Bali bahkan sudah punah. Harimau Sumatera mungkin sebentar lagi akan mengalami nasib yang sama.

 

Introduksi spesies belum banyak mendapat perhatian. Padahal potensi merusaknya terhadap ekosistem dan spesies lokal sangat tinggi. Banyak spesies burung di kepulaun Hawaii telah penuh karena faktor ini. Kera ekor panjang yang secara tidak sengaja diintroduksi di Papua sangat dikawatirkan akan berdampak negatif bagi keragaman hayati aslinya.

 

Upaya konservasi

 

Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah mempunyai kebijakan yang baik untuk menyelamakan keragaman hayati.  Dasar hukumnya sudah cukup kuat, setidaknya sudah ditetapkan 25 undang-undang (UU) yang terkait dengan keragaman hayati, belum termasuk peraturan pemerintah dan surat keputusan menteri yang menjabarkan lebih detil ketentuan UU tersebut. Misalnya telah ditetapkan UU No.5 tahun 1990 tentang  Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, UU No.41/1999 tentang Kehutanan ( Perubahan dari UU No.5/1967), UU No.16/192 tentang Karantina Hewan, Ikan  dan  Tumbuhan.

Indonesia juga sudah mempunyai jaringan kawasan konservasi untuk melindungi ekosistem dan spesies di habitat aslinya. Pada tahun 2004 telah ditetapkan lima puluh Taman Nasional di Indonesia.  Salah satu yang terbaru adalah Taman Nasional Gunung Merapi (Yogykarta), salah satu habitat Elang Jawa – elang endemik Jawa yang terancam punah.

 

Pada tahun 2003 BAPPENAS menyusun Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia 2003 – 2020. Strategi ini merupakan hasil dari seri lokakarya dengan para pihak, baik dari pemerintahan, lembaga penelitian/pendidikan, lembaga swadaya masyarakat, swasta dan masyarakat lokal. Dalam tiga dekade terakhir peran LSM lingkungan, baik internasional maupun nasional, dalam konservasi keragaman hayati di Indonesia  cukup nyata. LSM Iternasional yang bergerak di Indonesia diantaranya adalah WWF, Conservation Internasional (CI), The Nature Conservacy (TNC), BirdLife International, Wetland International dan Fauna Flora Internasional (FFI).  Sedangkan LSM nasional antara lain adalah WWF Indonesia, Burung Indonesia, LATIN, Telapak, ProFauna, PILI, dan Kutilang Indonesia.

 

Namun begitu, tekanan terhadap ekosistem dan spesies di Indonesia masih tetap tinggi. Masih banyak kita temukan kasus kawasan konservasi  yang dijarah oleh masyarakat sekitarnya, perdagangan satwa yang dilindungi. Kondisi sosial ekonomi masyarakat, kapasitas (personal dan finansial) pemerintah yang terbatas menjadi salah satu faktor lemahnya penegakan hukum  di bidang ini.

 

 

Posted in Bahan Pelatihan/Lokakarya/Seminar | Leave a comment

Menggugat bias temperate dalam Ekologi Perilaku Burung

Judul Buku    :           Behavioral Ecology of Tropical Birds

Pengarang    :           Bridget J. M. Stuchbury Eugene S. Morton

Penerbit         :           Academic Press, 2001

Jumlah Hal.  :           165

Daerah tropis memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi, misalnya saja lebih kurang 80% jenis burung petengger (passerine bird) hidup dan berbiak di daerah tropis.  Namun barangkali belum banyak yang mengetahui bahwa beberapa teori dalam biologi dan ekologi burung lebih banyak didasarkan pada pengamatan empirik dan pemodelan yang menggunakan jenis burung dari daerah temperate.  Hal ini tidak terlepas dari persebaran ahli yang sebagian besar terkonsentrasi dan melakukan penelitian di daerah temperate di Eropa dan Amerika Utara.  Celakanya, pola perilaku burung, misalnya, yang ditemukan di daerah tersebut selama ini telah dianggap sebagai norma perilaku  umum untuk semua jenis burung.  Apakah jenis-jenis burung di daerah tropis mengikuti norma perilaku umum tersebut?

Stuchbury dan Morton dalam bukunya ini tidak sepakat dengan pendapat tersebut.  Di dukung dengan bukti-bukti empirik dari beberapa penelitian jenis burung tropis, terutama di tropis Amerika Selatan, mereka menemukan bahwa dalam banyak hal jenis burung tropis berbeda dengan burung temperate. Perbedaan-perbedaan tersebut tidak terlepas dari perbedaan dasar dalam adaptasi perilaku, dimana adaptasi perilaku jenis-jenis burung tropis merupakan hasil seleksi karena tekanan biotik (terutama interaksi dengan tumbuhan), sementara jenis burung temperate lebih karena tekanan abiotik (terutama iklim).

Lebih lanjut untuk mendukung pendapatnya, Stuchbury dan Morton secara detil dalam bab-bab yang terpisah menjabarkan beberapa adaptasi perilaku burung tropis: musim berbiak, extra-pair mating system (EPM), teritorial, komunikasi dan interaksi biotik, yang ternyata juga saling berkait satu dengan lainnya.  Berbeda dengan burung temperate yang musim berbiaknya sangat terbatas (2-3 bulan) dan tergantung pada musim, musim berbiak burung tropis jauh lebih lama (4 – 8 bulan) dan tergantung pada ketersediaan makanan (misalnya buah).  Kondisi ini menjadi salah satu penjelasan tingginya extra-pair mating pada burung temperate.

Extra-pair Mating System (EPM), yakni terjadinya ‘perselingkungan’ pada pasangan burung yang sebagian besar mengikuti sistem monogami, dianggap sebagai norma umum pada burung.  Pandangan ini diasarkan pada hasil penelitian dengan menggunakan pendekatan molekuler yang menguak rahasia tingginya praktek perilaku perselingkuhan pada jenis-jenis burung temperate.  Namun,  hasil penelitian sejenis pada jenis-jenis burung tropis ternyata tidak mendukung temuan tersebut.  EPM nampaknya tidak umum dianut oleh burung tropis yang monogami.  Oleh karena jumlah jenis burung tropis lebih banyak, maka mereka berpendapat sebaliknya: EPM bukanlah norma umum pada burung. Musim berbiak yang pendek (2-3 bulan) di daerah temperate dipercaya menjadi pemicu tingginya tingkat EPM pada jenis burung temperate.  Sebaliknya di daerah tropis, masa berbiak yang lebih panjang (4 – 8 bulan) tidak menimbulkan perilaku sejenis.

Contoh lain tentang bias temperate adalah tentang hubungan antara level testoteron pada burung jantan dan pertahanan teritorial.  Temuan pada burung temperate yang digunakan sebagai norma umum: bahwa level testoteron yang tinggi pada burung jantan menjadi penentu keberhasilan dalam mempertahankan teritori dan dalam menarik burung betina.  Level testoteron burung jantan tinggi pada saat menjelang berbiak dan turun pada saat memelihara anak. Sekali lagi kondisi ini tidak berlaku bagi burung tropis.  Level  testoteron burung jantan tetap rendah sepanjang musim berbiak.  Kondisi burung temperate tersebut ternyata tekait dengan EPM, masa berbiak yang tinggi menyebabkan level testoteron yang  tinggi  karena ‘diperlukan’ untuk bisa melakukan EPM!

Perilaku teritori dan komunikasi pada burung temperate nampaknya juga hasil adaptasi terjadinya EPM. Kicauan burung temperate, terutama burung jantan karena yang betina tidak berkicau, lebih sering frekuensinya dalam upaya tidak hanya untuk mempertahankan teritori berbiaknyanya tetapi terutama sebagai upaya untuk mencegah dan menghalau burung jantan tetangganya yang selalu berusaha untuk ‘mengawini’ pasangannya.

Sistem teritori burung tropis juga lebih beragam. Bahkan ditemukan juga burung betina berkicau dan mempertahankan teritorinya di daerah tropis.  Teritori burung tropis tidak terbatas hanya musim berbiak, tetapi hampir sepanjang tahun dalam rangka memepertahankan akses ke sumber pakannya.

Kasus-kasus yang menjadi contoh dalam buku ini sebagian besar bersumber pada hasil penelitian di daerah tropis Amerika Selatan dan beberapa dari burung tropis Afrika dan Australia.  Apakah pola ini tersebut berlaku juga untuk tropis Asia Tenggara?  Penelitian-penelitian sejenis sangatlah diperlukan untuk mejawab pertanyaan tersebut.

Posted in Book Review | Leave a comment