Mariapietasari bolg

The Lost Indonesian Endemic Species, Jacobson’s Bubble-nest Frog

Posted: December 9th 2019

Jacobson’s Bubble-nest Frog  (Philautus jacobsoni) atau biasa disebut kodok pohon Ungaran adalah salah satu jenis katak pohon endemik Indonesia yang ditemukan pada daerah  Hutan Gunung Ungaran, Jawa Tengah. Kodok pohon Ungaran tinggal lubang-lubang pohon atau arboreal dengan ukuran tubuh yang termasuk kecil. Menurut peneliti kodok dari lemabga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hellen Kurniati (2008), beliau mengatakan bahwa “Kodok pohon Ungaran sudah tidak ditemukan sejak tahun 1930-an, hanya awetannya di Belanda”, beliau juga menambahkan “Namun kita belum bisa mengatakan kodok pohon Ungaran sudah punah” tuturnya.

“Bahkan sampel spesimennya juga kita tidak punya”, kata beliau di sela-sela training pengenalan amfibi di Museum Zoologicum Bogoriense, Cibinong Bogor pada Rabu (26/11/1008). Menurut beliau satu-satunya sampel yang diambil pada tahun 1930-an disimpan di Museum Leiden, Belanda. Beliau juga mengaku bahwa belum pernah ada yang melihat ataupun ada yang menemukan kodok ini kembali.

Data pada IUCN-Redlist menujukkan bahwa Philautus jacobsoni ada pada status konservasi critical endangred atau kritis. Survey tahun 2010 telah dilakukan bertujuan untuk mengetahui tipe lokal dari lost frog innitiative namun gagal dilakukan, hal ini juga dilakukan oleh Universitas Negeri Semarang (M. Kursini dan M.Munir pres.com, Mei 2017) pada survey yang dilakukan tiap dua bulan juga gagal dilakukan.  Berdasarkan hasil diperkirakan bahwa populasi dari kodok ini sangat kecil dan jumlah individu dewasa kurang dari 50 ekor. Selanjutnya apabila ditemukan kembali populasi dari Philautus jacobsoni masih ada, kodok ini tetap berkurang akibat berkurangya kualitas dari habitat.

Lokasi Habitat Philautus jacobsoni
Sumber: IUCN ( https://www.iucnredlist.org/species/58857/114924999 )
Philautus nephophilus salah satu spesies dari genus Philautus yang ditemukan di Gunung Kinabalu, Sabah, Malaysia (Borneo)
Sumber : Dheling dkk., 2016

Menurut IUCN, faktor ancam yang mempengaruhi jumlah kodok pohon Ungaran adalah pembuakaan lahan untuk lahan pertanian tanaman non-kayu, akuakultur, perburuan untuk kepentingan penelitian dan penebangan hutan. Populasi kodok ini belum diobservasi selain diluar Hutan Ungaran sehingga dibutuhkan adanya survey untuk mendata ulang untuk memastikan bahwa kodok jenis ini masih bertahan di Alam. Survey juga dibutuhkan untuk menentukan taksonomi dari kodok ini diakrenakan data yang sedikit dan sulit ditemukan. Aksi konservasi yang dibutuhkan untuk melindungi populasi dan habitat hutan dan perairan  dari kodok pohon Ungaran adalah proteksi terhadap area Hutan Ungaran.   

Berdasarkan kasus berkurangnya kodok pohon Ungaran ini saya sebagai mahasisawa biologi ingin memiliki action plan yaitu turut ikut dalam penelitian atau observasi terhadap jumlah kodok pohon ungaran di alam habitat aslinya dan diluar habitat Hutan Ungaran dan penelitian lain yang dibutuhkan seperti taksonomi, habitat yang kira-kira dapat dilakukan agar dapat direncanakan konservasi eksitu. Saya juga ingin memberikan informasi dan penyuluhan mengenai kodok endemik Indonesia ini (Philautus jacobsoni)kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga habitat Hutan Ungaran agar populasi kodok ini dapat lestari dan dapat ditemukan kembali, serta agar masyarakat dapat mendukung adanya perlindungan pada habitat kodok pohon Ungaran ini.

Apakah kita akan membriarkan kodok pohon Ungaran hanya menjadi sejarah di Indonesia? Apakah kita hanya sempat menceritakan spesies ini kepada anak cucu kita? Keberadaan mereka yang seperti misteri harus kita pecahkan. Save the nature, save the frog!

Sumber :

https://www.iucnredlist.org/species/58857/114924999

Media Indonesia (26 November 2008) dalam http://lipi.go.id/berita/dua-kodok-endemik-jawa-berstatus-kritis/3075

https://sains.kompas.com/read/2008/11/26/15003446/jangan.harap.bertemu.kodok.ungaran

Dheling, J. M., Matsui, M. dan Imbun, P. Y. 2016. A new small montane species of Philautus (Amphibia: Anura:Rhacophoride) from Gunung Kinabalu, Sabah, Malaysia (Borneo). Salamandra 52 (2): 77-90.


15 responses to “The Lost Indonesian Endemic Species, Jacobson’s Bubble-nest Frog”

  1. yolly says:

    artikelnya menarik, makasih infonya, semoga action plan terlaksanakan

  2. Desideria Desideria says:

    artikel cukup menarik, terutama action plan yang direncanakan. akan sangat bagus bila benar-benar terlaksana. mungkin untuk artikel perlu ditambahkan gambar katak itu sendiri, supaya lebih jelas lagi katak yang dimaksud.

  3. Dhany Krisna says:

    Artikel yang cukup menarik, terutama saya juga baru pertama kali mendengar mengenai spesies Kodok Pohon Ungaran ini. Mungkin untuk artikelnya bisa ditambahkan peran dari kodok ini dalam ekosistem, serta semoga action plannya dapat berjalan lancar ya

  4. febrianoorf says:

    Wah seneng deh bacanya, jadi menambah wawasan terutama tentang spesies kodok. semoga rencananya bisa berjalan dengan lancar yaa. sukses terus!

  5. Veronica belinda says:

    Informasi yang sangat menarik. Semoga action plan tersebut dapat terealisasikan sehingga dapat diketahui apakah spesies tersebut sudah punah atau belum

  6. jasmineputriw says:

    Artikel sangat bermanfaat karena saya bisa mengenal spesies baru. Semoga rencana pelestariannya dapat tercapai ya

  7. desysimamora says:

    Baru pertama kali mendengar tentang katak ini, dan ternyata statusnya sudah CE yaaa ☹️ Semoga action plannya dapat terlaksana dan membawa awareness kepada pihak yang dituju yaa! Next time, jika menulis artikel serupa, dapat ditambahkan gambar hewannya supaya lebih menarik. Terima kasih infonya! 😄

    • mariapietasari says:

      Terimakasih atas kirtik dan sarannya. Untuk gambar saya sudah mengusahakn mencari, namun belum menemukan gambar dengan sumber yang dapat dipercaya. Hal ini dikarenakan sulitnya spesies ini ditemukan, diIndonesia sendiri terakhir ditemukan pada tahun 1930an, semoga kedepannya dapat dievaluasi keberadaannya dan dapat dipublikasikan kembali pada khalayak umum.

  8. Febpi Lina says:

    Saya sangat mengapresiasi dituliskannya sumber data yang diambil sehingga pembaca bisa tahu darimana pernyataan tersebut berasal. Pemberian gambar atau keterangan ciri spesies akan lebih baik bila dicantumkan, bisa membantu visualisasi pembaca. Semoga yang direncanakan dapat terlaksana. Salam lestari!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php