Eksistensi Rafflesia arnoldii, padma raksasa, di Indonesia Semakin Menurun??

Rafflesia arnoldii (Sumber: Haerudin R. Sadjudin, 2015).

Rafflesia arnoldii atau yang lebih dikenal dengan sebutan padma raksasa merupakan tanaman khas dan langka yang endemik di Pulau Sumatera. Rafflesia dijadikan sebagai “spesies maskot” yang menjadi lambang kelangkaan mewakili jenis-jenis flora dunia yang keberadaannya semakin terancam. Rafflesia arnoldii dipilih sebagai “Puspa Langka” mewakili keunikan keragaman flora Indonesia yang berstatus langka berdasarkan Keppres No. 4/1993 tentang Satwa dan Bunga Nasional. Di tingkat internasional, Rafflesia menjadi lambang “Flora Malesiana” mewakili salah satu flora langka dunia dari kawasan Malesia. Ilustrasi dan gambar-gambar Rafflesia digunakan dalam dokumen resmi negara, seperti perangko, paspor, dan mata uang. Hal ini merupakan bukti apresiasi terhadap Rafflesia sebagai salah satu aset dunia yang keberadaannya perlu dilestarikan. Beberapa kawasan habitat Rafflesia di Bengkulu dan Sumatera Barat menjadi destinasi wisata turis domestik ataupun mancanegara.

Perangko (Sumber: parasiticplants.siu.edu/ParPlantStamps dan colnect.com/id/stamps/stamp/252781-Corpse_lily_Rafflesia_arnoldii-Flora_92_National_Horticultural_Exhibition-Indonesia)
Paspor (Sumber: tangerang.imigrasi.go.id)

Kebun Raya Bogor membawa Rafflesia arnoldii untuk mengikuti pameran International Horticulture Goyang Korea yang dilaksanakan di Goyang City-Seoul, Korea Selatan pada bulan April tahun 2014 lalu. Rafflesia arnoldii, yang terpilih sebagai duta Indonesia, menjadi maskot yang mengisi gerbang utama pameran berskala internasional bersama dengan dua maskot unggulan dari negara lain, seperti mawar raksasa dari Kolombia dan rainbow tulip dari Belanda. Rafflesia arnoldii diawetkan dalam bentuk kering dengan menggunakan bahan-bahan pengawet yang didatangkan dari Korea dengan adanya izin khusus dari pihak Pemerintah Korea dan Indonesia.

(A) Rafflesia arnoldii dan dua maskot bunga lain berada pada paviliun utama (B dan C) Suasana saat pameran berlangsung (Sumber: LIPI, 2017).

Rafflesia arnoldii merupakan tumbuhan holoparasit yang hidup pada sistem perakaran atau batang tumbuhan inang Tertrastigma leucostaphylum karena tidak memiliki daun dan akar yang berperan dalam proses fotosintesis dan menyerap sari makanan. Kehidupan Rafflesia arnoldii bergantung pada inangnya. Kehidupan inang dipengaruhi oleh lingkungan, seperti iklim mikro dan makro. Rafflesia hanya tumbuh pada inang tertentu saja, baik jenis maupun individunya. Berdasarkan data IUCN (International Union for Conservation of Nature) Red List 2018, Rafflesia arnoldii digolongkan dalam kategori rentan (Vulnerable).

Tetrastigma adalah tumbuhan liana pemanjat yang tergolong dalam famili anggur-angguran (Vitaceae). Tumbuhan ini tidak dapat berdiri tegak sehingga memanjat dengan bantuan tendril (sulur) yang mengait pada tumbuhan panjatan agar dapat menjangkau sinar matahari. Pada habitatnya, tetrastigma sulit untuk dikenali karena sifatnya yang memanjat. Daunnya tumbuh di antara kanopi pohon sehingga sering kali bentuknya tersamar oleh kerimbunan daun tumbuhan lain yang hidup di sekitarnya. Bunga Rafflesia sering ditemukan tumbuh agak jauh dari inangnya.

Rafflesia berkembang biak dengan biji. Penyebaran biji dibantu oleh manusia, angin, air, serangga, dan binatang mamalia, seperti landak, tupai, babi hutan, gajah. Serangga penyerbuk tertarik oleh bau bunga saat mekar sehingga polen terbawa secara tidak sengaja. Serangga penyerbuk membantu memindahkan serbuk sari dari bunga jantan ke bunga betina. Tipe reproduksi Rafflesia, yakni bersifat uniseksual. Dengan kata lain, organ jantan dan betinanya dalam bunga terpisah dan berada dalam individu berlainan (dioecious).

Bunga jantan dan bunga betina Rafflesia dapat dibedakan dengan meraba bagian dasar bunganya. Bunga jantan memiliki anther (benang dan kepala sari) yang terdapat pada bagian dalam di bawah disk (piringan yang ditumbuhi cuatan seperti duri). Anther berbentuk membulat dan setengah bagiannya tenggelam dalam kantong anther. Kepala sarinya mengandung cairan lengket berwarna putih kekuningan seperti pasta gigi bila sudah matang. Ketika cairan lengket ini telah mengering maka terasa berbutir halus yang dinamakan sebagai serbuk atau tepung sari. Jika area permukaan bawah disk tidak ditumbuhi anther maka dapat dipastikan bahwa bunga itu adalah bunga betina. Ovarium bunga Rafflesia memiliki struktur seperti labirin yang terisi oleh bakal biji, dan kemudian akan berkembang menjadi biji apabila terjadi penyerbukan. Bunga jantan dan betina akan layu kemudian mati beberapa hari setelah mekar. Bunga betina yang berhasil diserbuki akan tetap hidup, berwarna hitam dan mengeras, lalu mengalami proses pembentukan buah.

Rafflesia sulit untuk menghasilkan buah karena terdapat beberapa faktor pembatas, seperti bunga jantan dan betina yang terpisah, ketidakserempakan masa berbunga, masa periode berbunga yang pendek (3-6 hari), masa hidup atau viabilitas polen yang terbatas (hanya 72 jam setelah lepas dari anther-nya), jumlah populasi bunga yang tidak banyak, ketidakseimbangan jumlah bunga jantan dan betina, dan faktor kondisi lingkungan (jika hujan, maka air hujan tertampung pada bunga yang berbentuk mangkuk dan akhirnya terjadi pembusukan, kemungkinan serangga untuk melakukan penyerbukan semakin kecil). Semakin besar ukuran inang maka semakin banyak jumlah bunga yang dapat tumbuh. Semakin besar ukuran bunganya maka semakin sedikit jumlahnya dalam satu populasi.

Morfologi Rafflesia arnoldii

Rafflesia arnoldii memiliki satu bunga yang terdiri dari lima kelopak besar, tebal dan kasar yang berwarna oranye atau merah cerah pekat dan berbintik-bintik berwarna putih. Pada saat bunga mekar, diameternya dapat mencapai 70 hingga 110 cm dengan tinggi mencapai 50 cm. Kuncup-kuncup bunga terbentuk di sepanjang sela-sela batang dengan masa pertumbuhan bunga dapat memakan waktu sampai 9 bulan dan masa mekar sekitar 5-7 hari, kemudian bunga Rafflesia akan layu dan mati.

Morfologi Rafflesia arnoldii (Ilustrasi oleh Arif Setiawan, 2017).

Ancaman Kepunahan Rafflesia arnoldii

Jumlah populasi Rafflesia yang rendah menyebabkan keanekaragaman genetik yang rendah juga. Kehidupan biologis Rafflesia sangat kompleks dan menghendaki habitat yang spesifik juga. Hal ini menyebabkan Rafflesia rentan terhadap terjadinya perubahan habitat dan berkarakter langka.

Faktor peluang tumbuh menjadi faktor yang menjadi ancaman kepunahan padma raksasa ini. Kuncup Rafflesia dapat mati apabila tumbuh di tempat yang tidak menguntungkan, seperti di bawah perakaran tumbuhan lain ataupun tumbuhan inang sendiri sehingga posisinya akan terjepit ketika mengalami pertumbuhan. Ancaman punahnya Rafflesia dapat datang dari predator, seperti landak, babi hutan, kijang, ataupun rusa. Kesehatan pohon inang, serangan jamur, serangan rayap, dan kondisi lingkungan yang berubah drastis sangat memengaruhi kepunahan Rafflesia. Kondisi lingkungan yang berubah drastis, seperti banjir dapat mengancam keberadaan Rafflesia arnoldii. Tanaman inang struktural dari liana yang roboh dan mati juga dapat menyebabkan hilangnya populasi Rafflesia arnoldii. Kebakaran hutan, laju deforestasi yang semakin tinggi, dan semakin menurunnya area hutan alam di Indonesia merupakan beberapa ancaman yang dapat menjadi ancaman serius bagi kelestarian Rafflesia di Pulau Sumatera.

 Rafflesia yang tumbuh di lahan penduduk dapat terancam keberadaannya akibat dari konversi lahan menjadi perkebunan. Ancaman lainnya datang dari tangan jahil manusia yang melakukan perusakan inang atau kuncup Rafflesia ataupun pengambilan putik. Pada kawasan hutan lindung di Kabupaten Seluma, Bengkulu, penduduk memotong kuncup yang besar untuk bermain sepak bola. Penduduk mengambil putik Rafflesia untuk digunakan sebagai obat tradisional yang belum terbukti dapat memberikan manfaat kesehatan. Hal ini dapat terjadi karena ketidaktahuan penduduk bahwa bunga tersebut merupakan bunga langka.

Rencana aksi personal saya, yakni dengan melakukan sosialisasi secara langsung pada warga sekitar bahwa bunga Rafflesia arnoldii tergolong ke dalam bunga langka dan harus kita jaga kelestariannya. Sosialisasi juga dapat dilakukan secara tidak langsung dengan menggunakan media sosial sebagai alat komunikasi dan edukasi untuk menjangkau khalayak. Tiga tahun ke depan, saya berencana untuk mengadakan event dengan tema “Lindungi Rafflesia dari Kepunahan, Demi Keseimbangan Ekosistem” dengan merencanakan rangkaian acara yang dapat menarik minat masyarakat. Saya pun ingin ikut serta dalam membuat herbarium kering Rafflesia arnoldii dan meletakkannya pada Herbarium Bogoriense karena sulit untuk mendapatkan momen yang pas untuk melihat Rafflesia arnoldii yang sedang mekar, dan juga agar dapat tersimpan dengan baik. Empat tahun ke depan, saya berencana untuk turut andil dalam penelitian in vitro Rafflesia sehingga eksistensi Rafflesia dapat tetap terjaga.

Mari dukung saya dalam merealisasikan aksi personal saya. Semoga dengan rencana aksi personal ini dapat membantu dalam melestarikan tanaman langka Rafflesia arnoldii. Ini aksi-ku, mana aksi-mu?

Referensi

Antoni, M. 2018. Rafflesia Bengkulu di Antara Ancaman Kepunahan.  https://hijauku.com/2018/07/27/rafflesia-bengkulu-di-antara-ancaman-kepunahan/. 8 Desember 2020.

Mursidawati, S. dan Irawati. 2017. Biologi Konservasi Rafflesia. LIPI Press, Jakarta.

Pranata, S., Sulistijorini, S. dan Chikmawati, T. 2019. Ecology of Rafflesia arnoldii (Rafflesiacceae) in Pandam Gadang West Sumatra. Journal of Tropical Life Science 9 (3): 243-251.

Pratama, P. N. dan Ferianto. 2019. Rafflesia arnoldii, Sang Puspa Langka di Belantara SM Isau-Isau. http://ksdae.menlhk.go.id/info/6979/rafflesia-arnoldii,-sang-puspa-langka-di-belantara-sm–isau-isau.html. 9 Desember 2020.

Sadjudin, H. R. dan Sigit, R. R. 2015. Foto: Inilah Keindahan Bunga Rafflesia yang Sedang Mekar di Alam. https://www.mongabay.co.id/2015/02/28/foto-inilah-keindahan-bunga-rafflesia-yang-sedang-mekar-di-alam/. 9 Desember 2020.

Tim Penulis. 2016. IBSAP (Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan) 2015-2020. BAPPENAS, Jakarta.

24 Replies to “Eksistensi Rafflesia arnoldii, padma raksasa, di Indonesia Semakin Menurun??”

  1. Artikel yang sangat lengkap, informatif dan menarik sekali. Semoga action plannya dapat terlaksana ya.. Sukses selalu !

  2. Artikelnya menarik dan lengkap bangett bisa menambah wawasan bagi pembaca, semoga action plan bisa terlaksanakan untuk kedepannya.

  3. Artikel tentang Rafflesia ini sangat menarik sekali, sangat disayangkan jika mengalami kepunahan. Semoga aksi yang dipaparkan pada artikel ini dapat berjalan dengan lancar

  4. Bagus! Informasinya lengkap dan sangat menarik, semoga rencana penelitian in vitro Rafflesia seperti yang dilakukan Pak Edhi terealisasikan ya, semangat Tashya ! 🙂

  5. artikel yang menarik, ternyata bunga rafflesia rentan sekali ya…memang butuh bantuan manusia dalam melestarikannya

  6. Salah satu bunga yg paling keren di dunia
    keren banget blognya, semoga action plan mu bisa terlaksana dikemudian hari
    Semangat!!!

  7. Rafflesia arnoldii ini memang menarik yaa, semoga action plan yang sudah direncanakan dapat terlaksana agar bunga ini tetap lestari. Semangat Tashyaa

  8. wah! sangat informatif ya.. ternyata masih banyak yang saya tidak ketahui tentang raflesia
    semoga terealisasikan ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *