Natalia Cinthya Deby

Si Merdu Tekukur yang Bikin Kangen Desa…

Posted: September 6th 2015

Spotted_Dove_(Streptopelia_chinensis)_on_a_Kapok_(Ceiba_pentandra)_tree_in_Kolkata_W_IMG_3476

Hai pembaca sekalian, sedang ada di manakah anda sekarang?
Saya yakin, sebagian dari kalian ada di kota besar yang penuh dengan hiruk pikuk keramaian dan terang lampu yang temaram..
Pernahkah anda rindu suasana pedesaan yang asri, tenang, dan jauh dari kebisingan perkotaan..??
Ingatkah anda dengan suara ini..????
Kuurrr tekukurrr kurrr… Kurr.. tekukurr.. kurrrr.. Kurr tekukuurr kurr..

Yyyaaappp, itu dia..!!!
Si Burung Tekukur yang terkenal sebagai burung tradisional khas pedesaan.. Tapi tahukah anda seluk beluk kehidupan burung Tekukur ini..?? Yuk,, mari kita simak ulasan sederhana berikut ini..

Tekurkur (Streptopelia chinensis) atau yang dikenal dengan Spotted Dove adalah yang khas dengan keunikan suara dan corak bulunya. Burung ini hanyalah salah satu dari 1539 spesies burung (17% dari total spesies burung di dunia) yang dimiliki oleh Indonesia. Burung Tekukur banyak ditemukan di Pulau Jawa dengan habitat berupa perkebunan, persawahan, permukiman, bahkan di hutan. Tekukur bukanlah jenis burung yang pemalu, karena mereka akan tetap berada di tempatnya meskipun ada manusia ketika sedang makan dan mematuk tanah, atau bahkan terbang-terbang rendah. Makanan utama tekukur adalah biji rerumputan, atau makanan lain yang berupa bulir-bulir, seperti jagung atau padi.

Tekukur berasal dari suku Columbidae, marga Streptopelia, dengan jenis Streptopleia chinensis. Burung ini berukuran sekitar 30 cm dengan ekor yang panjang dan tubuh berwarna cokelat kemerahan. Ciri khas dari burung ini adalah garis hitam dan bintik putih halus pada sisi leher dengan iris mata berwarna jingga dan kaki berwarna merah. Tekukur merupakan jenis burung dengan tipe monogamus temporalis, yaitu kawin dengan 1 pasangan dalam satu periode kawin.

spotted_dove_dsc_7713
(Ritual kawin tekukuer)

Status konservasi untuk burung ini memang masih belum dapat dipastikan karena penyebarannya yang masih sangat beragam dan fluktuatif. Berdasarkan data RedList IUCN, belum ada rekomendasi pasti untuk status konservasi bagi tekukur. Beberapa kerabat tekukur sudah memiliki status konservasi yang terdata dalam RedList IUCN, seperti Laughing Dove (Spilopelia senegalensis) dengan status Least Concern dan Philippine Collared-Dove (Streptopelia dusumieri) dengan status konservasi Vulnerable karena terus berkompetisi dengan Streptopelia chinensis dan Streptopelia tranquebarica. Meskipun demikian, ada terlansir dalam EOL (Encyclopedia of Life) dan AFCD (Agriculture, Fisheries, and Conservation Department, Hongkong) yang menyatakan bahwa status konservasi IUCN untuk burung tekukur adalah Least Concern.

Burung tekukur sebenarnya merupakan burung yang mudah untuk dikembangbiakan, diternak, bahkan dipelihara sebagai burung kicauan. Namun, keberadaan tekukur liar di alam sangat dipengaruhi oleh penggunaan pestisida dan herbisida, tertama melalui biji-bijian yang dimakan oleh tekukur tersebut. Salah satu upaya yang dapat dilakuka untuk menjaga kelestarian Tekukur adalah dengan melalukan budidaya dengan memperhatikan sifat kawin dari Tekukur. Hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan penerapan teknologi dalam mengontrol adanya kompetisi inter dan intraspesies.

So, dear all readers,,.
Gimana ni,, mau gak kita jaga kelestarian si cantik Tekukur ini biar bisa dapetin suasana pedesaan nan tenanng di tengah keramaian kota..??
Hehehe, the choice is yours, but the act is ours..

Nah,, buat kalian yang penasaran ni, kaya gimana sih wajah dan suara si cantik Tekukuer ini..??? Watch this one…

Sumber:

AFCD (Agriculture, Fisheries, and Conservation Department, Hongkong)


Encyclopedia of Life.


Spotted Dove from NATURIA.


IUCN RedList.

MacKinnon, J., Phillipps, K., dan Van Balen, B. 1998. Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan (termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam). Puslitbang Biologi LIPI, Bogor.

Masyud, B. 2007. Pola Reproduksi Burung Tekukur (Streptopelia chinensis) dan Puter (Streptopelia risoria) di Penangkaran. Media Konservasi. 12(2): 80-88.

Sujatnika. 1995. Melestarikan Keanekaragaman Hayati Indonesia: Pendekatan Daerah Burung Endemik. PHPA/BirdLife International-Indonesia Programme, Jakarta.


17 responses to “Si Merdu Tekukur yang Bikin Kangen Desa…”

  1. Ryan Febri says:

    ok bagus jadi mengerti bahwa tekukur juga memiliki peran bagi ekosistemnya.

  2. lince says:

    menarik, di kampung halaman saya sering melihat kebiasaan burung ini mencari makan diatas permukaan tanah.. semoga budidaya burung ini semakin bertambah, fighting!!

  3. Fernando Prayogo Natanael says:

    Burung tekukur ini sering sekali saya dengan ketika saya masih di kampung dulu. Didaerah perkotaan sangat jarang ditemukan burung ini. Kalau boleh tau, itu kenapa ya?
    Tentang keberadaan tekukur liar di alam yang sangat dipengaruhi oleh penggunaan pestisida dan herbisida, tertama melalui biji-bijian yang dimakan oleh tekukur tersebut, apakah ada jalan keluar untuk mengatasinya?
    Terimakasih

    • Natalia Cinthya Deby says:

      Terima kasih utk komentarnya,.
      seperti yang sudah disebutkan secara sederhana, tekukur hidup di habitat misal, pohon, hutan, dan sebagainya yang notabene banyak pohonnya,,.
      kalo dilihat secara kasat mata, perkotaan (mungkin) sudah jarang ada pohon2 rindang dengan suasana yang asri, hal ini mungkin menjadi sebab tekukur cukup jarang ditemukan di kota.
      kemudian masalah herbisida, penggunaan bahan alami sebagai herbisida mungkin bisa meminimalkan gangguan terhadap tekukur.. kan umumnya herbisida dibuat dari senyawa kimia sintetik yang (mungkin) bisa membahayakan,..

  4. alfonsacindy1355 says:

    info yang menarik. Meskipun statusnya diperkirakan masih tergolong least concern, burung tekukur ini juga tetap perlu dijaga kelestariannya supaya tidak punah.

  5. ayutiya95 says:

    menarik…menarik…tulisanmu ini singkat tapi menarik dan menambah wawasan…kebetulan di rumah saya ada burung tekukur, umur burung tekukur itu relatif lama… umurnya bisa mencapai 10 tahun atau lebih. Menurut saya, apabila di ekosistem alamnya burung tekukur bisa saja punah, mungkin menjadikan burung tekukur sebagai burung peliharaan menjadi salah satu cara sederhana untuk ikut membantu melestarikan keberadaan burung tekukur tersebut. 🙂

  6. Angelina Cynthia Dewi says:

    Artikel yang singkat dan padat, namun maknanya tersampaikan. Jika saya boleh tahu, apakah burung tekukur ini masih berkerabat dengan burung dara? Karena jika dilihat sepintas, keduanya cukup mirip. Walaupun statusnya masih least concern, saya pikir kita sebagai generasi muda harus ikut melestarikan satwa ini agar jangan sampai terjadi kepunahan..

    • Natalia Cinthya Deby says:

      burung ini emang masih keluarga dara,,, wkwk cuma sedikit beda di taksonomi saja, mungkin bisa cek di artikel artikel terakait lainnya.. hehe

  7. Bernadus andy says:

    kalo mendengar suara burung tekukur, saya jadi ingat masa-masa kecil dulu, semoga kicauan burung ini terus dapat kita dengar dan nikmati

  8. yovita95 says:

    Penyampaian tentang tekukur singkat dan menarik… sampai ad videonya juga. wlaupun burung ini dalam kondisi blum punah, semoga tidak sampai punah di Indonesia =)

  9. Ganang Madyasta says:

    hayoo, penulisan spesies jangan salah :p

    Dulu sering banget ndenger tekukur “bernyanyi”. Kalau di Jogja sekarang, makin sedikit yang ada di alam. Entah pada sembunyi atau gimana. Yang paling berpengaruh adalah dengan adanya hotel dan mall yang banyak dibangun.

  10. hermantochen says:

    wah untung burung cantik ini masih belum termasuk ke dalam list hampir punah dan semoga tidak akan karena didukung oleh program pengembangbiakan oleh para breeder 😀

    Semangat Konservasi
    Salam Lestari

  11. Bagaimana cara membedakan tekukur dan perkutut?

  12. agustinuscandra says:

    Penggunaan pestisida yang kebanyakan kimia sangat mengganggu baik untuk hewan maupun manusia. Penggunaan pestisida nabati sekarang lagi marak dilakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan kita.

  13. ayusuraduhita says:

    Mumpung belum punah tekukurnya ..Lestarikan ya!

  14. bayu05 says:

    bagus bagus sangat menarik sekali tulisanmu. apalagi tentang burung terkukur yang semakin sedikit jumlahnya di jogja dan sekitarnya dan bisa di jadikan wawasan untuk membudidayakan terkukur.

  15. rizka says:

    bersahaja ketika mendengar nama nya aj…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php