The Land of Technobiology

Burung Kacamata Sangihe: CRITICALLY ENDANGERED!!

Posted: September 10th 2014

Siapa yang tau burung kacamata Sangihe? Mungkin jarang ada yang mengenal jenis burung ini, kecuali anda memang pencinta burung. Yap, Aves ini merupakan hewan endemik dari salah satu pulau di Indonesia yaitu pulau Sangihe yang terletak di utara Pulau Sulawesi.

burungkacamatasangihe

Gambar 1. Burung Kacamata Sangihe (sumber: www.eol.org)

Awalnya, burung ini memiliki nama latin Zosterops atrifrons (Sibley and Monroe 1990, 1993 dalam ), lalu terpecah menjadi Z. atrifronsZ. nehrkorni and Z. stalkeri (Rasmussen dkk., 2000). Kenapa bisa begitu ya? Berdasarkan analisis morfologi dan vokalisasi yang dilakukan pada Z. atrifons bermahkota hitam menunjukkan adanya politipe pada kelompok ini yang jauh berbeda dari spesies tunggal, sehingga burung kacamata Sangihe secara khusus memiliki nama ilmiah Zosterops nehrkorni Blasius, 1888 (Rasmussen dkk., 2000). Perbedaan ekologi juga membuat namanya berbeda. Bahkan sudah ditemukan pula trinomial pada genus Zosterops yang masih perlu dikaji lebih lanjut mengenai pembentukan spesies baru dilokasi yang berdekatan (Rasmussen dkk., 2000).

habitat

Gambar 2. Habitat Zosterops di Indonesia (Rasmussen dkk., 2000)

morfologi

Gambar 3. Perbedaan Zosterops secara morfologi (Rasmussen dkk., 2000)

Zosterops nehrkorni hanya memiliki tinggi sekitar 12 cm dengan badan yang kecil, hidupnya arboreal, dan merupakan burung penyanyi. Tubuh bagian atasnya berwarna hijau zaitun dengan warna kuning kehijauan yang mencolok didaerah bokong dan ekor gelap hijau kehitaman. Dagu, hingga bagian bawah yang berbulu dari burung ini berwarna kuning cerah, sisanya putih mutiara dengan sisi samping berwarna abu-abu. Bagian kaki dan cakar burung kacamata ini berwarna oranye pucat, juga memiliki suara yang tampak tipis dan bernada tinggi dibanding Z. atrifons. Famili dari Zosteropidae ini mampu berdistribusi hingga 15 km persegi. Burung ini sering berpergian ke bagian atas kanopi hutan Ridgetop yang berdaun lebar dengan densitas tinggi Pandanus sp., dimana burung kacamata ini akan memakan serangga dari daun dan mungkin dari buah. Z. nehrkorni hanya tampak terbatas pada ketinggian antara 750 hingga 1000 meter (BirdLife International, 2001).

yellowwhiteeyemed

Gambar 4. Ukuran Burung Kacamata Sangihe yang mungil (sumber: www.nhptv.org)

 Namun, pada tahun 2012 IUCN (International Union for Conservation of Nature) mengkategorikan burung kacamata Sangihe dalam keadaan critically endangered / hampir punah karena keberadaannya yang saat ini hanya dalam jumlah kecil di habitas aslinya Pulau Sangihe.Populasi dari burung kacamata Sangihe sangat menurun (meski hbelum ditetapkan tingka penurunannya) dan jumlahnya sekarang diperkirakan kurang dari 50 individu dewasa berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap jumlah dan luas habitatnya (BirdLife International, 2001). Spesies ini terbatas di pulau Sangihe, dimana sampai tahun 1996 spesies ini masih dikenal sebagai specimen sejarah tunggal dan kemungkinan kecil sudah jarang ditemukan sejak abad ke 19. Burung ini pernah terlihat muncul 2 kali pada tahun 1996 dan suaranya terekam sekali dari 148 titik yang terhitung pada satu lokasi tahun 1999 (Riley, 2002) di Gunung Sahendaruman, berdekatan dengan Sahengbalira.

Gambar 5. Status Konservasi Burung Kacamata Sangihe

Gambar 5. Status Konservasi Burung Kacamata Sangihe (IUCN, 2012)

Beberapa hal yang diduga menjadi penyebab hampir punahnya status burung ini adalah karena semakin sedikitnya hutan dan degradasi yang berkelanjutan di Pulau Sangihe. Hampir seluruh wilayah di pulau Sangihe dijadikan lahan pertanian. Keberadaan populasi yang semakin sedikit ini menunjukkan adanya hambatan dari ancaman lain yang belum diketahui secara pasti, tetapi dapat menimbulkan efek jangka panjang yang lebih besar. Kabarnya, pemerintah sudah berinisiatif untuk menanam jenis pohon eksois di dataran rendah seluas 700 sampai 900 meter yang lebih lanjut mengancam sisa wilayah dari hutan asli (Sykes, 2009 dalam BirdLife International, 2001). IUCN menyimpulkan beberapa poin dari faktor ancaman utama dari Burung Kacamata Sangihe diantaranya agrikultur dan aquakultur terkait dengan pengolahannya yang merusak habitat endemiknya, penggunaan sumber biologi seperti pencarian kayu (logging), spesies baru (unspecified species/alien species), dan perubahan iklim.

Ada beberapa tindakan konservasi yang berlangsung, diantaranya pengadaan hutan lindung Gunung Sahendaruman yang dapat melestarikan beberapa habitat meskipun sedikit cara sudah diambil untuk memastikan keefektifannya. Sejak tahun 1995, proyek “Aksi Sampiri” sudah dilakukan untuk konservasi biologi di Sangihe dan Talaud, diantaranya penelitian lapangan, program kesadaran akan konservasi (pembagian selebaran, penyuluhan di sekolah dan desa), serta pengembangan ide-ide untuk penggunaan lahan di masa mendatang melalui perjanjian antara pihak yang berkepentingan. Hasilnya, rencana lanjutan adalah mengklasifikasi ulang keberadaan hutan lindung Gunung Sahengbalira seluas 4 km persegi sebagai suaka margasatwa yang memakan waktu 2 hingga 3 tahun. Selain itu, tahun 2007 Wildlife Conservation Society melaksanakan proyek 4 tahun di Sangihe yang akan memberi kesempatan untuk melindungi habitat yang tersisa dan sebagai dasar untuk proyek lebih lanjut. Wildlife Conservation Society juga berusaha mempromosikan penggunaan lahan simpatik dan pengembangannya oleh desa-desa disekitar Gunung Sahengbalira (BirdLife International, 2001).

Lebih lanjut, ada pula tindakan konservasi yang diusulkan dalam IUCN Red list yaitu melakukan survei lanjut species Zosterops nehrkorni di wilayah hutan Sangihe yang tersisa (misalnya Gunung Awu), memastikan perlindungan efektif habitatnya di Gunung Sahendaruman, dukungan proposal untuk terbentuknya cagar alam yang ketat di Gunung Sahengbalira, melanjutkan program konservasi untuk tujuan pendidikan, dan mendorong staf kehutanan untuk membangun kehadiran spesies ini secara permanen (BirdLife International, 2001).

Sayangnya, dari sekian banyak info yang saya cari, sepertinya belum ada UU RI yang khusus dibuat untuk menjaga keberadaan hewan ini. Malang sekali bukan? Melihat banyak organisasi luar negeri yang justru berbondong mengadakan konsevasi di wilayah Indonesia, ayo generasi muda! Gali ide-ide cemerlang kita untuk menjaga kelestarian Burung Kacamata Sangihe juga hewan endemik Indonesia lainnya agar tetap dapat dinikmati anak-cucu kita nanti 🙂

 
DAFTAR PUSTAKA
BirdLife International. 2001. Threatened birds of Asia: the BirdLife International Red Data Book. BirdLife International, Cambridge, U.K.

IUCN. 2012. IUCN Red List of Threatened Species (ver. 2012.1). http://www.iucnredlist.org/details/full/22728605/0

http://discover.iucnredlist.org/species/22728605

(Akses: 7 September 2014).

Rasmussen, P. C.; Wardill, J. C.; Lambert, F. R.; Riley, J. 2000. On the specific status of the Sangihe White-eye Zosterops nehrkorni, and the taxonomy of the Black-crowned White-eye Z. atrifrons complex. Forktail16: 69-81.

Riley, J. 2002. Population sizes and the status of endemic and restricted-range bird species on Sangihe Island, Indonesia. Bird Conservation International 12: 53-78.

http://www.birdlife.org/datazone/speciesfactsheet.php?id=30062

 


2 responses to “Burung Kacamata Sangihe: CRITICALLY ENDANGERED!!”

  1. intanmiw says:

    Wah, bahkan saya baru dengar burung kacamata ini, sekalinya dengar, sudah critically endangered. Undang-undang untuk satwa endemik ini juga belum ada sepertinya…
    Untuk tindakan dan usaha konservasinya sudah bagus menurut saya, tinggal bagaimana realisasinya.
    Tidak hanya warga Sangihe yang wajib menjaga kelestariannya, kita sebagai generasi muda juga perlu mendukung pelestariannya dengan sumbang pikiran bagaimana caranya agar burung kacamata tidak punah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php