Cristina Evi Natallia

MENJAWAB TANTANGAN PERMASALAHAN POLA SEBARAN SPASIAL POPULASI GAJAH SUMATERA DENGAN EKOLOGI MOLEKULER

Posted: August 22nd 2017

Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan sub-spesies Gajah Asia yang endemik di Pulau Sumatera. Menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature) satwa ini masuk ke dalam Red List dengan status critically endangered (sangat terancam) hal ini diakibatkan karena habitat gajah semakin menurun dan bahkan menghilang akibat tinggin ya angka kerusakan dan konversi lahan.

Gambar 1. Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus)

Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Riau di mana TNTN merupakan salah satu taman nasional yang menjadi habitat gajah sumatera karena TNTN menyediakan ekosistem hutan rawa gambut yang sesuai dengan habitat gajah sumatera. Informasi tentang rasio seks dan sebaran pasial sangat diperlukan untuk memberikan gambaran ukuran minimum populasi yang mampu bertahan, hal ini bermanfaat sebagai acuan dalam menentukan strategi konservasi gajah sumatera di Riau.

Gambar 2. Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN)

Masalah ini dapat diselesaikan dengan pendekatan secara genetika molekuler karena dapat memperlihatkan jenis kelamin secara pasti suatu populasi. Penelitian ini menggunakan metode multipleks PCR untuk mengamplifikasi fragmen SRY1 dan AMELY2 pada kromosom Y dan fragmen PLP1 pada kromosom X dalam identifikasi jenis kelamin. Analisis sebaran spasial menggunakan program Arc GIS 10.1. Berdasarkan hasil amplifikasi menggunakan multipleks PCR kemudian pemisahan frgamen menggunakan gel elektroforesis, diperoleh sebanyak 28 sampel gajah jantan dan 80 sampel gajah betina. Hasil visualiasi pada Gambar 1 menunjukkan bahwa sampel jantan akan menunjukkan 3 pita (PLP1, AMELY2, SRY1) sedangkan sampel betina akan menunjukkan 1 pita (PLP1).

 Gambar 3. Visualisasi produk PCR menggunakan gel elektroforesis

Penetuan rasio seks dilakukan dengan komparasi data analisis mikrosatelit dengan identifikasi jenis kelamin dari 108 sampel menunjukkan terdapat 73 individu gajah sumatera. Rasio seks pada populasi gajah sumatera di TNTN yaitu 1:2,65 (1:3) dengan 20 individu jantan dan 53 individu betina. Rasio ini tergolong cukup ideal.

Gambar 4. Peta daerah jelajah individu gajah sumatera menggunakan MCP

Penentuan Sebaran Spasial berdasarkan analisis mikrosatelit menunjukkan bahwa enam individu gajah sumatera betina dapat dihitung luas jelajahnya, hal ini disebabkan hanya data recapture dari individu tersebut yang membentuk polygon dan dapat dihitung. Hasil penghitungan luas jelajah menunjukkan bahwa daerah jelajah terluas ialah 69,40 Km2 dan wilayah jelajah tersempit ialah 1,92 Km2. Luas jelajah dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya pakan dan air, fragmentasi habitat dan pola reproduksi. Rasio seks pada populasi gajah sumatera di TNTN ialah 1:2,65 (1:3) dan individu gajah sumatera di TNTN memiliki luas jelajah yang bervariasi dengan daerah jelajah terluas ialah 69,40 Km2 dan wilayah jelajah tersempit ialah 1,92 Km2. Pada umumnya sebaran individu gajah sumatera di TNTN berada di luar kawasan TNTN.

SUMBER:

Herlambang, N., Gunawan, H. dan Sudoyo, H. 2015. Rasio seks dan sebaran spasial populasi Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau. Jurnal JOM FMIPA, 02(02):35-41


2 responses to “MENJAWAB TANTANGAN PERMASALAHAN POLA SEBARAN SPASIAL POPULASI GAJAH SUMATERA DENGAN EKOLOGI MOLEKULER”

  1. methodius14 says:

    wah, rupanya pendekatan secara molekuler cukup baik dalam melacak jenis kelamin dalam suatu populasi. Hal ini menjadi salah satu trobosan yang baik di bidang konservasi.

  2. jaya says:

    Informasi yang menarik, ekologi molekuler bisa mengungkap informasi mengenai perbandingan antara individu jantan dan betina hingga penyebaran spasialnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2017 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php