mell98

Ada Namun Seolah-Olah Tak Berguna

Posted: August 26th 2016

Hutan. Satu kata yang terlintas dalam benak saya ketika memikirkan hutan adalah tumbuhan. Tentu saja, hutan sangat identik sekali dengan tumbuh-tumbuhan, meskipun didalamnya terdapat berbagai macam organisme yang hidup. Menurut Spurr (1973), hutan merupakan persekutuan antara tumbuhan dan binatang dalam suatu asosiasi biotis.

Lalu bagaimana, ketika hutan tidak lagi identik dengan tumbuh-tumbuhan? Bagaimana ketika hutan tidak hanya dihuni oleh hewan dan tumbuhan, melainkan ada “benda” lain yang ikut tinggal didalamnya?

Hutan Mangrove. Tentu kita sudah tidak lagi dengan hutan ini. Biasanya, hutan mangrove lebih kita kenal dengan sebutan Hutan Bakau. Tumbuhan mangrove termasuk tumbuhan yang unik, karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di air. (Wijayanti, 2007)

Jika mampir dikota Probolinggo, Jawa Timur, terutama di Jalan Baru Mayangan, akan terlihat jelas disana, terdapat hutan mangrove. Seringkali pemerintah setempat, mengerahkan masyarakatnya untuk melakukan gerakan menanam 1000 pohon mangrove. Yang tentu saja, pemerintah melakukannya semata-mata untuk kepentingan warga setempat.

Akan tetapi, sepertinya masyarakat setempat belum paham akan pentingnya keberadaan hutan mangrove ini. Mangrove yang seharusnya berfungsi sebagai pencegah erosi dan abrasi, kini seolah berubah fungsi menjadi “tempat penampungan sampah”. Bagaimana tidak, sepanjang tepi hutan mangrove, yang dapat dilihat adalah tumpukan sampah.

IMG_20160819_155548      IMG_20160819_155703

Padahal, pemerintah di Kota Probolinggo, tidak kurang-kurang dalam hal menyediakan tempat sampah yang bahkan, sudah dikategorikan menurut jenisnya. Namun agaknya, masyarakat lebih senang membuang sampah di kawasan hutan mangrove ini. Entah, ketertarikan apa yang membuat masyarakat lebih suka membuang sampah disana.

Sungguh sangat disayangkan tindakan yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Hutan yang harusnya dihuni oleh tumbuhan dan organisme lain, hutan yang harusnya dilestarikan, malah dirusak sendiri oleh manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab.

Melihat kenyataan tersebut, pemerintah Kota Probolinggo, telah memasang papan besar yang berisikan tentang larangan membuang sampah sembarangan. Namun lagi-lagi, papan tersebut hanya menjadi sebuah “hiasan” belaka bagi warga setempat.

IMG_20160819_155827

Dengan adanya kenyataan yang sudah dipaparkan, yang menjadi pertanyaan untuk saat ini adalah, masih layakkah dengan keadaan yang seperti ini, “hutan mangrove” disebut sebagai “hutan”?


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php