The Land of Technobiology

7 ideas = 7 action for Sangihe-White Eye

Posted: December 7th 2014

…………………………………………………………………………………..

Masih juga belum kenal sama Burung Kacamata Sangihe?

“Tak kenal maka tak sayang”

Yuk kenali dahulu siapa mereka dengan baca artikel ini:

http://blogs.uajy.ac.id/mynarita/2014/09/10/burung-kacamata-sangihe-critically-endangered/

 

Merasa sedih ya mengetahui nasib teman-teman kecil kita yang hampir punah ini (IUCN, 2012). Bagaimana tidak, semakin sedikitnya hutan dan degradasi yang berkelanjutan di Pulau Sangihe mengakibatkan penurunan drastis pada populasi burung mungil ini. Jumlahnya diperkirakan sisa 50 individu dewasa saja loh! 🙁 (BirdLife International, 2001).

 

Gambar 1. Burung Kacamata Sangihe (twearth.com-edited)

Gambar 1. Burung Kacamata Sangihe (twearth.com-edited)

Seperti yang juga sudah disampaikan pada artikel sebelumnya bahwa hampir seluruh wilayah di pulau Sangihe dijadikan lahan pertanian oleh penduduk sekitar. Kabarnya, pemerintah sudah berinisiatif untuk menanam jenis pohon eksotis di dataran rendah seluas 700 sampai 900 meter. Namun, hal ini justru malah diduga sebagai ancaman sisa wilayah dari hutan asli yang merupakan habitat Burung Kacamata Sangihe (Sykes, 2009 dalam BirdLife International, 2001).

Lagi dan lagi, faktor ancaman dari Burung Kacamata Sangihe terkait pengolahan habitat endemiknya yang bersifat merusak, logging, introduksi spesies, dan perubahan iklim (IUCN, 2012). Padahal Birdlife International (2014) sudah menetapkan kawasan Gunung Sahendaruman yang adalah habitast asli Burung Kacamata Sangihe sebagai Important Bird Areas (IBAs), tetapi masih saja banyak yang tidak peduli akan statement ini. Mungkin banyak juga pihak yang kurang mengerti arti dari penetapan IBAs ini kali yah.. hmmm..

Gambar 2. Status Area Gunung Sahendaruman

Gambar 2. Status Area Gunung Sahendaruman (Birdlife International, 2014)

Sebuah artikel dari Mongabay menuliskan bahwa pada tahun 2013, Amsurya Warman Asa, Senior Wallacea Program Officer dari Perkumpulan Burung Indonesia, mengatakan

“kawasan Sahendaruman memiliki peran sangat penting bagi keberlangsungan hidup spesies-spesies burung endemik dan terancam punah secara global. Jenis burung di Sahendaruman antara lain burung madu Sangihe (Aethopoyga duvyenbodei), seriwang Sangihe (Eutrichomyias rowleyi) dan kepudang sungu Sangihe (Collurucincla sanghirensis), serta kacamata Sangihe (Zosterops nehrkorni). Saat ini, kawasan Sahendaruman dalam tekanan tinggi dengan kerusakan habitat dan perubahan fungsi lahan. Ini dapat menyebabkan hilang atau punahnya jenis-jenis burung di dunia yang hanya terdapat di Sangihe.”

http://www.mongabay.co.id/2013/07/10/sangihe-dan-sitaro-dua-kawasan-penting-burung-dalam-bahaya/

Gambar 3.  Populasi Spesies Pemicu IBAs (Birdlife International, 2014)

Gambar 3. Populasi Spesies Pemicu IBAs (Birdlife International, 2014)

Plis deeeeeeh.. sampai kapan sih kita-kita ini sadar akan perilaku kita sendiri yang egois sampai menggusur habitat mereka???????

Menurut BirdLife International (2001), ada beberapa tindakan konservasi yang sudah dilakukan  untuk Burung Kacamata Sangihe seperti pengadaan hutan lindung Gunung Sahendaruman dan proyek “Aksi Sampiri” sejak tahun 1995 diantaranya penelitian lapangan, program kesadaran akan konservasi (pembagian selebaran, penyuluhan di sekolah dan desa), serta pengembangan ide-ide untuk penggunaan lahan di masa mendatang melalui perjanjian antara pihak yang berkepentingan. Selain itu, tahun 2007 Wildlife Conservation Society (WSC) melaksanakan proyek 4 tahun di Sangihe guna melindungi habitat yang tersisa dan berusaha mempromosikan penggunaan lahan simpatik serta pengembangannya oleh desa-desa disekitar Gunung Sahengbalira.

Lebih lanjut, ada pula tindakan konservasi yang diusulkan dalam IUCN yaitu melakukan survei lanjut species Zosterops nehrkorni di wilayah hutan Sangihe yang tersisa (misalnya Gunung Awu), memastikan perlindungan efektif habitatnya di Gunung Sahendaruman, dukungan proposal untuk terbentuknya cagar alam yang ketat di Gunung Sahengbalira, melanjutkan program konservasi untuk tujuan pendidikan, dan mendorong staf kehutanan untuk membangun kehadiran spesies ini secara permanen (BirdLife International, 2001).

Sebenarnya suatu organisasi Birdlife International pun sudah memonitoring wilayah habitat Burung Kacamata Sangihe sejak 2012, tetapi responnya belum maksimum (medium) dan adanya ancaman (beberapa telah disebutkan diatas) yang tinggi. Informasi lebih lanjut mengenai ancaman-ancamannya bisa langsung kalian baca disini

So.. apasih yang bisa kamu lakukan sebagai generasi muda yang tentunya peduli dengan lingkungan? Terutama buat kalian-kalian yang ngaku pencinta alam atau pencinta binatang. Jangan cuma menyukai nilai estetikanya, tapi coba deh untuk melakukan sesuatu hal kecil yang mendukung konservasi kekayaan alam, apalagi burung endemik Indonesia!

Ada beberapa aksi yang saya rencanakan, yah.. mungkin tidak bisa sepenuhnya mengembalikan status Burung Kacamata Sangihe, tapi saya yakin beberapa hal atau ide kecil ini bisa membantu konservasinya  juga dapat menyelamatkan burung-burung endemik Indonesia lain di pulau Sangihe.

1. Penangkaran.

Teman-teman sudah paham arti penangkaran kan ? Penangkaran itu suatu upaya perbanyakan melalui pengembangbiakan dan pembesaran tumbuhan dan satwa liar dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya. Tujuannya tentu untuk meminimalkan tekanan penangkapan langsung dari alam dan memberikan kepastian administratif thd anakan hasil penangkaran (BKSDA, 2014). Nah, kalo kaitannya sama aksi personal, disini saya hanya memberikan masukan untuk pihak berwenang seperti pemerintah juga LSM yang sedang berusaha mengkonservasi Burung Kacamata Sangihe untuk melakukan penangkaran terhadap burung tersebut. Namun, bukan hanya sebagai masukan tetapi juga sebagai dorongan untuk teman-teman generasi muda dalam pengembangan penangkaran ini.

Dari artikel yang saya temukan di Tempo.com, anggota Pelestari Burung Indonesia Endang Budi Utami mengatakan

“Kini ada sekitar 1.000-an penangkar yang berpusat di Jawa dan Bali. Para penangkar burung ini banyak yang pintar dalam mengembang biakkan burung. Termasuk yang tergolong sulit dan berharga mahal, yakni burung cucakrawa. Selain melestarikan jenis burung yang ada dan mengikis pengambilan burung liar di alam, putaran uang di bisnis penangkaran terhitung besar.”

http://www.tempo.co/read/news/2014/08/31/061603336/Penangkar-Burung-di-Indonesia-Berkembang-Pesat

Nampaknya sudah banyak yang melakukan penangkaran sebagai aksi konservasi yang positif. Lalu, kenapa Burung Kacamata Sangihe juga tidak dilakukan hal yang sama

2. Kawasan konservasi = wisata alam = logo pulau wisata?

Ide selanjutnya terkait dengan faktor ancaman dari populasi Burung Kacamata Sangihe yang diketahui menurun akibat adanya alih fungsi lahan oleh penduduk.  Nah, menurut saya sih, hal tersebut terjadi karena memang kurangnya lapangan pekerjaan disana sehingga penduduk alih profesi jadi petani. Semisal Pengunungan Sahendaruman yang sudah itu dijadikan semacam wisata alam yang tetap mempertahankan aturannya sebagai Hutan Lindung. Ide yang satu ini mungkin sulit, tapi sekiranya bisa menjadi masukan agar alih fungsi lahan yang dilakukan penduduk dapat berkurang dan habitat asli Burng Kacamata Sangihe bisa kembali normal.

Kita semua tau yah kalau Indonesia termasuk negara dengan beribu pulau dengan keindahannya yang tak ternilai. Maka dari itu, pulau Sangihe dengan segala potensi dan obyek wisatanya bisa dikembangkan lebih lanjut menjadi pulau wisata. Lalu, supaya lebih dikenal, logonya dibuat seunik mungkin dan menggunakan gambar Burung Kacamata Sangihe yang merupakan endemik Pulau Sangihe itu sendiri. Selain menjadi ajang promosi pulau wisata, logo dengan Burung Kacamata Sangihe juga bisa menarik perhatian turis (domestik maupun mancanegara) untuk tau lebih dalam tentang Burung Kacamata Sangihe.

Mau tau alasannya kenapa Pulau Sangihe perlu dikenal sebagai pulau wisata? Pulau Sangihe memiliki gunung api bawah laut. Aneh ya? Mau tau lebih lanjut? Kalian bisa langsung baca disini http://www.sangihekab.go.id/page/view/106

Gambar 4. Gunung Api Bawah Laut di Pulau Sangihe (travel.detik.com)

Gambar 4. Gunung Api Bawah Laut di Pulau Sangihe (travel.detik.com)

3. Animasi mendunia?

Sepertinya film Indonesia sudah mulai menunjukkan perkembangan yang pesat di dunia perfilman.  Film Indonesia, The RAID, sudah mendunia lewat genre action-nya yang membuat kita terpukau. Karena saya kurang paham mengenai ilmu-ilmu pembuatan film terutama animasi, disini saya ingin mengajak teman-teman untuk membuat suatu film animasi tentang Burung Kacamata Sangihe (bisa juga hewan endemik Indonesia lain) sebagai tokoh kartun dengan kisahnya yang unik.

Kalian tentu tau film animasi RIO tentang burung macaw itu kan? nah, kita bisa mencontoh dari film tersebut. Bukan berarti plagiat loh ya, masih banyak kan ide cerita lain yang bisa kita gali dari Indonesia ini. Siapa tau nanti film nya mendunia juga gak kalah sama The RAID 🙂

Gambar. FIlm Animasi RIO (imbd.com)

Gambar 5. FIlm Animasi RIO (imdb.com)

4. De-Extinction

Aksi keempat ini mungkin bisa saya dan teman-teman biologi pertimbangkan. Mungkin kaum awam belum mengenal istilah “de-extinction”. Taukah kalian kalau beberapa peneliti dunia ingin menghidupkan kembali Mammoth yang hidup ribuan tahun lalu ? Kaitannya dengan hal ini, generasi muda lulusan biologi bisa saja melakukan isolasi DNA dari Burung Kacamata Sangihe untuk selanjutnya disimpan dalam GENBANK agar burung ini bisa kita hidupkan lagi nanti guna mencegah kepunahan. Aksi ini lebih terkait mengenai penelitian yah 🙂 Untuk teman-teman yang hobi mengamati burung (birdwatching), bisa juga membantu dalam membagikan informasi/data tentang burung yang kalian amati disini http://www.worldbirds.org/mapportal/worldmap.php?m=13

Gambar 6. Situs Pengumpulan Data Konservasi Burung (www.worldbird)

Gambar 6. Situs Pengumpulan Data Konservasi Burung (www.worldbirds.org)

5. Medsos Yahut.

Maraknya media sosial yang ada sekarang atau yang biasa disingkat medsos, bisa menjadi suatu sarana bagi temen-temen dalam mengenalkan hewan endemik Indonesia, terutama Burung Kacamata Sangihe. Inilah salah satu rencana aksi personal yang dapat saya dan juga teman-teman lakukan. Jangan Cuma sekedar update status belaka, update sesuatu yang informatif kaitannya dengan konservasi dan keberadaan Burung Kacamata Sangihe saya rasa ga bakal kalah up2date 🙂 So, yuk mulai gunain medsos kalian untuk mengenalkan sekaligus menyadarkan masyarakat tentang status Burung Kacamata Sangihe. Siapa tau dengan aksi kita ini banyak orang semakin tertarik dengan Pulau Sangihe dan ikut andil dalam konservasi Burung Kacamata Sangihe. Buat yang suka menulis, bisa juga loh memasukkan artikel ke koran, majalah, mading sekolah, atau blog pribadi kalian!

Gambar 5. Aplikasi Media Sosial

Gambar 7. Aplikasi Media Sosial (www.punyaku.web.id)

6. Perangko.

Masih inget jaman kecil dulu sewaktu kita mau mengirim surat dengan perangko di ujung amplop surat? Atau jangan-jangan anda kolektor perangko?

Pada tahun 2012, Kementerian Kehutanan bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi & Informatika, Direktorat Jenderal Pos & Telekomunikasi, dan Burung Indonesia meluncurkan empat perangko seri “Burung Terancam Punah Indonesia” di Kebun Raya Bogor, bertepatan dengan hari perayaan keragaman burung diIndonesia dan sekaligus Ulang Tahun Burung Indonesia ke-10. Empat jenis burung terancam punah Indonesia yang menghiasi perangko tersebut adalah elang flores (Nisaetus floris), celepuk siau (Otus siaoensis), burung-madu sangihe (Aethopyga duyvenbodei), dan mandar gendang (Habroptilawallacii).

Kalau menurut kalian jaman sekarang perangko gak penting, tapi asik ga sih punya perangko yang unik dengan serian gambar hewan endemik Indonesia? Saya sendiri sih ingin mencetuskan lagi ide pembuatan perangko untuk gambar Burung Kacamata Sangihe, untuk apa? Supaya orang-orang kenal sama mereka. Jangan sampai kenalnya tunggu ada di museum aja 🙁

Tapi pasti kalian berpikir kalau perangko ini bisa jadi aksi yang gak efektif. Tunggu dulu, idenya belum saya sampaikan sepenuhnya. Tau sendiri kan kalau medsos kita udah canggih banget sekarang? Sampai menulis pesan aja gak perlu lagi pakai surat. Yap. Kenapa tidak juga dibuat perangko elektrik? Perangko itu kan bisa digunakan sebagai tanda pengiriman suatu pesan, entah itu email atau fungsinya seperti stiker di salah satu aplikasi LINE, misalnya. Lebih lanjut, seorang yang download perangko elektrik bisa jadi mendonasi sekian rupiah untuk mendukung konservasi Burung Kacamata Sangihe.

7. Donasi.

Yang terakhir dan yang sangat mudah dilakukan adalah donasi. Tapi bukan sembarangan donasi yah, selain dengan menyumbangkan sejumlah uang dari hasil jerih payah atau uang jajan kalian. Dana untuk donasi juga bisa kita galakan dengan menjual beberapa merchandise dengan gambar unik dari Burung Kacamata Sangihe, entah itu hasil print-our atau hasil gambaran tangan teman-teman yang ahli melukis. Merchandise tersebut dapat berupa pin, gantungan kunci, atau stiker. Tidak perlu yang mahal-mahal karna kita tau sebagai mahasiswa pasti maunya yang murah aja kan? 😀

Lalu, kemana dana itu akan diberikan? Dana hasil jualan tadi bisa didonasikan melalui Birdlife International ini https://www.justgiving.com/BirdLife-IBAs/

Gambar 5. Donasi Melalui Birdlife International

Gambar 8. Donasi Melalui Birdlife International

Sekian deh ide sekaligus aksi yang bisa saya lakukan, meski sebagian besar hanya berupa imbauan, tapi saya rasa ini langkah konkret yang bisa saya dan anda lakukan. Ingat! Perubahan besar dimulai dari suatu hal yang kecil. Dengan himbauan saja bisa jadi menyelamatkan 1 individu Burung Kacamata Sangihe!

 

Sumber Pustaka

BirdLife International. 2001. Threatened birds of Asia: the BirdLife International Red Data Book. BirdLife International, Cambridge, U.K.

Birdlife International. 2014. Datazone. http://www.birdlife.org/datazone/ebafactsheet.php?id=166  (Akses: 4 Desember 2014).

BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Yogyakarta. 2014. Perlindungan dan Pemanfaatan Kehati di Kawasan Hutan 1. Staff BKSDA, Yogyakarta.

IUCN. 2012. IUCN Red List of Threatened Species (ver.2012.1)http://www.iucnredlist.org/details/full/22728605/0  (Akses: 7 September 2014).

http://dishut.jabarprov.go.id/?mod=detilBerita&idMenuKiri=&idBerita=2586 

 


11 responses to “7 ideas = 7 action for Sangihe-White Eye”

  1. Smith Wigleson says:

    This is a very nice article, I spent last year in Indonesia and I find this article really interesting, keep up the good work, let them know, let them understand. (sorry my bahasa is bad)

  2. martin says:

    Gile.. gue udah hidup hampir 22 taun aja baru tau ada ni burung.. hahahaa.. nice article.. dengan baca article2 bgni emang jd nambah wawasan yah.. keren..

  3. Katonraga says:

    Wah. . aksi anda cukup menarik, terutama aksi no.6 dimana burung kacamata ini dibuat simbol sebuah edisi perangko yang khas diindonesia dimana salah satu perangko edisi burung indonesia saya juga punyai 🙂 , mungkin juga anda dapat melalui edukasi, saya yakin hal tersebut menjadikan semakin banyak yang peduli, terutama pada kalangan anak-anak hal ini bisa menginspirasi anak muda untuk menyelamatkan spesies yang cantik ini dari ancaman yang menurunkan populasinya. Semangat perencaannya. . Good luck! 😀

  4. andre says:

    Wow. I never think there will be an indonesian will write this arcticle. Very inspire me, and makes me think indonesian will have a huge revolution if all the indonesian think like way you are.

  5. intanmiw says:

    cantik, cantik, cantik….:p
    Ide bagus, saya mendukung idenya…
    Paling suka deh ide perangko tadi, tapi yang bukan elektrik. Soalnya masih banyak juga nih filateli di dunia ini haha
    Hmmm, combine dah antara elektrik dan yang enggak.
    Kalau untuk aksi konkretnya langsung ke burungnya susah sih ya soalnya jauh juga dan udah dikit banget jumlahnya.
    Saya tunggu artikelmu nak ke Pemerintah :)Semoga semuanya dapat terealisasi dengan baik.

  6. mynarita says:

    @Mr. smith and Mr. andre: thank you for your commments, i just wrote somethings in my head and i think it all just words if you don’t take some part of it. so let’s do a small thing that can help Burung Kacamata Sangihe! 🙂

  7. mynarita says:

    @martin: banyak sekali memang yang belum mengenal burung ini. sekarang mulai tertarik untuk membuka mata dan hati demi keselamatan endemik Indonesia kan? semoga bermanfaat 🙂

  8. mynarita says:

    @intan: iya betul, mksd saya begitu. perangko tetap tidak boleh dihilangkan, tapi seiring perkembangan teknologi, ada baiknya perangko dibuat pula dalam aplikasi elektroniknya, supaya upaya konservasi burung ini lewat perangki leboh efektif 🙂 amin. bukan cuma sama, tapi kita semua bisa merealisasikannya 😀

  9. mynarita says:

    @katon: wah, ternyata kamu juga koleksi perangko yah?? ada guna nya juga kan perangko diterbitkan dalam seri burung langka Indonesia 🙂 terima kasih atas dukungannya!

  10. Katonraga says:

    iya begitulah hehehe. . .memang sangat bagus untuk mengenalkan satwa2 yang dimiliki indonesia untuk konservasi yang lebih awal apalagi perangko yg beredisikan bunga-bunga dan kekarakteristikan dari indonsia top banget dah. . .

  11. Freddy Hadiwinata says:

    ide yg kreatif, semoga jadi pembelajaran yang penting bagi anak-anak muda yang blom mengenal begitu pentingnya melindungi hewan yang terancam punah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php