blogmasboi

Blog Archives


Menyoal Media Intoleran

Posted: December 2nd 2014

Bernas Jogja, 25 November 2014 Oleh Yohanes Widodo Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi khususnya internet dan perubahan politik sejak reformasi 1998 telah membuka ruang demokrasi di Indonesia. Laiknya sekeping mata uang, di satu sisi keterbukaan itu mendukung perdamaian, keberagaman, toleransi dan upaya perwujudan nilai-nilai demokrasi (Kikue Hamayotsu, 2013). Di sisi lain, kebebasan dan keterbukaan ini lalu memungkinkan munculnya media-media yang menyebarkan ideologi intoleran serta mengobarkan nilai-nilai yang berbeda bahkan bertentangan dengan demokrasi dan kemanusiaan.


Cyberbullying dan Pilpres 2014

Posted: December 2nd 2014

Bernas Jogja, Selasa 10 Juni 2014 Oleh Yohanes Widodo Pilpres 9 Juli 2014 membuat masyarakat terpolarisasi. Pertentangan kedua kubu begitu sengit, khususnya di ranah Internet. Masing-masing kubu didukung oleh ‘pasukan media sosial’ yang siap bertarung. Praktik tweet-war, perang ‘meme’ maupun komentar-komentar yang mem-bully—menjelekkan atau menjatuhkan—lawan mewarnai situasi perang itu. Kehadiran media sosial dalam konteks pemilihan presiden kali ini menjadi penting karena saat inilah puncak penggunaan media sosial dalam peristiwa Pemilu. Kaum cyber-optimist melihat Internet adalah democratic space yang bisa membuka ruang demokrasi partisipatoris. Internet mampu (1) menyediakan ruang dan waktu bagi publik untuk berkomunikasi tanpa batas (space-time liberty), (2) menyebarluaskan berita, informasi, maupun gagasan secara mandiri (sharing liberty), serta (3) membuka akses bagi orang-orang dengan keterbatasan ekonomi (access liberty) (Unwin, 2000).


Menyongsong Era Televisi Lokal

Posted: January 13th 2014

Saat ini sedikitnya ada 19 stasiun televisi lokal yang sudah resmi tergabung dalam Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (KCM, 26/7/2005). Menyusul daerah-daerah lain, tak lama lagi televisi lokal akan mewarnai bumi Sriwijaya. Kehadiran televisi lokal ini di Palembang akan meramaikan ‘dunia persilatan’ lembaga penyiaran di Sumatera Selatan, yang kini diramaikan oleh 10 stasiun televisi nasional dan TVRI Sumsel, serta beberapa televisi lokal yang telah mengajukan ijin dan diproses oleh Komisi Penyiraan Indonesia Daerah (KPID) Sumsel. Era televisi lokal di Palembang patut disambut gembira dan apresiasi. Kehadiran televisi lokal akan menambah variasi atau pilihan bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi, hiburan, dan pendidikan. Televisi lokal bisa menjadi mimbar perdebatan masyarakat lokal mengenai isu-isu atau persoalan-persoalan lokal yang sedang dihadapi. Selain itu, keberadaan televisi lokal dapat menjadi sarana pengembangan potensi daerah, sehingga daerah pada gilirannya menjadi lebih maju dan sejahtera melalui pengembangan perekonomian rakyat.


Potret Pendidikan Jurnalisme

Posted: January 13th 2014

Oleh Yohanes Widodo S OROTAN terhadap pers dan wartawan tak kunjung henti. Bak lagu ‘benci tapi rindu’: pers dan wartawan dicintai namun (terus) digugat dan dibenci. Kebebasan pers yang diagung-agungkan kalangan pers justru ditanggapi sebagian masyarakat dengan kecaman dan hujatan. Pers sering dituduh tidak lagi mengindahkan kode etik, mengabaikan prinsip keseimbangan dan keakuratan, dan cenderung mengembangkan sajian informasi konflik, kekerasan, dan pornografi. Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Syamsul Muarif pernah menyebut lima penyakit pers, yaitu: pornografi, character assassination, berita palsu dan provokatif, iklan yang menyesatkan, serta wartawan yang tidak profesional (bodrex). Berbagai pihak kerap menyesalkan kekurangakuratan dan ketidakmampuan wartawan dalam mengolah pemberitaan. Masalahnya tidak hanya sampai di situ. Pers sendiri menghadapi kesulitan untuk merekrut wartawan-wartawan berkualitas. Yudha Kartohadiprodjo, Editor-in-Chief Men’s Health Indonesia mengeluhkan kualitas para (calon) wartawan. “Saya selalu kesulitan untuk mencari fresh graduate yang memiliki kriteria, wawasan dan kemampuan seperti yang saya inginkan.” Keluhan ini mewakili sejumlah pemimpin redaksi … Read more


TIK dan Pembangunan Karakter Bangsa

Posted: September 25th 2013

Bernas Jogja, Selasa 24 September 2013 Oleh Yohanes Widodo Inovasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) atau Internet telah menyebabkan terjadinya perubahan revolusioner dalam kehidupan manusia. Peningkatan penggunaan TIK menjadikan medium ini tidak hanya sekadar media komunikasi, interaksi, dan informasi, namun juga medium untuk mengembangkan karakter bangsa. Tulisan ini hendak membahas sejauh mana internet berperan dalam perubahan sosial atau—dalam hal ini—pembangunan karakter bangsa. TIK telah mengubah sistem komunikasi, cara kita berkomunikasi serta mempengaruhi kehidupan manusia dan masyarakat baik secara individu, organisasi, maupun kehidupan sosial. TIK juga mampu meningkatkan kemampuan indera manusia (extends human senses) (McLuhan, 1964) sehingga menjadikan individu mampu menembus ruang dan waktu dan menyajikan ‘a window to the world’ (Roger, 1986). TIK memungkinkan informasi, gagasan, dan pengetahuan mengalir bebas melalui masyarakat informasi, di mana batas yang masih tersisa antarmanusia adalah batas geografi (Lin & Atkin, 2007). Inilah yang kemudian membentuk apa yang disebut sebagai masyarakat informasi (information society). Dari … Read more


Menuju Entrepreneurial University

Posted: May 2nd 2013

Bernas Jogja, Selasa 30 April 2013 Oleh Yohanes Widodo Sejak era kolonial, Nusantara dilirik oleh bangsa-bangsa barat karena kekayaan alamnya. Namun kini, kendati kaya, Indonesia masih tertinggal dengan negeri jiran, seperti Singapura dan Malaysia. Penyebabnya, seperti Schumpeter (1934) bilang: ‘Enterprenuership is driving force behind economic growth.’ Kendati minim kekayaan alam, jiran kita itu mampu mengubah knowledge menjadi capital. Mereka mampu mengembangkan technopreneurship dan mendasarkan pembangunan ekonominya pada pengetahuan (knowledge based economy) yang ditandai dengan penerapan inovasi di bidang teknologi dan manufaktur, layanan bisnis yang memanfaatkan pengetahuan, serta produksi dan distribusi konten kreatif.


Media Sosial Masuk Kelas?

Posted: March 26th 2013

Bernas Jogja, Selasa, 26  Maret  2013 Oleh Yohanes Widodo SEPERTI pengguna media sosial pada umumnya, banyak dosen perguruan tinggi di Indonesia menggunakan media sosial semacam Facebook atau Twitter. Hanya saja ada kecenderungan bahwa sebagian besar dosen tidak mengenakan “topi” dosen ketika menggunakan Facebook atau Twitter. Artinya, penggunaan media sosial lebih banyak untuk kepentingan atau kebutuhan pribadi, misalnya untuk bersosialisasi dengan teman-teman atau keluarga daripada kepentingan profesional sebagai dosen. Lantas, bagaimana media sosial (bisa) digunakan untuk mendukung proses belajar-mengajar, khususnya di perguruan tinggi? Tingkatkan produktivitas Media sosial adalah media komunikasi interaktif seperti blog, wiki, podcast, Facebook, Twitter, Youtube, jurnalisme warga seperti Kompasiana, dan lain-lain. Bagi dosen, penggunaan media sosial di dalam kelas akan meningkatkan produktivitas, komunikasi, dan pemahaman anak didiknya. Media sosial bisa digunakan untuk mendukung aktivitas belajar mengajar sehingga lebih efektif. Pertama, karena media sosial banyak digunakan oleh mahasiswa atau siswa/remaja. Kalau pun belum punya akun, orang dengan mudah bisa … Read more


Bahasa dan Ancaman Kepunahan

Posted: October 10th 2012

Bernas Jogja, Selasa 9 Oktober 2012 Oleh Yohanes Widodo Indonesia adalah negara multietnis dengan 1.128 etnis (BPS, 2010) dan negara multilingual kedua di dunia setelah Papua Nugini dengan 742 bahasa (Ethnologue, 2005). Ini berarti 10 persen dari 7.000 bahasa di dunia berada di Indonesia (Antara, 2012/09/04). Penggunaan Bahasa Indonesia dimulai sejak 1928, ketika pemuda-pemudi memilih bahasa Melayu sebagai lingua franca menjadi bahasa persatuan dengan pernyataan butir ketiga Sumpah Pemuda: “Kami, putera-puteri Indonesia, menjunjung bahasa bersatuan, Bahasa Indonesia”. Sebagai bahasa nasional yang dinyatakan dalam UUD 1945, menempatkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi antaretnis, bahasa resmi pemerintah, dan bahasa pengantar di lembaga pendidikan di Indonesia. Bahasa Indonesia diajarkan di sekolah-sekolah sebagai mata pelajaran wajib sejak di Sekolah Dasar. Bahasa daerah jarang digunakan di sekolah-sekolah formal selain sebagai mata pelajaran muatan lokal di beberapa daerah. Bahasa lokal lebih banyak digunakan dalam pendidikan non-formal, khususnya dalam bidang sastra (Haddad, 2006). Orang Indonesia umumnya bilingual. … Read more


Diaspora Orang Muda Indonesia dan Bahasa Mereka

Posted: August 24th 2012

Bernas Jogja, Selasa 21 Agustus 2012 Oleh Yohanes Widodo Perbincangan tentang Diaspora Indonesia kembali mengemuka sejak digelar  Congress of Indonesian Diaspora (CID) yang berlangsung 6-8 Juli 2012 di Los Angeles Convention Center, California, Amerika Serikat. Istilah diaspora berasal dari Bahasa Yunani yang artinya penyebaran (Merriam Webster); gerakan, migrasi, atau menyebarnya bangsa atau penduduk etnis manapun yang terpaksa atau terdorong untuk meninggalkan tanah air atau etnis tradisional mereka; orang-orang yang tinggal jauh dari tanar airnya (Ember dkk, 2004). Menurut Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal, diaspora merujuk pada semua orang di luar negeri yang berdarah, berjiwa dan berbudaya Indonesia – baik yang masih warga negara Indonesia maupun yang sudah menjadi warga begara asing. Di sini termasuk warga yang bekerja dan pelajar Indonesia yang sedang kuliah di luar negeri. Berdasarkan catatan Dino terdapat sekitar 3,5 juta orang WNI di luar negeri. Namun faktanya jumlah diaspora Indonesia jauh lebih banyak … Read more


Diet Berita Negatif

Posted: July 10th 2012

Bernas Jogja, 10 Juli 2012 Oleh Yohanes Widodo Di media sosial dan dunia maya saya sering menemukan komentar bahkan umpatan tentang berita media yang didominasi oleh hal-hal negatif yang membuat orang muak. Sejak bangun hingga menjelang tidur, berita dan tayangan televisi tentang korupsi, pembunuhan, penculikan, kasus suap, kecelakaan dan berita negatif lainnya, membombardir ruang-ruang privasi kita. Fenomena tayangan atau berita negatif itu cukup fantastis. Arry Rahmawan (2012) mencatat, perbandingan berita positif dan negatif yang ditayangkan stasiun televise di Indonesia rata-rata 1:11. Satu untuk berita positif dan 11 untuk berita negatif. Sebagian besar koran pun sering menampilkan headline sensasional dan mengerikan. Sajian atau tayangan media nefatif cenderung menyebarkan pesimisme, menguatkan ketidakpastian, dan menurunkan rasa percaya diri. Orang pun merindukan berita atau cerita yang positif dan mencerahkan.



© 2018 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php