Kehidupan Mahasiswa

Alat Pengering Kerupuk Kreasi Mahasiswa Undip: Manfaatkan Reflektor, Waktu Penjemuran Hanya Dua Jam

Apakah yang telah dikerjakan Rifki Firdaus, Gilar Pandu, serta Bayu Siswo Wibowo, mahasiswa Fakultas Tehnik (FT) Kampus Diponegoro (Undip) Semarang, ini pantas dapat acungan jempol.

Mereka temukan alat bernama Apkostrik atau mempunyai kepanjangan alat pengering kolektor surya tanpa listrik yang digunakan menjadi alat pengering kerupuk. Inspirasi pembuatan alat itu bermula dari perasaan keprihatinan ketiganya pada beberapa perajin kerupuk di Kabupaten Gerobogan.

Baca juga: Biaya Kuliah STMIPendaftaran STMI

Jika musim hujan datang, beberapa perajin kesulitan penuhi keinginan pasar karena begitu tergantung pada cahaya matahari untuk mengeringkan kerupuk yang siap digoreng. “Dari situlah kami temukan inspirasi membuat alat pengering untuk menolong beberapa perajin supaya gampang mempersiapkan kerupuk- kerupuk kering sebelum di pasarkan, ” papar Rifki.

Kerupuk biasanya terbuat dari adonan tepung tapioka digabung bahan perasa, seperti udang atau ikan. Tetapi ada pula yang tanpa kombinasi perasa. Supaya bisa digoreng serta di nikmati, adonan yang telah diciptakan atau iris itu mesti betul-betul kering.

“Banyak UMKM yang menekuni usaha kerupuk kesusahan jika hadir musim hujan. Intensitas cahaya matahari yang lemah jadikan mereka tidak dapat selekasnya menjemur bahan baku. Ini berarti mereka sangat terpaksa melupakan keuntungan yang semestinya dapat dicapai. Walau sebenarnya waktu musim hujan keperluan akan cemilan umumnya juga melonjak ikuti keinginan, ” kata Gilar.

Menjadi mahasiswa tehnik serta banyak pelajari materi pencahayaan, kelistrikan, serta pengetahuan alam, jadikan Rifki, Gilar, serta Bayu membuat suatu alat untuk menolong beberapa perajin kerupuk. Mereka pilih lokasi riset di daerah Brabo, Kecamatan Tanggungharjo, Grobogan, yang adalah salah satunya sentral pembuatan kerupuk.

Ke-3 mahasiswa ini dapat memohon support universitas untuk beberapa kepentingan dari mulai observasi, penelitian, serta penggunaan laboratorium. “Kami menggerakkan riset kurang lebih satu semester lebih sampai terbentuk apkostrik ini. Dengan terciptanya alat ini, mudah-mudahan bisa memberi banyak faedah pada penduduk luas, ” katanya.

Alat pengering itu adalah perangkat simpel. Tidak hanya ada cermin reflektor dibagian dalam, alat itu juga tersusun dari beberapa sisi lainnya, seperti pelat tembaga, susunan aluminium, serta kaleng besi. Beberapa bagian itu mempunyai manfaat tempatkan kerupuk basah untuk dikeringkan. Pengeringan kerupuk dengan alat ini bisa dikerjakan dengan menghabiskan waktu tidak lebih dari dua jam.

Bila dibanding dengan pengeringan konvensional, yaitu memakai cahaya matahari langsung, sangat tidak memerlukan waktu 16 jam penjemuran. Itu juga bila cahaya matahari tengah terik, bila mendung, proses penjemuran dapat menghabiskan waktu lebih lama. Alat temuan ke-3 mahasiswa itu dapat menyimpan 10 kg kerupuk basah.

Baca juga: Biaya Kuliah STKSPendaftaran STKS

Alat dengan bentuk kotak serta diperlengkapi roda itu begitu gampang dipakai. Untuk membuat satu alat itu diperlukan cost kira-kira Rp1 juta. Pada prinsipnya kerja, alat temuan mereka tangkap cahaya matahari serta memaksimalkan panasnya lewat cermin reflektor.

Lalu menghantarkan panasnya lewat beberapa bagian logam, seperti plat tembaga, susunan aluminium, serta kaleng besi yang terpasang sampai membuat proses pengeringan jadi lebih cepat.

Walau dengan ide lumayan sederhana, alat temuan itu sudah sempat mengorbitkan ke-3 mahasiswa saat temuan mereka diikutkan pada Minggu Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-27 di Semarang waktu lalu serta mencapai juara pertama pada salah satunya kelompok.

Blog Terbaru

© 2018 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php