blogmasboi

Blog Archives


Kasus Terbesar Adalah Pelanggaran HAM

Posted: January 21st 2008

Jika sebelumnya, komentar Masboi tentang Pak Harto dimuat oleh Rakyat Merdeka edisi online, Senin (21/01) ini giliran komentar Masboi digabung dengan komentar kawan Masboi, Saurlin P. Siagian, mahasiswa ISS Denhaag, muncul di Rakyat Merdeka edisi cetak. Berhubung website ini terbatas untuk yang berlangganan (harus membayar), maka isi selengkapnya Masboi kutipkan di sini.   Rakyat Merdeka, Senin, 21 Januari 2008, 05:14:58 Kasus Terbesar Adalah Pelanggaran HAM Mahasiswa Indonesia di Belanda Ngomongin Soeharto MAHASISWA Indonesia di Belanda tak mau ketinggalan membicarakan kasus hukum yang membelit Soeharto. Nuan­sa inilah yang ditangkap kores­ponden Rakyat Merdeka di ne­geri kincir angin itu. Yohanes Widodo, mahasiswa Universitas Wageningen misal­nya. Dia berpendapat, proses hu­kum terhadap Soeharto harus d­ilanjutkan. “Tapi secara moral, Soeharto harus tetap diakui seba­gai pemimpin kita,” kata Wakil Ketua Persatuan Pelajar Indone­sia (PPI) Wageningen ini. Melihat perkembangan kondisi Soeharto, Yohanes membedakan kasus Soeharto dari sisi hukum dan moral. “Secara hukum, se­tiap warga negara termasuk Soe­harto harus … Read more


Masboi Dikutip Koran

Posted: January 14th 2008

Sesama bis kota dilarang saling mendahului. Tetapi, sesama wartawan boleh (dan tidak dilarang) saling mewawancarai. Sebagai seorang jurnalis dan reporter radio, sesuatu hal yang biasa dan lumrah jika Masboi mewawancarai narasumber dan membuat berita. Kali ini giliran Masboi yang diwawancarai dan dikutip sebagai narasumber. Nama Masboi muncul di koran Rakyat Merdeka online. Berita lengkapnya bisa diklik di sini. Bagaimana ceritanya, Masboi kok bisa dikutip koran online? Hari Sabtu (13/01) kemarin Bung A. Supardi Adiwijaya, koresponden Rakyat Merdeka di Belanda mengirim email ke Masboi dan meminta komentar tentang perkembang kasus Pak Harto. Nah, enaknya jadi wartawan di jaman internet, si wartawan, tidak perlu datang dan ketemu Masboi untuk wawancara dan menyorongkan tape recorder. Cukup pertanyaan dikirim via email, kemudian di-reply, dan jadilah berita. Simpel, kan? Satu hal penting adalah: Masboi harus banyak belajar dan harus tetap meng-update berita-berita di tanah air. Supaya ketika menjadi narasumber, komentar atau pendapat Masboi tidak terlalu … Read more


Menyoal Pendidikan Jurnalisme (3)

Posted: November 19th 2007

Jika Thomas Hanitzsch menyoroti pendidikan jurnalisme cetak, maka pendidikan jurnalisme penyiaran jauh lebih minim lagi, dan lebih memprihatinkan. Menurut Eric Sasono, trainer jurnalisme radio dari Internews Indonesia, dengan pertumbuhan media penyiaran seperti sekarang, ternyata pemasoknya masih sangat minim. Selain Universitas Indonesia, UGM dan UNPAD, tak banyak perguruan tinggi yang punya pendidikan untuk penyiaran – terutama radio. Dan masalah ketersambungan dengan kebutuhan industrinya juga masih persoalan sangat besar. 


Menyoal Pendidikan Jurnalisme (2)

Posted: November 19th 2007

Salah satu penelitian tentang pendidikan jurnalisme di Indonesia dilakukan oleh Thomas Hanitzsch, seorang kandidat PhD dari Universitas Ilmenau, Jerman, yang pernah kuliah Bahasa Indonesia di Universitas Gadjah Mada. Andreas Harsono (1994) mengupas tulisan Hanitzsch berjudul “Rethinking Journalism Education in Indonesia: Nine Theses,” yang diterbitkan jurnal Mediator terbitan Universitas Islam Bandung (vol. 2 no. 1 tahun 2001). Menurut Hanitzsch, mendefinisikan mutu dalam jurnalisme, dengan mengutip ilmuwan Jerman, Stefan Russ-Mohl, “Ibaratnya memaku puding ke tembok.” Ia sesuatu yang sia-sia.  


Menyoal Pendidikan Jurnalisme (1)

Posted: November 19th 2007

“Saya selalu kesulitan untuk mencari fresh graduate yang memiliki kriteria, wawasan dan kemampuan seperti yang saya inginkan.”  (Yudha Kartohadiprodjo, Editor-in-Chief Men’s Health Indonesia) SOROTAN terhadap pers dan wartawan tak kunjung henti. Bak lagu ‘benci tapi rindu’: pers dan wartawan dicinta namun (terus) digugat. Kebebasan pers yang diagung-agungkan oleh  pers justru ditanggapi sebagian masyarakat dengan kecaman dan hujatan. Pers sering dituduh tidak lagi mengindahkan kode etik, mengabaikan prinsip keseimbangan dan keakuratan, dan cenderung mengembangkan sajian informasi konflik, kekerasan, dan pornografi.


Menyongsong Era Televisi Lokal

Posted: August 25th 2007

Saat ini sedikitnya ada 19 stasiun televisi lokal yang sudah resmi tergabung dalam Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (KCM, 26/7/2006). Menyusul daerah-daerah lain, tak lama lagi televisi lokal akan mewarnai bumi Sriwijaya. Kehadiran televisi lokal ini di Palembang akan meramaikan ‘dunia persilatan’ lembaga penyiaran di Sumatera Selatan, yang kini diramaikan oleh 10 stasiun televisi nasional dan TVRI Sumsel, serta beberapa televisi lokal yang telah mengajukan ijin dan diproses oleh Komisi Penyiraan Indonesia Daerah (KPID) Sumsel. Era televisi lokal di Palembang patut disambut gembira dan apresiasi.


Banjir Akronim vs Banjir Lumpur

Posted: October 17th 2006

Di negeri ini, akronim dan singkatan lahir seperti anak marmut. Setiap hari ada akronim baru, ada singkatan baru. Kalau diamati, singkatan dan akronim ternyata lahir dari rahim ibunya yang bernama masalah. Setiap kali ada masalah, tak lama kemudian lahir akronim baru atau singkatan baru. Masalah krisis berkepanjangan melahirkan akronim gakin (keluarga miskin) dan raskin (beras untuk rakyat miskin). Masalah lumpur panas di Sidoharjo melahirkan akronim baru: lusi. Akronim telah membanjiri pers kita. Atmakusumah Astraatmajaya, pengajar Lembaga Pers Dr. Soetomo Jakarta, menemukan sedikitnya 60 akronim di tiga koran Sumatera Ekspres, Sriwijaya Post, dan Berita Pagi terbitan (3/4/2006). Sejumlah singkatan dan akronim dimuat tanpa dilengkapi kepanjangannya; atau kepanjangannya baru dijumpai jauh di alinea di bawahnya. Wartawan jarang yang rajin mencantumkan kepanjangan dari singkatan atau akronim yang sudah umum dikenal.



© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php