blogmasboi

Satu Tahun di Belanda (3)

Posted: August 23rd 2008

Masboi.com kembali menurunkan wawancara tentang pengalaman Masboi selama satu tahun di Belanda. Banyak sisi-sisi kehidupan yang berbeda dan menarik dari Belanda. Ada baik atau bagus, ada yang tidak. Hal-hal yang baik silakan diambil dan ditiru, hal-hal jelek ya mohon dibuang. Weleh, opo to iki? Oke, lanjut saja, deh! Selamat menikmati.

satria berkendang

Lanjut lagi, ya Mas! Emang, nggak capek ngomong terus?

Heh, siapa yang ngomong? Aku kan ngetik?

O, iya ding! Terus nanya apa lagi nih, Mas?

Lho, kok malah nanya saya. Kreatif, dong! Makanya, siapa suruh jadi wartawan. Emang enak?

Masboi sering menggendong buntelan merah-kuning-hijau? Apaan sih itu, Mas? Tas ransel, ya?

Tas ransel dari Hongkong! Itu namanya djembe, alat musik perkusi asal Afrika.. Semacam ketipung atau kendang. Alat musik itu sering saya mainkan di beberapa kafe di Wageningen dan beberapa acara informal, seperti pesta ulang tahun bersama Masboi band — MAsboi dan beberapa teman asal Philipine. Kita juga pernah main di Junusshoff Theater, Wageningen, ditonton bule-bule di sini.

Asik dong, Mas?

Yah, lumayan, lah. Sementara ini sih sebatas senang-senang aja, buat nyari teman. Rencananya, kapan-kapan Masboi mau mengamen, buat cari tambahan recehan Euro.  Tapi mungkin bukan di Wageningen.

Nggak malu, Mas?

Ngapain malu? Nggak ada yang kenal juga kok.

Masboi sering jalan-jalan, ya?

Sering dong. Hampir semua kota besar sudah Masboi datangi, meskipun sekedar mampir di stasiun-nya doang, dan foto di depan stasiun. Kalo ke luar negeri, baru ke Italia — ke Milan, Venice, dan Rome, lalu ke Berlin di Jerman.

Masboi paling senang kemana?

Ke Amsterdam.

Kenapa? Karena ada Red Light District, ya?

Hehehe, tau aja lu!

Memang apa sih yang menarik?

Red Light District itu berada persis di sebelah gereja. Kesimpulan saya: surga dan neraka di Belanda itu tetanggaan, hehehe. Kadang saya membayangkan, kalau di Indonesia pasti sudah digrebeg sama FPI.

Asiknya lagi, bisa melihat berbagai bentuk wanita berbikini dari segala penjuru dunia, dengan aneka warna kulit. Tapi, sayangnya belum ketemu yang Indonesianya. Entar kalau ketemu, saya kasih tahu. Tenang saja.

Selama di Belanda, apa yang nggak suka?

Winter! Rasanya tersiksa banget pas winter. Pakaian sudah dobel-dobel, berjaket, sarung tangan, tutup kepala, tetap aja dinginnya kayak dicucuk-cucuk pakai jarum. Lagian siangnya cepat banget. Jam lima sore sudah gelap. Kalau kuliah: pergi pagi masih gelap, pulang sore sudah gelap lagi. Pohon-pohon gundul tanpa daun, sehari di dunia lain, tanpa kehidupan. Bisa dibilang, sepanas-panasnya Indonesia, rasanya lebih tersiksa kedinginan di Belanda. Bener deh! Berbahagialah kita yang tidak punya winter.

Tapi setelah musim semi tiba, suasana langsung berubah. Dunia menjadi bersemi, hijau dan warna-warni. Hidup menjadi tambah romantis dan melankolis. Lebih asyik lagi pas summer. Hidup jadi lebih bergairah karena pemandangan segar ada dimana-mana. Di rerumputan hijau, terlihat gadis-gadis berbikini berjemur menantang matahari, serta pasangan-pasangan yang bergumul dan berasyik-masyuk. Semua berjalan begitu saja, tidak ada yang mengganggu atau menggubris. Tidak ada polisi pamong praja (Satpol PP) yang mengintai, hehehe…

Wah, ceritanya kok parah begitu sih, Mas? Masboi kan mahasiswa, mbok cerita yang ilmiah-intelektual sedikit!

Siap komandan! Cerita tentang kuliah: sebagai mahasiswa yang benar, saya telah menjalani kehidupan mahasiswa yang sesungguhnya. Kuliah saya ikuti, ujian saya ikuti, re-exam juga pasti saya ikuti. Lengkap kan? Tidak banyak, lho, mahasiswa yang menjalani ritual selengkap saya. Jadi sangat disayangkan, jika program kampus itu ada yang dilewatkan!

Halah, re-exam saja kok bangga!

Ya, harus bangga dong! Dengan adanya re-exam berarti lebih mendalami ilmu yang sudah dipelajari. Jadi re-exam itu salah satu bentuk pemdalaman iman, eh ilmu.

Kayaknya tambah ngawur, Masboi ini.

Ya, sudah, aku juga sudah capek. Biar lebih bosan lagi, sekarang kita lihat video “Studi di Belanda”. Intinya sih sama, dengan yang kita bicarakan, tapi yang tentang red light jelas nggak ada dong. Tapi, lumayanlah, kamu bisa nonton langsung Masboi ‘yang guanteng dam baik hati’ ini (Novi, 2008).

Huek.. huek…. muntah deh!

[youtube]http://www.youtube.com/watch?v=ZedW5Z0lqHY[/youtube]


2 responses to “Satu Tahun di Belanda (3)”

  1. roby says:

    kreatif.he he he

  2. jim says:

    Salut sama masboi..
    sampai menitikkan air mata..

Artikel lainnya

Satu Tahun di Belanda (2)

Go to post

Habis Summer Terbitlah Kuliah

Go to post
© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php