Oswaldia Roga

Wisata Alam amankah bagi Organisme??

Posted: September 20th 2013

Bulan Maret 2013 tepatnya tanggal 23 – 24, Anggota Kelompok Studi Biologi (KSB) berjumlah 24 orang melakukan kegiatan rutinitas tiap tahunnya yaitu menyusuri suatu tempat yang cukup ekstrem. Tempat dimana ekosistem hewan yang menyukai kegelapan, dan memiliki ornament-ornamen atau kastil-kastil yang menarik. KSB malakukan susur goa tepatnya di goa Seplawan. Perjalanan yang ditempuh cukup lama dengan waktu hampir 2 jam, menyusuri jalan dengan kecuraman hampir 90O, dan tentunya banyak kejadian-kejadian lucu yang dialami teman-teman peserta susur goa

Kegiatan ini dilakukan selama 2 hari, dengan rangkaian acara melihat keanekaragaman flora dan fauna yang ada di dalam goa, menjelaskan sedikit pengetahuan kepada teman-teman peserta khususnya semester 2 tentang pengukuran CO dan DO, dan mengamati ornamen-ornamen goa yang terbentuk. Selain itu juga kita membuat rumus bunga pada tanaman yang ada di wilayah goa Seplawan. Rumus bunga ini diperoleh pada kuliah Struktur Perkembangan Tumbuhan, dan tentunya bagi angkatan tua (ehem, ehem) membuat rumus bunga ini merupakan kegiatan mencari kembali folder semester 2 yang ada di komputer otak. Hampir semua angkatan tua sudah melupakan bagaimana cara membuat rumus bunga. Dan dari diskusi yang dilakukan pada malam harinya kembali mengingat bagaimana cara membuat rumus bunga dengan begitu banyak simbol dan aturan. Termasuk saya yang sudah melupakan simbol-simbol dan aturannya

Goa seplawan, dibagi dalam 2 bagian yaitu tempat wisata dan tempat alami. Goa ini tergolong dalam goa aktif yaitu masih terbentuknya ornament-ornamen goa. Ornament-ornamen goa sebetulnya banyak yang bisa dipelajari, tetapi disini kita  cukup memperkenalkan stalaktit dan stalakmit. Stalaktit adalah sejenis mineral sekunder (speleothem) yang menggantung di langit-langit gua kapur. Nah, inilah yang sering kita lihat ada di langit-langit atas gua. Sedangkan Stalakmit adalah batuan yang terbentuk di lantai gua, hasil dari tetesan air di langit-langit gua di atasnya, letaknya ada dibawah lantai gua. Stalaktit dan stalakmit ini masuk dalam jenis batu tetes (dripstone). Stalaktit dan stalakmit adalah bentuk khas daerah Karst yang terbentuk dari proses pelarutan air di daerah kapur secara terus-menerus. Air yang larut tersebut akan masuk ke lubang-lubang (doline) yang turun ke gua dan akan menetes ke dasar gua. Tetesan-tetesan tersebut akan berubah menjadi batuan berbentuk runcing. Stalaktit membentuk batuan runcing kebawah, sedangkan stalakmit membentuk batuan runcing ke atas. Dalam setahun, stalaktit dan stalakmit akan bertumbuh rata-rata sebanyak 0,13 mm (0,005 inci). Saat mengalami pertumbuhan cepat, stalaktit bisa tumbuh 3 mm (0,12 inci) per tahun.

Salah satu alasan tempat ini dijadikan sebagai tempat wisata ialah ditemukannya arca emas pada tahun 1979. Kekhawatiran muncul ketika tempat yang merupakan suatu ekosistem bagi populasi yang ada disekitar menjadi sebuah tempat wisata, yang tentunya akan menjadi tempat keramaian karena adanya wisatawan yang berkunjung. Kunjungan wisatawan ini akan menyebabkan terfragmentasinya suatu habitat. Fragmentasi habitat adalah peristiwa yang menyebabkan habitat yang luas dan berkelanjutan diperkecil atau dibagi menjadi dua atau lebih fragmen. Fragmentasi ini disebabkan oleh aktivitas manusia yaitu jalan yang dilalui pengunjung. Fragmen di goa seplawan sendiri tidak begitu nampak, tetapi jalan yang ditempuh pengunjung dalam goa hampir seluruh luas goa. Disini tentunya akan  terjadi efek tepi, efek tepi ini membuat kondisi habitat tidak lagi nyaman ditinggali suatu populasi atau organisme. Suatu jenis tertentu akan memiliki ruang gerak yang lebih sempit untuk melakukan aktivitas hidupnya akibat dari adanya manusia yang berkunjung, yang menjadi ancaman bagi jenis yang ada. Hal ini, akan berdampak makin menyusutnya jumlah organisme yang ada dalam gua.

Kerusakan goa yang sudah nampak disebabkan oleh pengunjung ialah banyaknya tulisan-tulisan pada dinding goa yang menyebabkan rusaknya dinding goa dan rusaknya pembentukan ornamen-ornamen goa.  Yang menguntungkan disini ialah gua seplawan memiliki 2 bagian yaitu sebagai tempat wisata dan gua alami yang  tidak boleh dilewati pengunjung. Adanya gua alami ini memungkinkan organisme yang merasa terancam bermigrasi agar terhindar dari ancaman yang disebabkan oleh manusia.

Sepanjang penyusuran teman-teman KSB, ditemukan beberapa spesies yaitu udang goa, jangkrik goa, kelelawar dan seonggok tanaman paku. Untuk udang goa yang memiliki ciri khas berwarna putih masih banyak ditemukan. Tetapi untuk jangkrik sangat sedikit ditemukan. Jangkrik yang tergolong dalam suku Rhaphidophoridae ini memiliki ukuran tubuh yang cukup besar hampir 2 cm dengan antena yang begitu panjang mencapai 5 kali panjang tubuhnya,  yang mengherankan disini ialah adanya tanaman paku di dalam goa ini, padahal kita semua tahu sumber cahaya dalam goa sangat sedikit bahkan hampir tidak ada. Cahaya penting dalam perkembangan tanaman yaitu membantu dalam proses fotosintesis. Hhmmmm, mungkin sumber cahayanya dari lampu-lampu yang disediakan sebagai penerang dalam goa, dan di goa ini hanya 1 tempat ditemukan tanaman paku ini yang kebetulan berdekatan dengan lampu


2 responses to “Wisata Alam amankah bagi Organisme??”

  1. debbyrakhmawati says:

    bisa aman, bisa ancaman 🙂 hehehe

  2. Alam says:

    Dilematis memang, satu sisi kita menginginkan supaya tempat tersebut tetap alami agar organisme penghuninya tetap lestari, dilain sisi tentu menjadi tempat wisata akan memberikan pendapatan kepada daerah (PAD). Memang benar sih, sebaiknya tempat2 seperti itu dibagi menjadi 2, tempat wisata dan tempat alami organisme, sehingga keduanya bisa berjalan beriringan, daerah bisa mendapatkan PAD, organisme tetap lestari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php