blogmasboi

“Presiden” Tidur di Bawah Tangga Bandara

Posted: November 11th 2008

Bandara Frankfurt terminal 1B, Minggu (9/11/2008) sore. Kesibukan masih terasa di Bandara Frankfurt, namun kepanikan lelaki itu berangsur mereda. Ia sudah bisa menerima kondisi bahwa pesawat itu sudah pergi dan tak mungkin dikejar lagi. Setelah merenung dan berdiam cukup lama, lelaki itu berusaha mencari informasi dimana orang-orang penunggu counter atau loket Kuwait Airways?

Seorang mbak di counter Lufthansa menjawab, setelah pesawat berangkat mereka biasanya langsung menghilang. Lelaki itu pun mencoba menanyakan harga tiket Lufthansa tujuan Jakarta. Setelah dijawab oleh si mbak, lelaki itu tersenyum kecut dan langsung beringsut mundur. Si mbak di counter Lufthansa menyebut angka: 2000 Euro. Hmmm…. tak terbeli!

Masalah berikutnya, bagaimana menghubungi orang di rumah? Mereka tahunya, lelaki itu sudah berangkat pukul 14.30. Sementara pulsa handphone belum terisi. Kiriman dari seorang sahabat belum bisa masuk. Jalan satu-satunya lewat internet. Bingung juga, bandara segede Frankfurt, kok tidak ada warnet atau wifi.

Lelaki itu bertanya kepada si mbak di bagian informasi. Si mbak menunjukkan ada internet point di lantai bawah. Lelaki itu langsung turun. Tempatnya kecil. Di situ ada beberapa pengunjung yang asik bermain rolet. Di ujung ada satu buah komputer. Tampilannya ndeso, tanpa Windows. Untuk menghidupkan internet, harus memasukkan koin. Untuk setiap lima menit, harus memasukkan koin 1 Euro. “Bah, mahal amat! Kalau di Indonesia bisa dapat tiga jam,” pikir lelaki itu.

Setelah memasukkan 2 koin Euro, lelaki itu mengaktifkan YM. Langsung disambut seorang kawan dari kampung Wage. Lelaki itu bercerita kepada si teman tentang kondisinya, dan meminta tolong untuk mengirim sms ke orang rumah. Selang beberapa saat, ada kawan-kawan lain yang langsung menanyakan kabar. Rupanya, kabar itu sudah beredar.

Seorang gadis pengirim pulsa langsung memandu cara mengisi pulsa kartu Telfort via YM. “Call 1244, pencet 3 dan masukkan pin diakhiri tanda #,” katanya. Berhasil! Padahal lelaki itu sudah mencoba berkali-kali kereta, namun tidak berhasil. Mungkin karena panik. Akhirnya kontak dengan orang rumah berhasil dilakukan, dan yang pasti mereka shock.

Lima koin Euro habis dalam sekejap. Beberapa sms masuk menanyakan keadaan posisi. Lelaki itu menjawab: masih di bandara. Hingga hari Minggu (09/11/2008) sore masih tidak ada titik terang, termasuk mau tidur di mana malam ini.

Lelaki itu mulai keliling mencari-cari tempat yang aman untuk mojok dan tidur. Untunglah, sebelumnya lelaki itu sudah terbiasa dan punya bakat jadi kere atau hidup ngere. Dia bisa tidur di mana saja. Dia pernah tidur di alun-alun Jogja, di pinggir jalan. Tahun 1997, lelaki itu pernah tidur di atas pasir Pantai Kuta di Bali. Ketika bangun, dompetnya ada di sampingnya. Setelah dibuka, hanya tersisa koin seratus perak, namun kartu mahasiswa dan kertas kopelan masih lengkap.

***

Minggu (26/10/2008) lelaki itu dan dua sahabat dari kampung Wage yang hadir sebagai pembicara di sebuah konferensi di Denhaag harus tidur di Station Kereta Api Utrecht Central. Setelah selesai konferensi, mereka bertiga mengejar kereta api terakhir jurusan Denhaag-Utrecht Central. Kereta masuk stasiun Utrecht pukul 01.00 dini hari. Mereka harus menunggu kereta selanjutnya jurusan Nijmegen dan berhenti di stasiun Ede Wageningen. Apesnya, jam segitu, tidak ada lagi bis yang masuk ke Kampung Wage.

Akhirnya mereka memutuskan tinggal di stasiun, karena untuk jalan kaki butuh waktu sekitar satu jam. Lagi pula, dingin malam itu benar-benar menyiksa. Mereka mencari tempat untuk tidur. Mereka menemukan sebuah keset di depan sebuah toko. Mereka coba berbaring beberapa saat tapi angin yang dingin menerpa, membuat mereka tidak tahan. Terus mereka mencari tempat lain. Ketemu sebuah karpet besar di gang yang gelap dan lumayan hangat karena tidak ada angin.

Baru beberapa menit merebahkan badan dan memejamkan mata, datang empat orang polisi londo dan langsung mengusir mereka. Akhirnya mereka tidur sambil duduk di kursi, sementara itu hari-hari pertama musim dingin. Mereka menggigil, gigi bergemerutuk. Apa polisi Belanda memang terbiasa jadi alat penjajah, ya? Sehingga mereka langsung mengusir tiga orang Inlander yang malam itu kedinginan?

***

Setelah cukup lama berkeliling sambil mendorong koper dan menenteng tas ransel, lelaki itu menemukan tempat yang cukup nyaman dan strategis: di bawah tangga. Tempat itu agak gelap dan tidak dilalui orang. Setelah melirik ke kiri-kanan, lelaki itu lalu menyorong kopernya dan masuk ke bawah tangga itu. Ia menggelar jaketnya, dan merebahkan diri berbantalkan tas ranselnya.

Beberapa sms dan miscall masuk. Lelaki itu menjawab: “Baik-baik saja. Sekarang tidur di bandara, tepatnya di bawah tangga.” Karena malas menjawab sms, dan untuk menghemat baterai, lelaki itu mematikan handhonenya.

Udara dingin menerpa kulit dan punggung yang sedikit terbuka. Jaket tipis itu juga tidak bisa menghambat dinginnya lantai. Lelaki itu tetap berusaha memejamkan mata, sambil menertawai pengalamannya hari ini. ”Kuwait Airline itu belum tahu, kalau lelaki yang ditinggal adalah pejabat teras PPI Belanda. Mungkin 10-20 tahun lagi, lelaki itu akan menjadi “Presiden”. Siapa tahu?” Lelaki itu terlelap sambil menyisakan senyum kecil. Ah, dasar pemimpi!

Paginya, lelaki itu dibangunkan oleh dua polisi berseragam. Lelaki itu langsung kucek-kucek mata dan melihat jam. “Wah, jam 09.00. Aku ternyata bisa tidur pulas di bandara ini.” Si polisi menanyakan passport dan tiket pesawat. Lelaki itu memberikan passport dan tiket sambil mengatakan dirinya ketinggalan pesawat. Dua polisi itu membuka passport dan tiket, kemudian memberikan kembali ke lelaki itu.

“Ah, rupanya polisi Jerman lebih baik dan manusiawi. Tidak seperti polisi Londo,” batin si lelaki.

Dia akhirnya bangun, mendorong koper dan menenteng tas ransel menuju toilet untuk cuci muka. Setelah itu, mencari sarapan. Di toko roti, lelaki itu membeli dua buah roti, ternyata kerasnya minta ampun. Yah, lumayanlah, buat pengganjal perut. (Bersambung)


10 responses to ““Presiden” Tidur di Bawah Tangga Bandara”

  1. noverika says:

    hallo mas, msh ingetkah? aku pindahan ke mampir kalo sempet. Kenalin sama Nonie dong!

  2. Bambang says:

    Ceritanya menarik…..
    salam wong linggau mang……bapak aku dulu Danramil Merasi 1994-1996 (Pak Sukiran) kalu dak kenal mamang ini…

  3. BIN says:

    lagi hanimun…

  4. Arten says:

    sekarang lelaki itu telah enak-enak makan donut + ngopi di J.Co.. hehe..

  5. fxekobudi says:

    Saya tunggu kelanjutannya Mas..:D

  6. king says:

    hahaaa….
    seperti biasa.

  7. Wah jadi tambah penasaran nih..
    gimana akhirnya, tapi kelihatannya akhirnya si Lelaki dapat koneksi internet yang cukup ya..

    trims.

  8. ivn says:

    jadi kapan pulangnya mas??

  9. arie says:

    yang tabah ya mas…….
    aku juga pernah beberapa kali ketinggalan pesawat tapi untungnya gak nyampe kemah di bandara.

  10. Nike says:

    Sekarang dah dimana jadi Mas?

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php