Action Plan Hiu Martil (Sphyrna lewini)

Perairan Nusa Tenggara merupakan salah satu wilayah Pengelolaan Perikanan dan salah satu wilayah penangkapan hiu dan pari bagi para nelayan Tanjung Luar karena perairan tersebut memiliki tingkat keragaman jenis hiu dan pari yang relatif tinggi dan bervariasi. Isu tentang penangkapan hiu dan pari telah menjadi perhatian duniainternasional karena hiu dan pari beberapa jenis hiu dan pari yang tertangkap oleh nelayan Tanjung Luar telah memiliki status konservasi dimana sebanyak 1038 jenis telah termasuk dalam Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature) dan Appendix CITES (Conventionon International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). Hiu dan pari merupakan hewan yang turut menjaga keseimbangan ekosistem sehingga dikategorikan menjadi indikator kesehatan ekosistem laut, keberadaan mereka di perairan laut juga memiliki peranan ekologi yang penting sebagai predator puncak dalam jejaring rantai makanan di ekosistem (Pusat Riset Perikanan Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, 2018).

Salah satu contohnya yaitu hiu martil (Sphyrna lewini) merupakan jenis hiu yang masuk pada golongan famili Sphyrnidae adalah jenis hiu endemik Indonesia khususnya daerah Nusa Tenggara yang sering tertangkap di perairan Indonesia, terutama di wilayah Samudera Hindia sebelah selatan Jawa dan Nusa Tenggara. Hasil tangkapan S. lewini dari perikanan rawai yang berbasis di Tanjung Luar sebanyak 18% dari total tangkapan. Populasi S. lewini telah mengalami tekanan akibat penangkapan dan perdagangan yang intensif, terutama bagian siripnya (Sentosa dkk., 2017). Menurut data dari IUCN salah satu faktor ancaman yang menjadikan spesies ini terancam punah yaitu karena perburuan liar dan pengambilan sumber daya laut secara berlebihan yang menyebabkan terganggunya ekosistem laut tempat tinggal hiu martil, faktor lain seperti perburuan liar karena untuk pemenuhan konsumsi masyarakat dan siripnya yang masi umum dijual di pasaran mengakibatkan nelayan menangkap spesies ini secara berlebihan.

Gambar 1. Jenis Hiu Martil (Sentosa dkk., 2017).

Personal action plan saya sebagai salah satu mahasiswa biologi tentang spesies endemik hiu martil yang terus mengalami skala penurunan setiap tahunnya yaitu berusaha mengadakan atau bergabung dalam tim webinar/seminar dan memberikan informasi terkini serta penyuluhan khususnya untuk kalangan muda agar lebih peduli dan membuka wawasan tentang hiu yang ada di Indonesia. Action plan yang lain mungkin saya akan melakukan kampanye anti konsumsi hiu dan mengajak masyarakat untuk ikut dalam kampanye tersebut dengan cara membagikan gelang gratis #antikonsumsihiu dan membagikan brosur tentang informasi keterancaman spesies hiu yang ada di perairan Indonesia khususnya di daerah Nusa Tenggara. Melakukan kerja sama dengan komunitas konservasi hiu atau pencinta hiu sebagai volunteer untuk memberikan informasi serta penyuluhan untuk nelayan agar tidak melakukan penangkapan atau perburuan liar hiu serta menjelaskan mengenai Undang-undang dan sanksi yang akan didapatkan jika ketahuan melakukan perburuan liar hiu. Hal lain yang bisa dilakukan saat  bergabung atau melakukan kerja sama di  komunitas konservasi hiu yaitu melihat atau membantu menggunakan VMS (Vessel Monitoring System) atau Sistem Pemantauan Kapal Perikanan (SPKP), adalah penggunaan teknologi komunikasi dan sistem navigasi untuk melacak pergerakan kapal-kapal perikanan sehingga adanya pengawasan dan pengendalian kapal dari nelayan yang akan memberikan data posisi kapal perikanan secara real time.

Sumber:

Pusat riset perikanan badan riset dan sumber daya manusia kelautan dan perikanan. 2018. Menuju pengelolaan hiu dan pari secara berkelanjutan berbasis ilmiah. Dalam: Prosiding Simposium Hiu Dan Pari Di Indonesia Ke2. 28-29 Maret 2018. Jakarta. Hal 1-379.

Sentosa, A. A., Dharmadi, D. dan Tjahjo, D. W. H. 2017. Parameter populasi hiu martil (Sphyrna lewini di perairan selatan Nusa Tenggara. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia 22(4): 253-262.

css.php