Biologi Konservasi

Stop to Kill Elephants and Save The Next Generation with My Action Plan!

Posted: November 30th 2018

Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading. Yappp siapa yang tidak tau pribahasa ini? Arti dari pribahasa ini yaitu orang yang berjasa akan selalu disebut-sebut walaupun telah mati, namun kali ini kita tidak akan membahas pribahasa tersebut tetapi kita akan membahas mengenai gajahnya ya guys. Kematian gajah akhir-akhir ini banyak disebabkan salah satunya adanya perburuan ilegal terhadap gadingnya, sehingga bisa mengancam populasi dari gajah. Kalau kata Romairama sungguhh terlaluu. Jika kalian tau sebenarnya gajah memiliki peran yang sangat penting bagi ekosistemnya lohh..

Gajah mempunyai peranan antara lain sebagai agen penyebaran biji tumbuhan dan pengendali pertumbuhan flora. Gajah juga memiliki peran penting sebagai penunjang pengendalian konflik gajah liar yang sering juga digunakan untuk kepentingan ekonomi seperti objek wisata. Gajah banyak dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata seperti di kebun binatang, taman safari, taman marga satwa maupun taman nasional tidak terkecuali di Taman Nasional Way Kambas (TNWK).

Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan salah satu kekayaan fauna Indonesia yang termasuk satwa langka dan dikhawatirkan akan punah. Satwa ini telah dilindungi sejak 1931 menggunakan Ordonansi Perlindungan Binatang Liar Nomor 134 dan 226 dan diperkuat SK Menteri Pertanian RI No. 234/Kpts/Um/1972 dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Sementara itu CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna) menggolongkan gajah dalam daftar Appendix 1 yang merupakan satwa liar yang tidak boleh diperdagangkan secara international baik gading maupun bagian tubuh lainnya (CITES, 2012).

WWF Indonesia melaporkan terdapat 129 gajah yang dibunuh di Sumatera, terutama di provinsi Riau. Sebanyak 59% kematian diakibatkan oleh racun, 13% diduga akibat diracun, dan 5% lainnya dibunuh dengan menggunakan senjata api (BBC Indonesia, 2013). Beberapa kasus tersebut menunjukkan bahwa keberadaan gajah Sumatera semakin terancam di Indonesia. Hal ini didukung dengan data yang diperoleh dari IUCN Red List yang menetapkan status konservasi gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) sebagai Critically Endangered atau Kritis atau hanya satu langkah menuju kepunahannya (IUCN, 2012).

Status Elephas maximus sumatranus menurut IUCN (IUCN, 2012)

Ancaman – ancaman yang menjadi pemicu penurunan populasi gajah hingga mendekati kepunahan disebabkan oleh beberapa hal, yang sebagaian besar disebabkan oleh ulah manusia (Primack dkk., 1998). Ancaman – ancaman tersebut antara lain adalah adanya perburuan ilegal dan masa reproduksi yang lama. Perburuan ilegal pada gajah biasanya akan mengambil bagian khas pada gajah yaitu gadingnya yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Keindahan gadingnya membuat gajah Sumatera menjadi satwa yang sering diburu oleh manusia demi mendapatkan keuntungan ekonomis. Hingga saat ini perburuan gajah belum dapat diatasi oleh pemerintah . Hal ini dapat dilihat pada aksi perburuan gading gajah yang diduga mulai marak di Aceh, dimana dalam dua tahun terakhir tercatat 31 gajah Sumatera mati terbunuh dan sebagian besar ditemukan tanpa gading, namun tidak ada satu kasuspun yang di bawa ke meja hijau (Mardira, 2014).

Faktor lain penyebab kepunahan gajah sumatera adalah masa reproduksinya yang sangat lama. Betina gajah Sumatera mempunyai masa reproduksi 4 tahun sekali, memerlukan waktu 19 hingga 21 bulan dalam masa kehamilan hingga melahirkan dan dengan masa reproduksi yang sedemikian lama gajah sumatera hanya melahirkan satu ekor saja (Bappeda, 2014). Selain menjadi penyebab semakin cepatnya penururnan populasi gajah Sumatera, permasalahan – permasalahan di atas juga menjadi permasalahan konservasi sehingga perlu dilakukan beberapa upaya untuk menanggulanginya sehingga kegiatan konservasi gajah Sumatera dapat berjalan dengan baik.

Gambar 1. Gajah mati tanpa gading di Riau (Wihardandi, 2012)

Kegiatan konservasi ini perlu dilakukan untuk menyelamatkan populasi gajah. Sebagai mahasiswa biologi kegiatan konservasi yang menarik perhatian saya kelak salah satunya adalah melakukan konservasi sperma hewan langka dengan membuat bank sperma terutama di Indonesia, yang tentunya saya harus belajar lebih baik lagi dalam memahami teknologi reproduksi dan fisiologi reproduksi hewan langka. Menurut Gusti (2009) konservasi sperma dapat dilakukan dengan cara menampung, memproses, dan menyimpan sperma di dalam nitrogen cair. Upaya itu dilaksanakan demi kelangsungan hidup hewan yang hampir punah sebagai sumber kekayaan alam Indonesia. Hewan langka yang mati dapat segera diambil testisnya untuk dilakukan konservasi. Hal itu merupakan langkah cerdas untuk menyelamatkan spermatozoa yang ada dalam testis dan epididymis serta dapat melindungi sumber genetik dimasa mendatang yang juga sangat potensial bagi bidang peternakan.

Menurut Gusti (2009) terdapat dua bentuk penyimpanan sperma, yakni bentuk cair dan beku. Teknologi penyimpanan ini merupakan kombinasi antara suhu penyimpanan, komposisi bahan kimia pengencer, krioprotektan, dan kontrol kebersihan. Bahan pengencer yang ditambahkan, gliserol, pada proses pembekuan spermatozoa dalam nitrogen cair yang bersuhu minus 196 derajat celcius dapat mempertahankan fertilitas tidak lebih dari 50 tahun, namun, daya hidup spermatozoa diperkirakan masih dapat mencapai lebih dari 3.000 tahun. Pembuatan sperma beku untuk hewan buas dilakukan dengan penerapan assisted reproduction techniques (ART). Inseminasi buatan, in vitro, dan intracytoplasmic microinjection untuk aplikasi ART dilakukan dalam konservasi sperma.

 

 

 

 

 

Referensi:

Bappeda. 2014. Mengenal Gajah Sumatera Elephas Maximus Sumatrensis http://bappeda.pekanbaru.go.id/berita/503/mengenal-gajah-sumatera-elephas-maximus-sumatrensis/page/1/. Diakses 30 November 2018.

BBC Indonesia. 2013. WWF: Gajah Sumatera Terancam Punah Dalam 30 Tahun. http://www.bbc.co.uk/ indonesia/berita_indonesia/2012/01/120124_elephant.shtml. Diakses 30 November 2018.

CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). 2012. Elephas maximus sumatranus. http://www.cites.org/eng/results.php?cites=Elephas+maximus+sumatranus. Diakses 30 November 2018.

Gusti. 2009. Konservasi Sperma Penting untuk Pelestarian Hewan Langka. https://ugm.ac.id/id/berita/736-konservasi.sperma.penting.untuk.pelestarian.hewan.langka. Diakses 30 November 2018

IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources). 2012. IUCN Red List Endarged Species. http://www.iucnredlist.org/details/199856/0. Diakses 30 S November 2018.

Mardira, S. 2014. 31 Gajah Sumatera Ditemukan Mati di Aceh. http://news.okezone.com/read/2014/09/10/340/1037065/31-gajah-sumatera-ditemukan-mati-di-aceh. Diakses 30 November 2018.

Wihardandi, A. 2012. Penelitian: Negara Asal Gading Gajah Ilegal Kini Bisa Terlacak. http://www.mongabay.co.id/2012/08/11/penelitian-negara-asal-gading-gajah-ilegal-kini-bisa-terlacak/. Diakses 30 November 2018.

WWF Indonesia. 2012. Hilangnya Habitat Mendesak Gajah Sumatera Selangkah Menuju Kepunahan.http://www.wwf.or.id/?24060/Hilangnya-habitat-mendesak-gajah-Sumatera-selangkah menuju  kepunahan. Diakses 30 November 2018.


10 responses to “Stop to Kill Elephants and Save The Next Generation with My Action Plan!”

  1. carolinovela says:

    Wow, terima kasih informasinya. Artikel ini sangat membantu sekali untuk bisa memahami issue yang ada saat ini. Semoga semakin banyak orang yang membaca dan bisa terlibat aktif dalam action plan ini! Ganbateee!!

  2. Bambang says:

    Artikel yang menarik. Ternyata masih ada yang peduli dengan flora dan fauna di Indonesia.

  3. fransiscakrista says:

    Terimakasih informasinya, artikelnya sangat menarik dan lengkap. Sayang sekali Gajah Sumatera merupakan salah satu kekayaan fauna Indonesia yang masuk dalam satwa langka dan dikhawatirkan akan punah. Saya suka action plan yang kamu buat, semoga dapat terlaksana dan membantu dalam melindungi populasi Gajah Sumatera

  4. theresatririzki says:

    bank sperma yang anda rencanakan memang baik, namun menurut saya harus diperhatikan lagi apakah kulitas sel sperma masih baik dilihat dari faktor umur dan kondisi gajah serta dimungkinkan dilakukannya bayi tabung gajah mengingat lamanya masa kehamilan gajah. ada baiknya hal ini juga dilakukan untuk spesies terancam lainnya.

    • mariadensy123 says:

      terimaksih theresatririzki atas masukannya. ya tentu disini teknik yang digunakan juga memperhatikan kualitas spermanya agar tidak mempengaruhi dan membuat kualitasnya menjadi menurun.

  5. landela says:

    Action Plan ini akan sangat membantu jika benar-benar dilakukan dan tentunya menambah wawasan saya mengenai Gajah Sumatra. Saya mau bertanya, menurutmu apakah penyimpanan sperma pada nitrogen cair tidak menurunkan kualitas sperma gajah Sumatra terkait dengan hal reproduktif ?

    • mariadensy123 says:

      terimakasih landela. tentunya tidak landela, karena kita bisa melihat contoh bank sperma yang sudah diterapkan di luar negri, dan tentunya teknik yang dilakukan tidaklah sesederhana itu. Sebenarnya disini kita menyimpan dengan pengaturan yang dibuat sedemikian rupa agar kualitas sperma tetap sama dan tidak mempengaruhi kualitasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php