NovalindaDwiChrisyanti

Aku Berhak Untuk Hidup Primata Endemik Borneo

Posted: December 1st 2018

Hasil gambar untuk bekantanBekantan (Nasalis larvatus Wurmb.) adalah jenis satwa yang termasuk ke dalam Ordo (bangsa) Primata, Famili (suku) Cercophitecidae, dan Subfamili (anak suku) Colobinae. Status konservasi berdasarkan IUCN bekantan termasuk hewan endemik yang endangered (terancam kepunahannya) dan mendapat perhatian sangat tinggi dalam upaya konservasinya. Jenis ini tergolong sangat langka dan endemik dengan habitat terbatas pada hutan bakau, hutan di sekitar sungai, dan habitat rawa gambut di mana sebagian telah terancam oleh berbagai aktivitas manusia.

Menurut McNeely dkk, (1990), Habitat bekantan yang awalnya memiliki luas 29.500 km persegi saat ini telah berkurang sebanyak 40% dengan yang berstatus kawasan konservasi hanyalah sebesar 4,1%. Akibat dari penurunan luas habitat tersebut maka populasi bekantan cenderung menurun karena primata ini kurang toleran terhadap kerusakan habitat. Morfologi dari bekantan itu sendiri adalah warna rambut yang bervariasi. Pada bagian bahu dan punggung atas berwarna coklat kemerahan. Ujung-ujung rambutnya berwarna merah kecoklatan, sedangkan dua pertiga nya berwarna abu-abu.

Punggung berwarna kuning keabuan, perut berwarna kekuningan atau abu-abu, kadang-kadang ada bagian yang berwarna kuning kecoklatan. Tangan dan kaki putih kekuningan, kepala berwarna coklat kemerahan, dan leher ber warna putih keabuan. Ciri khas bekantan yang mudah dikenali adalah ukuran hidung yang besar dan panjang pada jantan dan runcing pada betina. Adanya variasi warna bulu pada bagian-bagian tubuh tersebut merupakan dasar dalam membedakan sub-spesies bekantan yang ada, yaitu Nasalis larvatus larvatus dan Nasalis lavartus orientalis.

Pada umumnya bekantan adalah primate yang endemik Borneo yang habitat tinggalnya dihutan lahan basah, baik di dalam dan di luar kawasan konservasi. Di Kalimantan Selatan, bekantan dapat ditemukan di hutan karet yang berada di luar kawasan konservasi yang berdekatan dengan sumber air berupa sungai atau danau kecil. Bekantan memakan daun, bunga, dan buah yang ada di ujung-ujung cabang, namun posisi bekantan pada cabang besar di tengah tajuk, meraih ranting di sekitarnya atau duduk di atas ranting.
Penyebab utama kepunahan dari salah satu primata yang ada di Indonesia ini adalah perburuan dan perladangan yang menyebabkan penurunan populasi bekantan, terutama sejak 35 tahun lalu di mana kepemilikan senjata buru dan speed boat mulai berkembang di masyarakat di mana tepi sungai habitat bekantan adalah areal yang pertama dibuka.
Berkembangnya perladangan dengan menanam buah-buahan menyebabkan bekantan mendatangi ladang untuk mendapatkan pakan. Hal ini menimbulkan anggapan masyarakat terhadap bekantan sebagai hama dan patut untuk diburu, selain itu bekantan juga diburu sebagai umpan untuk menangkap biawak (V. salvator) guna mendapatkan kulit biawak sebagai sumber mata pencaharian tambahan dari penduduk sekitar. Selain itu faktor kebakaran hutan juga sangat berpengaruh pada lingkungan habitat bekantan. Salah satu contoh adalah kebakaran hutan di Tanjung Puting (1997) telah yang telah merusak 75% hutan lahan basah dan di TN Kutai menyisakan 5% habitat bekantan akibat kebakaran hutan. Kebakaran hutan dapat meningkatkan mortalitas (tingkat kematian) akibat berkurangnya sumber pakan, kehilangan habitat, dan timbulnya penyakit yang mewabah.

Gambar terkaitPerilaku dari bekantan sendiri adalah hidupnya berkelompok yang diperkirakan total individu bekantan di Kalimantan adalah 25.000 individu, di dalam kawasan konservsi sekitar 5.000 individu. Upaya konservasi yang ada pada saat ini dalam pelestarian bekantan adalah upaya pencegahan kerusakan dan penurunan luas habitat oleh illegal logging yang dapat memicu kebakaran hutan dan perburuan, pengamanan hutan sempadan sungai sebagai habitat serta upaya konservasi spesies di luar kawasan mangrove dan rawa gambut, seperti di areal perkebunan.

Perlindungan sempadan sungai selebar 500 m ini selain menyediakan habitat dengan daya dukung minimal kepada kelompok bekantan, juga memberikan dampak pengurangan laju aliran permukaan yang membawa partikel tanah hasil erosi yang dapat menurunkan kualitas sungai. Pada hutan produksi yang berbatasan dengan habitat bekantan perlu diterapkan teknik pemanenan dengan Reduced Impact Logging (RIL) guna mempertahankan kualitas perairan. Hal ini sangat mendukung bagi kelestarian habitat bekantan, karena bekantan sangat membutuhkan kualitas perairan yang baik yang dapat mempengaruhi kualitas pakan, pohon tempat tidur, sumber air minum, dan sebagai sarana untuk aktivitas berenang dan mandi.

Hal nyata yang dapat kita lakukan terhadap upaya konservasi bekantan adalah tidak membuang sampah disembarang tempat terutama kedalam aliran air agar bekantan mampu menempati kawasan hutan mangrove yang bersih dan terbebas dari sampah atau limbah yang mencemari perairan, kemudian menanam mangrove yang merupakan habitat tinggal dari bekantan itu sendiri dan mencegah adanya perburuan dengan mempublikasikan di sosial media betapa malangnya bekantan akibat perilaku para pemburu. Ayo kita bersama – sama mencintai dan melakukan aksi nyata kita terhadap upaya konservasi. Save Bekantan For Your Life is Meaningful


16 responses to “Aku Berhak Untuk Hidup Primata Endemik Borneo”

  1. elsalukmana says:

    Artikel nya sudah bagus dan menarik 🙂 Apa itu RIL? mngkin bsa dijelaskan dengan sepintas sehingga awam mengerti

    • novalinda08 says:

      RIL adalah reduced impact logging dimana itu adalah upaya dalam memanen tanpa merusak. Misalnya untuk memanen buah yang ada jangan di tebang sepohonnya tapi hanya dipetik saja buahnya jadi ekosistemnya masih tejaga 🙂

  2. Fabiana Disa says:

    Terimakasih untuk infonya, menambah wawasan baru. Semoga aksi nyata ini dpt dilakukan untuk mnyelamatkan bekantan

  3. Kornelia Sekar Lintang says:

    Bekantan yang menjadi icon endemik Kalimantan (tepatnya Borneo) termasuk salah satu spesies mamalia yang terancam punah, mari kita bersama-sama mengambil langkah kecil dan sederhana namun sangat bermakna untuk konservasi spesies terbacam punah ini.

  4. inggridrosalia says:

    Isi dari blog sudah informatif dan bermanfaat. Semoga action plan yang telah direncanakan dapat diwujudkan. Salam konservasi!

  5. Alfa says:

    Sangat informatif, lanjutkan

  6. Yohanaprimadewi says:

    Setuju banget kalau salah satu spesies ini harus dipertahankan. Kalau tidak dipertahankan, mana ada lagi spesies unik ini ada di Indonesia dan dunia. LANJUTKAN AKSIMU!

  7. Jesica Ade Natalia says:

    Sangat informatif dan menarik. Lanjutkan terusss

  8. Artikelnya sangat baik Nova, terima kasih sudah berpikir untuk mulai melakukan konservasi. semoga hewan ini tetap lestari

  9. brigittajosephine12 says:

    Upaya konservasi bekantan memang eprlu dilakukan mengingat bekantan merupakan spesies endemik kalimantan, ayo terus berkonservasi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php