Mitha Aprianti K

Hutan adalah Hidupku (Beruang Madu di kalimantan)

Posted: September 5th 2014

Beruang madu adalah mamalia yang masuk dalam ordo karnivora, family ursidae. Walaupun karnivora, pada kelas makan beruang madu adalah omnivora, sehingga daging bukanlah makanan utama. Makanannya berupa buah, umbut, cacing, semut, serangga kecil, mamalia kecil, burung kecil, telur burung, kadal, juga sarang lebah madu sehingga lebih dikenal dengan beruang madu. Nama ilmiah hewan ini adalah Helarctos malayanus. Status konservasi beruang madu adalah vulnerable dalam IUCN redlist data book, tercatat dalam appendix I CITES, dan terdaftar sebagai jenis yang dilindungi berdasarkan peraturan pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. Jika dibandingkan dengan 8 jenis beruang yang ada di dunia, beruang madu adalah beruang terkecil dari sisi ukuran tubuh (Darmanto dkk, 2011).
index                                                                                     Beruang madu (Helarctos malayanus)

Kalimantan merupakan sub species lain dengan nama ilmiah Helarctos malayanus euryspilus. Biasa hidup pada hutan dataran rendah dan sangat tergantung dengan keberadaan hutan. Hasil penelitian di Hutan Lindung Sungai Wain menyebutkan bahwa beruang madu memakan buah atau bagian tumbuhan lebih dari 50 jenis tumbuhan dan memakan lebih dari 100 jenis serangga (insect). Jadi tampak sekali bahwa keberadaan hutan sebagai penyedia makanan dengan tingkat keragaman jenis vegetasi yang tinggi sangat diperlukan oleh hewan ini (Darmanto, 2011). Ketersediaan dan keragaman buah sangat penting bagi stabilitas nutrisi beruang madu. Menurut Wong, (2002) mengungkapkan bahwa kondisi fisik yang buruk dan tingkat kematian sejumlah beruang yang diamati dalam penelitiannya disebabkan oleh kelangkaan buah yang berkepanjangan. Menurut Fredriksson, (2001) juga menduga terjadinya kekurangan nutrisi serta mengungkapkan bahwa beruang madu menumpuk cadangan lemaknya selama periode musim buah untuk mempertahankan hidupnya selama jeda waktu antara musim buah yang lebih panjang.

Di Kalimantan catatan perburuan satwa ini juga tinggi. Bagian tubuh beruang madu dipercaya sebagai obat yang bias menyembuhkan berbagai penyakit, seperti penyakit asma dan penyembuh luka. Catatan literature menyatakan 10–20 beruang madu setiap tahunnya ditangkap di daerah utara Kalimantan Timur antara tahun 2000-2003 di setiap kampong untuk dimanfaatkan sebagai obat dan hiasan. Ancaman utama beruang madu di Kalimantan dan Sumatera adalah kehilangan habitat sehingga pergerakannya (home range) semakin terbatas dan perubahan kebiasaan makan, penurunan akses terhadap tempat makanan dan habitat, populasi terfragmentasi dan terisolasi (Darmanto dkk, 2011). Konflik dengan manusia, perburuan, serta perdagangan beruang atau bagianbagian dari beruang secara ilegal merupakan faktor penting yang mengancam kelangsungan hidup beruang madu, terutama di Asia daratan (Mills & Servheen1994).

Keluarnya beruang madu dari habitat aslinya pertanda bahwa habitat asli sudah tidak bisa
menyediakan kebutuhan dasar yang layak bagi beruang madu. Masuk ke perkampungan dan kebun masyarakat merupakan pilihan terakhir untuk mempertahankan hidup. Habitat yang rusak maupun terisolir merupakan ulah manusia yang tak pernah ramah dengan alam. Sehingga terjadinya konflik tak akan terselesaikan dengan sekadar menangkap dan memindahkan (translokasi) individu beruang madu. Menyediakan habitat yang layak untuk satwa liar merupakan tanggungjawab manusia sebagai khalifah di muka bumi (Darmanto dkk, 2011).

 

Sumber:

Darmanto., Laksitasari,Y., Utomo, T. 2011. Suara Satwa Media Informasi ProFauna Indonesia. ProFauna. Vol.15(2)

Wong, S. T. 2002. The ecology of Malayan sun bears (Helarctos malayanus) in the lowland tropical rainforest of Sabah, Malaysian Borneo. MSc thesis. University of Montana, USA.

Fredriksson, G. 2001. Effects of forest fires on Sun Bear conservation in East Kalimantan (Indonesian Borneo). Presented poster at the Thirteenth International Conference on Bear Research and Management, Jackson, Wyoming, USA.

Mills, J. dan C. Servheen. 1994. The Asian trade in bears and bear parts: Impacts and conservation recommendations. International Conference on Bear Research and Management 9:161-167.


11 responses to “Hutan adalah Hidupku (Beruang Madu di kalimantan)”

  1. luhshyntia says:

    biasanya beruang dikenal sebagai hewan yang mengerikan tetapi di sini, saya menyadari dari sekian jenis beruang yang ada beruang madu merupakan hewan yang bisa dibilang jinak salah satunya disebutkan “daging bukan makanan utamanya”. saya tidak habis pikir dan kecewa kenapa harus menjadi perburuan dari ulah manusia. padahal hewan sebetulnya harus dilindungi dan harus dilestarikan.

  2. luhshyntia says:

    biasanya beruang dikenal sebagai hewan yang mengerikan tetapi di sini, saya menyadari dari sekian jenis beruang yang ada beruang madu merupakan hewan yang bisa dibilang jinak salah satunya disebutkan “daging bukan makanan utamanya”. saya tidak habis pikir dan kecewa kenapa harus menjadi perburuan dari ulah manusia. padahal hewan sebetulnya harus dilindungi dan harus dilestarikan.

  3. Inge says:

    Thx’ infonya.
    Miris ngeliat banyak banget fauna Indonesia yg terancam gara2 rumah mreka kegusur manusia. satu poin yg perlu kita pikirkan “kita udah punya jatah masing2. masi mau menjajah wilayahnya fauna macem beruang gini? toh hutan juga nggak semata2 buat mereka aja. hutan itu paru2 dunia, berarti hutan itu juga penting buat kita.
    kalau hutan tambah habis, mau ngarepin apalagi?”

  4. Inge: ia betul banget inge berungan madu hanya salah satu contoh dari satwa yang sangat bergantung dengan hutan begitupun juga manusia, tetapi masih aja manusia menjajah hutan tanpa memikirkan dampak terhadap satwa-satwa yang ada begitupun dampaknya terhadap manusia.

  5. novia11 says:

    terima kasih infonya 🙂
    yang mau saya tanyakan adalah apakah di Indonesia beruang madu ini hanya ada di kalimantan Timur dan Sumatera?

    • Dari sumber yang saya dapatkan beruang madu yang tersebar di Indonesia hanya dapat ditemukan di pulau sumatra dan kalimantan, tetapi selain di Indonesia beruang madu juga tersebar di beberapa negara bagian Asia Tenggara dan Asia Selatan, yaitu Thailand,Myanmar, Malaysia, Indonesia, Laos, Kamboja, Vietnam, Bangladesh dan India.

  6. Yunice Femilia Bandue says:

    Kasihan beruang madu harus masuk ke perkampungan dan kebun masyarakat untuk mempertahankan hidupnya, harusnya mereka mendapatkan makanan yang cukup di habitat aslinya.Aku mau nanya apakah ada upaya yang telah dilakukan pemerintah setempat untuk melindungi habitat asli dari beruang madu.?

    • dari sumber yang saya baca upayah pemerintah dalam melindungi habitat beruang madu sudah ada yaitu berupa program pendidikan konservasi yang telah dimulai dengan menargetkan sekolah dan masyarakat lokal dengan memfokuskan pada fungsi hutan dan peran satwa liar, sehingga perlahan-lahan akan membawa perubahan lokal dalam menyikapi konservasi hutan dan beruang madu.

  7. tosy says:

    infonya menarik, hanya kurang memaparkan upaya – upaya konservasi yang telah dilakukan apa aja?..
    aku jg mau nanya, apakah habitat beruang madu hanya ada di Kalimantan saja kh?

  8. upayah konservasi yang dilakukan yaitu Pemerintah Indonesia telah merancangkan upaya perlindungan satwa-satwa liar tersebut ke dalam sebuah kawasan khusus. Beberapa di antaranya seperti hutan lindung, taman nasional, maupun pusat konservasi satwa liar. Tiga lokasi tersebut telah ditetapkan berdasarkan undang-undang, peraturan pemerintah, dan peraturan daerah. Untuk beruang madu sebenarnya belum banyak memiliki pusat konservasi, kecuali hanya terdapat semacam pusat penangkaran sementara seperti yang terdapat di banyak lokasi hutan lindung maupun taman nasional.
    Habitat beruang madu tidak hanya ada di kalimantan timur dan sumatra tetapi Sebarannya beruang madu juga ada didaratan Asia (Banglades, Timur laut India, Utara-Selatan Provinsi Yunan China hingga Asia Tenggara), Sumatera dan
    Kalimantan (Sundaland region).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php