Tag Archives: Muslim

Memakai Obat Tetes Hidung Saat Puasa

men kneeling and bowing inside building
Memakai Obat Tetes Hidung Saat Puasa

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Wr Wb.
Pengasuh yang terhormat. Hidung saya selalu bumpet dan bersin2, bila terkena udara dingin. Untuk itu saya memakai obat tetes hidung, kadang2 memakai Vicks Inhaler juga. Apakah hal itu membatalkan puasa?
Mengingat saya saat ini tinggal di negara yang sedang mengalami winter dan sebentar lagi Ramadhan tiba, saya mohon jawabannya. Terimakasih.
Wassalamu’alaikum Wr Wb.

Jawaban:

Assalamu alaikum wr.wb.

Terkait dengan kasus Anda, para ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama berpendapat bahwa memakai obat hirup atau yang sejenisnya bisa membatalkan puasa apabila obat tersebut sampai masuk ke otak. Adapun jika hanya sampai batang hidung, maka tidak membatalkan puasa.

Namun, ulama kontemporer, Yusuf al-Qardhawi berpendapat bahwa memakai obat hirup atau bahkan bersuntik sekalipun tidak membatalkan puasa. Alasannya, karena puasa seperti yang dikatakan oleh Rasulullah adalah menahan makan, minum, dan syahwat. Ini seperti yang ditegaskan dalam hadits qudsi, “Semua amal manusia adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku. Akan Kuberi imbalan orang yang meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena Aku.” (HR Bukhori)

 Dengan demikian, tidak ada alasan untuk memperluas makna puasa kepada hal yang lain. Selain itu, Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesukaran (QS 2: 185)

Pandangan ini juga sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Ibn Hazm yang berkata, “Yang dilarang Allah saat kita berpuasa adalah makan, minum, bersetubuh, muntah dengan sengaja, dan berbuat maksiat. Allah tidak mengajar kita makan dan minum lewat dubur atau saluran kencing, dari telinga, mata, hidung, kepala, dan perut. Jadi, memasukkan sesuatu ke dalam perut asalkan tidak melalui makan dan minum tidaklah terlarang.”

Kesimpulannya, pemakaian obat hidup dan sejenisnya tidak membatalkan puasa. Namun, sebaiknya ia hanya dipakai dalam kondisi yang memang sangat dibutuhkan dan penggunaannya tidak berlebihan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu alaikum wr.wb. 

Baca juga :

Alat Kontrasepsi yang Diperbolehkan dalam Islam

Blue Mosque, Turkey during golden hour
Alat Kontrasepsi yang Diperbolehkan dalam Islam

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Wr Wb.
Pengasuh yth.
Saya dan suami sepakat menunda kembali untuk punya anak. Alat kontrasepsi apa yang dibolehkan dalam syariat Islam.
Selama ini kami melakukan Azl dan atau memakai kondom, tapi rasanya tidak cocok untuk kami.
Mohon jawabannya. Trimakasih
Wassalamu’alaikum Wr Wb.

Jawaban:

Assalamu alaikum Wr. Wb.

Masalah penggunaan alat kontrasepsi menurut pandangan Islam tidak bisa dipisah-pisah antara niat/mitivasi, metode penggunaan, alat dan juga resiko.

Sehingga bila salah satu komponen itu ada yang tidak sejalan dengan hukum Islam, maka penggunaan alat kontrasespsi itu pun menjadi tidak boleh juga.

Misalnya, masalah niat. Meski alat kontrasepsi yang digunakan termasuk yang dibolehkan namun motivasi atau niatnya adalah karena hal-hal yang dilarang Islam seperti takut miskin dan sebagainya, maka hukumnya menjadi tidak boleh juga.

Khusus mengenai alat kontrasepsi itu sendiri, saat ini dunia kedokteran telah memiliki begitu banyak alat dan metode. Sebelum membahas alat-alat kontrasespi itu, kami ingin menukilkan fatwa-fatwa dari lembaga dunia Islam tentang kontrasespi ini:

A. Muktamar Lembaga Riset Islam di Kairo

Dalam muktamar kedua tahun 1385 H/1965 M menetapkan keputusan sbb:
Sesungguhnya Islam menganjurkan untuk menambah dan memperbanyak keturunan, karena banyaknya keturunan akan memperkuat umat Islam secara sosial, ekonomi dan militer. Menambah kemuliaan dan kekuatan.

Jika terdapat darurat yang bersifat pribadi yang mengharuskan pembatasan keturunan, maka kedua suami istri harus diperlakukan sesuai dengan kondisi darurat. Dan batasan darurat ini dikembalikan kepada hati nurani dan kualitas agama setiap pribadi.

Tidak sah secara syar’i membuat peraturan berupa pemaksaan kepada manusia untuk melakukan pembatasan keturunan walaupun dengan berbagai macam dalih.

Pengguguran dengan maksud pembatasan keturunan atau menggunakan cara yang mengakibatkan kemandulan untuk maksud serupa adalah sesuatu yang dilarang secara syar’i terhadap suami istri atau lainnya.

B. Pernyataan Majelis Pendiri Rabithah Alam Islami

Pada sidang ke- 16 Majelis Pendiri Rabithah Alam Islami membuat fatwa melarang pembatasan keturunan, dan berikut nashnya:

Majelis mempelajari masalah pembatasan keturunan atau KB, sebagaimana sebagian para penyeru menamakannya. Anggota majelis sepakat bahwa para pencetus ide ini hendak membuat makar atau tipu daya terhadap umat Islam. Dan umat Islam yang menganjurkannya akan jatuh pada perangkap mereka. Pembatasan ini akan membahayakan secara politik, ekonomi, sosial dan keamanan. Telah muncul fatwa-fatwa dari para ulama yang mulia dan terpercaya keilmuan serta keagamaannya yang mengharamkan pembatasan keturunan ini. Dan pembatasan keturunan tersebut bertentangan dengan Syariah Islam.

Umat Islam telah sepakat bahwa diantara sasaran pernikahan dalam Islam adalah melahirkan keturunan. Disebutkan dalam hadits shahih dari Rasul saw bahwa wanita yang subur lebih baik dari yang mandul.


C. Pernyataan Badan Ulama Besar di Kerajaan Arab Saudi

Pernyataan no: 42 tanggal 13/4 1396 H:

Dilarang melakukan pembatasan keturunan secara mutlak. Tidak boleh menolak kehamilan jika sebabnya adalah takut miskin. Karena Allah Ta?ala yang memberi rejeki yang Maha Kuat dan Kokoh. Tidak ada binatang di bumi kecuali Allah-lah yang menanggung rejekinya.

Adapun jika mencegah kehamilan karena darurat yang jelas, seperti jika wanita tidak mungkin melahirkan secara wajar dan akan mengakibatkan harus dilakukan operasi untuk mengeluarkan anaknya. Atau melambatkan untuk jangka waktu tertentu karena kemashlahatan yang dipandang suami-istri maka tidak mengapa untuk mencegah kehamilan atau menundanya. Hal ini sesuai dengan apa yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan sebagian besar para sahabat tentang bolehnya azl (coitus terputus).


D. Pernyataan Majelis Lembaga Fiqh Islami

Dalam edisi ketiga tentang hukum syari KB ditetapkan di Mekkah 30-4-1400 H:

Majelis Lembaga Fiqh Islami mentepakan secara sepakat tidak bolehnya melakukan pembatasan keturunan secara mutlak. Tidak boleh juga menolak/mencegah kehamilan kalau maksudnya karena takut kemiskinan. Karena Allah Ta?ala yang memberi rejeki yang sangat kuat dan kokoh. Dan semua binatang di bumi rejekinya telah Allah tentukan. Atau alasan-alasan lain yang tidak sesuai dengan Syariah.

Sedangkan mencegah kehamilan atau menundanya karena sebab-sebab pribadi yang bahayanya jelas seperti wanita tidak dapat melahirkan secara wajar dan akan mengakibatkan dilakukan operasi untuk mengeluarkan bayinya. Maka hal yang demikian tidak dilarang Syar?i. Begitu juga jika menundanya disebabkan sesuatu yang sesuai Syar?i atau secara medis melaui ketetapan dokter muslim terpercaya. Bahkan dimungkinkan melakukan pencegahan kehamilan dalam kondisi terbukti bahayanya terhadap ibu dan mengancam kehidupannya berdasarkan keterangan dokter muslim terpercaya.

Adapun seruan pembatasan keturunan atau menolak kehamilan karena alasan yang bersifat umum maka tidak boleh secara Syariah. Lebih besar dosanya dari itu jika mewajibkan kepada masyarakat, pada saat harta dihambur-hamburkan dalam perlombaan senjata untuk menguasai dan menghancurkan ketimbang untuk pembangunan ekonomi dan pemakmuran serta kebutuhan masyarakat.

Lalu dengan demikian apa saja alat yang diperbolehkan?

Ada lima 5 persoalan yang terkait dengan penggunaan alat kontrasepsi, yaitu :
1. Cara kerjanya, apakah mengatur kehamilan atau menggugurkan kehamilan (isqat al-haml)?
2. Sifatnya, apakah ia hanya pencegahan kehamilan sementara atau bersifat pemandulan permanen (ta’qim)?
3. Pemasangannya, Bagaimana dan siapa yang memasang alat kontrasepsi tersebut? (Hal ini berkaitan dengan masalah hukum melihat aurat orang lain).
4. Implikasi alat kontrasepsi terhadap kesehatan penggunanya.
5. Bahan yang digunakan untuk membuat alat kontrasepsi tersebut.

Alat kontrasepsi yang dibenarkan menurut Islam adalah yang cara kerjanya mengatur kehamilan, bersifat sementara (tidak permanen) dan dapat dipasang sendiri oleh yang bersangkutan atau oleh orang lain yang tidak haram memandang auratnya (suami) atau oleh orang lain yang pada dasarnya tidak boleh memandang auratnya tetapi dalam keadaan darurat ia dibolehkan. Selain itu bahan pembuatan yang digunakan harus berasal dari bahan yang halal, serta tidak menimbulkan implikasi yang membahayakan (mudlarat) bagi kesehatan

Jadi, Anda bisa memilih alat kontrasepsi apa saja asalkan sesuai dengan lima kriteria di atas.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu alaikum wr.wb