MonicaTri Kumala Dewi

Surili, Primata Khas Jawa Barat yang Terancam Punah

Posted: September 7th 2015

Surili ?? Apa yang ada di benak anda mengenai Surili ?? Untuk mengenal Surili lebih lanjut,, yukk mari dibaca postingan saya di bawah ini..

Surili (Presbytis comata) adalah hewan khas dan endemik Jawa Barat. Surili merupakan kelompok primata. Surili merupakan satwa yang khas yang tidak dapat dijumpai di daerah lain. Surili juga diangkat sebagai maskot PON 2016 mendatang, dengan harapan memunculkan kesadaran masyarakat untuk melestarikan Surili dari kepunahan.

images

Taksonomi Surili adalah sebagai berikut :
Kingdom    : Animalia
Phylum       : Chordata
Class            : Mammalia
Order           : Primates
Family         : Cercopithecidae
Genus          : Presbytis
Species        : Presbytis comata

Pada umumnya warna bagian punggung (dorsal) tubuh Surili dewasa berwarna hitam atau coklat tua keabuan. Pada bagian kepala sampai jambul berwarna hitam. Tubuh bagian depan (ventral) mulai dari bawah dagu, dada, perut, bagian dalam lengan, kaki dan ekor berwarna putih. Warna kulit muka dan telinga hitam pekat agak kemerahan, warna iris mata coklat gelap dan warna bibirkemerahan. Pada individu yang baru lahir, tubuhnya berwarna putih keperak-perakan dengan garis hitam mulai dari kepala hingga ekor. Panjang tubuh individu jantan dan betina hampir sama yaitu berkisar antara 430-600 mm. Panjang ekor berkisar antara 560-720 mm. Berat tubuh rata-rata 6,5 kg.

Surili hidup di kawasan hutan hujan tropis primer maupun sekunder mulai dari hutan pantai  sampai hutan pegunungan. Seringkali juga Surili dijumpai di perbatasan antara hutan dengan kebun penduduk. Surili hidup berkelompok dengan ukuran antara 7-12 individu. Setiap kelompok biasanya terdiri atas satu ekor jantan dengan satu atau lebih betina (one male multi female troop). Surili hanya terdapat di Jawa Barat, terutama di kawasan hutan yang yang tergolong kawasan konservasi (Taman Nasional, Cagar Alam) dan hutan lindung. Surili tersebar mulai dari hutan pantai sampai hutan pegunungan mulai dari 0-2000 meter diatas permukaan laut.

Surili banyak mengkonsumsi daun muda atau kuncup daun sebagai makanannya. Bila dilihat komposisi makanan yang dikonsumsi Surili, 64% dari makanannya adalah daun muda, 14% buah dan biji, 7% bunga dan sisanya berupa serangga, jamur dan tanah..

Surili aktif di siang hari (diurnal) dan lebih banyak melakukan aktivitasnya pada bagian atas dan tengah dari tajuk pohon. Terkadang Surili turun ke dasar hutan untuk memakan tanah. Pada saat anggotanya turun ke lantai hutan, pimpinan kelompok akan terlihat mengawasi dengan waspada. Pada malam hari, kelompok Surili tidur saling berdekatan pada ketinggian sekitar 20 m di atas permukaan tanah. Surili jarang menggunakan pohon sebagai tempat tidur yang sama dengan hari sebelumnya.

Meskipun telah mendapat status dilindungi sejak tahun 1979 melalui SK keputusan Menteri Pertanian No. 247/Kpts/ Um/ 1979, SK Menteri Kehutanan No. 301/Kpts-II/1991 tanggal 10 Juni 1991 dan Undang-undang No. 5 Tahun 1990, akan tetapi menurut IUCN pada tahun 2004, Surili termasuk dalam kategori terancam punah (endangered) dan secara internasional termasuk dalam Appendik I CITES.

Perburuan liar di masyarakat sulit dicegah selain keterbatasan petugas di lapangan juga karena jarak antara tempat tinggal warga dan kawasan hutan sangat dekat. Terlebih lagi faktor ekonomi yang mendorong warga tertarik melakukan perburuan satwa liar karena harga jualnya yang menggiurkan. Perambahan hutan, alih fungsi kawasan hutan dengan maraknya pembangunan akibat bertambahnya populasi manusia juga turut mengancam keberadaan Surili. Surili juga sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan di sekitar habitatnya, sehingga akan mengakibatkan Surili terancam punah dalam waktu dekat apabila tempat yang menjadi habitatnya rusak dan tidak dilakukannya sistem pengelolaan yang baik dalam hal habitat, inventarisasi berkala, serta aktivitas reproduksinya.

Oleh karena itu, Surili harus tetap dijaga dan dilestarikan keberadaannya sehingga anak cucu kita nanti dapat melihat Surili secara langsung.

 

Sumber :
Ruchiyat, Y. 1983. Socio-ecological study of Presbytis aygula in West Java. Primates,24 (3) : 344-353
http://www.iucnredlist.org/details/18125/0


14 responses to “Surili, Primata Khas Jawa Barat yang Terancam Punah”

  1. Asteria floretta says:

    Wow!!! Nice and usefull information. Thank you… 🙂

  2. Florentina says:

    Artikel di atas sangat menambah wawasan, semoga tidak hanya masyarakat jawa barat saja yang ikut melestarikan keberadaan Surili, salah satunya dengan cara tidak melakukan perburuan liar

  3. Benedictus Hendy says:

    Semoga masyarakat semakin sadar bahwa ada satwa Indonesia yg harus dilindungi karena mendekati kepunahan

  4. Modesta says:

    Very important and that’s info enlarge our knowledge especially about primata… Keep our primata from extinction and save their life….

  5. Modesta says:

    That’s artickel informed us about how important and open our mind about primata that almost estinction. We’re still young so we have to save their life from estinction…

  6. Renita Nurhayati says:

    Informasi yang sangat bermanfaat, secara morfologi surili ini memang mirip dengan monyet namun warna tubuhnya yg membedakan dgn monyet.
    Semoga surili ini terus d lestarikan oleh pemerintah dan adanya kesadaran dr masyarakat agar tidak melakukan perburuan liar mengingat bahwa surili akan punah

  7. Thomas Yudhi says:

    Woww.. artikel yg sangat baik sekali.. thankyou atas infonya

  8. Aang says:

    It’s a good information 🙂

  9. Diana Sutanto says:

    nice post! nambah pengetahuan bgt soal bangsa primata, semoga dgn ini kita jg ikut menjaga alam ya biar ga pd punah flora dan fauna di indonesia. ditunggu postingan yg lain nih. really excited!

  10. rinda anggita nugraheni says:

    Sippp kaaaak infonya nambah wawasan banget. Makasih yaaaa

  11. Anisya says:

    Terimakasih infonya

  12. endra baskoro says:

    Keanekaragaman hayati indonesia yg seharusnya kita jaga bersama. Kewajiban kita sebagai warga negara untuk ikut menjaga..

  13. bonnyeaster says:

    semoga informasinya bermanfaat buat masyarakat dan menambah wawasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php