Pauline Nathania

Ternyata Menggelitik Bisa Jadi Hal Berbahaya

Posted: December 2nd 2017

Mungkin kalian yang membaca judul di atas akan bertanya-tanya kenapa menggelitik itu bisa berbahaya. Nah, pada kesempatan kali ini di pembuatan artikel saya yang pertama akan menjelaskan mengenai apa atau siapa yang dapat dibahayakan.

Kalian tau kukang? Hm, mungkin kalau anak yang jarang jalan ke kebun binatang atau taman safari akan susah menemukan ini. Nah, kalau untuk kalian yang berusan dari hutan dan mampir, besar kemungkinan kalian sudah akan bilang “O… Kukang….”. Nah, karena banyak dari masyarakat milenial saat ini, boleh donk kalau sekali-kali kita mengenalkan lebih jauh mengenai hewan ini, cara hidupnya, serta apa yang sudah dialami kukang di Indonesia.

Kukang itu apa sih? Kukang itu adalah binatang berambut lebat yang hidup di malam hari (nokturnal) dengan  aktivitas kukang biasanya dimulai pukul 6 sore hingga 5 pagi dan banyak beraktivitas di atas pohon (arboreal). Pergerakaannya sendiri perlahan, seperti merangkak di antara pepohonan. Hewan ini tidak hidup mengelompok, dan jika adapun hanya terdiri dari 1 hingga 3 kukang. Kukang (menurut IUCN) banyak hidup di daerah pedalaman hutan Asia Tenggara dan sekitarnya seperti di Indonesia (Sumatera, Batam, Galang di Pulau Archipelago, Pulau Tebingtinggi, dan Bunguran di Pulau Utara Natuna), Malaysia (Peninsula dan Pulau Tioman), bagian selatan Thailand (dari Isthmus of Kra southward), serta Singapore (Groves 2001; M. Shekelle pers. comm.)

Kukang Sumatera (sumber: https://alamendah.org/2015/01/23/kukang-sumatera-nycticebus-coucang-greater-slow-loris/)

Kukang menurut IUCN red list termasuk ke dalam kingdom Animalia, filum Chordata, kelas Mamalia, ordo Primata, keluarga Lorisidae, dan genus Nycticebus. Indonesia sendiri mempunyai 3 jens kukang yaitu kukang Sumatera (Nycticebus coucang); kukang Jawa (Nycticebus javanicus); dan kukang Kalimantan (Nycticebus menagenis). Hasil dari IUCN menunjukkan bahwa kukang, khususnya kukang Sumatera termasuk ke dalam kategori Vulnerable. Hal ini dikarenakan lebih dari 30% terjadi reduksi pada spesies ini (21 sampai 24 tahun) karena adanya perdagangan ilegal atau karena adanya keinginan untuk memelihara hewan primata ini.

Kukang  memiliki panjang tubuh  antara 27-38 cm dengan berat tubuh berkisar antara 600-700 gram. Di alam liar hidup hingga usia 22 tahun sedangkan di penangkaran dapat hidup hingga usia 25 tahun. Umumnya warna rambut di tubuh kukang adalah campuran antara warna putih dan cokelat. Bagian lingkar mata berwarna cokelat gelap. Mata kukang berbentuk bulat sempurna berwarna cokelat muda keemasan hingga coklat gelap. Karena perpaduan bentuk dan warna yang indah itu, kukang disebut Si Mata Bulan Penjaga Hutan.

Persebaran Kukang Sumatera (sumber: iucnredlist.org)

Kukang dapat melindungi dirinya dari pemangsa karena memiliki barisan gigi yang tajam dan berbisa. Kukang adalah satu-satunya primata di dunia yang memiliki bisa. Bisa dari gigi kukang cukup berbahaya bagi manusia. Apabila tergigit oleh kukang, manusia bisa mengalami infeksi serius dan demam tinggi. Racun berbahaya pada kukang juga tersembunyi di bagian ketiaknya. Apabila kukang melakukan grooming atau membersihkan diri, kukang akan menjilati tubuhnya sehingga racun dari ketiaknya akan menempel di lidah. Hal tersebut lah yang bisa menginfeksi manusia atau predator kukang lainnya seperti ular, orangutan dan elang.

Penghilangan Gigi pada Kukang

Namun, agar hewan ini tidak melawan saat akan dijual, maka hal keji yang dapat dilakukan manusia untuk tetap membuatnya “lemah” adalah salah satunya dengan mencopot semua gigi dari kukang. Cara berakibat fatal pada matinya ribuan kukang karena kehabisan darah atau infeksi sebelum dapat dijual. Nah, menggelitik sendiri kenapa dapat berbahaya..? Karena kukang sendiri langsung mengangkat tangannya untuk mengumpulkan racun dari kelenjarnya dan jika dijilat dapat berbahaya untuk manusia, tapi lebih kasihannya lagi adalah mereka seperti dipaksa untuk mengangkat tangannya karena keserakahan kita sebagai manusia untuk menggelitik mereka dan memaksa mereka untuk mengumpulkan racun tersebut karena situasi tersebut untuk mereka dianggap membahayakan diri mereka.

Banyak hal yang sudah dilakukan oleh pemerintah, namun saya agak menyayangkan tindak yang cepat untuk menyelamatkan primata ini karena hal terakhir yang dilakukan adalah pada tahun 2006. Hal-hal yang telah dilakukan diantaranya:

  1. Tahun 2003, ProFauna Indonesia membantu polisi kehutanan menyita 49 kukang di Jakarta dan sekitarnya.
  2. Wildlife rescue centres (PPS) di Jawa Timur dan Yogyakarta menyelamatkan 15 kukang pada tahun 2006 sebagai hasil penyitaan polisi kehutanan dari polisi.
  3. Pada 3 Juli 2004, BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) DKI menyita bayi kukang dari antara langur Jawa (Trachypithecus auratus) dan harimau (Felis bengalensis) dari antara penjual ilegal di pasar burung Barito di Jakarta Selatan.
  4. Pada 25 Juni 2003 wanita lansia ditemukan akan menjual berbagai hewan liar termasuk kukang, namun perkaranya dicabut karena umur dari wanita tersebut.

Dari yang sudah ada, kepedulian tetap harus ditambahkan baik dari pemerintah juga dari masyarakat yang hidup dekat dengan kukang, agar dari hewan maupun manusia tidak mengganggu satu sama lain dan membahayakan keselamatan makhluk hidup di sekitarnya. Hal ini terkhusus pada penyelamatan kukang yang sudah ada berupa:

  1. Kampanye “Tickling Is Torture”Pada tahun 2015, diluncurkan kampanye ini tujuan mentargetkan video dan gambar mengenai slow loris yang lucu. Dengan kampanye ini diharapkan masyarakat luas tidak menyukai hal-hal semacam ini dan menyalurkan hal ini ke kampanye. Kampanye ini sukses (Maret 2016) karena sudah ada petisi 450.000 dan terus bertambah. Dapat dilihat di  https://www.ticklingistorture.org/

  2. Edukasi secara publikPendidikan merupakan bagian vital dari pekerjaan di Indonesia untuk meningkatkan kehidupan liar alami di Indonesia. Team edukasi di Ciapus memberi pembicaraan dan presentasi untuk kunjungan sekolah anak-anak dan kelompok lokal di sana. Hewan di rehabilitasi pusat memperlihatkan cara mereka hidup di alam liar. https://www.internationalanimalrescue.org/slow-loris-sanctuary

Hal lain dari artikel ini sendiri sebenarnya secara pribadi saya ingin melakukan kontribusi, walaupun dimata para pembaca mungkin hal yang saya lakukan belum dapat dianggap memberi perubahan yang berarti. Saya sendiri jika mempunyai kuasa saya ingin sekali membuat program untuk orang yang memang lebih ingin dekat dengan hewan yang sudah termasuk sulit dicari karena perdagangan ilegal untuk pergi sebagai volunter ke pedalaman membantu para volunter lain yang sudah berupaya untuk melestarikan kukang dari spesies apapun. Donasi dalam hal ini adalah dalam bentuk tenaga kita sebagai orang peduli kepada sesama makhluk hidup, walaupun tanpa dipungkiri donasi berupa uang juga akan meringankan para pelestari hewan.

Lebih dari itu sendiri saya lebih menekankan kepada pemerintah yang seharusnya mengerti kalau ada yang namanya siklus ekosistem yang mereka sebagai manusia tidak bisa menghindari hanya karena punya uang yang lebih dibandingkan dengan hewan tersebut. Undang-undang yang ada yaitu Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, pasal 21(ayat 2) dan PP no. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa walaupun bersifat mengikat namun dengan segala rasa hormat dirasa kurang mengikuti perkembangan jaman dilihat dari keluwesan bahasa yang dipakai akan sulit menjerat para penjual ilegal.

Saya berharap dengan adanya artikel ini walaupun masih banyak kata-kata yang kurang atau kurang pantas diketik/ diucapkan, namun dapat tersampaikan makna yang tersirat di dalamnya. Akhir kata, terimakasih karena sudah membaca artikel ini, semoga para pembaca tergugah untuk lebih peduli.

 

Daftar Pustaka

  1. https://alamendah.org/2015/01/23/kukang-sumatera-nycticebus-coucang-greater-slow-loris/
  2. https://www.ticklingistorture.org/
  3. https://www.internationalanimalrescue.org/slow-loris-sanctuary
  4. https://www.profauna.net/sites/default/files/downloads/publication-2007-slow-loris-trade-in-indonesia.pdf
  5. http://www.kukangku.org/content/read/artikel/seputar-kukang/mengenal-kukang-indonesia
  6. https://bbksdajatimwil1.wordpress.com/informasi-pemanfaatan-tumbuhan-dan-satwa-liar/informasi-peredaran-tumbuhan-dan-satwa-liar/informasi-pasar-burung/burung-burung-dilindungi-undang-undang/
  7. https://www.profauna.net/id/regulasi/pp-7-1999-tentang-pengawetan-jenis-tumbuhan-dan-satwa

Situs dari daftar pustaka adalah yang yang dipakai untuk menunjang pembuatan artikel dengan modifikasi dari pembuat artikel. Situs dapat dibuka ke halaman yang bersangkutan.

Tolong artikel ini dikomentari untuk pembuatan artikel yang mendatang lebih baik dibandingkan sebelumnya.


13 responses to “Ternyata Menggelitik Bisa Jadi Hal Berbahaya”

  1. edwingotama says:

    Tidak disangka, hewan yang imut-imut itu ternyata menderita, semoga dengan adanya aksi ini, kukang dapat hidup dengan lebih baik. Keterangan, aksi dan sumber di blogmu sudah lengkap dan enak untuk dibaca, semoga rencana ini dapat mengkonservasi kukang dengan lebih baik.

  2. Irene Rinti Apriyona says:

    Menarik, Pau. Tapi menurutku, ada beberapa kata yg awalannya seharusnya pakai kapital, misalnya taman safari harusnya Taman Safari, karena itu nama tempat kan ya. Atau mungkin yang aku tangkap beda dengan yang kamu maksud. Maaf. Hehe
    Terus, untuk beberapa kata juga yang mungkin maksud kamu bahasa yang santai biar gak kaku, contoh “donk”, kalau bisa dibikin miring aja tulisannya. Beberapa kata yang bahasa Inggris juga menurutku kalau bisa di bahasa Indonesia-kan ya lebih baik bahasa Indonesia aja, misalnya “team” jadi “tim”.
    Beberapa typo masih bisa dimaklumi, semoga tulisan selanjutnya lebih baik ya, ditunggu ?
    Jadi begitu menurutku, Pau. Maaf kalau pendapatku ada salah, masih belajar juga. Hehe

  3. cindyyongkp says:

    artikel yang te

  4. cindyyongkp says:

    artikel yang tertera sudah disampaikan dengan baik dan benar. semoga binatang kukang ini dapat terus ada hingga anak cucu pun juga mengenalinya serta diharapkan pemerintah untuk menanggulangi pembunuhan pada kukang yang terus menerus tanpa disengaja akan merusak komoditas ekosistem dan komunitas dari spesies itu sendiri.

    • paulinenathania says:

      Terimakasih Cindy untuk kepedulian yang lebih ke kukang. Semoga apa yang kamu harapkan sudah dilihat pemerintah walaupun belum melalui artikel ini

  5. Christy Jacub says:

    Artikelnya udah bagus, lengkap, bergambar, dan panjang. Tapi kalau dicermati aku pusing bacanya karna kurang to the point (kepanjangan). Untuk formatnya sendiri belum cukup rapi (rata kanan kiri bagi pargraf dan format gambar) serta beberapa typo. Untuk judulnya lucu, berusaha memancing daya tarik membaca, dan kreatif tapi kurang ‘ganas’ saja.. hehe.. good job >.<

  6. victorronald says:

    artikel ini sangat membantu untuk memahami keadaan kukang langka ini, juga artikel ini membuatku baru tahu bahwa ternyata kukang tidak suka digelitiki dan mereka diperlakukan dengan sangat burung demi mempermudah penanganan agar mudah dijual, semoga personal action planmu dapat bisa direalisasi dalam waktu dekat demi keamanan dan perlindungan kukang ini..

    • paulinenathania says:

      Terimakasih karena sudah peduli terlebih terhadap kukang. Semoga rencana yang sudah dibuat bisa dilaksanakan dengan baik.

  7. ferry says:

    Kecil imut dan unyu tetapi juga beracun, meskipun begitu bukan cuma racun yang mematikan yang dipunyai kukang tetapi juga racun akan perdagangan ilegal yang tidak sembuh-sembuh sehingga menyebabkan kukang ini hampir punah, sehingga dengan adanya langkah konservasi yang dilakukan dapat menyadarkan masyarakat tentang kukang dan dapat dilestarikan kembali. Selain itu isi dari blognya sudah cukup lengkap dan mudah dibaca dan dipahami

    • paulinenathania says:

      Terima kasih karena telah bilang kukang itu lucu, tapi jangan memliharanya ya, sama aja bohong donk. ^^
      Terimakasih juga atas pujian tentang artikel ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php