the last species

Surga yang hilang

Posted: September 9th 2015

 

download      download (2)

Sesuai dengan janji saya kepada kalian bahwa akan membahas tentang spesies-spesies yang akan punah, maka sekarang saya akan memperkenalkan seekor satwa asli tanah surga. Ya tanah surga, katanya sih surga kecil jatuh kebumi. benar sekali perkiraan kalian yaitu provinsi paling timur indonesia yaitu Papua atau irian jaya. Kalau kita berbicara tentang papua tak bisa lepas dari yang namanya satwa yang satu ini, yaitu, cendrawasih. Burung cendrawasih merupakan anggota famili Paradisaeidae dari ordo paserifformes. Mereka ditemukan di Indonesia timur, pulau-pulau selat Torres, papua nugini, dan Australia timur. Burung anggota keluarga ini dikenal karena bulu burung jantan pada banyak jenisnya, terutama bulu yang sangat memanjang dan rumit yang tumbuh dari paruh, sayap atau kepalanya.

Banyak jenis mempunyai ritual kawin yang rumit, dengan sistem kawin jenis-jenis Paradisaea adalah burung-burung jantan berkumpul untuk bersaing memperlihatkan keelokannya pada burung betina agar dapat kawin. Sementara jenis lain seperti jenis-jenis cicinurus dan Parotia memiliki tari perkawinan yang beraturan. Jumlah telurnya agak kurang pasti. Pada jenis besar, mungkin hampir selalu satu telur. Jenis kecil dapat menghasilkan sebanyak 2-3 telur (Mackay 1990).

download (1)

Namun kita akan lebih fokus membahas tentang salah satu jenis cendrawasih yang hampir punah yaitu cendrawasih goldi dengan nama ilmiah yaitu Paradisaea decora. Cenderawasih goldi adalah burung cendrawasih berukuran besar dengan panjang 33 cm dan berwarna cokelat zaitun. Burung jantan mempunya dada berbulu warna kuning dan hijau tua dengan dada abu-abu keunguan, iris berwarna kuning dan paruh, mulut serta kakinya berwarna abu-abu. Badannya dihiasi bulu hias pinggang berwarna merah tua dan dua bulu panjang mirip kawat. Burung jantannya berbeda dari jenis Paradisaea yang lain karena bulu dadanya yang berwarna abu-abu keunguan. Burung betina tidak berbulu hias dan berbulu warna cokelat zaitun dan bawahnya cokelat jingga. Perilaku dari cendarwasih goldie ini yaitu pejantan cendrawasih goldie secara teratur makan di bagian bawah hutan, bahkan di permukaan tanah.  Hutan perbukitan, tepi hutan dan hutan Persebaran dari cendrawasih goldie sendiri terbatas di dua pulau di kelompok pulau papua timur, Biak dan kepulauan Biak numfor, di perbukitan pada ketinggian dari 300 m sampai paling rendah 600 m.

Cenderawasih goldi yang endemik di papua ini, tersebar di pulau biak dan kepulauan biak numfor, kepulauan Papua sebelah timur. Makanan utama burung ini adalah buah-buahan dan biji- bijian hutan. Perilaku dari cendarwasih goldie ini yaitu pejantan cendrawasih goldie secara teratur makan di bagian bawah hutan, bahkan di permukaan tanah.  Hutan perbukitan, tepi hutan dan hutan. Persebaran dari cendrawasih goldie sendiri terbatas di dua pulau di kelompok pulau papua timur, Biak dan kepulauan Biak numfor, di perbukitan pada ketinggian dari 300 m sampai paling rendah 600 m. Namanya diambil berdasarkan nama seorang kolektor dari Skotlandia, Andrew Goldie, orang Eropa pertama yang menemukannya pada tahun 1882.

images (1)

International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources atau biasa disingkat sebagai IUCN adalah sebuah organisasi international yang mengatur tentang berbagai topik yang membahas tentang konservasi atau perlindungan sumber daya alam dan hutan. IUCN secara rutin membuat kategori status konservasi yang disebut sebagai IUCN Red List of Threatened Species (IUCN Red List) yang merupakan daftar status kelangkaan untuk spesies yang terancam kepunahan. Kriteria yang dibuat untuk mengevaluasi kelangkaan spesies ini juga sudah diatur secara khusus dan telah dipercaya sebagai panduan yang memiliki pengaruh terbesar dalam bidang konservasi. Pada burung cendrawasih goldie ini dikarena hilangnya habitat, penyebaran yang terbatas dan diburu berlebihan di beberapa daerah, Cenderawasih goldi dievaluasi Hampir Terancam pada IUCN red list tentang jenis terancam.

 

 

images

 

Reverensi:

Matias Beno dan Henderite. 2009. Pengetahuan Konservasi Tradisional Burung Endemik pada Masyarakat Kampung Soaib di Distrik Kemtuk Kabupaten Jayapura. Jurnal Biologi Papua. 1(1): 15 – 19.

Mackay, Margaret D. 1990. The Egg of WahnesnParotia wahnesi (paradisaeidae). Emu. 90(4): 269

 


9 responses to “Surga yang hilang”

  1. septiapuspit says:

    nah bagus nih blognya nambah wawasan banget lah. mau tanya ya, pelestarian di luar habitat kira2 bisa nggak ya? kalo nggak bisa kenapa dan kalo bisa kenapa juga? jelasin oke!

    • marshalino says:

      ow… sebenarnya bisa dikembangin diluar habitatnya, namun kendalanya dikarenakan cendrawasih gondienya sendiri yang sanagt sulit untuk ditemukan.. soo agak susah untuk menangkapnya..

  2. nicolauslibriesta says:

    brapa lama siklus hidup dari burung tersebut?

    • marshalino says:

      klu siklus hidunya sih gk terlalu lama, sekitar 5 tahunan, biasanya untuk janntannya pada musim hampir panas sudah mulai birahi, sehingga pada waktu musim panas telur dapat dierami betinyanya

  3. Apakah perkawinan yang rumit pada spesies ini dapat menyebabkan salah saatu faktor kepunahan pada spesies ini?

    • marshalino says:

      untuk prilaku kawin sepertinya tidak berpengaruh terhadap kepunahan cendrawasih goldi… yang menjadi penyebab utamanya ialah strategi reproduksi dari cendrawasi goldie itu sendiri, karena untuk satu tahun saja hanya menghasilkan 2 telur saja. ditambah dengan perburuan liar dan perusakan lahan menambah faktor kepunahan cendrawasih goldie tersebut.

  4. Rahel Frida says:

    Sebenarnya apa yang menyebabkan tingkat perburuan terhadap burung jenis ini menjadi tinggi? Apa karna ke khasan bulu yang dimiliki burung ini?

  5. alphonsusyospy says:

    wawasan yang sangat informatif.. semoga kelestarian spesies ini tetap terjaga..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php