MURIA II MURYANINGSIH

“Euthynnus affinis si Penghuni Pesisir Pantai Selatan”

Posted: April 3rd 2016

Berbicara soal ikan khas yang ada didaerah masing masing, maka terbersitlah langsung ikan tongkol. Ikan ini memang tidak khas dari gunungkidul, tetapi hasil nelayan dipantai pantai gunungkidul yang paling menonjol adalah ikan tongkol.  Ikan tongkol (Euthynnus affinis) merupakan golongan dari ikan tuna kecil, badannya memanjang, tidak bersisik kecuali pada garis rusuk. Sirip punggung pertama berjari-jari keras 15, sedang yang kedua berjari-jari lemah 13, diikuti 8- 10 jari-jari sirip tambahan (fin ilet). Ukuran asli ikan tongkol cukup besar, bisa mencapai 1 meter dengan berat 13,6 kg. Rata-rata, ikan ini berukuran sepanjang 50-60 cm . Ikan Tongkol memiliki kulit yang licin berwarna abu-abu, dagingnya tebal, dan warna dagingnya merah tua (Saanin, 1984).

Menurut Saanin (1984), klasifikasi Ikan tongkol adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Phylum : Chordata

Sub Phylum : Vertebrata

Class : Pisces

Sub Class : Teleostei

Ordo : Percomorphi

Family : Scombridae

Genus : Euthynnus

Species : Euthynnus affinis

Gambar 1. Ikan tongkol (Saanin, 1984)

Gambar 1. Ikan tongkol (Saanin, 1984)

Ketika musim penghujan, nelayan di Gunungkidul baik untuk pelabuhan sadeng, maupun Baron panen ikan layur dan tongkol. Perolehan ikan tongkol bisa mencapai hasil tangkapan tiap kapal perhari rata-rata memperoleh 2 kuintal. Harga ikan tongkol hitam hasil tangkapan berkisar antara Rp 15 ribu-Rp 20 ribu per kg. Namun, hal ini hanya bisa terjadi di musim musim penghujan saja, di musim kemarau biasanya para nelayan akan mengalami kesulitan mendapatkan ikan tongkol atau mereka sering menyebutnya “paceklik”.

Gambar 2. Panen ikan tongkol di Pelabuhan Baron, Gunungkidul

Gambar 2. Panen ikan tongkol di Pelabuhan Baron, Gunungkidul

Ikan tongkol (Euthynnus affinis) merupakan jenis ikan dengan kandungan gizi yang tinggi yaitu kadar air yakni 71.00-76.76 %, protein 21.60-26.30%, lemak 1.30-2.10% , mineral 1.20-150% dan abu 1.45-3.40%. Secara umum bagian ikan yang dapat dimakan (edible portion) berkisar antara 45-50 % (Suzuki, 1981). Komponen ini berpengaruh besar terhadap nilai nutrisi, sifat fungsi, kualitas sensori dan stabilitas penyimpanan daging. Kandungan kompenen kimia lainnya seperti karbohidrat, vitamin dan mineral berkisar 2 % yang berperan pada proses biokimia di dalam jaringan ikan mati. (Sikorski, 1994).

lkan tongkol (Euthynnus affinis) adalah ikan yang berpotensi cukup tinggi dalam bidang ekspor serta memiliki nilai ekonomis tinggi. Walaupun demikian, tingkat konsumsi ikan masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Hal ini 4 menyebabkan penanganan ikan tongkol masih belum baik dari penangkapan sampai pemasaran (Rostini, 2007). Ikan tongkol memiliki kandungan protein yang tinggi yaitu 26,2 mg/100g dan sangat cocok dikonsumsi oleh anak-anak dalam masa pertumbuhan, selain itu ikan tongkol juga sangat kaya akan kandungan asam lemak omega-3. Ikan cepat mengalami proses pembusukan dibandingkan dengan bahan makanan lain yang disebabkan oleh bakteri dan perubahan kimiawi pada ikan mati (Roller, 2003).

Namun, ikan ini mempunyai beberapa permasalahan yang harus diperhatikan sebelum mengkonsumsinya salah satunya adalah keracunan. Keracunan makanan akibat makan ikan laut dapat disebabkan karena kondisi ikan yang sudah tercemar oleh mikroba pembusuk atau oleh bahan kimia berbahaya. Hal tersebut dapat terjadi karena penanganan yang kurang higienis atau pengolahan ikan yang terlambat (Afrianto, 1989).

Kadar histamin pada ikan tongkol perlu diketahui dan perlu dicari cara pengolahan yang baik dan sederhana agar tidak menghasilkan kadar histamin yang tinggi. Karena senyawa histamin ini dalam jumlah tertentu dapat menyebabkan keracunan bagi yang mengkonsumsinya. Bila manusia mengkonsumsi ikan yang mengandung kadar histamin 15 mg/100 g akan timbul gejala alergi; jika histaminnya 50 mg/100 g akan menyebabkan alergi yang cukup berat dan bila mengkonsumsi 100 mg/ 100 g atau lebih akan menyebabkan keracunan.

Ikan jenis tongkol, banyak mengandung asam amino histidin yang oleh bakteri tertentu mudah diurai menjadi histamin. Oleh karena itu penanganan pada pasca panen untuk jenis-jenis ikan tersebut perlu penanganan yang lebih baik. Untuk megkonsumsi ikan tongkol haruslah ikan tongkol yang segar dan tidak terlalu lama berapa di tempat penyimpanan. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Supraptini dkk (1999), Cara pengolahan ikan tongkol agar kandungan histaminnya rendah adalah sebagai dengan dikukus atau dimasak dengan santan (Afrianto, 1989).

Gambar 3. Gambar 3. Pepes ikan tongkol merupakan pemasakan yang paling baik karena melalui proses pengkukusan

Gambar 3. Gambar 3. Pepes ikan tongkol merupakan pemasakan yang paling baik karena melalui proses pengkukusan

sooo,, jangan takut buat makan ikan lezat ini ya gengs,, harganya murah banget, bisa dibeli mentah atau bisa langsung minta dimasakin ditempat.. Histamin??? AMAN, kan yang dijual yang fresh baru turun dari kapal ! yuks buruan mumpung masih musim hujan nin, lagi panen-panennya 😀

Daftar Pustaka :

 

Afrianto, E. 1989. Pengawetan dan Pengolahan Ikan. Kanisius, Yogyakarta

Roller, S. 2003. Natural Antimicrobials for The Minimal Processing of Foods. Woodhead Publishing, Ltd., Cambridge.

Rostini, I. 2007. Peranan Bakteri Asam Laktat (Lactobacillus plantarum) terhadap Masa Simpan Fillet Nila Merah pada Suhu Rendah. Universitas Padjajaran, Jatinangor.

Saanin, H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Bina Cipta, Jakarta.

Sikorski, Z.E. dan Pan, B.S. 1994. Preservation of Seafood Quality. Dalam : Shahidi, Botta, J.R. (Eds). Seafood : Chemistry, Processing Technology and Quality. Blackie Academic and Professional, London.

 


2 responses to ““Euthynnus affinis si Penghuni Pesisir Pantai Selatan””

  1. cesiliahotnida says:

    iya, bener Mur
    ikan tongkol memang enak
    hehe

    mengingat ikan ini hanya dapat ditemui di musim penghujan dan tidak boleh disimpan terlalu lama, bagaimana usaha nelayan untuk tetap dapat memasok ikan tongkol? apakah ikan ini dapat dibudidayakan?
    terimakasih

    oh iya,
    nilainya 75 ya
    🙂

  2. febriyantivera says:

    Wah nambah informasi tentang kandungan histamin dalam ikan tongkol yang merupakan salah satu ikan yang sering di konsumsi oleh masyarakat. skor 78 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php