Your future very wonderfull

Tarsius sp. si primata mungil asal Sulawesi milik Indonesia ^^

Posted: September 2nd 2015
  • Tarsius sp. merupakan salah satu primate endemik yang hidup di sekitar kawasan Sulawesi. Tarsius sp. sering dikatakan sebagai hewan primata mungil karena  karena hanya memiliki panjang sekitar 10-15 cm dengan berat sekitar 80 gram. Salah satu jenis spesies tarsisus yang termungil adalah Tarsius pumilus. Jenis spesies ini hanya memiliki panjang tubuh antara 93-98 milimeter dan berat 57 gram, panjang ekornya antara 197-205 milimeter (Sandego dkk., 2014). Bisa dibayangkan yah betapa mungilnya si hewan primata endemik satu ini 😀
  • Selain itu ada hal yang unik dari fisik si mungil primata satu ini. Menurut Krisnatalia dkk (2013), Tarsius sp. mempunyai mata bulat besar dengan gerakan menyamping, dan dapat melompat secara membalik 180º. Tarsius sp. hidup secara berkelompok, hal ini terlihat ketika menjelang wajar,Tarsius sp. ini mengeluarkan vokalisasi yang unik. Tarsius sp. biasanya mengeluarkan suara yang besar ketika kembali langsung ke tempat tidur tarsius itu secara berkelompok. Unik yaa 😀 😀

 

Tarsius Spectrum

Gambar 1. Tarsius spectrum (Supriatna dan Hendras, 2000).

Tarsius bancacus

Gambar 2. Tarsius bancanus (Supriatna dan Hendras, 2000).

  • Menurut Sinaga dkk. (2010), habitat Tarsius sp. banyak ditemukan di kawasan diluar hutan lindung atau area perbatasan hutan antara hutan primer dengan sekunder; hutan sekunder dengan perkebunan masyarakat dan areal perladangan atau pertanian. Pada keadaan normal, Tarsius sp. menuju ke pohon tidur atau sarang dengan rute yang sama. Jika ada gangguan maka rute yang dilaluinya itu akan berubah untuk sementara waktu. Pohon tidur atau sarang Tarsius sp. ini lebih banyak menempati pada jenis-jenis pohon Bambuseae sp., Ficus sp., Imperata cylindrica, Arenga pinnata dan Hibiscus tiliaceus.

Persebaran tarsius

Gambar 3. Persebaran Tarsius sp. (Kamagi dkk., 2014).

  • Berdasarkan penelitian Sinaga dkk. (2010),  jenis pakan yang dikonsumsi oleh Tarsius sp. pada umumnya itu berupa jangkrik, belalang, kadal kecil, cicak, anak burung, kumbang, tonggeret, laron, laba-laba kecil, ulat daun dan serangga-serangga lainnya.  Hasil yang diperoleh untuk pakan Tarsius yakni serangga (81,2%), reptil (12,5%) dan anak burung (1,3%). Nah, temen-temen bisa menyimpulkan kan dari data ini diketahui bahwa si mungil primata ini menyukai serangga (81,2%).
  • Menurut Krisnatalia dkk. (2013), Tarsius sp. dikategorikan sebagai sebagai konservasi risiko rendah atau dekat terancam, salah satunya adalah jenis Tarsius dentatus. Hal ini diperkuat dengan adanya Peraturan Perlindungan Binatang Liar Tahun 1931 dan Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999 sebagai rentan punah. Tarsius sp. juga termasuk Appendiks II dalam Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) pada tahun 2003 dan termasuk kategori vulnerable dalam Red List yang dikeluarkan oleh International Union for   Conservation of Nature (IUCN) pada tahun 2013.
  • Oleh karena itu, ada beberapa tindakan yang kini sudah dilakukan pemerintah Indonesia untuk melindungi si mungil primata satu ini. Menurut Krisnatalia dkk. (2013), tindakan yang telah dilakukan pemerintah Indonesia dilihat adanya Kawasan Taman Nasional Lore Lindu di sekitar Desa Kamarora sebab kawasan tersebut merupakan salah satu habitat tarsius.  Kawasan Taman Nasional Lore Lindu diharapkan dapat membantu perencana dalam mengelola kelangsungan satwa endemik tersebut.

 

Jadi teman-teman, gak cuma Pemerintah aja yang bergerak untuk melindungi si mungil primata satu ini. Yuuk, kita sama-sama menjaga salah satu keanekaragaman hayati Indonesia ini. 😀 😀  Tujuannya biar anak cucu kita kelak bisa lihat si mungil primata satu ini Tarsius sp.

 

DAFTAR PUSTAKA

Kamagi, D, D, W., Corebima, C, A., dan Rengkuan, M. 2014. Phylogenetic Position of North Sulawesi Tarsius sp. Based on Partial Cytochrome b Gene Sequences. Journal of Genetics 4 (1): 332-341.

Krisnatalia, E., Wardah, dan Ihsan, M. 2013. Karakteristik Fisik Habitat Tarsius (Tarsius Dentatus) di Kawasan Taman Nasional Lore Lindu. WARTA RIMBA 1 (1): 1-10.

Sandego, Y, J., Ningsih, S., dan Ihsan, M. 2014. Karakteristik Biofisik Habitat Tarsius (Tarsius Pumilus) di Gunung Rorekatimbu Kawasan Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah. WARTA RIMBA 2 (1): 9-16.

Sinaga, W., Wirdateti, Iskandar, E., dan Pamungkas, J. 2010. Pengamatan Habitat, Pakan dan Sarang Tarsius (Tarsius sp.) Wilayah Sebaran di Sulawesi Tengah dan Gorontalo. Laporan Penelitian. Pusat Studi Satwa Primata (PSSP) LPPM-IPB, dan Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Bogor.

Supriatna, J., dan Hendras, E. 2000. Panduan Lapangan Primata Indonesia. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.


10 responses to “Tarsius sp. si primata mungil asal Sulawesi milik Indonesia ^^”

  1. Etti Dwimargiyanti says:

    Yupsss, bagus bangettt makasih infonya 🙂

  2. Natalia Cinthya Deby says:

    Amazing Indonesia,, haha

    banyak lho yg gak tau ini hewan apa,, taunya cuma semacam kukang,, baca blog ini bisa tambah pengetahuan ttg si Tarsius,,
    Semoga tarsius gak punah deh,,
    Keep conservating..!!

  3. Novia says:

    @Etti Dwimargiyanti : thanks 🙂 GBu

    @Natalia Cinthya Deby : yups.. Indonesia memang amazing 😀 Keep conservating!^^

  4. Armae Dianrevy says:

    Tarsius, hewan bertubuh mungil ini memiliki banyak penggemarnya dan tak sedikit manusia dengan ‘nakal’ memeliharanya secara ilegal. Tarsius termasuk dalam hewan nokturnal, aktif pada malam hari sehingga kecil kemungkinannya untuk dimangsa oleh predator. Hal itu mungkin menjadi salah satu hewan yang medekati terancam punah. Kelemahan dari hewan ini adalah mudah diserang sehingga dapat mengancam jumlahnya, ada yang ingin saya tanyakan yaitu bagaimana dengan strategi reproduksi dari tarsius ini?

  5. Yani Evami says:

    wah menarik sekali informasinya. Saya memiliki pertanyaan, hal-hal apa saja yang menjadi penyebab Tarsius ini menjadi terancam punah?

  6. laurensianachandrika10 says:

    wihh torang harus jaga stwa unik ini…save tarsius 🙂

  7. septiapuspit says:

    wah sangat menarik informasinya. tetapi saya ingin bertanya apakah hewan tarsius ini mungkin untuk dilestarikan di luar habitat? kemungkinan keberhasilannya seberapa besar ya? terima kasih

  8. desykadang says:

    Tarsius juga jadi lambang kesetiaan loh 😀 heheehhe.
    Kepeduliaan terhadap hewan mungil ini perlu di tingkatkan agar hewan ini tetap dapat dilihat nantinya oleh anak cucu kita 😉

  9. Novia says:

    @Armae Dianrevy: menurut Meijaard dkk. (2006) yang tertera pada buku Hutan pasca pemanenan, reproduksi Tarsius sp. pada umumnya memiliki musim berkembang biakan yang teratur yakni bulan Oktober-Desember. Masa kehamilan Tarsius sp. sendiri sekitar 178 hari. Terimakasih. Gbu

    @Yani Evami: Menurut Sandego (2014), menurunnya populasi Tarsius sp.adalah pembukaan lahan hutan yang semakin luas di daerah Sulawesi tersebut, sehingga berakibat semakin kurangnya habitat satwa tarsius dan mengancam keberadaan satwa serta pakannya.Populasi Tarsius sp. yang terisolasi tersebut dikhawatirkan akan mengalami kepunahan dalam jangka panjang karena erosi genetik akibat inbreeding. Terimakasih. Gbu

    @septiapuspit: Menurut saya bisa karena salah satu konservasi di luar habitat adalah di Taman Safari Cisarua, Bogor. Saya melihat langsung wujud asli si primata mungil ini. Mengenai keberhasilannya tergantung pada kita sebagai manusia apakah ingin Tarsius sp. tersebut tetap hidup ataukah membiarkannya benar-benar punah.Terimakasih. Gbu.

    @laurensianachandrika10 + @desykadang: Terimakasih atas komentarnya. Gbu.

  10. clararequinta says:

    waahh.. unik sekali ya tarsius ini, bisa melompat secara membalik 180º dan mengeluarkan vokalisasi yang unik. Tetap jaga dan lestarikan primata ini ya guys 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php