mariajanina

Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) untuk Mengetahui Variasi Genetika Abalon

Posted: September 1st 2015

Hay teman-teman …. Kembali lagi dengan Tulisan Ku yang baru .. oh ya tak lepas dari hewan lagi.. pada tau g teman salah satu hewan yang hanya berada sebagian besar di daerah Timur Indonesai dengan berlimpah protein. Ya Indonesia memiliki sejuta kekayaan alam yg berlimpah …

Ya siapa yang tidak Kenal dengan yang namanya Abalon

2015-06-30 13.01.39

Gambar 1. Haliotis squamata 

Untitledbchk

Gambar 2. Haliotis Asinina L

 

Abalon H. asinina L. merupakan kelompok moluska laut atau dikenal dengan kerang  mata tujuh, dalam klasisfikasi masuk kelas gastropoda. Terdapat lebih dari 100 species  abalone (Geiger, 2005), 20 jenis diantaranya bersifat ekonomis. Salah satu langkah yang menjadi solusi bagi eksploitasi secara langsung di alam  adalah dengan melakukan budidaya. Budidaya abalon di Indonesia mulai diteliti di Lokal  Budidaya Laut Lombok sejak tahun 1997 (Sofyan et al., 2006). Ya alasan kenapa Abalon harus dibudaya yaitu karena nilai protein yang  tinggi dan kandungan kolestrol yang rendah. Kandungan nutrisi yang sangat baik untuk  kesehatan membuat nilai ekonomis abalon meningkat. Nilai ekonomis abalon yang tinggi  memberi pengaruh besar bagi yang mengkonsumsinya.

Di luar negeri abalon bisa menjadi  makanan eksotik yang harganya mahal. Budidaya abalon  menbutuhkan benih yang bagus agar dapat menghasilkan abalon yang baik. Pemilihan benih  dapat dikakukan dengan cara melihat keragaman genetik untuk memperoleh individu yang  unggul. Keragaman genetik dipandang sebagai sumber gen. Sumber gen yang beragam  memungkinkan untuk mencari gen unggul melalui proses seleksi sehingga dapat ditemukan  suatu individu yang memiliki berbagai keunggulan baik dari segi pertumbuhan, tahan  terhadap penyakit maupun kemampuan beradaptasi yang tinggi (Sugama et al., 1996).

Dalam artikel yang ditulis oleh Litaay dkk 2012 variasi genetika abalone tropis HALIOTIS ASININA L  asli Sulawesi Selatan dengan mengunakan metode Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) .untuk  memberikan informasi mengenai keanekaragaman genetik abalon tropis H. asinina L. yang  bisa dikembangkan untuk budidaya dan mendapatkan spesies yang potensial untuk  dibudidayakan. Penelitian mengenai keragaman abalon tropis H. asinina L pada penelitian ini dengan  metode RAPD menggunakan 5 primer. Primer tersebut penah digunakan oleh penelitia  sebelumnya untuk abalon tropis H. asinia L. yang berasal dari perairan di Thailand  (Klibunga et.al. 2004).   Adapun contoh hasil amplifikasi primer UBC 197, OPB 11, UBC 195, UBC 271 dan  UBC 101 terlihat pada Gambar  3.

Untitled2

Gambar  3 Profil pita DNA dengan primer UBC 197 Urutan M (Marker), Sampel (B1, B2, B3, B4, B5) dan N (Kontrol Negatif)

 

Dari hasil pemelitian yang dilakukan oleh Litaay Dkk. 2012 menghasilkan bahwa Koefisien jarak genetik 12 sampel abalon H. asinina L. asal perairan teluk Bone Sulawesi Selatan berkisar antara 0,1176-1,0000. Jarak genetik terjauh ditunjukkan oleh sampel B1 dan B20 dengan nilai jarak genetik 0,1176 sedangkan jarak genetik terdekat ditunjukkan oleh sampel B19 dan B20 dengan nilai jarak genetik 1,0000.

Tak hanya disulawesi selatan yang mengembangkan hewan yang satu ini.. sabagai informasi tambahan buat teman-teman baru-baru yang dilakukan oleh tempat Budidaya Laut Lombok dengan menggunakan 2 spesies yang berbeda yaitu rekayasa kawin silang Haliotis asinina dengan Haliotis squamata untuk menghasilkan  benih abalone Hibri

Pada dasarnya bila mengacu pada dendoram dari dua kelompok besar kekerabatan  abalon asal Kabupaten Bone memiliki kekerabatan yang luas atau tinggi. Jarak genetik yang  terletak antara 0,1176-1,0000 menunjukkan nilai keanekaragaman genetik yang tidak terlampau jauh antara satu individu dengan individu yang lain. Informasi yang didapat dari gambar dendogram menujukkan korelasi antar induvidu yang beranekaragam dari sampel abalon yang ada di perairan teluk Bone. Nilai jarak genetik akan menunjukan hubungan kekerabatan antar individu tiap sampel abalon. Jarak genetik yang terlihat pada dendogram memberi petunjuk terhadap hubungan kekerabatan yang berbanding lurus. Semakin besar jarak genetik antara indivu semakin jauh hubungan kekerabatan antar idividu. Hal tesebut ditunjukan oleh sampel abalon B1 dan B20 yang memiliki kekerabatan yang jauh. Sampel B1 dan B20 berada pada pada kisaran jarak genetik 0,1176. Semakin kecil jarak genetik maka menunjukkan hubungan kekerabatan yang semakin dekat atau memiiliki kesamaaan yang identik. B19 dan B20 merupakan dua individu yang memliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan nilai jarak genetik 1,0000. Hubungan kekerabatan sampel abalon disebabkan adanya perkawinan silang antara individu yang ada di wilayah perairan tersebut.

Perkawinan silang tersebut akan menghasilkan keturunan yang beranekaragam bahkan ada yang identik ketika dua individu yang melakukan persilangan memiliki gen yang sama. Sampel abalon yang memiliki kedekatan genetik, diduga beasal dari tetua yang berkerabat dekat, sebaliknya sampel abalon yang jarak genetiknya relative tinggi, diduga berasal dari tetua yang jauh hubungan kekerabatannya dengan tetua varietas yang lain. Keanekaragaman pada abalon disebabkan adanya persilangan heterozigot pada induk abalon (Litaay. Dkk. 2012)

Tak hanya disulawesi selatan yang mengembangkan hewan yang satu ini.. sabagai informasi tambahan buat teman-teman baru-baru yang dilakukan oleh tempat Budidaya Laut Lombok dengan menggunakan 2 spesies yang berbeda yaitu rekayasa kawin silang Haliotis asinina dengan Haliotis squamata untuk menghasilkan  benih abalone Hibri

Tabel 1 performan abalone hybrid hasil kawin silang antara individu abalone Haliotis Asinina (jantan) dengan haliotis squamata (betina)

2ks

 

(Hery dkk.2012)

Metode interspesifik hibridisasi diantara genera dan atau family secara umum sudah bisa diterapkan dan sudah sukses untuk beberapa ikan dan kekerangan (seperti ikan mas,lele,salmon,tiram,dan udang) sebagai upaya perbaikan sifat seperti laju pertumbuhan,kelangsungan hidup, serta ketahanan penyakit (Bartley dkk.2001; Hulata 2001 dalam Fabiola Lafarga dan Cristian Gallardo. 2011).

Dengan cara yang sama, abalon hibrid juga mempunyai potensi memperoleh keuntungan produksi melalui pertumbuhan yang lebih cepat, adaptasi terhadap kondisi lingkungan budidaya dan kualitas permintaan pasar yang diinginkan,seperti tekstur,warna dan rasa (Elliott 2000;Hamilton dkk.2009a dalam Fabiola Lafarga dan Cristian Gallardo. 2011). Dari hasil kegiatan perekayasaan dan pengalaman dalam kegiatan budidaya abalon yang dilaksanakan di Balai Budidaya Laut Lombok sejak tahun 2008 – 2011, diketahui bahwa karakteristik Haliotis asinina antara lain memiliki laju pertumbuhan yang lebih cepat, komposisi daging yang tebal, namun memiliki tingkat kelangsungan hidup yang lebih rendah pada saat pembesaran dibandingkan dengan Haliotis squamata yang memiliki laju pertumbuhan yang lebih lambat, tetapi memiliki tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi dan memiliki cita rasa daging yang khas. Berdasarkan perbedaan keunggulan karakter fenotip kedua spesies tersebut diharapkan hibridisasi antara induk abalone Haliotis asinina dengan Haliotis squamata dapat menghasilkan benih hibrid (varietas baru) yang mempunyai sifat unggul.

Untitledgh

gambar 4. Perbandingan Morfologi antara Haliotis squamata, Haliotis asinina dan Abalon Hibrid

Daftar Pustaka

Elliot,N.G. 2000. Genetic Improvement Programmes in Abalone : What is the Future. Aquaculture Research., 31, pp. 51 – 59

Freeman, K. 2001. Aquaculture and related biological attributes of abalone species in Australia – a review. Fisheries Research Report Western Australia 128.

Geiger, D.L, 2005. Molecular Phylogeni and The Geograpic Orogin of Haliotidae Traced by Haemocyanin Sequences, Journal of Molluscan Studies Advance. Santa Barbara Museum of Natural History. pp. 1-6.

Hery Setyabudi,Gagan Garnawansyah, Arif Supriyanto, Adeyana. 2012. Rekayasa kawin sialang Abalon Haliotis asinina dengan Haliotis squamata untuk menghasilkan benih abalon hibrid. Balai Budidaya Laut Lombok  direktorat Jendaral Perikanan Budidaya Kementrian Kelautan dan Perikanan

Kalinbunga, S., P.,Apparyup, R.,Leelatanawit, A.,Tassanakajon, I., Hirono, T.,Aoki, A.,Jayarabhand, P.,Menasveta, 2004. Species Identification Of The Tropical Abalione Haliotis Asinina, Haliotis Ovina And Haliotis Varia In Thailand Using Rapd And Scar Markers. Journal Biochemistry And Molecular Biology 37: 213- 222.

Magdalena Litaay, Rosana Agus, St Ferawati, Rusmidin. 2012. Variasi Genetika Abalon Tropis Haliotis asinina L asal Sulawesi selatan ; Prospek Budidaya.Makasar.

Sofyan, A., Shaw, J.R., Birge,W.J., 2006. Metal trophic transfer from algae to a cladocerans and the relative importance of dietary metal exposure. Environ. Toxicol. Chem. 25, 1034–1041.

Sugama, K. Haryati dan F.Ghalih. 1996. Biochemical Genetic of Tiger Shrimp, Peaus monodon. Description of Electrophoretic Detectable Loci. IFR. Journal, 34 (1): 19- 28.


4 responses to “Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) untuk Mengetahui Variasi Genetika Abalon”

  1. Restu apriyani says:

    Waw memang luar biasa kekayaan indonesia ini yah mi. Dengan adanya variasi genetik yang anda sampaikan sanagt bermanfaat dan semakin tahu bahwa keanekaragaman hayati di indonesia ini sangat luar biasa banyaknya. Dan bermacam-macam sehingga kita dapat tahu bahwa jenis abalon itu tidak hanya satu saja.
    Terimakasih infonya

  2. retnowulandari says:

    Wah cukup menarik,materinya kebetulan sempat disinggung di kelas oleh Bapak Pram yang mengenai hibridasi. Saya ingin bertanya mengenai, sebelumnya telah dijelaskan bahwa hibridisasi antara induk abalone Haliotis asinina dengan Haliotis squamata dapat menghasilkan benih hibrid (varietas baru) yang mempunyai sifat unggul. Nah, fenomena-fenomena hasil dari hibridasi ini tidak jarang juga justru menghasilkan individu yang infertil,sistem imun/ketahanan hidupnya tidak lama bahkan ada yang bertahan hanya beberapa bulan saja. Selain itu,dengan digalakkannya proses hibridasi ini apakah justru akan membuat spesies asli abalon akan menurun? Mengingat abalon lebih mudah ditemukan di Indonesia bagian timur dan pada air laut yang belum tercemar. Terima Kasih 🙂

  3. luhshyntia says:

    info yang sangat menarik dan kita dapat tahu aplikasi molekuler bisa di lakukan pada abalon. saya ingin menanyakan apakah metode untuk menganalisa abalon di Lombok sama dengan metode yang digunakan di Sulawesi?

  4. informasi yang menarik karena dengan informasi ini saya mengetahui bahwa selain budidaya abalon di lombok ternyata di sulawesi seltan sendiri juga terdapat budidaya abalon dan dengan informasi yang diberikan memberi kita wawasan lebih luas mengenai tempat-tempat budidaya yang belum kita ketahui.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php