Natalya Dea

Action Plan-Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus)

Posted: December 9th 2020
  1. Latar Belakang

Gajah Sumatera memiliki nama latin Elephas maximus sumatranus. Gajah Sumatera adalah salah satu anggota ordo proboscidea yang keberadaannya terancam punah. Gajah Sumatera dilindungi oleh Peraturan Perlindungan Binatang Liar Tahun 1931 No. 134 dan 266 (Jajak, 2004). Wilayah penyebaran Gajah Sumatera yaitu Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Lampung (Abdullah, 2009). Gajah Sumatera dalam memilih habitat, melihat berbagai kondisi seperti ketersediaan tempat untuk mencari makan, penutupan tajuk sebagai tempat perlindungan dan ada tidaknya sumber air (Abdullah dkk., 2005).

Pembangunan merupakan upaya penting yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta ekonomi nasional namun di sisi lain dengan adanya pembangunan ini dapat mengakibatkan berkurangnya wilayah habitat bagi satwa liar, salah satunya Gajah Sumatera ini. Pembangunan hendaknya tetap memperhatikan dan mempertimbangkan aspek sosial, lingkungan dan juga ekosistem sehingga terciptalah pembangunan yang berkesinambungan dengan tetap menjaga kelestarian sumber daya alam dan keanekaragaman hayati berserta ekosistemnya itu.

  • Konflik Gajah Sumatera

Populasi Gajah Sumatera mengalami penurunan drastis dari 5.000 ekor pada tahun 1980 menjadi 1970 ekor pada tahun 2013. Populasi yang menurun ini disebebkan oleh rusaknya dataran rendah di pulau Sumatera. Sekitar 75 % gajah terebut berusaha mencari bahan pakan yang melimpah sehingga sering kali gajah tersebut masuk ke area perkebunan masyarakat. Hal ini yang sering mengakibatkan terjadinya konflik antara manusia dan gajah dan berujung dengan kematian dari gajah itu sendiri (Abdullah, 2009). Badan konservasi dunia IUCN (International Union for Conservation of Nature) menetapkan Gajah Sumatera sebagai satwa terancam punah dan tergolong satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 (Pro Fauna, 2013).

Faktor lain yang menyebabkan menurunkan populasi gajah yaitu adanya pembangunan sosial. Meningkatnya jumlah populasi manusia berdampak pada meluasnya pembangunan di berbagai sektor seperti pembukaan kawasan hutan untuk perkebunan dan pertambangan. Hal ini juga mengakibatkan terjadinya konflik antara manusia dengan satwa liar. Berbagai upaya penanggulangan dan penanganan konflik ini telah dilakukan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat namun belum efektif (Rianti dan Garsetiasih, 2017). Kebutuhan pakan gajah yang tinggi tidak lagi terpenuhi oleh habitat karena makin sempitnya wilayah habitat itu sendiri. Hal ini mendorong gajah untuk keluar dari habitat dan memanfaatkan sumber pakan yang ada dikawasan perkebunan maupun pemukiman penduduk (Abdullah dkk., 2005). Perburuan Gajah Sumatera untuk diambil gadingnya pun menjadi penyebab penurunan populasi gajah. Contoh kasus sekitar TN Bukit Bahari Selatan, 12 pemburu dan cukong gading telah menjual sebanyak 1.260 kg gading sejak tahun 2003.

Gambar 1. Gajah Sumatera Masuk ke Pemukiman Warga.
Gambar 2. Konflik Manusia dengan Gajah Sumatera.
Gambar 3. Perburuan Ilegal Gading Gajah.
  • Action Plan

Action plan yang akan saya lakukan dalam waktu dekat ini yaitu :

  1. Memberikan edukasi kepada pelajar mulai dari tingkat SD sampai tingkat SMA dalam menjaga kelestarian keanekaragaman hayati.
  2. Memberikan penyuluhan kepada penduduk disekitar habitat Gajah Sumatera.

Daftar Pustaka

Abdullah, D. N. Choesin dan Sjarmidi, A. 2005. Estimasi daya dukung pakan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus Temmick) di Kawasan Hutan Tessonilo, Bandung, Prov Riau. Jurnal Ekologi dan Biodiversitas ITB 4 (2): 37-41.

Abdullah. Penggunaan habitat dan sumber dya oleh Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus Temminck, 1847) di Hutan Prov. NAD menggunakan teknik gas. Journal of Biological Researches 3B : 47-54.

Jajak, M. D. 2004. Binatang-binatang yang Dilindungi. Progres, Jakarta.

Rianti, A. dan Garsetiasih, R. 2017. Persepsi masyarakat terhadap gangguan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Kabupaten Ogan Komering Ilir. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan 14 (2) : 83-99.


12 responses to “Action Plan-Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus)”

  1. evangelistact says:

    Informasinya sangat informatif dan menarik.. Semoga aksi personalnya dapat berjalan dengan baik. Semangattt!!

  2. vitaliana03 says:

    Pengetahuan mengenai gajah sumatera dituliskan dengan jelas dan mudah dipahami, serta memiliki action plan yang dapat dilakukan dengan nyata. Semoga dapat terlaksana dengan baik yaa. Semangattt..

  3. Maria bella says:

    Wah terimakasih Natalya, blogsmu sangat menarik dan menambah wawasan tetang gajah sumatera, action plan mu sangat bagus, harus dilaksanakan dan dikembanglan ya. Semangat

  4. Leny Septiyany says:

    Infonya sangat bermanfaat sekali, semoga dengan ini makin menambah wawasan kita ya.

  5. Giska meiske says:

    Sangat menarik dan banyak memberikan ingormasi serta edukasi

  6. Kristina Wulandari says:

    Artikelnya sangat informatif dan menarik. Mungkin untuk action plan bisa ditambah dengan pembentukan tim untuk konservasi gajah sumatera ini

Leave a Reply

You have to agree to the comment policy.

Artikel lainnya

Hello world!

Go to post
© 2022 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php