Dugong (Dugong dugon)|personal action plan|Biologi konservasi b

By Maria Ariska Happy Suntadi_180801966

Hai Sobat Atma!!

Dugong… Apakah anda pernah mendengar nama ini? Dugong biasa dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai duyung yang merupakan istilah lokal di Indonesia sedangkan dugong merupakan istilah yang sering digunakan tingkat nasional maupun internasional.

Dugong dugon

Dugong dengan nama latin Dugong dugon merupakan salah satu jenis dari 35 jenis mamalia laut yang terdapat di Indonesia. Dugong memiliki umur yang panjang dan dapat hidup hingga 70 tahun. Dugong memiliki ukuran tubuh yang besar mencapai 3 meter dan bahkan berat tubuhnya dapat mencapai 450 kg. Mamalia ini merupakan satu-satunya fauna dengan ordo Sirenia yang memiliki area tinggal yang tidak terbatas pada perairan pesisir dan satu-satunya mamalia laut pemakan lamun.

Perbandingan ukuran Dugong dewasa dengan manusia

Penyebaran Dugong

Dugong dapat ditemukan di sepanjang perairan dangkal Samudra Hindia dan Pasifik. Indonesia memiliki beberapa daerah yang menjadi habitat dari dugong. Populasi dugong di Indonesia menurut Mark Spalding (ilmuwan spesialisasi laut) sebagian besar terdapat di bagian Indonesia timur, diantaranya yaitu di Teluk Cendrawasih Papua, perairan Arafura, perairan Lesser Sunda, paparan Sunda, selat Makasar, perairan Pulau Bintan, Bali, Kalimatan Tengah, Kalimantan Selatan. Sayangnya, dari 1.507 km2 luas habitat dugong (padang lamun) di Indoensia, hanya terdapat 5% bagian saja yang tergolong sehat dan layak sedangkan 80% bagian tergolong kurang sehat dan 15% bagian tergolong tidak sehat.

Padang lamun di pesisir perairan yang merupakan habitat dari Dugong

Memiliki julukan “Sapi Laut” atau “Mirip dengan Gajah”

Dugong memiliki julukan “Sapi Laut” dikarenakan pemakan lamun yang eksklusif. Mamalia laut ini mengkonsumsi lamun pada siang maupun malam hari layaknya sapi yang sering mengkonsumsi rerumputan sehingga dapat dijuluki dengan “Sapi Laut”. Dugong membutuhkan setidaknya sekitar 28 hinga 40 kg lamun setiap hari sebagai ukuran pakan normal, namun secara tidak sengaja dugong juga dapat mengkonsumsi invertebrata. Dugong juga memiliki hubungan dekat dengan gajah dibandingkan dengan mamalia laut lainnya yaitu paus dan lumba-lumba

Dugong menggunakan moncong berbulu dan sensitif untuk mencengkram dan mengunyah lamun

Hidup Menyendiri dan Reproduksi Lambat

Dugong lebih banyak menghabiskan waktu untuk menyendiri atau berpasangan saja, walaupun terkadang berkumpul dalam kawanan besarnya. Mamalia laut yang tergolong bertubuh besar ini, termasuk mamalia yang memiliki reproduksi lambat. Dugong setidaknya memerlukan waktu selama 14 bulan untuk mengandung bayi dugong, serta memerlukan rentang waktu antar kelahiran sekitar 2,5 hingga 5 tahun. Sehingga hal ini dapat menyebabkan melambatnya pertambahan populasi dugong.
Selama dugong berumur muda, ia akan selalu berada dibagian ketiak sirip induknya untuk mengikuti dan mempelajari cara bertahan hidup serta mengkonsumsi susu induknya selama 14 hingga 18 bulan. Walaupun masa menyusui berakhir diusia 18 bulan, anak dugong masih akan selalu mengikuti induknya hingga berusia 7 tahun. Kemudian, anak dugong akan memisah dari induknya dan menemukan dugong lain untuk bereproduksi (kawin).

Anak dugong yang mengikuti induknya dengan menggigit bagian ketiak sirip sang induk.

Peraturan dan Status Konservasi Dugong

Peraturan perlindungan dugong telah dimuat dalam Undang-Undang No.5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, sebagai salah satu dari 20 spesies prioritas yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia. Perlindungan dugong juga dimuat secara tegas oleh pemerintah dalam Peraturan Pemerintah No.7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Menurut Global Red List of IUCN secara resmi dugong memiliki status konservasi rentan punah (Vulnerable/VU) . Dugong juga dimuat dalam daftar The Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) dengan status Appendix I yaitu dilarang memperdagangkan bagian tubuhnya dalam bentuk apapun.

Status konservasi Dugong berdasarkan Red List IUCN

Populasi Dugong Menurun

Populasi dugong semakin menurun seiring bertambahnya waktu walaupun belum diketahui pasti jumlah populasi dari dugong. Hal tersebut dikarenakan adanya aktivitas manusia yang beresiko merusak habitat dugong maupun populasi dugong. Keterbatasan bahan informasi mengenai populasi dugong dapat membuat beberapa orang beranggapan bahwa jumlah dugong yang tersisa masih tercukupi sehingga banyak terjadi perburuan liar maupun pemanfaatan ilegal. Kepercayaan masyarakat sekitar tentang manfaat dari bagian tubuh dugong pun menyebabkan tetap terjadinya perburuan secara tradisional. Penyebab lain dari menurunnya populasi dugong diantaranya yaitu terjaring secara tidak sengaja (byecatch), tertabrak oleh kapal wisata dan nelayan, menurunnya kualitas habitat padang lamun karena adanya alih fungsi lahan, banyakknya sampah yang tersebar di pesisir laut, serta penggunaan bahan penangkap ikan yang menurunkan kualitas air laut.

Dugong yang mati terjaring oleh nelayan
Phuket Dugongs Die in Netting Nightmare - Phuket Wan
Dugong yang mati akibat luka pada mata, perburuan tradisional oleh masyarakat sekitar akibagt kepercayaan manfaat air mata dugong

Action Plan!

Setelah membaca dan melihat kasus dugong yang mati akibat aktivitas manusia, apakah anda tergerak untuk merubahnya?..

Dalam menjaga kelestarian dugong, dibutuhkan campur tangan segala pihak, khususnya masyarakat lokal dan generasi muda. Adanya pandemi tidak menjadi batasan bagi generasi muda untuk berkarya dan melakukan perubahan. Perlu dibangun kesadaran masyarakat untuk menggalangkan aksi menjaga kesehatan laut. Salah satu contohnya adalah dengan mengurangi penggunaan plastik. Plastik menjadi salah satu polutan yang berdampak besar dalam kerusakan alam sehingga memerlukan perhatian kita sebagai generasi muda.
Banyak aksi yang dapat kita lakukan. Dengan membuat berbagai gerakan di media sosial, kita dapat menyadarkan masyarakat untuk membantu melestarikan laut khususnya menjaga keberadaan dugong. Gerakan tersebut dapat dilakukan dengan membuat video singkat atau foto berkisah. Membuka donasi juga bisa dilakukan untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan kelayakan tempat layak serta kecukupan pangan (padang lamun) untuk para dugong yang terancam punah.


Sumber:

https://www.nationalgeographic.com/animals/mammals/d/dugong/
http://lipi.go.id/lipimedia/single/Ada-Apa-dengan-Dugong/15495
https://www.iucnredlist.org/species/6909/160756767
http://www.edgeofexistence.org/species/dugong/
Wiseli, R. 2017. Strategi pengelolaan duyung (Dugong dugon) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Akuatik Jurnal Sumberdaya Perairan 11 (1): 67 – 70.


Saya percaya bahwa perubahan kecil tidak dapat berjalan sendirian…
Saya, Kamu, dan Kita semua mari berkomitmen untuk sinergi dan solutif…

-Maria Ariska
Misellia Ikwan-Tiktok Sing off

2 thoughts on “Dugong (Dugong dugon)|personal action plan|Biologi konservasi b”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *