Maria Diana Widyawati

Everlasting Flower, yakin bakal “Everlasting”?

Posted: December 4th 2015

Cara-Merawat-Bunga-Edelweiss-Hias

Edelweiss, edelweiss
Every morning you greet me
Small and white, Clean and bright
You look happy to meet me
Blossom of snow
May you bloom and grow
Bloom and grow forever
Edelweiss, edelweiss
Bless my homeland forever

Teman – teman, ada kah yang pernah mendengar lagu dalam sebuah film yang berjudul “The Sound of Music”?

Hehe… salah satunya yang berjudul Edelweiss. (Boleh sambil di play tuh di atas hehe )

Kali ini saya akan mengajak teman – teman sedikit mengenal tanaman Anaphalis javanica, yang dikenal secara populer sebagai Edelweiss jawa (Javanese edelweiss) atau Bunga Senduro.

anaph-java-bgs2

Kenapa Edelweiss Jawa?

Kenapa perlu mengenal?

Klasifikasi ilmiah Edelweis Jawa

Kerajaan   :    Plantae

Divisi         :    Magnoliophyta

Kelas          :    Magnoliopsida

Ordo           :    Asterales

Famili        :    Asteraceae

Genus        :    Anaphalis

Spesies      :    Anaphalis javanica

 

Edelweis adalah bunga yang pasti sudah tak asing lagi bagi teman – teman sekalian yang gemar mendaki gunung, karena bunga abadi ini saat ini hanya mampu tumbuh dan besar di ketinggian gunung dan memerlukan sinar matahari penuh. Bunga edelweiss umumnya terlihat antara bulan April hingga Agustus, dimana pada sekitar akhir Juli hingga Agustus merupakan fase mekar terbaiknya.

Yak! Sejauh yang saya tahu, terdapat dua jenis tanaman Edelweiss, yaitu Edelweiss Jawa dan juga Edelweiss Eropa seperti Austria, Spanyol, Swiss, dll. Namun saya lebih tertarik untuk lebih mengenal Edelweiss jawa atau Anaphalis javanica banyak tumbuh di beberapa tempat di Indonesia. Anaphalis javanica adalah tumbuhan endemik zona alpine atau montana di berbagai pegunungan tinggi di Nusantara (Whitten dkk, 1992). Tumbuhan ini dapat mencapai ketinggian 8 meter dan dapat memiliki batang sebesar kaki manusia walaupun umumnya tidak melebihi 1 meter.

Teman – teman, perlu kalian tahu, tanaman Edelweiss saat ini dapat dikategorikan sebagai tanaman yang langka. Bunga Edelweiss sangat popular dikalangan wisatawan. Banyak oknum – oknum nakal yang mengambil bunga ini untuk dikeringkan dan dijual sebagai souvenir. Kondisi ini menyebabkan spesies tanaman ini mengalami kelangkaan .

Di wilayah gunung Bromo – Tengger Jawa Timur, tanaman Edelweiss ini dianggap punah. Jumlah tanaman Edelweiss yang terus menurun, sehingga membuat tanaman ini termasuk yang dilindungi di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat. Larangan untuk memetik bunga ini terpampang jelas, namun kerap kali pemetikan bunga Edelweiss sulit dihindarkan dari tangan – tangan jahil yang mencoba menyelundupkan bunga tersebut.

 

iucnStatus Edelweiss menurut IUCN dinyatakan Kritis

Perlu diketahui juga, teman – teman, Edelweis ini juga merupakan tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda di hutan pegunungan dan mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah yang tandus, karena mampu membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang secara efektif memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari zat hara. Edelweiss juga merupakan ‘cover corp’ atau tanaman penutup yang mampu menahan hempasan air hujan dan laju permukaan sehingga meminimalkan resiko erosi.

Jika tumbuhan ini cabang-cabangnya dibiarkan tumbuh cukup kokoh, Edelweiss dapat menjadi tempat bersarang bagi burung tiung batu licik atau Myophonus glaucinus. Bunga sebagai sumber makanan bagi serangga – serangga tertentu diantaranya dari Ordo Hemiptera, Thysanoptera, Lepidoptera, Diptera, dan Hymenoptera. Kulit batang yang bercelah dan mengandung banyak air sebagai tempat hidup bagi beberapa jenis lumut dan lichen, seperti Cladinia calycantha, Cetraria sanguinea, dan sebagainya. Akar yang muncul di permukaan tanah sebagai tempat hidup cendawan tertentu untuk membentuk mikoriza. Cendawan-cendawan tersebut akan mendapat oksigen dan tempat hidup, sedangkan Edelweis akan mendapat unsur hara dari cendawan. Hal ini menyebabkan Edelweis dapat hidup di tanah yang miskin hara.

Hal lain yang jarang diketahui yaitu setelah dipetik beberapa kali (beberapa musim pada tanaman yang sama), Edelweiss tidak dapat menghasilkan benih dan akan segera mati.

Singkatnya, medan terjal, suram dan miskin hara bukan ancaman serius bagi kelangsungan spesies Edelweiss dibandingkan dengan ancaman yang datang dari kejahilan tangan manusia yang merusak benih perkembangbiakan Edelweiss karena memetik bunganya dengan sembarangan.

Naaahh… bayangkan jika tanaman yang cantik ini punah. Sudah pasti keberlangsungan ekosistem di lingkungan tersebut akan terganggu. Lalu, dampak lainnya yaitu, kita hanya akan menceritakan pada generasi kita selanjutnya bahwa “dahulu, pernah tumbuh tanaman yang memiliki bunga yang sangat cantik. Namanya bunga Edelweiss, bunga keabadian.”

Katanya sih ABADI.

Tapi kalau terus diambil dan dirusak seenaknya juga tidak dijaga, gimana bisa abadi?

Terus terang, saya belum pernah melihat secara langsung seperti apa tanaman yang berbunga cantik ini. Walaupun begitu, saya salah satu orang yang peduli kelestarian bunga Edelweiss. Cerita dari mulut ke mulut tentang keistimewaan Edelweiss (sebab hanya sedikit yang bisa melihat langsung tumbuhan ini, mengingat habitatnya yang tinggi di atas pegunungan), menambah rasa penasaran bagi pendengarnya, dan membangkitkan pemikiran filosofis dan inspiratif bagi sebagian besar orang berjiwa seni tinggi untuk memikirkannya, bahkan berhasrat memilikinya sebagai koleksi.

larangan-mencabut-edelweisSangat disayangkan, rasa penasaran dan kekaguman tentang keunikan Edelweiss ini, baik kekaguman secara natural yang lahir dari dalam jiwa maupun kekaguman karena sekedar ikut – ikutan trend (biar makin “Hitzzzz”), menjadi permasalahan serius yang berdampak buruk bagi kelangsungan hidup spesies ini, karena meski telah dibuat larangan resmi untuk tidak memetik sembarangan bunga tanaman ini, masih banyak orang dari kalangan pendaki maupun wisatawan yang mengunjungi habitat Edelweiss yang melanggar aturan tersebut dan ‘mencuri’nya untuk dijadikan sebagai oleh-oleh, tanda mata maupun koleksi pribadi.

Seperti yang disebutkan dalam beberapa sumber, Bunga Edelweiss (spesies Anaphalis javanicum) sudah banyak dibudidayakan oleh beberapa pihak,seperti para petani di daerah Dataran Tinggi Dieng di Jawa Tengah. Biasanya mereka membudidayakan dengan cara menanam anakan yang tumbuh dari biji yang rontok tersebar di sekitar pohon induknya.

Selain itu, ada beberapa cara upaya melindungi keberlangsungan hidup Edelweiss, seperti misalnya pembuatan bunga Edelweiss imitasi, Mouth to mouth Edelweiss Action plan, dan Pemberian plang ‘Keep Edelweiss Here’ di area pendakian pegunungan habitat Edelweiss.

images-2

Action Plan yang saya rencanakan sebenarnya tidak jauh berbeda dari beberapa cara yang telah dilakukan beberapa pihak di luar sana. Saya mecoba merencanakan “action plan” yang sekianya dapat benar – benar saya laksanakan sebagai bentuk nyata kepedulian saya terhadap kelestarian Edelweiss. Beberapa diantaranya, yaitu memberikan pemahaman dan pengarahan  pada teman – teman yang gemar mendaki gunung maupun yang belum pernah mendaki gunung namun memiliki rencana atau niat untuk mendaki gunung untuk tidak sembarangan memetik atau merusak tanaman Edelweiss. Selain itu, saya ingin sekali menegur penjual bunga Edelweiss (asli) yang beberapa masih dapat dijumpai (seperti beberapa penjual yang berjajar di kaki gunung untuk menjual bunga Edelweiss), untuk tidak lagi memperjualbelikan bunga Edelweiss karena keberadaannya yang semakin langka.

Mengumpulkan sejumlah dana untuk membantu para penggiat (petani) yang membudidayakan tanaman Edelweiss di Dieng maupun di daerah lain, supaya kegiatan budidaya tersebut dapat terus berlangsung. Hal lain yang ingin saya lakukan demi mendukung kegiatan guna melindungi keberlangsungan hidup Edelweiss yaitu mengusulkan kepada pemerintah ataupun petugas yang berkewajiban, untuk membuat peraturan yang tegas dan juga mendindak secara tegas oknum – oknum jahil yang terbukti merusak tanaman Edelweiss.

Jika pun satu hari nanti saya diberi kesempatan untuk melihat secara langsung keindahan tanaman Edelweiss, saya berjanji untuk tidak melakukan tindakan yang bersifat mengganggu dan merusak tanaman Edelweiss.

Karena keindahan yang tidak ternilai harganya akan tetap tersimpan di hati, walau kita hanya memandanginya.

So, tidak perlu kita merusak untuk dijadikan sesuatu yang tujuannya untuk “mengenang”.

Mari sama – sama menjaga kelestarian tanaman Edelweiss, Bunga Keabadiaan atau Everlasting Flower supaya keindahannya akan selalu Abadi dan dapat dinikmati oleh anak cucu kita kelak.

 hhhh

1861

 

 

Whitten, Tony, dan Jane. 1992. Wild Indonesia: The Wildlife and Scenery of the Indonesian Archipelago. United Kingdom, New Holland. page 127

tengkutya.pun.bz/save-for-edelweiss-right-now.xhtml

aenze.blogspot.co.id/2013/04/bunga-keabadian-edelweis-dan-mitosnya

http://indahfajarwatii.blogspot.co.id/2015/06/tolong-jangan-petik-edelweis.html


18 responses to “Everlasting Flower, yakin bakal “Everlasting”?”

  1. Agnes says:

    Terimakasih infonya. Saya sangat setuju dengan ajakan untuk melestarikan bunga edelweiss. Sejauh yang pernah saya dengar, sebenarnya bunga ini bisa diabadikan TETAPI dengan cara mengambil bunga yang sudah rontok atau jatuh dari pohonnya. Salut buat pihak-pihak yang mau melestarikan bunga ini. Good job

    • mariadiana says:

      Yups!Terima kasih sudah komentar, tata. hehe.. iya, setahu saya juga penggiat yang dari Dieng itu memanfaatkan bunga yg sudah rontok/jatuh itu untuk selanjutnya dibudidayakan. AYo kita sama – sama menjaga. 🙂

  2. rinda anggita nugraheni says:

    Terima kasih infonyaaa, semoga para kaum muda lebih bisa menjaga kelestarian alam sekitarnya dg baik ya 😀

  3. theoargo says:

    Tulisan yang menarik, semua terdapat informasi yg memberi pengetahuan baik secara biologinya maupun sosialnya. Lanjutan!

  4. EDY SUSANTO says:

    Like This … Sedikit Saya tambahkan.
    Tahukah anda :
    Bila Edelweis bermanfaat bagi kesehatan? Jenis bunga ini memang terlihat rapuh, namun manfaatnya dapat mengencangkan kulit , meningkatkan sirkulasi, mengobati iritasi,
    melindungi kolagen, dan mencerahkan kulit
    Bunganya telah terbukti mengandung fitokimia yang mampu menghambat perkembangan radikal bebas.

    Edelweis disajikan menjadi teh untuk mengobati sirkulasi yang buruk, kanker payudara, batuk dan difteri. Bahkan dibuat salep untuk melindungi kulit dari sengatan matahari, meringankan rasa sakit rematik dan membantu menyembuhkan luka.
    Semoga Bermanfaat.

    • mariadiana says:

      Duh, ini si Papah Edy malah jadi tukang obat, ya hahaha… terima kasih lho infonya. Tapi kalau mau dimanfaatkan untuk berbagai macam produk seperti yang disebutkan, alangkah lebih baiknya kalau dihasilkan dari tanaman yang kita budidaya. Sehingga tidak semakin mengurangi jumlahnya di alam bebas. hehe… Terima kasih lho ya haha

  5. sylviemonica says:

    sangat menarik 🙂
    jujur saya juga belum pernah melihat keindahan bunga Edelweis ini. semoga kita semua semakin sadar betapa pentingnya bunga Edelweis ini untuk menahan hempasan air hujan dan mencegah abrasi. serta semoga bunga ini dapat di perbanyak dan dijaga sehingga anak cucu kita dapat melihat keindahannya pula.

    • mariadiana says:

      yoi, Sylvie. Mari sama – sama mengupayakan supaya Edelweiss tidak punah.
      Tapi. Sylvie. Saya rasa edelweiss jarang (atau malah ‘tidak’) tumbuh di pinggir laut. Jadi mungkin maksudmu erosi, bukan abrasi. Begitu kah? hehehe
      Abrasi adalah proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak, sedangkan Erosi adalah peristiwa pengikisan padatan (sedimen, tanah, batuan, dan partikel lainnya) akibat transportasi angin, air atau es.
      Hehehehehehehehehehehe… 😛

  6. aldwint says:

    Tulisan yang bagus, saya mendukung action plan anda, semoga bunga ini tidak punah.

  7. Albertus Erwin Susanto says:

    Tulisan ini mau menyampaikan satu hal penting: Edelweis mesti dijaga agar ia tetap ‘abadi’.

    Tapi kenapa ya orang-orang suka ngambil bunga ini? Karena bunga ini lambang cinta, lau mau dijadikan hadiah buat orang yang tercinta? Nah, klo dah gitu memang jadi susah. Gimana caranya membuat orang merasa bunga Edelweis sepantasnya nggak diambil dan nggak perlu dijadikan bingkisan tanda cinta?

    • mariadiana says:

      Best comment nih, Frater Owin. Hahahaha… Bisa jadi bahan refleksi juga buat aku sendiri, semoga yang baca tulisanku juga ya hehehe… Makanya to, yuk bareng – bareng bantu supaya Edelweiss tidak punah. Lambang cinta juga lambang keabadian kok malah punah, kan nggak lucu. Apa nanti cintanya juga punah? Hehe… Berkah Dalem.

  8. Anggit Estira says:

    Kita sudah sepantasnya bersyukur atas ciptaan-Nya. Sebagai wujud rasa syukur tersebut, kita harus menjaga kelestarian bunga edelweis agar kelak dapat dinikmati juga oleh generasi berikutnya. Bukankah dengan turut melestarikannya kita juga bisa mendapatkan kebahagiaan yang abadi? 🙂

    • mariadiana says:

      AH! “Bukankah dengan turut melestarikannya kita juga bisa mendapatkan kebahagiaan yang abadi?”. Bagus! Kamu pernah lihat Edelweiss langsung kan, anggit? Indah? Nah, selanjutnya mari sama – sama menjaga keindahannya, di alam tempat dia seharusnya tumbuh. Hehehe…

  9. Cindy Natalia says:

    Terima kasih Diana atas informasi yang diberikan. Sayang sekali apabila generasi mendatang tidak dapat melihat keindahan bunga ini. Saya rasa penting pula menyebarluaskan informasi ini melalui sosial media dengan poster atau gambar-gambar dan tulisan yang menarik. Saya rasa pendekatan ini yang paling mudah dilakukan untuk para kaum muda yang seringkali tanpa sadar merusak.

    • mariadiana says:

      Wah, ide bagus, Cindy. Saya malah belum terpikirkan. Betul, mungkin melalui media sosial akan lebih membantu dan tepat mengarah kepada teman – teman muda. Terima kasih, Cindy 😀

  10. tulisan ini sangat informatif dan menarik. action plan yang diusulkan juga mudah dilakukan dan semoga dapat segera terlaksana. semoga melalui action plan ini bunga edelweiss tetap ‘abadi’

  11. ayusuraduhita says:

    INFORMATIF ! SEMOGA PLANMU INI DAPAT BERJALAN LANCAR SERTA BUNGA INI AKAN ABADI 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php