BIOLOGI

aku Ironwood bukan ironman

Posted: October 31st 2016

Pohon Ulin (Eusideroxylon zwageri) atau disebut juga dengan bulian atau kayu besi (ironwood) adalah pohon berkayu dan merupakan tanaman endemik khas Kalimantan. Kayu ulin bersifat kuat dan tahan lama. Pohon Ulin merupakan salah satu jenis kayu hutan tropika basah yang tumbuh secara alami di wilayah Kalimantan.

pohon-ulin

Gambar 1. Pohon Ulin.

Klasifikasi Ilmiah :

Kerajaan          :   Plantae

Filum               : Tracheophyta

Class                : Magnoliopsida

Ordo               :   Laurales

Famili              :   Lauraceae

Genus              :   Eusideroxylon

Spesies            :   Eusideroxylon zwageri

Deskripsi

Tanaman Ulin pada umumnya memiliki diameter batang antara 60-120 cm, sedangkan tinggi batang pada umumnya berkisar antara 20-30 m. Batang tanaman Ulin biasanya tumbuh lurus, tajuk pohon tanaman Ulin berbentuk bulat, rapat dan melebar, susunan daun Ulin beselang- seling, daun muda berwarna merah dan setelah tua berwarna hijau.

kayu-ulin

Gambar 2. Tanaman Ulin.

Perkecambahan biji Ulin membutuhkan waktu cukup lama sekitar 6-12 bulan dengan persentase keberhasilan relatif rendah, produksi. Biji Ulin sangat keras sehingga sangat sulit tumbuh dan buah tiap pohon umumnya juga sedikit. Penyebaran permudaan alam secara umum cenderung mengelompok. Pohon Ulin tumbuh di dataran rendah primer dan hutan sekunder sampai dengan ketinggian 500m. biji Ulin lebih suka ditiriskan baik tanah, tanah liat berpasir ke tanah liat dan batu kapur.

buah-pohon-ulin

Gambar 3. Biji Ulin.

Bioekologi

Pohon Ulin termasuk dalam family Lauraceae, dengan nama lain ironwood (Inggris), belian (Malaysia), tambulian (Philifina) Persyaratan tumbuhnya di daerah yang memiliki curah hujan dengan tipe iklim A dan B dengan intensitas curah hujan 2500 mm-4000 mm/th dengan ketinggian tempat 5 m- 400m dpl. Jenis ini dapat tumbuh di tanah berpasir atau tanah liat. Ulin mampu tumbuh pada tanah yang tingkat kesuburannya rendah (pH, KTK, KB, N, P, K, C/N, K, Ca, Mg, Na rendah dan kandungan Al yang tinggi).

Ulin biasanya tumbuh secara menyebar atau mengelompok dengan kanopi dominan dan juga ditemui sebagai tegakan tersendiri. Ulin biasanya ditemukan berasosiasi dengan jenis-jenis koompasia, shorea dan intsia.

Penyebaran jenis pohon ulin meliputi pulau Sumatera yaitu propinsi Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, dan Pulau Kalimantan. Di Luar Indonesia ulin terdapat pula di Malaysia (Serawak, Semenanjung Malaysia, Sabah dan Brunei Darussalam), kepulauan Sulu dan Pilipina (Pulau Palawan).

Manfaat

kayu Ulin sangat kuat dan awet, dengan kelas kuat I dan kelas awet I, berat jenis 1,04. Kayu Ulin tahan akan serangan rayap dan serangga penggerek batang, tahan akan perubahan kelembaban dan suhu serta tahan pula terhadap air laut. Kayu ini sangat sukar dipaku dan digergaji tetapi mudah dibelah. Ulin dapat digunakan sebagai bahan konstruksi berat, rumah, lantai, tiang listrik dan telpon, perkapalan, sirap. Di Kalimantan, kayu Ulin sudah di pakai sebagai bahan utama untuk membuat rumah, khususnya dikalangan suku Dayak. Kayu Ulin yang bagus untuk dijadikan bahan baku rumah ialah kayu Ulin yang sudah tua. Semakin tua umur kayu Ulin, semakin keras kayunya.

Dalam hubungannya dengan manfaat ekologi, pohon Ulin merupakan tempat bersarang orang utan.  Orang utan juga memakan daun-daun ulin yang masih muda. Pohon Ulin memiliki peranan ekologi yang penting diantaranya menghasilkan oksigen yang menyerap karbondioksida melalui proses fotosintesis, mempertahankan air tanah, menahan air dan tanah, serta mempengaruhi iklim mikro, dan lain sebagainya.

Manfaat bagi kepentingan sosial budaya merupakan manfaat yang juga bersifat ekstraktif namun pemanenan dilakukan tidak dengan cara menebang. Manfaat ini diperoleh dengan mengambil bagian yang tidak mematikan dari jenis ini. Manfaat sosial budaya dari pohon ulin adalah sebagai obat tradisional dan sebagai bahan kerajinan dan ukiran tradisional dengan memanfaatkan tunggak ulin yang telah mati sehingga tidak mengancam kelestariannya.

rumah-adat-dayak

Gambar 4. Rumah adat Dayak.

Status

Pohon Ulin (Eusideroxylon zwageri ) merupakan salah satu jenis yang hampir punah sebagai akibat dari tingginya laju penebangan yang dilakukan secara legal oleh masyarakat maupun perusahaan, bahkan telah terancam punah. Sedang berdasarkan data IUCN, pohon Ulin dikategorikan dalam kelompok yang rentan (vulnerable) yaitu populasi mengalami penurunan lebih dari 20% selama 10 tahun. Penyebab utama keterancaman kepunahan adalah karena kerusakan habitat dan pemanfaatan yang tidak terkendali.

Pohon Ulin dikenal memiliki pertumbuhan yang lambat, sehingga untuk usaha komersial jenis ini kurang diminati, sementara besarnya minat masyarakat terhadap jenis ini sangat besar, sehingga dikhawatirkan jenis ini akan musnah, dengan demikian diperlukan usaha-usaha penanaman untuk pelestarian jenis ini.

Upaya konservasi exsitu sudah dilakukan oleh berbagai pihak, misalnya sejak 1997 masyarakat Desa tanjung Harapan Kalimantan Timur menanam tanaman ulin sebagai naungan pada tanaman kopi. PT Kiani Hutani Lestari, sejak tahun 1995-1997 pada batas petak dan jalur hijau sepanjang sungai. Pada tahun 2003 Balai Litbang kehutanan bekerjasama dengan PT.KEM telah menanam ulin seluas 10 ha. Kegiatan pembangunan plot konservasi exsitu ulin juga dilakukan di Hutan Penelitian Sumberwringin, Bondowoso, Jawa Timur sejak Desember 2004.

Demikian halnya konservasi insitu juga telah diupayakan oleh Pemerintah Kalimantan Timur melaui SK Kepala Dinas Kehutanan 522.21/005.79/DK-V/1991, tanggal 20 agustus 1981, dimana setiap HPH diwajibkan menunjuk tegakan pohon induk jenis ulin dengan luas minimal 100 ha.

Untuk upaya melestarikan pohon ulin dari jurang kepunahan, tentunya diperlukan usaha bersama untuk melestarikan. Apalagi, pengembangbiakan kayu ulin sangat sulit dan butuh perlakukan khusus karena pohon ini tidak bisa tumbuh pada semua kawasan hutan Biasanya tumbuh pada dataran tinggi dengan tanah berpasir. Pengembangbiakan secara benih sangat sulit. Buah pohon ini sama kerasnya dengan kayu ulin sehingga untuk membelahnya hanya bisa digergaji karena mata kampak yang tajam pun akan terpental, sehingga pengembangbiakannya hanya dengan cara indukan. Mengingat betapa sulitnya mengembangkan pohon ini, sudah seharusnya melindungi pohon ini, bukannya berlomba meraup keuntungan sebanyak-banyaknya di tengah nasib ulin yang sudah di ujung tanduk ini.

Daftar Pustaka 

Balitbang Kehutanan Kalimantan. 2004. Status Litbang Ulin (Eusideroxylon zwageri), Samarinda.

Hakim, L dan Prastyono. 2005. Konservasi Budidaya Ulin. Pusat Litbang Hutan Tanaman. Pusat Litbang Hutan Tanaman Yogyakarta. Yogyakarta.

Sastrapradja, S., K. Kartawinata, Roemantyo, U.Soetisna, H. Wiriadinata, dan S. Riswan. 1977. Jenis-jenis Kayu Indonesia. Lembaga Biologi Nasional –LIPI, Bogor.

Siyasa, K & N, Juliaty. 2001. Pelestarian Ulin; Aspek pemanfaatan,Budidaya dan Konservasi. Makalah pada Lokakarya Pelestarian species flora langka (ulin). Bapedalda Prop, Kalimantan Timur.

Mogea, J.P., D. Gandawidjaja, H. Wiriadinata, R.E. Nasution, dan Irawati. 200l. Tumbuhan Langka Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi –LIPI, Bogor.

 

 


6 responses to “aku Ironwood bukan ironman”

  1. agnestriffanys says:

    Menurut saya, artikel ini sudah menarik namun perlu ditingkatkan lagi pembahasan mengenai pola penyebaran Ironwood itu sendiri mencakup wilayah mana saja di pulau Kalimantan tersebut 🙂

  2. Shendy says:

    informasinya sudah cukup lengkap, semoga keberadaan kayu ulin ini tetap terjaga dan dilindungi 🙂

  3. trifanbudi says:

    isi dari blognya informatif dan cukup rinci dalam penjelasannya
    tetap posting yaa…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php