the last species

Pencarian Anjing Bernyanyi

Posted: December 7th 2015

rare-singing-dog-spotted-wild_62226_600x450

Anjing papua dikenal juga sebagai anjing pegunungan karena menghuni hutan-hutan pegunungan di papua hingga ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut. Kelebihannya adalah suaranya yang khas. Anjing ini bukannya menggonggong seperti layaknya anjing kampung, tetapi melolong dengan suara yang mengerikan tetapi berirama. Lolongannya bersahut-sahutan seperti lolongan serigala. Tetapi dengan nada-nada tinggi mirip nyanyian paus. Kadang-kadang suaranya mirip suara burung. Tak heran anjing ini mendapat julukan anjing penyanyi. Di alam anjing ini melolong bersama-sama dengan nada yang berbeda mirip paduan suara.Penelitian dengan menggunakan alat Sonogram menunjukkan bahwa pola suaranya sangat berbeda dengan pola suara anjing piaraan lainnya, bahkan anjing liar. Suaranya benar-benar khas. Rupanya selama ribuan tahun terisolir dari dunia luar, membuat anjing ini mengembangkan pola lolongan yang unik. Dan karena anjing ini tak pernah bertemu dengan jenis anjing lainnya, lolongannya dijamin “murni” dari pengaruh asing.

Ciri dari anjing bernyanyi ini adalah tinggi tubuh sekitar 43 sentimeter dan beratnya hanya 11 kilogram. Kepalanya lebih panjang dan berbentuk seperti baji dan telinganya tegak seperti bunga tulip. Ekornya lebat seperti sikat. Tulang pipinya lebar dan moncongnya sempit. Giginya lebih besar daripada gigi anjing biasa. Warna tubuhnya kemerahan dengan garis-garis berwarna putih di bawah dagu, dada, dan ujung kaki dan ekornya. Kakinya pendek dan kecil serta mirip kaki kucing. Anjing ini sangat liar dan pemalu. Sekilas penampilannya mirip rubah. Sendi dan tulang belakang anjing ini sangat luwes yang membuatnya mampu bergerak dengan lincah dan cepat di hutan papua yang lebat dan berbukit-bukit terjal. Mereka sangat lincah. Mereka bisa memanjat layaknya kucing. Di dalam kandang, anjing papua bisa mencapai umur 14 tahun.

Perilaku anjing asal “negeri cenderawasih” ini juga agak berbeda. Anjing adalah binatang sosial dan dalam kelompok anjing terdapat kasta yang ketat. Anjing dominan akan mendominasi kelompok. Anjing di bawahnya akan menunjukkan derajadnya dengan mengambil sikap “merendah”. Dalam istilah dunia binatang dikenal sebagai “submission”. Biasanya sikap ini ditunjukkan dengan kepala menunduk, ekor dilengkungkan dan telinga direbahkan ke belakang. Tetapi anjing papua mempunyai sikap “tunduk” yang berbeda. Anjing kelas bawah saat berjumpa dengan “kalangan atas” akan menggerakkan telinganya ke depan dan keluar. Ini sikap yang tak dikenal di dunia serigala atau anjing manapun di dunia. Saat bermain, anjing papua lebih sering bersikap seperti melakukan pengejaran, baik pada saat berdiri diam atau bergerak. Sementara jenis anjing lainnya lebih suka membungkukkan badannya dan mengoyang ekornya. Anjing papua juga suka membuka mulutnya dan menekannya pada tengkuk dan punggung sebayanya saat bermain. Ini periaku yang tak dijumpai pada jenis anjing lainnya, kecuali pada coyote (sejenis serigala kecil dari Amerika).

Siklus suburnya juga berbeda. Dingo dan serigala hanya mengalami sekali masa subur dalam setahun, sedangkan anjing papua malah bisa mengalami dua atau lebih siklus subur. Menurut penelitian Dr. I. Lehr Brisbin, Jr pada tahun 1987, sebenarnya siklus subur anjing papua betina sama saja dengan jenis anjing lainnya. Perbedaanya, jika selama siklus itu anjing tak hamil atau gagal menemukan jodoh, dalam 4 hingga 12 minggu berikutnya ia akan memasuki siklus subur lagi sehingga masih punya kesempatan hamil. Berbeda dengan anjing piaraan, siklus anjing papua dipengaruhi oleh tanda-tanda alam seperti layaknya anjing liar. Jika selama masa subur itu sang betina berhasil kawin, prosesnya diteruskan dengan masa hamil selama 63 hari. Seekor betina bisa melahirkan 4 hingga 6 ekor bayi di dalam sarang yang dibuat di dalam rongga dalam tanah atau di bawah pohon tumbang dan semak-semak. Bayi-bayinya belum bisa melihat ketika baru dilahirkan. Tetapi bayi-bayi anjing papua tumbuh lebih cepat daripada bayi anjing biasa. Di kebun binatang, mata bayi anjing mulai terbuka pada hari ke 13-15.

Anjing papua tersebar luas di Irian, dari dataran rendah hingga dataran tinggi di Papua hingga negeri tetangganya, Papua Nugini. Di daerah pegunungan yang dingin, rambut-rambut anjing ini tumbuh tebal untuk melindunginya dari udara dingin. Anjing ini juga selincah kucing, dapat mendaki dan menjelajahi karang-karang yang terjal dan daerah terbuka dengan sama baiknya. Awalnya anjing ini sama saja dengan anjing lainnya. Mungkin karena tak ada kucing atau binatang pemangsa lainnya yang mirip kucing, anjing ini akhirnya mencoba beradaptasi mengisi kekurangan itu dengan membentuk tubuhnya laksana kucing. Apalagi makanan juga melimpah. Makanan anjing ini adalah binatang-binatang kecil. Secara alami, tak banyak binatang pemangsa di papua, kecuali kuol sehingga binatang papua terlihat sangat jinak saat pertama kali ditemukan.

Sayangnya tak banyak yang diketahui tentang kehidupan anjing papua. Anjing papua liar mungkin adalah binatang malam atau binatang crepuscular, yaitu binatang yang muncul pada senja dan dini hari ketika suasana sekitarnya remang-remang dan temaram. Buktinya anjing papua pernah diketahui makan kuskus. Kuskus adalah binatang malam. Di temaram malam, mata mereka bersinar hijau, menandakan mata mereka lebih peka terhadap cahaya redup daripada anjing biasa. Mereka juga berburu kasuari, binatang mengerat, burung dan binatang yang terperangkap di dalam jebakan milik pemburu lokal. Seperti kaum pemakan daging lainnya, mereka juga memakan bangkai binatang

Pencarian anjing bernyanyi ini pun jarang dilakukan dikarenakan medan yang sulit untuk dilalui dan juga kurangnya kepedulian dari masyarakat. Pencarian anjing bernyanyi ini pernah dilakukan namun tidak berbuah hasil yang pasti dikarenakan tidak adanya dokumentasi dan juga alat yang memadai. kemudian saya sebagai pencinta alam ingin mencoba membuka tabir baru dengan mencari keberadaan anjing bernyanyi ini dengan akan membuat film dokumenter tentang pencarian anjing khas ini sehingga dapat dipublikasi dan juga dapat diteliti, baik pada morfologi dan anatominya.

Rencana yang akan dilakukan untuk pembuatan film dokumenter ini yang  pertama yaitu akan membuat suatu tim expedisi kusus yang terdiri dari pakar biologi, pecinta alam, dan juga masyarakat setempat. pencarian akan dilakukan pada pegunungan papua barat. kemudian akan bekerjasama dengan beberapa komunitas dan juga badan konservasi yang terkait dan juga pemerintah setempat. lagkah selanjutnya yaitu mencari sponsor untuk mendanai ekspedisi dan pembuatan film dokumenter ini. pada 2 bulan pertama, akan difokuskan pada survei tentang keberadaan anjing bernyanyi ini langsung pada lokasi. Survei dilakukan dengan menanyakan langsung pada saksi yang diperkirakan pernah mendengar atau pun kontak dengan anjing ini. Bulan selanjutnya akan dilakukan pencarian dengan metode jelajah dan juga apabila dimungkingkan menggunakan trap yang dipasang di daerah yang kemungkinan adalah daerah jelajah dari anjing bernyanyi ini. Apabila ditemukan anjing bernyanyi ini, maka akan di pasang alat pelacak dan juga GPS yang dapat menentukan koordinat, daerah jelajah, jumlah sebaran dan juga populasi pada anjing bernyanyi yang terperangkap. Dan juga apa bila ditemukan, akan diambil sampel darahnya untuk dilakukan penelitian tentang anjing bernyanyi ini dilaboratorium. Selama survei dan juga aksi yang dilakukan, akan didokumentasikan sehingga pada akhirnya akan ada output tersendiri yaitu film dokumenter.

Mungkin akan memakan biaya dan waktu yang tak dapat dihitung, namun harus ada langkah yang pasti dalam pencarian hewan ini, agar dapat terungkap dan dapat dikonservasi lebih lanjut.


 


4 responses to “Pencarian Anjing Bernyanyi”

  1. rahelfrida says:

    Ide yang menarik dan kreatif, mungkin dengan metode audiovisual, banyak orang tertarik dan kemudian tergerak untuk bersama-sama melakukan aksi konservasi anjing hutan yang sudah hilang selama 20 tahun ini.. =)

  2. Krisna Dewantara says:

    Baru tau ada jenis anjing ini. Kira-kira apakah sudah ada nama spesiesnya? Kalau belum mungkin bisa bekerjasama dengan lipi untuk identifikasi. Rencana konservasi yang menarik, bisa denga nmudah mengajak semua orang untuk mengenal dan peduli

    • marshalino says:

      Nama ilmiahnya Canis hallstromi… namun masih belum teridentifikasi lebih lanjut.. ada kemungkinan terjadi mutasi gen di alam… terima kasih…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php