nadine merry

Badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis)

Posted: December 10th 2020

Badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) merupakan satu-satunya badak Asia yang memiliki dua cula, selain itu memiliki rambut terbanyak dibandingkan seluruh sub-spesies badak di dunia, sehingga disebut juga dengan hairy rhino. Selain itu, badak sumatera memiliki telinga yang besar, kulit berwarna coklat keabu-abuan atau kemerahan. Panjang cula depan berkisar 25-80 cm, sedangan pada cula belakang biasa relatif pendek yaitu berkisar 10 cm. Panjang dari badak sumatera dewasa berkisar antara 2-3 meter sedangkan tinggi 1-1,5 meter dengan berat badan berkisar antara 600-950 kg.

Habitat badak sumatera mencakup hutan rawa dataran rendah, hutan perbukitan. Satwa ini suka menjelajah dan memakan buah-buahan hutan, daun-daunan, ranting-ranting kecil. Mereka lebih suka didataran rendah, khususnya dihutan-hutan sekunder dimana banyak terdapat makanan yang tumbuh rendah. Badak Sumatera hidup di alam dalamkelompok kecil dan umumnya menyendiri (Soliter).

Badak sumatera merupakan salah satu satwa yang dilindungi berdasarkan UU perlindungan Binatang Liar tahun 1931 Nomor 134 dan Peraturan Perlindungan terhadap Binatang Liar tahun 1931 No. 226. Selain itu, berdasarkan International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) satwa ini termasuk dalam Critically Endangered

Gambar 1. Status Konservasi Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis)

ANCAMAN KEPUNAHAN

Para Ahli menjelaskantidak ada satu pun populasi badak sumatera yang jumlah individunya dalam suatu wilayah jelajah melebihi 75 ekor. Kondisi tersebut dikarenakan mamalia ini rentan terhadapt kepunahan, baik secara bencana alam, perburuan, penyakit, atau pun kerusakkan genetis. berdasarkan IUCN sisa badak sumatera yang bertahan hidup sekitar 30 spesies.

Populasi dari badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dikhawatirkan karena saat ini terus mengalami penurunan dan terancam mendekati kepunahan. Faktor yang mengancam kelestarian satwa ini antara lain seperti adanya perburuan liar, perusakan habitat, penyempitan maupun fragmentasi landscape dalam habitat satwa ini. Selain itu, perkembangbiakan badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) terkenal sebagai “slow breeders” atau perkembangbiakannya lambat, padahal di sisi lain badak sumatera termasuk satwa besar yang membutuhkan daerah jelajah dan pergerakan yang luas. Kebutuhan aktivitas untuk menjelajah areal yang luas ini sering beresiko bagi keguguran janin yang dikandung satwa betina yang sedang hamil.

Perburuan badak sumatera untuk diambil cula maupun bagian tubuh lainnya dipercaya bisa sebagai bahan obat tradisional, rusaknya utan diiringi dengan berbagai aktivitas tidak berkelanjutann oleh manusia telah menyebabkan semakin terdesarknya populasi badak sumatera menuju kepunahan. Dengan populasinya semakin kecil dan tingginya laju kerusakan hutan dapat mempercepat hilangnya kelangsungan hidup badak sumatera.

ACTION PLAN

Upaya untuk mencegah kepunahan dari Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) memberikan edukasi kepada masyarakat khususnya yang tinggal disekitar kawasan tempat satwa itu tinggal seberapa pentingnya satwa ini bagi alam kita, menjaga tempat tempat konservasi yang sudah dibuat untuk merawat dan menjaga satwa tersebut, lebih menegaskan tentang hukuman perburuan liat Badak Sumatera agar masalah ini tidak terulang-ulang kembali.

DAFTAR PUSTAKA

Anggara, H. dan Setiawan, A. 2019. Dinamika Daya Dukung Habitat Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) di Areal Pengembangan Suaka Rhino
Sumatera Taman Nasional Way Kambas. Jurnal Sylva Lestari 7(1): 62-70.

https://www.iucnredlist.org/species/6553/18493355

https://d2d2tb15kqhejt.cloudfront.net/downloads/badak_bahasa_all.pdf.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php