seputar biologi

Justice For OrangUtan

Posted: September 9th 2015

Orangutan (Pongo pygmaeus) adalah satwa langka yang dilindungi dengan penyebaran yang sangat terbatas di Sumatera dan Kalimantan. Orangutan merupakan  satu-satunya  dari  empat  taksa  kera  besar  yang  hidup  di  Asia, sementara  tiga  kerabatnya  yang  lain,  yaitu;    gorila,  chimpanzee  dan  bonobo  hidup  dibenua  Afrika.  Terdapat  dua  jenis  orangutan,  yaitu  orangutan  Sumatra  (Pongo  abelii) yang  penyebarannya terbatas pada bagian utara Sumatera dan orangutan Borneo (Pongo pygmaeus), tetapi disini saya akan membahas lebih dalam tentang (pongo pygmaeus).

images (1)

Deskripsi Fisik

  1. Orangutan Borneo adalah bagian dari keluarga besar kera dan merupakan mamalia arboreal terbesar.
  2. Satwa ini memiliki rambut panjang dan kusut berwarna merah gelap kecoklatan, dengan warna pada bagian wajah mulai dari merah muda, merah, hingga hitam.
  3. Berat orangutan Borneo jantan dewasa bisa mencapai 50 hingga 90 kg dan tinggi badan 1,25 hingga 1,5 m. Sementara jantan betina memiliki berat 30 – 50 kg dan tinggi 1 m.
  4. Bagian tubuh seperti lengan yang panjang tidak hanya berfungsi untuk meraih makanan seperti buah-buahan, tetapi juga untuk berayun dari satu pohon ke pohon lainnya, menggunakan jangkauan dan kaki untuk pegangan yang kuat.
  5. Pelipis seperti bantal yang dimiliki oleh orangutan Borneo jantan dewasa membuat wajah satwa ini terlihat lebih besar. Akan tetapi, tidak semua orangutan Borneo jantan dewasa memiliki pelipis seperti bantal.
  6. Jakun yang dimiliki dapat digelembungkan untuk menghasilkan suara keras, yang digunakan untuk memanggil dan memberitahu keberadaan mereka.

Orangutan Borneo lebih banyak ditemukan di hutan dataran rendah (di bawah 500 m diatas permukaan laut) dibandingkan di dataran tinggi. Hutan dan lahan gambut merupakan pusat dari daerah jelajah orangutan, karena lebih banyak menghasilkan tanaman berbuah besar dibandingkan dengan hutan Dipterocarpaceae yang kering dan banyak mempunyai pohon-pohon tinggi berkayu besar, seperti keruing. Orangutan borneo sangat rentan dengan gangguan-gangguan di habitatnya

Saat ini, baik orangutan Sumatera maupun orangutan Borneo terancam oleh kepunahan. World Conservation Union (Daftar Merah IUCN 2007 / IUCN Red List2007) mengklasifikasikan orangutan Borneo sebagai spesies yang terancam punah (endangered), sementara di Sumatera telah diklasifikasikan sebagai spesies yang sangat terancam punah (critically endangered). Kedua spesies juga telah tercantum dalam Lampiran I Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Langka Fauna dan Flora Liar (CITES). Baik di Indonesia dan Malaysia, orangutan dilindungi secara hukum. Namun demikian, hukum dan peraturan saja jelas tidak cukup untuk melindungi spesies karismatik ini

di indonesisa masih ada bebrapa tempat yang merupakan kantong – katong habitat orangutan kalimantan yaitu di sabah dan serawak terutama di daerah rawa gambut serta hutan dipterokarp dataran rendah di bagian barat daya kalimantan antara sungai kapuas dan barito. Pada tahun 1987, populasi orang utan diperkirakan 4.000-180.000 individu, dan antara tahun 1996-1997 terjadi penurunan populasi sebesar 12% dari perkiraan populasi total 4075 individu dan pada tahun 90-an kehilangan habitat orang utan di Kalimantan Timur telah mencapai 56%. Penurunan populasi tersebut dapat disebabkan oleh perburuan, pemanfaatan hutan yang membentuk fragmentasi habitat, kebakaran dan konversi hutan di Kalimantan Timur seluas 32%. Orang utan tersebar di kawasan hutan yang  fungsi dan peruntukannya telah ditetapkan, seperti kawasan hutan konservasi, kawasan lindung, dan hutan produksi. Dalam hal ini habitat orangutan yang dilindungi berupa kawasan konservasi di Kalimantan Timur hanya 6%, Kalimantan Tengah5%, dan Kalimantan Barat 21%. Namun tidak semua kawasan tersebut sesuai bagi habitat orangutan. Luas kawasan yang cocok sebagai habitatorang utan hanya 30%. Sebagai contoh, dari seluruhkawasan Taman Nasional (TN) Kutai, hanya 24%yang sesuai untuk habitat orang utan dan di TNTanjung Puting 25%

WWF-Indonesia membantu Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Departemen Pekerjaan Umum dan Departemen Kehutanan dalam mengembangkan Rencana Tata Ruang Berbasiskan Ekosistem Pulau Sumatera, sebagai upaya penyelamatan sebagai restorasi hutan tersisa di Sumatera. WWF juga bekerjasama dengan berbagai pihak untuk melindungi lansekap hutan yang tersisa di Bukit Tiga Puluh dan Jambi di mana lansekap tersebut juga merupakan areal introduksi orangutan Sumatera di alam.

WWF Indonesia juga bekerja bersama sejumlah LSM yang bergerak di bidang pelestarian orangutan dalam mempublikasikan panduan teknis Penanganan Konflik Manusia dan Orangutan di Dalam dan Sekitar Perkebunan Kelapa Sawit. Dokumen tersebut dimaksudkan untuk membantu sektor industri dalam mengidentifikasi dan menentukan langkah-langkah yang tepat untuk mengadopsi praktik-praktik pengelolaan yang lebih baik (Beter Management Practices/BMP) yang bermanfaat bagi konservasi dan industri. WWF juga terlibat secara aktif dalam pengembangan Rencana Aksi dan Strategi Konservasi Orangutan yang dirilis oleh Presiden RI tahun 2007.

download 

Refrensi

Suhud, M, Saleh, C, 2007 (eds). Dampak Perubahan Iklim Terhadap Habitat Orang Utan. WWf-Indonesia , Jakarta, Indonesia

 

Bismark, M.2005. Estimasi populasi Orang Utan dan Model perlindungannya di Kompleks Hutan Muara Lesan Berau.  Buletin Plasma Nutfah 2(11): 74-80.

 

Kuncoro,Purwo. 2004.  Aktivitas Harian Orang Utan Kalimantan di Hutan Lindung pegunungan Meratus Kalimantan Timur. Universitas Udayana: Bali.

 

 


7 responses to “Justice For OrangUtan”

  1. Krisna Dewantara says:

    Informasi yang menarik, apalagi WWF yang merupakan lembaga yang bergerak di bidang konservasi, tidak hanya orangutan tetapi juga spesies lain sangat membantu dalam upaya penyelamatan alam. Lembaga-lembaga seperti ini harus selalu kita dukung

  2. septiapuspit says:

    saya ingin bertanya, jika orangutan kalimantan ini dilestarikan di luar habitat apakah akan bisa beradaptasi dengan baik?

  3. Untuk siklus reproduksinya bagaimana? Apa mempengaruhi punahnya spesies ini?

  4. garvin says:

    Apakah ada penyebab kenapa penyebaran orang utan ini hanya di Sumatra, Borneo?

  5. martha24 says:

    terimakasih informasinya sangat menarik:)sebagai mahasiswa saat ini upaya yang paling sederhana yang dapat kita lakukan agar orangutan tidak punah kira-kira contoh nya apa ya?

  6. agustinuscandra says:

    Kerjasama dengan semua aspek masyarakat merupakan cara yang paling efektif dalam melakukan suatu konservasi. Semoga konservasi orang utan merupakan konservasi yang murni dan tidak ada tujuan yang negatif di balik semua itu.

  7. vivilarasati says:

    terimakasih untuk informasinya Nico. sangat menarik mengetahui lebih banyak tentang orang utan ini 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php