Maria Diana Widyawati

Si Mungil Penghuni Serayu

Posted: September 9th 2015

Ditepinya sungai Serayu

Waktu fajar menyingsing

Pelangi merona warnanya
Nyiur melambai-lambai

Warna air sungai nan jernih
Beralun berkilauan
Desir angin lemah gemulai
Aman tentram dan damai

Gunung Slamet nan agung
Tampak jauh disana
Bagai sumber kemakmuran
Serta kencana

Indah murni alam semesta
Tepi sungai Serayu
Sungai pujaan bapak tani
Penghibur hati rindu

12_big

Hayooo… Siapa yang pernah dengar kata “Serayu”?

Yup! Kali Serayu atau Sungai Serayu yang dahulu juga disebut Ci Serayu merupakan salah satu sungai di Jawa Tengah. Sungai ini membentang sepanjang 181 km, melintasi lima kabupaten, yaitu Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banyumas, hingga bermuara di Samudra Hindia di wilayah Kabupaten Cilacap.

Hulu sungai ini berada di lereng Gunung Prahu di wilayah Dieng, Wonosobo. Mata airnya dikenal sebagai Tuk Bima Lukar (mata air Bima Lukar). Memiliki banyak anak sungai, total daerah aliran sungai Serayu mencapai luas 4.375 km². Mengalir kurang lebih ke arah barat daya, yang dimana di sisi selatan aliran ini dibatasi oleh deretan perbukitan yang dinamai Pegunungan Serayu.

Kali (sungai) serayu juga dihuni makhluk-makhluk kecil lho…

Ups! Bukan yang tidak kelihatan ya…

Sungai Serayu juga dijadikan habitat bagi beberapa ikan lokal yang cukup terkenal, terutama dikalangan warga yang tinggal disekitaran sungai Serayu. Yang kecil sebut saja Uceng, Kathing, Senggal dan Gabel serta yang paling kecil namanya Kalamence. Sementara yang ukurannya bisa mencapai lebar telapak tangan pria dewasa sebut saja diantaranya Mujahir, Tawes, Melem, Mbeyong dan Brek.

Satu dari sekian banyak penghuni Serayu yaitu ikan “BREK”. Brek, atau iwak Brek begitu orang-orang tepian Serayu menyebutnya. Brek paling suka berenang di air yang deras, Arus Serayu yang kencang membuatnya terkenal kuat dan lincah bergerak. Jika terkena mata pancing, maka ia akan berusaha keras untuk terlepas. Tak heran jika pemancing akan sangat gembira jika Brek berhasil didaratkan.

Brek atau mata merah (Puntius orphoides) adalah adalah sejenis ikan air tawar anggota suku Cyprinidae. Ikan ini menyebar luas di Indocina dan kepulauan Sunda. Nama – nama lainnya di antaranya yaitu maroca, marococa, wadonan, brek, pekiseh, lunjar, wader dan sisik milik. Di Tasikmalaya, ikan ini juga dikenal dengan sebutan beureum panon. Dalam bahasa Inggris, ikan brek dikenal dengan nama Javaen Barb.

Tampilan fisik Brek bermula dari corak warna perak menyala pada sisiknya  di kedua sisi badan dengan dua pasang sirip bawah merah menyala dan bagian dadanya yang putih akan nampak kontras jika terkena sinar matahari yang terik di saat siang. Ekornya bening transparan. Sementara dari sisi atas akan nampak garis – garis kehitaman.

800px-Punti_orpho_120127-22820_tsm

Ikan Brek lincah dan cukup kuat, suka berenang-renang di air yang mengalir deras dan akan berusaha menyambar makanan yang hanyut di derasnya aliran air. Lumut hijau yang tumbuh dan lantas hanyut kala musim kemarau disekitaran bulan Juni hingga September lantaran musim kering sehingga bebatuan Serayu terlihat dari permukaan dan ditumbuhi lumut hijau yang akan sangat diminati ikan Brek sebagai umpan. Selain itu udang kecil serta Kalamence juga dapat dijadikan makanan bagi ikan Brek ini.

Saat musim kemarau tiba, ikan Brek akan memijah atau berkembang biak, dimana Si Betina bertelur dan si Jantan membuahinya dengan berhimpit diantara celah bebatuan dengan riak air yang dangkal serta hangat. Merekadatang secara bergerombol dan berusaha  mencari lokasi ideal untuk kawin massal. Besar kecil terlibat membaur. Ini semua terjadi dikala malam hari, saat cuaca siang hari demikian terik dan bebatuan menyimpan panas yang berakibat suhu airpun menjadi hangat karena simpanan panas bebatuan tadi.

Di sisi lain adanya keunikan “penghuni” sungai Serayu, kelestarian perairan sungai Serayu terutama terancam oleh sedimentasi, dan belakangan juga oleh polusi air. Sedimentasi atau pelumpuran di sungai ini diakibatkan oleh erosi tanah, terutama yang terjadi di wilayah dataran tinggi Dieng. Catatan tahun 2005 menyebutkan bahwa di sepanjang daerah aliran Serayu masih ada 187 industri yang belum memiliki instalasi pengolahan air limbah standar, termasuk 92 rumah sakit, 124 hotel, dan belasan usaha lain. Akan tetapi cukup banyak pula industri lokal dan perusahaan – perusahaan di Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, dan Purwokerto yang telah sadar lingkungan dan mengikuti Program Kali Bersih (Prokasih) untuk menyelamatkan sungai Serayu.

Saya sendiri secara pribadi sangat mendukung kegiatan Program Kali Bersih tersebut. Karena jika tidak ada kesadaran manusia untuk menjaga kelestarian Sungai Serayu, maka bukan tidak mungkin ikan – ikan, dalam hal ini terkhusus ikan Brek yang menjadi ciri khas sungai Serayu maupun organisme lain yang hidup dan berhabitat di sungai Serayu akan perlahan punah karena kecerobohan manusia yang kurang peduli pada lingkungannya.


10 responses to “Si Mungil Penghuni Serayu”

  1. Laurentius Sudiyanta says:

    Ulasan yang bagus. Semakin menginspirasi dan memberi dorongan supaya kita tetap peduli pada lingkungan dan menjaga supaya kelestariannya tetap terjaga. Terlebih lingkungan disekitar kita tinggal, seperti sungai serayu tersebut dan makhluk hodup yang tinggal di dalamnya.

  2. EDY SUSANTO says:

    Kalau aku taunya ikan wader,Enak,Gurih,Murah…Banyak orang Luar Kota Beli utk Oleh2

  3. EDY SUSANTO says:

    Aku Pernah Mampir Kesitu,Tempatnya Sejuk,Indah,Yg jelas Bebas Polusi,kalau Ga salah Namanya Bendungan Gerak Serayu itu Atas Prakarsa Bpk.Soeharto

  4. Anggit Esti Irawati says:

    Sebagai masyarakat yang mengenal Sungai Serayu, saya setuju dengan penulis karena saya melihat kondisi sungai serayu yang banyak tumbuh tanaman enceng gondok. Selain menurunkan nilai estetika lingkungan perairan, tanaman ini juga termasuk gulma yang dapat merusak lingkungan perairan. Pertumbuhan tanaman yang cepat mengakibatkan turunnya jumlah cahaya yang masuk kedalam perairan sehingga menyebabkan tingkat kelarutan oksigen dalam air juga menurun.
    Selain itu, Sungai Serayu juga banyak dipenuhi sampah yang terlihat di pintu air Bendung Gerak Serayu. Hal ini karena ulah perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab dan tidak mau menjaga lingkungan. Sampah tersebut juga dapat merusak habitat ikan-ikan lokal yang hidup di perairan Sungai Serayu.
    Sungguh sangat disayangkan apabila kita tidak turut menjaga kelestarian lingkungan.

  5. Aku suka sekarang kamu menulis, terus lanjutkan. karena tidak semua orang mampu menulis, memberi informasi berupa data dan ditampilkan sederhana mungkin sehingga pembaca bisa memahami dengan baik. Sangat informatif sekali dalam memberikan keterangan dan sudah runtut. Ada beberapa pandanganku mengenai tulisan ini. Pertama, untuk segi penulisan, seperti kata ‘iwak’ (kata asing) harus garis miring/kutip/ apalah haha. Kemudian, mungkin bisa kamu perjelas mau membahas bab apa. Kamu masih menyajikan secara umum. Mau membahas keunikan serayu atau program pemerintah di sungai serayu. Hal ini supaya informasi akan lebih detail. Gitu aja dari aku hehehe.

  6. sylviemonica says:

    menarik! semoga masyarakat semakin sadar dan peduli terhadap lingkungan demi kelangsungan hidup ikan Brek ini 🙂

  7. Angelus Dian Setiawan says:

    Konservasi alam merupkan salah satu program yg selalu digalakan, termasuk kita-kita sebagai bagian dari anggota masyarkat terkecil demi terciptanya lingkungan yang harmonis, antara alam dengan makhluknya, makhluk dengan makhluk lainnya. Konservasi alam sudah pasti upaya untuk menjaga kearifan lokal. Kearifaan lokal, dimana salah satu kita tinggal. Berbagai macam2 program konservasi yg berhubungan dengan upaya kearifan lokal.

  8. Agnes Anita says:

    Sangat menginsppirasi dan mampu menjadi referensi yang baik.

  9. Angelus Dian Setiawan says:

    Konservasi alam merupkan salah satu program yg selalu digalakan, termasuk kita-kita sebagai bagian dari anggota masyarkat terkecil demi terciptanya lingkungan yang harmonis, antara alam dengan makhluknya, makhluk dengan makhluk lainnya. Konservasi alam sudah pasti upaya untuk menjaga kearifan lokal. Kearifaan lokal, dimana salah satu kita tinggal. Berbagai macam2 program konservasi yg berhubungan dengan upaya kearifan lokal, salah satunya Sungai Serayu sebagai ikon kota Bayumas dan orgnisme pendukungnya yang ada disitu. Kata “ikon” sudah jelas sebagai simbol serta “organisme disekitar” sebagai subjek yg tanpa disadari perlu perhatian untuk menjaga, program konservasi menjadi salah satu upayanya. Upaya untuk menjaga ikonnya dari fandalisme maupun kerusakan alam bahkan terpaan kegiatan modernisme yg akan mematikan Serayu sebagai objek wisata lokal dan ikon kota, disamping itu perlu upaya menjaga kelestarian nakhluk hidup yang hidup disana, dari penjarahan maupun pancingan serampangan dari orang yg hanya “menyebutnya sebagai hobi” tanpa tahu menyeimbangi dengan kelestarian hidup. Siapa tahu, tanpa kita sadari juga, misalnya ikan-ikan yg ada disungai itu bisa menjadi ikon khas Banyumas juga loh, ahaha. . .seperti ikan Shalmon di Swedia, ikan Tengiri di Cilacap, ikan Fauzi juga *hee maaf…dia artis maaf. Lanjutkan menulis. Aktif, original kreasi sendiri, no copas tapi mengutip disertai sumber it’s Oke (cukup 20 persen saja sebagai pendukung atau data pembanding), dan menginspirasi. Semangat, semangat !!!

  10. Yohanes Dedi Dedi says:

    Wah kok rumahku ga kliatan yak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php