Patricia Aurelia Utami P.

Gelatik Jawa (Padda oryzivora)

Posted: December 10th 2019

Gelatik jawa (Padda oryzivora) merupakan burung endemik Pulau Jawa, Bali dan Madura. Gelatik jawa mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya di banyak bagian di dunia. Gelatik jawa biasanya mudah ditemukan di lahan-lahan terbuka seperti lahan pertanian, pekarangan rumah, hingga wilayah perkotaan. Jenis ini juga kerap ditemukan berada di hutan bakau dan pesisir pantai.

Burung Gelatik Jawa (Padda oryzivora) adalah burung kicau yang berukuran kecil dengan panjang kurang lebih 15 cm. Gelatik Jawa memiliki kepala hitam, paruh berwarna merah muda, lingkaran mata yang berwarna merah, dan memiliki lingkaran berwarna putih dibawah kedua mata. Habitat Gelatik Jawa terdapat di lahan pertanian, rumpun tebu, dan pepohonan tinggi. Gelatik Jawa ini sebenarnya adalah burung endemik yang sering dijumpai di pulau Jawa, Bali, dan Sumatra, juga diprediksi menjadi endemik Madura. Akan tetapi sekarang burung tersebut telah tersebar diberbagai tempat mulai dari Afrika Barat sampai daerah Cina.

Klasifikasi Gelatik Jawa:

Kerajaan           : Animalia

Filum                : Chordata

Kelas                : Aves

Ordo                 : Passeriformes

Famili               : Estrildidae

Genus               : Padda

Spesies             : Padda oryzivora

Musim berkembang biaknya dimulai dari Februari hingga Agustus. Struktur tempatnya bersarang berasal dari rumput-rumput kering, biasanya dibangun di bawah atap bangunan dan rongga pohon. Burung pemakan biji-bijian ini biasanya mudah tertarik dengan umpan makanan yang kerap disimpan manusia di halaman belakang rumah. Gelatik jawa juga biasanya kerap ditemui sedang mencari makanan di atas tanah dan sering berada dalam satu kumpulan besar di areal persawahan.

Meski dikenal dekat dengan lingkungan kehidupan manusia, gelatik jawa menjadi salah satu spesies burung dengan tingkat keterancaman yang tinggi. Popularitas burung kecil dan cantik sebagai satwa peliharaan sudah berlangsung dalam waktu lama. Bahkan, karena tampilan fisiknya yang menarik dan suaranya yang unik banyak menarik perhatian anak-anak untuk memeliharanya.\

Ancaman Gelatik Jawa (Padda oryzivora)

Popularitas Gelatik Jawa sebagai burung peliharaan rupanya menyebabkan aktivitas perburuan yang semakin intens terjadi karena tingginya permintaan pasar. Hal tersebut menjadi salah satu motor penggerak penurunan populasi gelatik jawa di alam. Jika belum ada regulasi yang melindungi burung ini dari penangkapan, masalah ini tampaknya akan terus berlanjut. Sejak 1994 hingga kini, IUCN menetapkan gelatik jawa sebagai satwa yang rentan (Vulnerable/VU) terhadap kepunahan.

Penangkapan gelatik jawa untuk memenuhi kebutuhan pasar burung peliharaan baik di wilayah domestik dan internasional diperkirakan sudah terjadi sejak lama. Puncaknya terjadi pada dekade 1960-an hingga 1970-an. Kebiasan gelatik jawa berhimpun secara berkelompok di satu pohon menyebabkan rentannya jenis ini untuk ditangkap secara massal.

Di kalangan petani di Indonesia, gelatik jawa sering dianggap hama pertanian karena kerap memakan tanaman padi dan menyebabkan maraknya penangkapan jenis ini. Hilangnya populasi gelatik mungkin juga disebabkan oleh penangkapan oleh manusia karena burung gelatik merupakan burung pemakan biji yang banyak dijumpai di lahan pertanian sampai dengan ketinggian 1.500m. Hal ini diperkuat dengan kenyataan bahwa burung ini diperjualbelikan di pasar-pasar burung di beberapa daerah serta diekspor ke Jepang, Eropa, dan Amerika. Keterbatasan populasi gelatik diduga juga disebabkan oleh kemungkinan kompetisi dengan burung gereja (Passer montanus) disebutkan sebagai penyebab turunnya populasi gelatik jawa. Beberapa faktor yang juga menyebabkan menurunnya populasi gelatik jawa antara lain semakin menyempitnya habitat akibat penggunaan lahan dan kerusakan oleh manusia, meningkatnya penggunaan pestisida di lahan pertanian, serta besarnya penangkapan terhadap spesies ini.

Upaya  untuk melestarikan Gelatik Jawa (Padda oryzivora)

Salah satu upaya yang harus dilakukan yaitu membuat penangkaran Gelatik Jawa. Dengan penangkaran maka reproduksi mereka dapat dikendalikan di luar habitat aslinya. Beberapa individu baru dari hasil penangkaran dapat dirilis ke habitat alami mereka sehingga burung tersebut tetap eksis di alam bebas. Selain itu dipelukan peraturan secara tegas yang mengatur tentang penangkapan dan perburuan liar burung tersebut, menyusun cara untuk memenuhi permintaan pasar dari penangkaran, dan mengembangkan sehingga penangkapan liar dan perburuan dapat dikurangi dan memulai program untuk melindungi populasi tersisa seperti yang direkomendasikan oleh IUCN.

Apa yang bisa kita lakukan jika ingin ikut melindungi satwa liar dari kepunahan?

1. Mempelajari Tentang Satwa Langka

Hal yang paling mudah kita lakukan adalah menambah pengetahuan kita tentang satwa di alam liar. Ini sangat penting agar masyarakat mengetahui betapa menakjubkannya makhluk hidup dan alam sekitarnya. Selain itu, masyarakat dapat tergerak untuk melakukan hal yang bisa menolong satwa langka.

2. Ikut Melindungi Konservasi

Tempat-tempat yang digunakan untuk melindungi hewan langka pun juga harus dilindungi.

3. Mempelajari Habitat Hewan di Alam Liar

Dengan mempelajari alam dan lingkungan masyarakat akan semakin sadar untuk tidak merusak lingkungan. Hal ini dapat diwujudkan dengan melakukan sosialisasi ke masyarakat tentang habitat hewan di alam liar.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php