blogmasboi

Sepak Bola, Tenis, dan Cabe

Posted: August 4th 2008

Ada nuansa khas dari PPI Wageningen (PPIW) yang boleh dibanggakan. Partisipasi, kreativitas, dan semangat juangnya layak diacungi jempol.

Timnas sepak bola PPIW di depan halte bus Hilversum

Timnas sepak bola PPIW kembali merumput di ajang Piala Proklamasi yang digelar di lapangan sepak bola Hilversum, Sabtu (2/8/2008). Kendati ditinggalkan beberapa pemain utamanya yang sedang merumput di luar negeri, timnas PPIW masih berani menguji kekuatan.

Timnas PPIW yang dijuluki ‘tim uzur’ kali ini hanya diperkuat tujuh pemain ‘sisa laskar pajang’ terdiri dari Jay (Kapten), Arfi, Firdaus, Hadi, Masboi, Reza, dan Jiman. Untungnya ada transfer pemain asal negeri jiran yakni Edi dan Asnan. Dengan pemain delapan orang, praktis hanya tersedia satu pemain cadangan. But the show must go on!

Pertandingan pertama, PPI W berhadapan dengan PPI Amsterdam. Ini pertemuan kedua, setelah sebelumnya bertemu di Groningen Cup. Kondisi pemaing yang muda-muda dan skill yang lebih, membuat PPI Amsterdam menguasai pertandingan.

Strategi ‘gropyokan’ dan filosofi ‘yang penting enjoy’ yang diterapkan oleh Kapten Jay ternyata tidak berhasil membuahkan gol. Setelah dua kali 15 menit pada saat peluit dibunyikan, hasil akhir 5-0 untuk PPI Amsterdam. “Ah, cuma 5-0. Kita ke sini kan punya bisnis lain,” kata Kapten Jay.

Pertandingan berikutnya PPIW bertemu dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Belanda. Dua kali pertemuan sebelumnya, PPIW berhasil mengalahkan PPNI. Namun kali ini, PPIW harus menerima kekalahan tanpa perlawanan 4-0.

Pertantingan ketiga, PPIW bertemu dengan PPME Denhaag. Tim ini beranggotakan anak-anak dan remaja Indonesia kelahiran Belanda dan dimeriahkan oleh supporter, terdiri dari bapak-bapak, ibu-ibu dan remaja . Ada satu pemain muda fenomenal dari tim ini, Budi, sekitar sembilan tahun. Setiap kali pemain PPIW merebut bola dari Budi, ibu-ibu berteriak, “Budi… Budi… Budi… “ Ibu yang lain menimpali, “Pak, itu anak kecil lho!” Menghadapi PPME Denhaag, PPIW bisa sedikit memberikan perlawanan dengan memasukkan dua gol meski hasil akhirnya tetap kalah 6-2.

Timnas PPIW sedang rehat

Menteri Olah Raga PPIW Reza Yamani menilai, PPIW sudah bermain cukup baik. “Namun karena bermain dalam satu grup dengan lawan-lawan yang cukup tangguh, mengakibatkan PPI-W tidak lolos ke semifinal,” ujar Reza. Ia menambahkan, bermain dengan cuaca yang cukup panas dan pasukan yang pas-pasan, tidak adanya pemain cadangan menjadikan hasil kurang maksimal.

Menurutnya, segenap upaya dan kerjasama tim sudah dibangun untuk mengempur pertahanan lawan. “Faktor stamina dan strategi bermain yang padu menjadi faktor utama keunggulan tim-tim lawan. Hasil pertandingan kemarin menjadikan pelajaran bagi timnas PPIW. Semoga ke depan timnas PPIW yang kita cintai lebih baik dan berjaya,” tambahnya.

Medali Emas

Meski kalah di lapangan sepak bola, pada pertadingan tennis yang digelar KBRI Denhaag, timnas tenis PPIW berhasil menggondol medali emas.

Pada pertandingan final yang digelar Minggu (3/8/2008) di De Bataf indoor stadium, Madurodam, pasangan ganda putra Hadiyanto dan Muhmmad Zainy berhasil mencuri kemenangan atas pasangan tangguh Imran-Lilik (KBRI) dengan skor 7-6 dan 6-3. Medali emas juga diraih oleh Oheo dengan menundukkan Rudi Khaidir (KBRI) dengan skor (6-3,6-3). Para juara berhak atas medali emas dan uang tunai 50E.

Imran. Jay, Hadi dan Lilik

Wakil Ketua PPIW Yohanes Widodo dan Divisi Sosial Budaya Yanse Arfinando ikut hadir dalam pertandingan. Tak lupa, suporter setia tim PPIW Mbak Adi dan Adel turut menyaksikan langsung pertandingan ini.

“Semoga kemenangan ini akan menjadi penyemangat untuk kita semua di cabang-cabang olah raga lainnya dan di bidang-bidang lainnya,” ujar Wakil Mempora Ahmad Kamarulzaman. (Berita tentang kemenangan tim tenis PPIW ini juga dimuat di Detikcom).

Bisnis Cabe

Di sela-sela pertandingan Piala Proklamasi PPIW rupaya punya bisnis menarik, yakni jualan cabe atau lombok. Dari kampung Wageningen, tim PPIW membawa empat kantung cabe berbagai jenis hasil tanaman Pak Firdaus di green house.

Selesai pertandingan pertama, Pak Jay dan Masboi bergabung dengan ibu-ibu penjual makanan dan langsung menggelar cabe untuk dijual. Layaknya ibu-ibu di Pasar Johar yang menjual cabe keriting dan kol gepeng, mereka menyajikan beberapa tumpuk ala ‘kira-kira’, tanpa menghitung atau bantuan timbangan. Mereka langsung pasang harga: satu tumpuk satu Euro.

Masboi jualan cabe

Melihat cabe yang segar, beberapa Ibu langsung datang untuk membeli. Termasuk Pak Yudi dan Ibu dari KBRI Denhaag. “Wah, ini bentuk kreatifitas PPI Wageningen untuk meng-generate dana, ya?”ujar Pak Yudi.

Menurut Wakil Ketua PPIW Yohanes Widodo, kendati PPIW kalah bermain bola, namun keberhasilan menjual cabe empat kantong adalah keberhasilan tersendiri.

“Ini menambah kebanggaan PPIW yang makin menunjukkan eksitstensinya di bidang olah raga, bisnis dan wirausaha serta seni suara. PPIW adalah satu-satunya peserta yang mendaftar untuk Lomba Paduan Suara yang diadakan KBRI. Ini merupakan prestasi dan gebrakan yang patut dibanggakan,” ujarnya. [oyedemello]


10 responses to “Sepak Bola, Tenis, dan Cabe”

  1. Pharmd371 says:

    Very nice site!

  2. Pharme37 says:

    Very nice site! cheap cialis http://apxoiey.com/aoxsvx/4.html

  3. Pharmf314 says:

    Very nice site! [url=http://apxoiey.com/aoxsvx/2.html]cheap cialis[/url]

  4. Pharmd165 says:

    Hello! gkgeddc interesting gkgeddc site!

  5. […] Selain ke luar negeri, Masboi juga sempat jalan-jalan di Belanda. Diawali dengan bertandang ke Stadion Hilversum untuk bertanding sepak bola Piala Proklamasi bersama dengan timnas sepak bola PPIW, 2/8/2008. Meski sepak bolanya kalah, tapi ada pengalaman menyenangkan karena jualan cabenya laku. […]

  6. […] Selain ke luar negeri, Masboi juga sempat jalan-jalan di Belanda. Diawali dengan bertandang ke Stadion Hilversum untuk bertanding sepak bola Piala Proklamasi bersama dengan timnas sepak bola PPIW, 2/8/2008. Meski sepak bolanya kalah, tapi ada pengalaman menyenangkan karena jualan cabenya laku. […]

  7. sigit says:

    jauh-jauh ke Belanda kok cuma jualan cabe Mas hehehe…:p

  8. reza yamani says:

    top..top..masboi..
    ‘Catatan Si Boi’ memberikan warna tersendiri
    Dengan sentuhan ‘Khas’ sang akademisi komunikasi

Artikel lainnya

Piknik Summer ala Wong nDeso

Go to post

Met Ultah, Ny Masboi

Go to post
© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php